Bab 4

Diana dan Adnan keluar dari ruangan tersebut, sekarang mereka ada di lantai dua. Diana melirik kearah lantai tiga, tidak ada yang tahu apa yang ada di lantai tiga. Diana maupun elise tidak pernah sampai kesana, namun pernah suatu kali saat ia sedang memeriksa mayat Lyra dihalaman belakang ia sempat merasakan tatapan seseorang dari atas sana. Entah Profesor Adams yang mengawasi saat itu atau mungkin orang lain, yang jelas ada seseorang disana, mungkin sekedar singgah atau dia memang tinggal disana.

Diana menarik nafas dalam kemudian menghembuskan perlahan, jika ada kesempatan ia ingin memeriksa lantai tiga siapa tahu ia menemukan sesuatu disana. Untuk sekarang mereka harus kembali ke asrama, khawatir madam susan akan kembali dan melihat mobil Adnan. Mereka harus menolong pak Eddie, untuk alasan yang tidak jelas dia dirawat dikamar madam susan. Padahal Diana yakin kalau beliau dibawa kerumah sakit pasti kondisinya membaik dengan cepat. Madam susan sengaja menahannya di sana untuk mendapatkan sesuatu mungkin.

" Ayo pulang. kita harus menolong pak Eddie, "Ucap Diana lantas segera menuruni tangga agak tergesa-gesa.

"Pak Eddie? " Dibelakang Adnan berpikir sebentar kemudian kembali bersuara, "Ah, pria yang sedang koma di lantai dua, "

"Tempat ini benar-benar berantakan sekarang, " Ujar Diana saat sampai di lantai dasar. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai, juga tetesan darah yang sudah mengering. Wajar saja karena di mansion ini ritual ketiga hendak mereka lakukan.

"Orang-orang itu kenapa mereka bisa memiliki ide untuk membentuk sebuah aliran sesat? " Tanya Adnan.

" Entahlah, "Diana mengangkat bahunya acuh. Yang ia tahu semuanya berawal dari Profesor Adams, pria itulah pencetus ide terbentuknya aliran pengikut ratu merah. Tapi, kalau dipikir-pikir lagi ketika Diana pergi kedunia kegelapan (dunia iblis) sosok itu mengatakan kalau dia bukanlah iblis melainkan arwah yang penuh dendam.

Aku pernah hidup sebagai manusia, Diana! aku melakukan apa yang manusia lakukan semasa hidupku, Aku pernah berbuat baik sebagai manusia. Dan manusia lah yang membuat iblis sepertiku terlahir

Diana masih mengingat kata-kata iblis itu saat berteriak penuh amarah. Yaa, Diana dapat melihat betapa dia menyimpan banyak dendam.

"Mikirin apa, na? Ayo, kita harus menolong pria itu kan? " Tegur Adnan saat Diana hanya berdiri diam memandangi pintu ballroom. Nampaknya gadis itu sedang mengenang beberapa hal.

"Iya, "

Diana dan Adnan segera kembali ke asrama. Dari jendela Diana melihat cuaca agak mendung, biasanya akan turun hujan sangat deras.

*

Sudah lewat tengah hari saat mereka sampai di asrama, diluar masih mending tetapi belum turun hujan. Untuk sementara Diana menyembunyikan ke empat tabung reaksi di kamar yang pernah ia tempati. Setelah itu mereka naik ke lantai dua untuk membawa pak Eddie pergi.

"Stttss... Sepertinya ada orang didalam, " bisik Adnan.

Diana menajamkan pendengaran nya, ia mendengar suara madam susan sedang berbicara,

"Dia masih bernafas, "

".... "

"Belum sadar... "

".... "

"Ya, sudah, kita bawa saja pergi dari sini. "

".... "

"Ya.. ya.. tolong carikan rumah sakit di luar negeri, "

Sepertinya madam susan sedang berbicara lewat telepon dengan seseorang. Apa feby yang menghubungi nya? Erlangga? Atau orang lain?

Diana dan Adnan saling beradu pandang, pak Eddie akan dipindahkan. Gawat. mereka tidak boleh membawa pak Eddie pergi, Diana semakin curiga pasti ada sesuatu yang diketahui pak Eddie. Kalau tidak bagaimana mungkin madam susan rela merawatnya selama itu, perempuan itu pasti menginginkan sesuatu dari pak Eddie.

"Apa yang harus kita lakukan? " Tanya Adnan.

"heh.. ayo bersembunyi dulu. dia akan segera keluar, " Diana menarik tangan Adnan lalu mengajaknya menempel di dinding, sudah seperti cicak saja. Berharap saja semoga madam susan tidak melihat kearah dinding.

"apa yang sedang kita lakukan? ini bukan bersem... "

"Diam! " Diana melotot pada Adnan menyuruh nya untuk tidak bersuara.

Madam susan keluar sambil terus memandangi ponsel, dia nampak kesal terlihat dari cara berjalannya yang agak menghentakkan kaki padahal biasanya dia selalu anggun, baik ketika berbicara, makan ataupun berjalan. Sepertinya kesembuhan pak Eddie adalah sesuatu yang penting untuknya.

"Ayo, kita harus segera membawa pak Eddie, " Kata Diana setelah madam susan tidak terlihat lagi.

"kita harus membawa alat-alatnya juga, na. Dia membutuhkan tabung dan selang oksigen itu, " kata Adnan.

"Kamu gendong pak Eddie, semua peralatan biar aku yang bawa, " kata Diana. Hanya itu solusi paling masuk akal sekarang,

"Mobilmu? bagaimana kalau madam susan melihatnya? " Tanya Diana,

"Sial. kamu benar. Apa yang harus kita lakukan sekarang? " panik? Tentu saja. Bagaimana kalau madam susan sedang menunggu mereka berdua disana? Yang lebih menakutkan lagi madam susan akan memanggil orang lain untuk datang, seperti Erlangga misalnya.

" Dylan dan Abi."Lirih Diana. Pada akhirnya Diana memang harus membutuhkan bantuan kedua orang itu.

"kenapa dengan mereka berdua? " Tanya Adnan.

"Minta mereka datang. Katakan kalau mobil itu milik salah satu dari mereka, "

"Apa perempuan tadi akan percaya?"

"Engga, " Diana menggeleng.

" Kamu tunggu disini. Aku akan memeriksa, apa perempuan itu ada disana atau tidak, "kata Adnan.

Diana mengangguk dan membiarkan Adnan pergi. Ia duduk di samping ranjang, " Apa yang sebenarnya terjadi saat itu, pak? Sarah dimana? Apa dia juga selamat? "gumam Diana.

Sementara Adnan mendekati mobilnya yang diparkir tidak begitu jauh dari pintu masuk. Matanya menatap sekitar dan menemukan perempuan memakai gaun hitam itu sedang bersandar di pintu mobilnya. Ah, sial, seharusnya ia tidak meletakkan mobilnya disitu.

"Hei... kamu! " Panggil madam susan saat Adnan hendak berbalik.

"kenapa? " Adnan berjalan sambil mengangkat dagu, berusaha setenang mungkin.

"mobil ini punyamu? " Tanya Madam susan seraya meneliti Adnan dari atas sampai bawah.

"Tentu saja. Apa bibi sedang bermimpi untuk memiliki mobil seperti itu? " Adnan balik bertanya sambil tersenyum jahil.

"bibi? kamu memanggilku dengan sebutan rendahan?" Madam susan emosi, ia mengulurkan tangan kemudian menjambak rambut Adnan yang sudah panjang, belum sempat memangkasnya.

"Aduuhhh... sakit." Ringis Adnan, kulit kepalanya seolah dicabut. Kuat sekali tenaga perempuan ini menjambaknya.

"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu tidak membaca peraturan walikota kalau tempat ini dijadikan kawasan terlarang? Walikota tak ingin kejadian memalukan itu terulang, "

" Aku memang belum membaca peraturannya jadi aku tidak tahu. Tapi, bagaimana dengan anda? anda sudah tahu kenapa datang kesini? "

Mampus. Adnan tersenyum puas melihat wajah madam susan sedikit pias.

"Oh, jangan-jangan anda salah satu pengikutnya, ya? "

"Heh, anak ingusan. Jangan sampai kamu bertemu lagi dengan saya! " Kata Madam susan penuh peringatan. Kemudian pergi setelah melotot tajam pada Adnan yang sedang cengengesan.

Adnan menganggukkan kepala melihat madam susan masuk kedalam mobil warna hitam yang ditutupi dengan dedaunan sehingga jika tidak terlalu diperhatikan tidak akan kelihatan. Adnan kembali masuk kedalam setelah berhasil mengusir madam susan. Sekarang waktunya membawa pak Eddie pergi dari sini.

***

Terpopuler

Comments

Minartie

Minartie

menarik thor ceritanya......lanjuuut

2025-03-16

0

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

bingung..sbnre byk yg bc nggak si? g d yg komen😟

2024-01-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!