Diana mengikuti Abi naik ke lantai dua dari bangunan VIP Onion's , pada malam hari tempat ini ternyata lebih ramai pengunjung. Orang-orang berjas menjadi ciri khas tamu disini, perempuan juga mengenakan pakaian formal yang senada. Dibanding sebuah kafe tempat ini mungkin lebih cocok disebut sebagai gedung pertemuan. Beberapa orang bertato yang baru saja menaiki lantai dua bersama Diana dan Abi cukup menarik perhatian, apa mereka mafia? pertanyaan absurd terlintas begitu saja dikepala Diana. Tampang sangar mereka mengingatkan Diana pada bos mafia Italia yang sering ia baca dalam sebuah novel.
Abi mengajaknya masuk ke sebuah pintu nomor tiga dilantai dua, Diana tercengang melihat isi didalamnya. Berbagai jenis perhiasan ada disana, mulai dari anting, cincin, gelang dan masih banyak lainnya. Satu orang pria memakai kemeja biru dan bawahan warna hitam menghampiri mereka.
"Hallo, selamat malam. Terimakasih sudah berkunjung kesini, saya Sandi salah satu petugas disini. Tamu yang terhormat mencari perhiasan penting atau sesuatu yang berharga? kami bisa membantu, " Orang itu mengatakan dalam satu tarikan nafas, dia sedikit membungkukkan badan.
Diana mengerutkan dahi, agak heran dengan sambutan yang diberikan. Abi menyikut lengan Diana memintanya untuk segera berbicara,
"Eum, Sandi, Aku ingin bertemu dengan orang yang membuat gelang ini, " Diana mengeluarkan gelang berlian yang memiliki ukiran ular dari dalam tas, meletakkan ditelapak tangannya agar mudah dilihat oleh Sandi.
"Ini... " Sandi tercekat, dia tidak lagi bersemangat seperti tadi, netranya menatap lekat pada Diana.
"Ada apa? kami ingin memesan gelang serupa, " kata Abi setelah melihat gelagat orang itu,
" Maafkan aku. Orang yang membuat gelang itu agak istimewa, dia hanya datang setiap tanggal empat belas. Hanya satu hari dalam sebulan, dihari lain dia tidak berada disini, " Kata Sandi pelan, takut kalau ada yang mendengar ucapannya barusan. Diana semakin heran, jelas ada yang tidak beres. Nampaknya gelang ini memang memiliki hubungan dengan orang-orang Buana.
"Dimana kami bisa menemukannya? Aku harus membeli gelang ini secepatnya, " desak Diana.
" Ada apa sand?"Salah satu teman Sandi yang mengenakan setelan serupa mendekat, wanita cantik dengan rambut curly itu berdiri disebelah Sandi.
" Aku Rossa, mungkin aku bisa membantu kalian, "Rossa tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang tidak terlalu rapi, tapi wajahnya masih cantik. Nampaknya gigi berantakannya juga menjadi salah satu unsur yang membuatnya sangat cantik.
Sementara karena sudah ada Rossa yang meng-handle Diana dan Abi. Sandi si pria yang agak pendiam menjauh, dan melayani tamu lain yang baru datang.
" Ouh, gelang itu, "Belum sempat Diana ataupun Abi menjawab wanita itu kembali mengeluarkan suara. jemari lentiknya meraih gelang di tangan Diana, " Masih ada orang yang ingin memesan gelang ini? gelangnya bagus tetapi tidak cukup menawan. Lagipula orang yang membuat gelang ini aneh dan jarang sekali datang. kenapa tidak membeli gelang lain yang tak kalah indah? "
Rossa berpindah cepat, meraih beberapa kotak di etalase kemudian membukanya dan sebuah gelang emas ada disana. Dia juga membuka kotak yang satu lagi, disana terdapat sebuah cincin berlian yang indah.
"Perhiasan mewah, edisi terbatas Ms. Dania. Hanya tersisa dua, mau ambil ini saja? tidak kalah indah bukan? " Rossa langsung saja menawarkan berbagai macam produk pada Diana.
Diana hanya bisa melongo takjub dengan Rossa, wanita itu memang berbakat dibidangnya. Hampir saja Diana terkecoh untuk membeli kalau tidak ingat kedatangannya kesini bukan untuk berbelanja melainkan untuk bertemu dengan orang yang membuat gelang tersebut.
"Aku ingin bertemu dengan pembuat gelang itu. Kami harus mendapatkan gelang yang serupa secepatnya, " Diana menyela Rossa yang hendak kembali mempromosikan beberapa produk lagi.
" Ya, sudah, "Rossa nampak kecewa, dia kembali mengembalikan semua perhiasan ke etalase.
" Dimana kami bisa bertemu pembuat gelang itu? "Diana kembali bertanya.
" Dia datang setiap tanggal empat belas. Datang lagi di tanggal yang sama, dia tidak pernah mengatakan dimana rumahnya dan satu-satunya tempat bertemu ya disini. Kalau kalian hanya ingin bertemu dia dan tidak ingin membeli produk lain, aku permisi dulu, " Kata Rossa kemudian dia sudah berpindah merayu tamu yang lain.
Diana menghela nafas panjang, ternyata sia-sia saja kedatangan mereka. Dengan wajah lesu Diana dan Abi keluar dari ruangan tersebut. Tak apa, tanggal empat belas kurang lebih lika hari lagi, tidak perlu terburu-buru, lagipula masih ada yang lebih penting sekarang.
"Abi, aku ke toilet sebentar. kamu tunggu saja dimobil, " Kata Diana saat mereka hendak turun kembali ke lantai dasar. Pria itu mengangguk lantas ia turun sendirian.
Diana pergi ke toilet yang ada di ujung, tangan Diana yang hendak membuka pintu terhenti kala mendengar suara yang ia kenal dari dalam.
"Dimana dia sekarang?!"
Itu suara feby, entah sama siapa dia berbicara namun sepertinya gadis itu sedang marah.
"Aku tidak mengerti maksudmu? "
Itu suara madam susan. Diana mengeluarkan ponselnya dan menyalakan rekaman.
"Dimana pak Eddie sekarang? " Didalam sana Feby mencengkeram kerah baju madam susan, matanya menatap tepat dimata wanita paruh baya itu, " Aku tidak akan bertanya tiga kali. Cepat katakan! "
" Saya tidak tahu dan kamu jangan kurang ajar sama orang tua! "
"Masih tidak mau memberi tahu ku? lihat! Ayo lihat kesini, " Feby mengeluarkan sebuah suntikan berwarna merah tua, mengangkatnya didepan wajah madam susan," Kalau kau tetap tidak memberitahuku dengan terpaksa aku akan membuatmu melupakan semuanya, " Katanya sambil tersenyum smirk.
Madam susan berjalan mundur sampai badannya menempel di dinding. Dia meneguk salivanya gugup, sadar melawan feby tidak akan bisa menang. Perempuan iblis itu memiliki banyak cara untuk membuat lawannya tidak berkutik.
"Kau mau hidup seperti anak jenderal? lihat dia! dia hidup tanpa kenangan apapun. Dia menyedihkan, kalau kau keras kepala," Feby mendekat, ia mendorong pelan kepala madam susan menggunakan jari telunjuk,
"Kau akan menjadi orang menyedihkan selanjutnya, madam. "
"Feby! kamu benar-benar orang tidak tahu diri! " Diana yang sudah tidak tahan menerobos masuk dan menarik kencang baju bagian belakang feby, membuatnya hampir terjatuh.
Madam susan melotot terkejut mendapati Diana datang. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi tak jadi. Ia mengatupkan mulutnya dan hanya memperhatikan.
"Diana, kupikir kau sudah mati dirumah sakit. Aish.. ck.. " Feby mendengus sambil memangku kedua tangannya.
"Madam, ayo kita pergi! " Ajak Diana,
Madam susan hanya diam sambil memberi isyarat pada Diana untuk pergi saja sendiri.
"Diana! berhenti lah ikut campur. Kamu sudah tahu banyak dan masih hidup seharusnya kamu bersyukur. " Kata Feby, ia mengalihkan atensinya sepenuhnya pada Diana.
"Dia, " Feby menunjuk madam susan, "Dia bukan orang suci. Kenapa kamu datang sebagai pahlawannya? berdiri saja di radarmu. Aku muak melihatmu, jadi jangan muncul lagi dihadapanku, "
"Pergi Diana! Atau kubunuh kau sekarang! "Ancam feby.
" Kamu tidak akan berani, "Ucap Diana meskipun ia juga merasa gugup.
Melihat Feby sibuk dengan Diana, madam susan diam-diam mengambil kesempatan untuk keluar.
Feby menarik sudut bibirnya, Ia jangkau kaki madam susan dengan kaki jenjangnya yang terbalut sepatu kets sehingga membuat wanita paruh baya itu terjatuh dilantai toilet yang masih basah.
" Aku memberimu kesempatan seperti yang selalu diberikan oleh orang-orang kami. Kalau kamu tidak pergi sekarang, aku pastikan kau mati malam ini."Kata feby dingin pada Diana yang masih berdiri ragu. Feby menyimpan suntikan kedalam saku celana kemudian tangannya ia gunakan untuk menarik keras rambut madam susan.
"ARRGH.. LE-LEPAS SIALAN!! " Teriak madam susan.
"Kau mencari sarah bukan? perempuan itu disekap dirumah madam susan. kau boleh membebaskannya tetapi jangan pernah mencoba mencari keberadaan pak Eddie, " Kata Feby lagi,
"Pergilah Diana! Aku hanya butuh madam susan sekarang. Kuberitahu satu rahasia tempat ini, disini apapun boleh dilakukan termasuk membunuh jadi selagi aku memberimu kesempatan maka pergilah. "
" Kau sombong feby. Aku pergi dari sini bukan karena kesempatan yang kau berikan tetapi karena aku akan mengalahkanmu, "Kata Diana kemudian memberi sebuah pukulan dirusuk Feby yang langsung di elakkan olehnya.
Diana tidak berhenti, kali ini ia menendang kaki feby dan
berhasil.
Feby terjatuh berlutut dilantai namun tangannya masih memegang erat rambut madam susan.
Marah. feby sangat marah sekarang, ia dorong madam susan dengan keras sampai kepalanya menabrak dinding dan mengeluarkan darah.
Diana mengepal kuat tangannya dan hendak kembali memberi pukulan, kali ini sasarannya adalah wajah feby.
Sebelum tangan Diana mengenai wajahnya, feby sudah lebih dulu mengeluarkan pisau dari pinggangnya yang tersembunyi dibalik sabuk. Pisau bedah itu mengenai kepalan tangan diana menimbulkan luka cukup dalam disana.
Diana meringis pelan, Feby mengambil kesempatan,dia menarik tangan Diana dan untuk beberapa pertimbangan dia hanya mengusir Diana keluar dan mengunci pintu dari dalam. Yang dia perlukan sekarang adalah mendapatkan informasi dari madam susan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
N___vt
astaga harusnya cukup dengerin aja dulu
2025-01-10
0
Dev
harusnya si Diana diam dulu..madam susan.nya mau ngomong setelah ancaman Feby,,,lha kok malah dia yg GK sabaran..
2024-04-28
0
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
diana diana cerobohnya g ilang2...org ky feby punya senjara andalan..mbok y mikir u antisipasi g gegabah trs..kok bs madam susan dan feby bentrok?
2024-02-02
1