Diana tidak tinggal di rumah Adnan meskipun dulunya ia pernah menjadi pemilik rumah itu, ia menyewa sebuah rumah kontrakan dengan harga murah. lagipula tabungannya selama bekerja di lab pusat masih cukup untuk biaya hidup sehari-hari.
Diana duduk diatas ranjang dengan kertas yang berserakan. Ia kembali membaca semua data yang dikumpulkan sarah, ia bersyukur tas berisi semua kertas-kertas itu tertinggal di rumah Adnan.
Diana kembali membaca semua data yang sudah dikumpulkan sarah. Siapa tahu ia bisa menemukan sesuatu yang bisa membantunya untuk mengembalikan semua ingatan elise.
Diana teringat beberapa hari lalu ia berkunjung ke rumah elise, perempuan itu tidak mengingatnya sama sekali. Tatapannya seringkali kosong, perasaan bersalah semakin besar menggerogoti Diana. Karena itu ia bertekad untuk berusaha keras menciptakan serum yang dapat menetralisir Oublierserum.
Diana baru menghentikan kegiatannya kala mendengar suara pintu diketuk. ia berjalan keluar untuk membuka pintu,
"Adnan? Ngapain kamu kesini? " Tanya Diana melihat Adnan berdiri menenteng kresek hitam ditangan kanannya.
"Aku tahu kamu marah, na. Kalau kamu tidak mau mereka bergabung tak apa. Aku akan tetap bantu kamu meskipun kamu tidak setuju. " Kata Adnan lembut, ia menyodorkan kresek yang ia bawa, " nasi goreng udang kesukaan kamu, "
Diana mengambilnya, ia memang tidak bisa menolak nasi goreng yang satu ini.
"Masuklah, " Diana melenggang masuk kedalam dan membiarkan pintu terbuka.
"Kenapa ngga tinggal dirumah aja? " Adnan duduk di kursi plastik di ruang tamu mungkin, sebab rumah ini hanya memiliki satu ruangan selain kamar tidur, dapur dan kamar mandi.
" Aku tidak mau tante curiga, " Diana menjawab singkat sambil memindahkan nasi goreng kedalam dua piring. Menyodorkan satu pada Adnan dan mengambil yang satunya untuk dirinya.
Mereka makan dalam diam tidak ada yang memulai pembicaraan. Adnan sesekali masih melirik Diana, berharap gadis itu memulai obrolan lebih dulu. Namun sampai piring mereka kosong tetap tidak ada yang bersuara.
"Aku akan ke buana besok. Ada sesuatu yang ingin aku periksa, " Kata Diana sambil mencuci piring, Adnan yang sedang mencuci tangan disebelahnya membeku.
"Aku ikut, " ujar Adnan.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku capek mau istirahat, "
Sebuah usiran halus yang dilakukan semata-mata karena ia merasa tidak nyaman. Adnan baik, sangat baik malahan. Dia selalu melakukan apapun untuk Diana dan orang terdekatnya, namun untuk memberi kepercayaan Diana sudah tak ingin melakukannya lagi. Ia tak mampu membenci Adnan seandainya pria itu mengkhianatinya, lebih baik tidak melibatkan siapapun lagi. Cukup elise yang menjadi korban keegoisan Diana.
Adnan pergi tanpa suara, paham betul dengan keadaan Diana. Sebelum pergi, ia masih menatap cukup lama pintu yang sudah ditutup Diana.
" Sesakit itu kamu sekarang, na? "Adnan tersenyum getir kemudian masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.
Diana kembali ke kamar setelah memastikan Adnan sudah pergi. Ia kembali berkutat dengan lembaran kertas. Sarah kemana? Mayatnya tidak ditemukan sama sekali, mayat pak Eddie juga tidak ada. Apa mereka masih hidup? Mata Diana sedikit berbinar, jika kedua orang itu masih hidup mereka pasti bisa membantu Diana.
" Sudahlah. Untuk sekarang jangan percaya sama siapapun lagi, Jangan-jangan kedua orang itu juga komplotan Profesor Adams, "gumam Diana. Ia menggeleng, tidak perlu memikirkannya.
Diana menyimpan semua kertas-kertas itu kedalam tas. Kemudian merebahkan diri di ranjang.
Lab buana didirikan untuk menghidupkan kembali margareth buana yang meninggal dibunuh. Awal dari semuanya adalah kematian margareth, siapa sebenarnya yang membunuhnya? Apa motif orang itu membunuh margareth? Karena dendam atau mungkin karena iri dengki terhadap kehidupan margareth buana?
Diana membuka matanya, ia meraih ponsel yang tergeletak di samping kepalanya. Ia menatap cukup lama pada nomor Dylan yang ia dapatkan dari kartu namanya, mungkin itu nomor telepon tempat pria itu bekerja.
Dylan bekerja di bidang IT, pasti tidak terlalu sulit baginya mencari sebuah informasi. Apa sebaiknya ia meminta Dylan untuk mencarikan informasi tentang margareth buana, tapi, bagaimana kalau pria itu menanyakan sesuatu yang tidak bisa Diana jawab.
Sudahlah. Diana kembali meletakkan ponselnya. Ia hanya perlu pergi ke desa tembang untuk bertanya, tapi warga desa juga tidak terlalu suka dengan margareth. Namun tidak ada salahnya mencoba.
*
Seperti yang sudah Ia rencanakan tadi malam, hari ini Diana pergi ke lab buana. Ia sengaja pergi pagi-pagi sekali menggunakan motor untuk menghindari Adnan.
Bangunan besar asrama buana masih berdiri kokoh seperti enam bulan lalu. Tidak banyak yang berubah kecuali tempat itu sekarang sudah tidak terawat, jalan setapak menuju lab buana saja sudah hampir semuanya tertutup tumbuhan liar. Diana yang sudah pernah kesana tidak terlalu kesulitan untuk sampai di asrama buana.
Diana membuka pintu utama asrama yang tidak terkunci sama sekali. Bunyi berderit dari pintu memecah kesunyian, ah, tempat ini memang selalu sunyi bahkan ketika asrama masih ditempati oleh para peneliti. Dulu, Diana berpikir tempat ini begitu sunyi karena terletak di dekat hutan tapi sekarang Diana berpikir tempat ini begitu sunyi karena kegiatan terlarang yang terjadi. Kegiatan sesat itu seolah menjadikan asrama buana mati.
Diana melangkah di sepanjang koridor yang sangat kotor, wajar saja karena sudah tidak ada yang membersihkan. Diana tidak menyalakan lampu, Ia berjalan di Koridor yang tidak terlalu terang bahkan pencahayaan di tempat itu hanya remang-remang.
Diana berhenti didepan kamar empat belas, padahal rahasia terbesar tersimpan disini namun ternyata polisi tidak pernah menemukannya. Mungkin karena cara membukanya yang terlalu dark sehingga elise tidak memberikan catatan tentang ruangan rahasia dibalik dinding kamar empat belas ini kepada polisi.
Tap...
Tap...
Tap...
Ketika Diana hendak masuk kedalam kamar empat belas Ia mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Masih ada orang disini? Pikir Diana.
Diana segera masuk kedalam kamar empat belas agar tidak ketahuan. Ia sedikit membuka pintu untuk mengintip siapa yang turun dari lantai dua.
Seorang perempuan.
Diana sedikit menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas sosok itu. Diana dapat mengatakan kalau orang itu adalah perempuan, wajahnya tidak terlalu jelas karena pencahayaan yang kurang. Dia mengenakan gaun hitam selutut, rambut panjangnya yang juga hitam tergerai bebas di punggung. Dia berjalan anggun dengan kaki yang dibaluti sepatu hills,
Madam susan?
Saat perempuan itu melewati kamar empat belas, Diana bisa melihat wajahnya. Dia madam susan, kepala asrama buana. Kenapa dia ada disini? Apakah dia masih tinggal disini bahkan setelah insiden mengerikan itu.
Untuk sementara Diana tidak jadi memeriksa kamar empat belas. Ia harus pergi ke lantai dua untuk membuktikan kecurigaannya. Ia harus melihat kamar yang ditempati madam susan.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
hanz
sepertinya pria paruh baya yang terbaring dengan selang oksigen adalah prof eddie, dan perempuan yang menyelamatkannya adalah madam susan.
2025-03-12
0
Reksa Nanta
kenapa barang bukti sepenting ini tidak diserahkan kepada pihak kepolisian ?
2025-04-03
0
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
btw tlng djawab bagi yg tau prof eddi dan sarah akhre gmn y?
2024-01-17
0