Bab 5

“Kalian berdua keluar dari rumah ini sekarang juga! Aku tidak mau melihat wajah kalian berdua lagi!”

Tanpa basa-basi Agus mengusir Lili dan Galang tepat setelah ikrar pernikahan mereka.

“Papa mengusir kami?” tanya Lili tidak percaya.

Gadis itu menatap ayahnya dengan kekecewaan penuh. Ia tidak percaya kalau papanya sampai tega mengusir anak kandungnya sendiri.

Keputusan yang diambil oleh Agus mengagetkan semua orang, terutama sang ibu tiri. Dia tidak menyangka suaminya akan melakukan hal yang di luar pikirannya. Tentu saja ia senang.

Bujuk rayunya semalam membuahkan hasil, dia mampu menghasut sang suami. Dia hanya berpikir pernikahannya saja yang batal. Ternyata dia mendapatkan ikan yang lebih besar.

“Pa, kenapa?” Lili mempertanyakan keputusan keji ayahnya.

“Tuan, ini tidak benar. Kasihanilah Nona Lili,” Indrajaya mencoba ikut bicara kepada sang tuan, agar nona muda diberikan keringanan.

“Indrajaya, kamu jangan ikut campur. Semua ini demi nama baik keluarga Sudarmono. Lili, Mama harap kamu mengerti,” timpal Rida dengan wajah sedihnya.

Wanita itu sangat pandai untuk berakting. Dia bisa melakukannya dengan sangat baik, sampai orang tidak tahu ucapannya itu berbanding terbalik dengan isi hatinya.

“Lili, cepat kamu pergi dengan lelaki brengsek itu! Mulai saat ini kamu bukan anakku lagi!” Pria beralis tebal itu membentak putrinya.

Lili mengusap buliran air mata yang mulai membasahi pipinya. Keputusan yang diambil ayahnya sangat tidak adil. Dia harus menelan pil pahit akibat orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Pa, apa Papa tidak kasihan dengan putrimu ini?” rintih Lili pedih.

Pendirian Agus mulai goyah mendengar sang putri merengek kepadanya. Setelah kematian istri pertamanya dialah harta satu-satunya yang dia miliki. Putri kecil yang mampu membuat dia semangat.

“Sayang, ingat nama baik perusahaan kita. Kamu tidak akan membiarkan usahamu yang bertahun-tahun hancur?” bisik sang istri untuk mengembalikan pendiriannya yang goyah.

Rida sudah senang saja saat mengetahui Agus berniat mengusir Lili. Wanita jahat itu tak rela harta yang sudah diincarnya lepas begitu saja.

“Aku tidak peduli! Kau, sudah menyebabkan banyak masalah di keluarga ini, cepat pergi!” teriak Agus membuat sang putri ketakutan.

“Papa, maafkan Lili. Lili tidak bersalah,” Lili memegang kedua tangan ayahnya. Dia berharap ayahnya memiliki belas kasihan terhadapnya.

Ini semua bukan kehendaknya, dia juga tidak mau membuat nama baik keluarganya hancur.

“Tuan, kasihanilah nona muda. Nona muda tidak bersalah.” Indrajaya memohon kepada sang tuan untuk mengampuni sang nona.

“Pengawal, seret dia keluar!” perintah Agus tegas.

“Pa, Papa, jangan usir Lili. Lili bersumpah, ini semua jebakan.” Lili masih berusaha meyakinkan ayahnya.

Agus menghempaskan tangan sang putri. “Cepat bawa pergi mereka!” bentak Agus.

Lili meronta-ronta meminta di lepaskan, tapi titah sang tuan tidak bisa diganggu gugat. Mereka akan melakukan perintahnya, tanpa terkecuali.

“Maafkan kami, Nona Lili,” ucap pengawal setelah menyeret sang nona keluar dari rumahnya.

Lili berlari ketika sang pengawal mulai menutup pintu rumahnya. Gadis itu terus menggedor-gedor pintu dengan derai tangis.

“Papa, Lili tidak bersalah,” ucapnya dengan tangan yang tak berhenti memukul-mukul pintu.

Galang pikir dengan dia setuju menikahi anak majikannya, Lili dan dirinya akan tetap berada di dalam keluarga Sudarmono. Ternyata dia salah, Agus malah mengusir mereka.

“Nona, sudah.” Galang menarik tubuh nona muda itu yang kini sudah sah menjadi istrinya.

Lili masih belum mau beranjak, dia tidak mau meninggalkan istananya, tempat di mana dia dibesarkan.

“Nona,” panggil Indrajaya seraya memeluk sang nona.

“Indrajaya, kenapa ayah jahat. Kenapa harus aku yang pergi?” ratap Lili pedih.

Ia tidak habis pikir kenapa sang ayah tidak mencari saja orang-orang yang tak bertanggung jawab itu, dan justru dirinya yang harus mendapatkan hukuman.

“Nona, yang sabar, ya, nanti saya akan bicara lagi dengan Tuan.” Indrajaya mengusap air mata anak majikannya itu.

“Indrajaya, tolong jaga Papa,” pesan Lili, tangisnya pecah kembali.

Dia tak menyangka akan diusir secara keji dengan ayahnya sendiri. Semua fasilitas diambil oleh sang ayah, dia keluar dari rumah hanya membawa diri.

“Galang, jaga Nona Lili. Jangan sampai kamu menyakitinya,” pesan dari sang tangan kanan Agus.

“Siap, Pak,” jawab Galang tegas.

Pria itu mengambil koper milik sang nona ke taksi yang sudah dia pesan.

Lili sesekali menatap rumahnya, mengucapkan selamat tinggal dengan semua kenangan di rumah itu. Terutama kenangan dengan mendiang ibunya.

Taksi yang dipesan oleh Galang melaju menuju terminal kota. Dari situ mereka naik satu bus yang menuju luar kota.

"Kita mau ke mana, Galang?" tanya Lili penuh antisipasi.

"Ke rumah baru kita, Nona." Galang menyahut singkat.

Lili mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Ini pengalaman baru untuknya, walaupun gadis itu bisa memperkirakan kehidupannya tak akan mudah, ia berupaya untuk tidak mengeluh.

Lili pasrah mau dibawa ke manapun oleh Galang, sebab ia telah menjadi istrinya. Dia tidak memiliki tempat untuk tinggal, hanya sang pengawal yang ia miliki saat ini.

Setelah satu jam perjalanan bus yang mereka tumpangi berhenti di area pinggiran kota. Galang mengajaknya berjalan beberapa saat, hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah minimalis dengan pagar bambu setinggi pinggang Lili.

“Ini rumah yang akan kita tempati, Nona,” terang Galang. Dalam hati pemuda itu berharap sang nona tidak terlalu kecewa, mengingat ia telah terbiasa tinggal di rumah mewah.

“Tidak buruk,” sahut Lili sembari berjalan lebih dahulu.

Galang melongo mendengar jawaban Lili, apa yang dia pikirkan salah. Pikirnya, Lili akan berekspresi heboh dan mengeluh seusai melihat kondisi rumah di desa itu.

“Apa Nona tidak keberatan tinggal di sini?” tanya Galang seraya membuka pintunya.

Lili tidak langsung menjawab, ia melihat ruangan tamu yang jauh berbeda dari tempat tinggalnya.

“Tentu saja tidak. Memangnya aku punya pilihan lain? Lagipula rumah ini cukup nyaman.” Lili berjalan mengecek ruangan-ruangan lain di rumah itu.

Galang mengikuti setiap langkah sang nona melihat rumah barunya.

“Galang, di mana orang tuamu?” tanya Lili spontan. Perempuan itu tersadar bahwa dia belum melihat kedua orang tua Galang.

“Kedua orang tua saya sudah meninggal,” jawab Galang pelan.

Lili mengucapkan kata maaf, sambil menatap wajah Galang penuh penyesalan.

“Kenapa minta maaf?” Galang mengerutkan keningnya.

“Karena pertanyaanku membuatmu sedih. Jadi selama ini kamu hidup sendirian?” Lili berpikir Galang pasti sangat kesepian karena hidup seorang diri.

“Tidak, Nona, mereka selalu ada di sini.” Galang menyentuh dadanya penuh keyakinan.

Gadis itu tersenyum mendengar jawaban Galang, ternyata dia orang yang manis juga. Meskipun selama ini dia terlihat sangat kaku, ternyata ada sisi manis yang dia simpan dalam sampai orang lain tidak tahu.

“Ngomong-ngomong, apakah hanya ada satu kamar tidur di sini?” Lili telah memperhatikan seluruh ruangan di rumah ini, dan dia hanya menemukan satu kamar tidur.

“Iya Nona." Galang menyahut ragu. Ia tak bisa memperkirakan bagaimana reaksi Lili atas hal ini.

Perempuan itu terdiam sejenak. Jika hanya ada satu kamar, maka dia akan tidur satu ranjang dengan sang pengawal.

“Nona, ada masalah?” Galang menatap bingung sang nona yang tiba-tiba diam.

Galang melebarkan kedua matanya saat dia mulai mengerti apa yang menyebabkan majikannya itu terdiam. Sang nona pasti sudah berpikir jauh tentang kamar tidur itu.

“Nona, jangan khawatir saya akan tidur di luar,” timpalnya cepat-cepat.

Pemuda itu tidak mau tidur bersama dengan Lili untuk saat ini. Meskipun status mereka telah menjadi suami istri, ia tak mau memaksa majikannya itu untuk langsung menerimanya.

Dengan wajah merona, Lili melirik Galang. Sedikit malu perempuan itu berkata, “Aku sudah menjadi istrimu, Galang. Kenapa kamu harus tidur di luar?”

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

cih padahal emang itu yg dia mau.. Tapi aku bisa membaca alurnya,Pasti setelah Lili puas menderita,Baru ayahnya sadar ini semua ulah siapa,Waktu itu ayahnya dtg dgn tanpang tanpa dosa meminta maaf dgn alesan khilap dan baru tau semuanya,Dan Lili pun dgn gampang memaafkan,dan hidup bahagia...🤣🤣🤣😜😜

2024-07-30

0

Retno Palupi

Retno Palupi

semoga hidup lili dan Galang bahagia

2024-04-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!