Kondisi Diana sudah lumayan pulih, ia juga sudah diperbolehkan pulang. Namun, Diana memilih untuk menemani Adnan yang masih harus dirawat beberapa hari lagi. Ayah dan ibunya juga ada disana sedang berbicara dengan orang tua Adnan. Cukup lama mereka ngobrol tentang sesuatu yang tidak terlalu penting, beberapa saat semua orang memusatkan perhatian pada mereka berdua.
"Kenapa kalian bisa kecelakaan? Mobilmu mana Adnan?"
"Kamu menyetir sambil mabuk?"
"Di jalan mana kecelakaannya?"
Mereka berdua di cecar berbagai pertanyaan dari orang tua Diana dan Adnan. Keduanya menghembuskan nafas lega, ternyata orang tua mereka belum mengetahui lokasi pasti terjadi kecelakaan tersebut. Diana berpikir keras atau mungkin sedang mengarang jawaban asal di otaknya, seperti yang sering ia lakukan saat ujian bahasa Indonesia ketika masih SMA.
Mengingat masa SMA membuat Diana merasa marah untuk kesekian kalinya. Lagi dan lagi ia menyesal pernah mempercayai feby, ia tak pernah bisa melupakan kenangan manis mereka meski pada akhirnya persahabatan itu berakhir menyedihkan.
"Mah, aku sama Diana lagi survey tempat untuk camping. Di dekat hutan gitu, mobilnya masuk jurang,"Jawab Adnan sambil cengengesan, semoga jawabannya cukup meyakinkan sehingga orang tuanya tidak perlu mencari tahu lagi tentang mobil itu.
Diana tersentak, ia kembali ke kenyataan. Ia sedikit membasahi bibirnya yang kering, berulangkali menarik nafas untuk menenangkan diri.
Sementara ketiga sahabat Adnan hanya diam saja, mereka menyimak tanpa berniat ikut campur urusan keluarga itu.
"What? Camping berdua? Kalian sudah dewasa, jangan-jangan ini karma karena kalian memiliki niat yang tak baik," Nita, ibu Diana langsung mengomel dengan suara tinggi. Ibu mana yang bisa berpikir jernih saat anak gadisnya pergi ke dekat hutan berduaan dengan laki-laki, walaupun mereka sepupu namun tidak menutup kemungkinan mereka berbuat yang tidak-tidak.
"Bu, Jangan aneh-aneh deh pikirannya. Orang kita pergi camping sama mereka bertiga juga kok,"Diana menunjuk pada ketiga sahabat Adnan, kemudian melanjutkan,"Aku sama Adnan cuma survei lokasi aja. Kebetulan mereka bertiga lagi sibuk jadi tidak bisa ikut,"
Diana mengembuskan nafas panjang, dalam hati mengucapkan permohonan maaf karena telah mengorbankan nama mereka bertiga.
"Benar begitu,Dylan?"Tanya Mama Adnan,
"Iya, Tante,"Terpaksa Dylan ikut berbohong. Meski ia juga tak mengerti kenapa Adnan dan Diana pergi ke lab buana. Namun bukan ranahnya untuk ikut campur.
"Ya, sudah. Mama sama Tante Nita mau pulang dulu, kamu istirahat aja."kedua kakak beradik itu pamit pulang dengan diantar oleh ayah Adnan.
Diana melirik ayahnya yang sedari tadi diam. Tatapannya tak beranjak sedikitpun dari diana,
"K-kenapa yah?"Tanya Diana gugup,
"Kenapa kamu berbohong?"Ayah bertanya,
"Bohong? ha-ha-ha ayah lucu, bohong apa sih yah,"jawab Diana sambil tertawa, lebih tepatnya memaksakan tawa yang tidak terlihat natural sama sekali. Diana merutuk dalam hati, ia akan langsung ketahuan jika berbohong pada ayahnya.
"Ayah tahu tujuan kamu kembali lagi kesini ada hubungannya dengan lab buana. Apa lagi yang kamu cari kesana?"
"A-ayah..aku-"
" Sudah cukup, Diana. Kamu hampir mati disana, Ayah menyayangi mu, ayah belum siap jika harus kehilangan kamu."
"Berhenti membahayakan diri kamu sendiri,"
"Ayah tidak mengerti, semuanya belum selesai, yah."
"Apa itu tanggung jawab kamu? Biarkan polisi yang menangani apa yang belum selesai itu,"
"Tidak bisa, ayah. Aku yang paling tahu apa yang terjadi disana, polisi tidak tahu apa-apa,"lirih Diana. Tangannya terkepal kala mengingat kembali wajah angkuh Feby, kemudian perasan bersalah menggerayangi sanubarinya kala ia teringat dengan Elise yang tak memiliki memori apapun.
Diana tidak bisa berhenti sekarang, ia masih jauh, rahasia itu belum terungkap sepenuhnya. Bahkan bagian paling penting seperti kamar empat belas tidak diketahui oleh polisi, status profesor Adams dan Bian yang memiliki hubungan darah dengan walikota juga tidak diketahui siapapun kecuali Diana.
"Besok kita pulang! Tidak ada bantahan."Tegas ayah kemudian pergi keluar.
" Diana, ayahmu benar, kamu sebaiknya tidak perlu pergi ke hutan itu lagi. Tempat itu sudah menjadi area terlarang sekarang," Ujar Abi memberi nasehat.
Diana tidak mengatakan apa-apa, ia memilih duduk diatas kursi sambil mendengus.
"Diem, deh, bi. Diana lagi kesal begitu malah dibuat tambah kesal,"bisik Alea, walupun sebenarnya Alea sangat penasaran apa yang terjadi pada Diana dan Adnan. Tapi, bertanya sekarang bukan waktu yang tepat, Alea akan menahan diri dulu.
"Tapi, kan bener yang dikatakan ayahnya,"
"Kita kan belum tahu apa yang terjadi jangan langsung ambil kesimpulan deh,"
"Ngapain bisik-bisik? Ga sopan,"tegur Dylan,
" Maaf, na. Kalau aku ngga bawa mobil kesana pasti..."
"Bukan salah kamu. Ayah benar, apa yang terjadi bukan kesalahanku dan aku tidak perlu bertanggung jawab. tetapi, aku tidak bisa berhenti, nan. Kau tahu kenapa?"
Adnan menggeleng,
"Karena orang-orang pentingnya belum tertangkap."Diana ragu sejenak, ia menunduk kemudian dengan suara pelan ia berkata,"kemarin Feby datang ke kamarku, "
Adnan langsung mengubah posisinya menjadi duduk, tangannya terulur mengusap lembut tangan Diana yang sedikit gemetar. Dia rapuh lagi, luka itu kembali membuka.
"Aku akan keluar sebentar," Ucap Diana menarik tangannya.
Adnan menatap nanar punggung Diana sebelum menghilang dibalik pintu.
Diana tidak tahu harus pergi kemana, ia hanya berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Netranya awas menatap sekitar, mencari tahu jika ada orang mencurigakan. Nalurinya mengatakan kalau orang-orang itu masih mengawasinya, buktinya feby bisa tahu kalau Diana ada dirumah sakit ini.
Pada akhirnya Diana melangkahkan kakinya kearah taman rumah sakit. ia menikmati semilir angin malam sendirian disana, cuaca cerah, bulan menggantung indah dilangit membuat Diana nyaman berlama-lama disana.
Madam susan? wanita itu kenapa tak pernah sekalipun Diana curigai, apakah dia juga terlibat? Ah, diana sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya di inginkan wanita itu dari pak Eddie? Setelah Diana kembali pulih ia bertekad akan mencari tahu kemana pak Eddie dibawa? Barangkali ia akan menemukan sebuah petunjuk penting nantinya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
hanz
apa waktu pemyelidikan mengenai lab buana oleh polisi, diana ga dilibatkan sebagai saksi di persidangan ? seharusnya waktu persidangan, diana membeberkan semua faktanya.
2025-03-12
0
N___vt
ya makanya ajak polisi langsung geledah semuanya. bukan libatin diri sendiri bahkan orang lain bisa jadi korban lagi
2025-01-10
0
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
kl km disuntik mmng bisa apa Di, lbh baik crta k org lain slain adnan takute kalian berdua knpa2 jd ada yg bs mlnjtkan misi...si feby berani banget mbok y di buat kclakaan ketabrak cacat kek
2024-01-24
1