Bab 13

"Lili, apa yang kamu lakukan?"

Lili dengan cepat menarik foto yang sudah terkirim di ponsel Galang. Dia menepuk-nepuk keningnya, dia sangat malu dengan kebodohan yang dia buat. Bisa-bisanya fotonya terkirim.

Tak lama dari pesannya di hapus, panggilan masuk dari Galang. Lili menggigit bibir bawahnya, dia bingung mau angkat atau tidak telpon dari Galang.

"Aku tidak mau angkat," katanya sembari menaruh ponselnya di sebelahnya dengan posisi layar di bawah.

Ponsel kembali berdering, akhirnya Lili mengangkat juga. Dia menghembuskan napas panjang.

"Halo," katanya pelan.

"Kamu sedang apa lama sekali mengangkat teleponnya," ucapnya datar.

Lili mendadak bernapas lega, mendengar suara datar Galang berarti dia tidak akan membahas foto yang dia kirim.

"Aku bangun tidur, kenapa?" Lili sedikit nyolot.

"Sayang sekali aku tidak di rumah, pasti akan menyenangkan melihat kamu dengan baju itu," goda Galang.

Lili mendelik mendengar perkataan Galang, dia pikir pria itu tidak akan mengungkitnya.

"Bibir merah yang lembut dan manis, seperti buah cherry," goda Galang lagi.

Lili kelimpungan mendapat gombalan dari Galang, dia bingung mendadak sang pengawal begitu centil.

"Dasar pria tua mesum!" teriaknya lalu mematikan sambungan teleponnya.

Dia mengatakan jika Galang lebih baik datang di dunia mimpi saja, dia tak perlu datang ke dunia nyata yang membuatnya kesal.

Lili berhenti tepat di depan cermin, ia tertarik di bagian lehernya yang memerah.

"Banyak nyamuk pasti semalam, sampai merah semua leherku digigirnya," Lili mengusap-usap pelan lehernya.

Lili bergegas ke luar untuk segera sarapan, kedatangan Bik Onah sangat membantunya. Selagi Galang tidak ada Lili justru berleha-leha. Belajarnya hanya satu persen, sisanya dia gunakan untuk bermalas-malasan. Dan memikirkan cara mencari perhatiannya Galang.

"Bik Onah, bisa minta tolong cari obat nyamuk. Di kamar nyamuknya banyak, lihat leher Lili merah semua," adu Lili dengan polosnya.

Bik Onah mengecek leher Lili, dia menahan ingin tertawa. Dia lalu menganguk menuruti permintaan majikan barunya.

"Baik Nona, saya permisi sebentar," ucapnya dengan senyuman, dia sudah tidak bisa menahan tawa karena kepolosan Lili. Bik Onah tahu juka bekas merah itu karena kelakuan dari sang Tuan.

"Bik Onah, kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Lili mengerutkan kening. Bik Onah, menggeleng dan cepat berlalu pergi.

Lili membuka pesan dari Galang, yang mengatakan kenapa fotonya di hapus padahal bisa menjadi penyemangatnya.

"Dasar, pria tua mesum! Aku tidak akan memakai baju haram itu lagi!" kesalnya karena terus di goda sama Galang.

Lili kembali terbayang akan mimpi indah semalam, dia merasa itu bukan sebuh mimpi. Ia merasa sangat nyata ciuman dan sentuhan Galang.

Lili menggelengkan kepalanya, "Aku memang sudah gila."

Setelah selesai makan, Lili kembali ke kamarnya ketika ada panggilan masuk dari Mila sahabatnya. Dia menutup pintu, agar Bik Onah tidak mendengar apa yang di bicarakan.

"Halo, Lili, apa kabar?" tanya Mila.

"Lumayan baik, ada kabar apa?" tanya Lili.

"Kantor saat ini dipimpin oleh adik tirimu. Indira." Kata Mila.

Lili termenung sesaat, dadanya terasa sesak. Kenapa sang ayah tega memberikan posisi CEO kepada Indira yang jelas hanya seorang anak tirinya.

"Li, apa kamu masih di situ?" tanya Mila.

"Ya, aku masih di sini. Lili bagaimana dengan papaku?" Lili sebenarnya merindukan sosok ayahnya.

Lelaki tua yang galak tapi aslinya sangat penyayang. Dia masih belum percaya dengan sang ayah mengusirnya. Sejak kecil dia terus dilindungi.

"Aku akan cari tahu, semenjak kepemimpinan Indira kita harus bekerja keras. Banyak perubahan di sini," jelas Mila.

Semua peraturan dan kebijakan kantor diubah oleh Indira, tutur Mila.

"Lili, kau tinggal di mana? Kita bisa bertemu? Atau aku jemput kamu?" tanya Mila.

Dia merindukan sahabatnya yang sudah tidak bertemu lumayan lama. Semenjak dia diusir dari rumah.

"Nanti aku kabari, aku sekarang tidak bisa pergi bebas. Harus ada izin dari suamiku," ujarnya.

Lili memerankan sebagai istri yang taat, dia harus izin saat hendak keluar meninggalkan rumah.

"Galang sekarang kerja di mana?" Mila penasaran dengan kehidupan sahabatnya. Berita yang beredar, ayahnya tak memberikan uang sepeserpun membuat dia khawatir.

"Dia bekerja di kota, seminggu sekali dia akan pulang," ujarnya.

"Lili, bagaimana hidup dengan pria matang?" Kini Mila penasaran dengan hubungan asamara Lili dengan Galang.

"Ya, seperti itu. Mila, ada yang ingin aku tanyakan?"

"Apa?" Mila siap menjawab pertanyaan yang akan diajukan sahabatnya selama dia mampu menjawab.

"Apa yang di sukai pria tua?" tanya Lili.

Mila mengerutkan keningnya saat mendapatkan pertanyaan dari Lili. "Maksud kamu?"

Mila tak memahami apa pertanyaan Lili.

"Aku belum pernah di sentuh oleh Galang, bahkan dia tak tergoda dengan aku yang memakai baju seksi," bisiknya.

"Dia tidak tergoda, apa dia lelaki tidak waras?" Mila heran. Ada lelaki yang kuat imannya saat dihadapkan dengan perempuan berpakaian seksi.

"Aku juga tidak tahu, atau karena dia tidak sayang sama aku? bibir Lili mengerucut.

"Em, tunggu sebentar. Kamu beneran jatuh cinta sama dia?" tanya Mila.

"Aku sudah mencoba untuk tidak jatuh cinta, tapi ... ," Lili menghentikan ucapanya lalu menghela napas panjang.

"Tapi kamu sudah terjerat cintanya?" tukas Mila.

Dia sudah menyangka jika Lili akan jatuh cinta lebih dulu terhadap pria matang, yang gagah dan berparas tampan. Siapa yang bisa tahan jika terus bersama dalam satu rumah.

"Ya, sepertinya, tapi hanya cintaku bertepuk sebelah tangan," ucapnya sedih.

"Lili, apa kamu tidak mau menjebaknya?" saran Mila.

"Menjebak bagaimana?" tanya Lili.

"Saat, Galang pulang nanti berikan dia obat perangsang. Dengan begitu dia akan menyentuhmu," ucap Mila.

Saran yang lumayan gila, dan di luar nalarnya. Bagaimana bisa Lili memberikan obat itu kepada suaminya sendiri?

"Kau gila! Bagaimana kalau nanti aku hamil tapi dia meninggalkanku!" seru Lili, ide gila Mila itu bukan solusi yang baik.

"Kau pikir, saat kamu menggoda dan dia mau melakukanya tidak ada kemungkinan meninggalkanmu?" cibir Mila.

"Benar juga, entahlah aku tidak tahu." Lili putus asa.

Dia kesal, sekali jatuh cinta langsung bertepuk sebelah tangan.

"Lili, aku akan hubungi lain kali. Indira memanggilku," bisiknya lalu memutus sambungan teleponnya.

Lili merebahkan tubuhnya, dia menatap langit-langit untuk mendapatkan solusinya. Yang ada di benaknya sekarang, Lili bukan memikirkan masalah Indira yang menguasai perusahaanya.

Lili justru lebih tertarik dengan cara menggaet sang suami. Setelah beberapa minggu berada di desa, Lili merasa nyaman. Dia mulai melepaskan hasrat untuk memiliki perusahaan lagi.

Dia sedang asyik dengan dunia barunya, menjadi istri sang pengawal kaku. Dia pikir mendapatkan cinta sang pengawal lebih susah daripada kembali mendapatkan perusahaannya lagi.

"Haruskah aku mengikuti saran gila, Mila. Memberinya obat perangsang?"

Terpopuler

Comments

Ririn Nursisminingsih

Ririn Nursisminingsih

jglah lili ikuti alurnya. ...selisih 7 thun wajar seh...

2024-04-26

0

Emn Sc

Emn Sc

nikmati hidup mu sekarang lili ..suatu hari...ayahmu kan menyesal.. telah membuang ank sendiri.

2024-04-24

0

Retno Palupi

Retno Palupi

haduh Lily....

2024-04-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!