Bab 13

Feby berjalan disepanjang lorong gelap itu, kakinya hanya beralas selop tipis yang tidak mampu menahan dinginnya malam. Sedikit mempercepat langkahnya sambil mengeratkan jaket tebal yang sedikit menghangatkan tubuhnya.

Sudah lewat tengah malam jadi wajar saja jika semua lampu di bangunan itu di matikan. Setengah menit kemudian Feby berbelok kearah kanan, ia sampai disebuah pintu ganda warna putih. Tangannya menarik daun pintu, ia melongok kan kepala kedalam. Feby menghembuskan nafas pelan kemudian masuk kedalam.

Derap langkahnya memecah kesunyian di ruangan itu. Lampu temaram yang berasal dari lampu tidur dinakas membuat ruangan itu sedikit hidup.

Feby membuka topi yang sedari tadi menutupi kepalanya, ia juga membuka jaket tebal kemudian duduk disisi ranjang. Jemari tangannya mengelus kasur yang terasa dingin-pertanda tempat tidur itu sudah lama tak ditempati.

Cukup lama dia duduk termangu, sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Membayangkan beberapa skenario diotaknya,

Kepalanya menoleh saat mendengar pintu dibuka, ia tersenyum,"Kau kembali?"

"He'em,"Orang yang baru saja masuk hanya berdehem singkat.

"Erlan, kenapa akhir-akhir ini sering bersikap dingin? Aku sudah melakukan semua yang kubisa untukmu, tidak bisakah kau bersikap lebih hangat?" Feby bertanya lirih,

"Semuanya?"Erlangga tertawa sinis, dia mendekati Feby kemudian menatap nyalang gadis itu,"Termasuk membiarkan sahabatmu itu menggagalkan ritualnya? Aku hampir berhasil,tetapi harus digagalkan oleh Diana. Bukankah kau sendiri yang bilang akan menjadikan Diana yang terakhir apapun yang terjadi?"

" Aku sudah melakukan sesuai keinginanmu, hanya saja aku tidak menyangka dia bisa menggagalkan rencana kita dengan otak bodohnya. Kau tenang saja, kita akan menemukan orang yang membunuh nenekmu."

"Kau mengatakan itu sejak dulu." Erlangga menjauh, ia duduk disisi ranjang yang lain, "Begini saja, temui orang itu besok. "

" Jangan! Belum waktunya, "

"Feby! Kita butuh dia. Temui dia besok! "

"Ta-tapi dia pasti sudah membeberkan semuanya. Apa akan baik-baik saja kalau aku menemuinya? "

" Aku tidak peduli! Kamu harus menemuinya, "Kata Erlangga kemudian pergi keluar dari ruangan itu.

Gadis cantik blasteran indo-korea itu menatap nanar pada punggung kekar yang perlahan menghilang di balik pintu, meninggalkan ia sendirian di ruang sunyi ini. Ruang serba putih ini-ia sudah mulai membencinya sejak beberapa hari lalu. Sejak kapan? Sejak kapan ia menjadi muak dengan semuanya. Rasanya sekarang hambar dan membosankan. Ada apa dengannya?

" Aku melakukan semua yang kubisa untukmu, mengorbankan hidupku, jiwaku dan segala yang aku punya. Tidak bisakah kau melihat semua itu, erlan?" Tanya Feby lirih, ia sendirian dan hanya bertanya sendirian pada seseorang yang sudah tidak lagi ada disana. Tangannya terkepal seiring dengan hadirnya wajah seorang perempuan dikepalanya, Ia teramat membenci perempuan itu melebihi apapun sekarang.

*

Diana menatap rintik hujan yang mulai turun membasahi tanah, ia sedang duduk sendirian di halte bus-menunggu bus terakhir yang beroperasi. Ia baru saja dari rumah Elise, meski berhasil bertemu dan berbicara seperlunya dengan wanita itu, tak banyak yang bisa ia lakukan. Diana hanya meninggalkan sepucuk surat untuk Elise dan berharap dibaca olehnya.

Sebenarnya, ia sudah berbicara dengan ibu Elise perihal penculikan yang akan dilakukan oleh orang-orangnya margareth. Masalahnya, ibu Elise tidak percaya sama sekali, dia bahkan menyuruh Diana pergi secepatnya.

ting... ting....

Diana mendongakkan kepala, sebuah mobil berhenti didepan halte.

"Mau pulang, na? " Tanya Abi dari dalam mobil, pria itu setengah berteriak karena hujan turun sangat deras. Mungkin karena mendekati akhir tahun jadi sering turun hujan.

Diana mengangguk.

Abi mengambil payung dari kursi belakang lantas keluar dari dalam mobil untuk menjemput Diana. Dia tersenyum lebar sambil mengajak Diana masuk.

"Biar aku antar pulang, " kata Abi setelah menutup pintu mobil.

"terimakasih, bi. " Ucap Diana.

"Darimana, na? "

"Aku dari rumah Elise, "

"Ah, kamu sedang memperingatkan dia tentang penculikan itu ya?, " Abi bertanya sambil melajukan mobilnya hati-hati, "Aku tahu dari Adnan, dia yang cerita. " lanjutnya.

"Ibunya tidak percaya, " kata Diana menghela nafas panjang. Pikirannya masih tentang Elise, walau bagaimana pun juga mereka pernah berjuang bersama. Bisa dibilang Elise berkorban untuknya, agar ritual ketiga bisa digagalkan.

"Gimana lagi, na. Semua orang kan tahunya semua orang yang terlibat sudah tertangkap. kecuali kamu punya bukti kuat tidak akan ada yang percaya, " kata Abi.

"lantas kenapa kamu percaya? "

"karena kamu sepupu Adnan, "

"Kalau aku bukan sepupu Adnan? "

"Eum.. mungkin kita tidak akan saling mengenal, "

Benar juga kata Abi, mereka bisa bekerjasama itu karena Adnan. kalau Adnan tidak ada mungkin Diana hanya bisa menyelidiki sendirian.

" Setelah aku analisis beberapa informasi yang dikumpulkan Dylan aku sampai pada sebuah kesimpulan, kamu mau dengar? "ujar Abi di akhiri dengan pertanyaan.

"Apa? "

"Meskipun terlihat sama tetapi sepertinya Margareth buana memiliki tujuan yang berbeda dari feby dan Erlangga. misalnya dia ingin menculik Elise padahal Feby tidak melakukannya sama sekali. Jangan-jangan mereka berbeda aliran lagi. "

Diana mencoba memikirkan lagi; margareth buana yang sekarang adalah margareth yang palsu, kata Bian orang itu diperintahkan oleh Profesor Adams untuk berpura-pura menjadi margareth, kemungkinan dia adalah adik tiri margareth. Tapi, untuk apa adiknya datang kesini? Apa dia memang sesayang itu sama kakaknya atau punya tujuan lain? lalu margareth tidak aktif di lab buana, tidak seperti kebanyakan anggota lain yang memilih stay dibuana.

'sepertinya aku memang harus pergi ke desa tembang lagi untuk mendapatkan informasi tentang margareth, "pikir Diana.

"Oh, iya, na. Gelang yang kamu temukan itu aku sudah menemukan tempat pembuatannya, " kata Abi membuyarkan lamunan Diana.

" Ayo kita pergi kesana sekarang, "kata Diana.

Abi mengangguk kemudian memutar balik mobilnya berlawanan arah dari tujuan awal. Sebenarnya Abi tidak sengaja mengetahui tentang tempat pembuatan gelang itu, kemarin ia bertemu orang lain yang memakai gelang itu karena menurutnya Diana akan membutuhkan alamat tersebut jadi ia memutuskan untuk bertanya pada orang tersebut. Tidak memerlukan usaha yang berarti Abi langsung mendapatkan alamat tersebut.

Abi menghentikan mobilnya di sebuah kafe mewah,

ONION'S CAFE

Mata Diana menyipit saat membaca plang besar bertuliskan nama kafe tersebut. Padahal baru tadi siang ia datang kesana, Diana menoleh pada Abi," Disini? "

"Iya. Ayo, na! " Ajak Abi setelah memarkirkan mobil, hujan sudah mulai reda.

Diana diam sebentar didalam mobil, nampaknya tempat ini memiliki hubungan erat dengan buana. Diana harus tahu siapa yang membuat gelang tersebut dan menanyakan apakah gelang itu dijual secara umum atau dibuat hanya untuk suatu kelompok tertentu. Diana mengikuti Abi dari belakang, membiarkan pria itu lebih dulu masuk.

***

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

kalau upacara pengorbanan terakhir itu terjadi di kisaran bulan agustus, sekarang seharusnya sekitar bulan maret.

2025-03-14

0

hanz

hanz

bian sendiri yang mengatakan kalau margareth yang palsu adalah adik dari margareth buana.

2025-03-14

0

N___vt

N___vt

cinta bisa membunuh siapa saja termasuk yg katanya sahabat

2025-01-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!