Bab 3

Rasa penasaran yang teramat sangat membawa langkah kakinya ke lantai dua. Banyak debu menempel disekitar dinding dan lantai, Diana mempercepat jalannya.

Ia membuka pintu itu perlahan, sebelum masuk Ia mengintip sebentar. Ia melihat seseorang terbaring di ranjang, ada tabung oksigen terpasang di hidungnya, orang itu sakit?

Diana membuka pintu agak lebar agar memudahkannya berjalan masuk, Ia mendekati ranjang untuk melihat siapa yang sedang terbaring disana.

"Pak Eddie? " Kaget Diana. Ia mengenali wajah pria itu, dia wakil kepala lab yang waktu itu juga di sekap di mansion. Lantas kenapa sekarang pak Eddie bisa ada disini? apa madam susan yang membawanya? Kalau begitu dimana sarah? apa dia juga selamat?

Diana melihat sekitar ruangan yang berantakan, sepertinya madam susan tidak tinggal disini. Ada beberapa tumpukan bungkus makanan serta minuman kaleng di sudut ruangan.

"Kenapa pak Eddie ada disini? " Diana masih memperhatikan sekeliling, loteng juga tak luput dari perhatiannya. Pandangannya kembali jatuh pada sosok kurus pak Eddie. Sudah berapa lama dia ada disini? Enam bulan? Atau mungkin lebih lama dari itu.

ting...

Sebuah pesan masuk. Diana memeriksa ponselnya, ternyata chat WhatsApp dari Adnan, sepupunya itu bertanya apakah dia boleh datang ke lab buana. Jemari Diana menari diatas keyboard mengetik balasan. Pada akhirnya Diana membiarkan Adnan datang sambil memintanya membawa sebuah kamera kecil.

Seraya menunggu Adnan, Ia memeriksa kamar madam Susan. Membuka lemari, menghidupkan komputer, bahkan memeriksa seluruh dinding siapa tahu Ia menemukan simbok rahasia lagi.

Lelah karena tak ada yang bisa Ia temukan, Diana keluar dari ruangan persegi empat tersebut. Ia kembali turun ke lantai dasar sambil menebak kira-kira kemana madam susan pergi.

*

Setelah satu jam Adnan akhirnya datang, seperti yang dia katakan sebelumnya Adnan datang sendirian tidak mengajak siapapun.

"Ini kamera yang kamu minta. Tapi, kameranya untuk apa? " Tanya Adnan seraya menyodorkan sebuah kamera kecil ke tangan diana.

" Aku akan memasang kamera di kamar madam susan, "Sahut Diana kemudian kembali naik ke lantai dua.

"Madam susan? " tanya Adnan mengekori Diana dari belakang.

"Dia kepala asrama, " Ujar Diana. Ia masuk kedalam kamar madam susan kemudian menyembunyikan kamera di sela-sela ventilasi udara, berharap kamera tersebut tidak terjun bebas. Tentu saja ia memasang kamera itu dengan bantuan Adnan, pria itu dengan suka rela memanjat keatas lemari agar kamera bisa dipasang.

"Na, orang itu sepertinya koma? Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit? " Tanya Adnan yang sejak masuk sudah memperhatikan pak Eddie yang terbaring di ranjang.

" Kamu bawa mobil? "

Adnan mengangguk. Ia melompat turun setelah kamera terpasang dengan sempurna.

Nampaknya ada harapan untuk membawa pak Eddie pergi dari sini.

"Sebelum pulang aku ingin pergi ke mansion. Aku ingin memeriksa sesuatu, " Kata Diana.

" Mansion itu jauh dari sini apalagi letaknya ditengah hutan. Sebaiknya dipikirin dulu,na,"Nasehat Adnan.

"Sudah tak ada lagi yang tinggal disana. Kamu tunggu saja disini, " Kata Diana.

Adnan hanya bisa pasrah, satu hal dari Diana yang sering membuat semua orang kewalahan adalah keras kepalanya. Jika gadis itu sudah menginginkan sesuatu akan sulit untuk mengubah keputusannya. Dia akan mendapatkan nya meskipun semua orang menentang. Adnan mengikuti Diana ke mansion, tidak mungkin juga membiarkannya pergi sendirian.

"kamar ini kok agak lain ya, na?" Tanya Adnan saat baru saja menginjakkan kaki di kamar empat belas. Bulu kuduknya seketika berdiri,

Tentu saja. Akan aneh jika kamar ini tidak begitu pengat sebab ada sesuatu yang mengerikan dibalik dinding itu. Diana hanya mengatakan dalam hati, tidak ingin membuat Adnan takut. Ia akan kerepotan jika pria itu sudah mulai membayangkan yang bukan-bukan.

"Mungkin karena sudah lama tidak ditempati, " Kata Diana.

Adnan mengambil alih tugas mengangkat kawat besi. Ia mempersilahkan Diana untuk masuk lebih dahulu kemudian dia akan mengikuti dari belakang.

"Kamu berani banget ya, na? Baru beberapa hari bekerja di lab buana tetapi sudah menjelajahi tempat rahasia seperti ini, " Celetuk Adnan memecah kesunyian. Sejujurnya Ia agak takut sekarang.

"Hmm.. " Diana hanya berdehem singkat.

"Kok kamu bisa tahu kalau disini ada lorong? " Adnan kembali bertanya,

"Seseorang memberitahu ku, " Orang yang dimaksud disini jelas adalah Lorena-Hantu lorena, entah hantu atau mungkin sesuatu yang lain tapi yang jelas dia bukan manusia.

"Siapa? "

"Hantu, "

"Na, kamu jangan ngomong sembarangan. Kita di tempat seram lho, " Adnan memegang ujung baju diana cemas makhluk yang baru saja Diana sebutkan akan datang. Ah, cukup dalam film saja dia melihat sosok menyeramkan jangan sampai melihatnya juga di dunia nyata.

" Apaan sih, nan. Jangan berisik deh, " Ketus Diana kemudian mempercepat langkahnya.

Sekarang mereka berjalan di sepanjang lorong, Adnan bergidik ngeri saat menoleh ke dinding lorong yang masih terdapat lentera yang masih tergantung, hanya saja lentera tersebut tidak menyala.

Selama berjalan di lorong Adnan beberapa kali mengajak diana ngobrol, lebih tepatnya menanyakan serangkaian pertanyaan yang enggan diana jawab. Alhasil setelah diana mengabaikan sebagian besar pertanyaannya, Adnan diam. Ia mengikuti diana dalam diam.

Setelah berjalan cukup lama mereka tiba di mansion. Tanpa membuang waktu diana langsung pergi ke ruang rahasia pertama-ruang operasi, mungkin lebih pas jika disebut sebagai ruangan pembunuhan karena hampir semua orang mereka bunuh disana diatas ranjang pasien.

"Whoa... Ternyata ada pintu disini, " Komentar Adnan saat dinding perlahan-lahan naik keatas memunculkan sebuah pintu. Ketika polisi menangkap semua orang, mereka tidak menemukan pintu ini karena yang ada dibalik pintu itu memang ruang rahasia. Tidak mudah bagi orang lain untuk menemukannya. Setelah mereka berdua masuk, dinding kembali menyatu seperti semula.

Diana berdiri didekat pintu, kaki kanannya menekan kotak keramik membentuk segitiga sebanyak empat kali lalu berpindah menekan kotak lainnya membentuk garis lurus panjang sebanyak enam kali. Suara sesuatu yang meluncur turun terdengar, Adnan mendongak dan ia dapat melihat ada tangga turun dari langit-langit ruangan.

" Kenapa ruangan operasinya di sembunyikan, na? " Tanya Adnan,

" Ayo, kita harus menaiki tangga ini, "Kata diana tanpa menjawab pertanyaan Adnan.

Diana menghela nafas lega saat sampai diruangan yang dipenuhi oleh lemari kaca yang didalamnya terdapat tabung reaksi. Meski tak sebanyak dulu, masih ada tabung reaksi yang berisi darah. Ruangan ini masih sama, polisi tidak menemukannya sama sekali.

"Apa isi tabung itu? " Tanya Adnan, dia mendekat kearah salah satu lemari kaca, tangannya mengeluarkan satu tabung reaksi.

"Warna merahnya agak aneh, " gumam Adnan hendak membuka tutup tabung,

"Jangan di buka! "

Karena diana melarangnya Adnan mengurungkan niat. ia tidak jadi membukanya.

Diana mengambil empat buah tabung reaksi yang terisi cairan warna merah pekat itu. Lalu menyerahkan dua tabung reaksi pada Adnan memintanya untuk membawa.

"Ayo pergi! " Ajak Diana. ia sudah menemukan apa yang dicari jadi tidak perlu berlama-lama disini.

***

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

keras kepala dan ceroboh. padahal perjalanan ke mansion dari kamar 14 butuh waktu hampir tiga jam.

2025-03-12

0

hanz

hanz

padahal pintu keluarnya ada di koridor lantai dua.

2025-03-12

0

hanz

hanz

nah ... benar dugaanku

2025-03-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!