Bab 7

Wanita itu berjalan mondar mandir di ruangan rawat, sesekali ia melirik cemas pada pria yang terbaring di ranjang pasien. Sejak masuk kesana dia tak bisa tenang, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Susan, berhentilah gelisah! " Kata seorang pria baruh baya yang sedari tadi sudah menatap jengah, sangat terganggu dengan suara keras hills yang beradu dengan lantai keramik. Rasanya ia ingin mematahkan kaki orang tersebut, namun mengingat hubungan diantara mereka ia mengurungkan niatnya.

"Bagaimana aku bisa tenang kalau wanita itu belum mati, " Umpatnya seraya melotot pada lawan bicaranya.

"Tenanglah, berputar sampai seribu kali juga tak akan merubah keadaan."

"Hei, kalau sampai dia menemukannya habislah kita. Bukan hanya aku, tetapi kau juga yang akan ikut terseret. Sebelum terlambat sebaiknya bereskan dia dulu! "

"Aku tahu apa yang harus kulakukan, tidak perlu memerintahku. " Pria itu mendelik sinis lantas mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyulutnya.

"Jangan merokok disini! Ini rumah sakit, "

"Semua perempuan sama saja, cerewet. " Gumamnya kemudian keluar dari ruangan itu, pergi ke taman rumah sakit menjadi tempat paling aman untuk merokok.

*

Satu minggu setelah insiden yang menimpa Adnan dan Diana, disalah satu rumah sakit kota A Diana sudah sadarkan diri terlebih dahulu. Sementara Adnan masih koma, ia melirik kearah wanita yang tertidur di diatas kursi disamping ranjang. Ia tak mengenalnya, apa dia yang sudah menolong Diana. Ia menyentuh lengan wanita itu membuat tidurnya terganggu,

"Kamu sudah sadar? " Tanyanya seraya meregangkan kedua lengannya, "Oh, iya, aku Alea, sahabat Adnan. " Alea mengenalkan diri mendapati yang sedang bingung.

"H-haus, " Ucap Diana parau, tenggorokannya sangat kering dan perih. Kepalanya masih pusing dan terkadang berdenyut, sejenak ia memejamkan mata. Setelah dirasa lebih baik ia kembali membuka mata,

Alea memberikan segelas air putih, dan langsung diminum sampai habis oleh Diana.

"Adnan mana? " Tanya Diana setelah meneguk segelas air, ia ingat sebelum pingsan luka Adnan lebih parah. Sontak ia merasa sangat cemas, bagaimana kalau Adnan tidak selamat? Apa yang harus ia lakukan jika terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu. Ia sudah sangat merasa bersalah terhadap apa yang terjadi dengan Elise. Tubuh Diana menggigil sebagai reaksi akan ketakutan yang amat besar.

"Adnan ada di ruang sebelah. Ada mamanya disana yang jaga. Oh, iya, tadi orang tua kamu juga ada disini. cuma lagi keluar cari makan, " Kata Alea.

Diana memijit pelipisnya, kalau orang tuanya ada disini ayahnya pasti akan kembali menyuruhnya pulang ke rumah. Namun, mendengar Adnan masih selamat membuat Diana lebih tenang. Sekarang ia hanya berharap Alea belum memberitahu tempat kecelakaan Diana dan Adnan pada kedua orang tuanya. Karena jika mengetahui Diana masih datang ke lab buana, ayahnya akan marah besar dan mengurungnya dirumah.

*

Hari sudah larut malam, mata Diana masih belum juga terlelap meskipun dokter mengatakan kalau dia harus banyak beristirahat. Entah kenapa ia tak bisa tertidur lelap, perasaannya tak tenang sejak sore tadi. Diana memiliki firasat yang kuat, ia sudah membuktikan berkali-kali saat perasaan tak nyaman itu menelusup masuk pasti akan terjadi sesuatu yang buruk.

Malam ini sangat tenang, tak akan terjadi apa-apa, pikir Diana berusaha menenangkan diri. Beberapa kali ia membasahi bibirnya yang kering, meremas jemarinya, berusaha meyakinkan diri kalau semuanya akan baik-baik saja.

krieeetttt....

Pintu dibuka perlahan dari luar, seseorang hendak masuk. Diana mengcengkeram erat selimut, sambil melirik kearah sofa dimana ayahnya sedang tertidur pulas.

Orang itu berjalan kearahnya dengan sudut bibir terangkat membentuk seringaian. Untuk beberapa saat Diana hanya terdiam, otaknya mendadak kosong. Melihat sosok yang sekarang berdiri tepat disebelahnya dalam keadaan baik-baik saja membuat darahnya mendidih. Ia mengepalkan tangan dan menatap nyalang, jika saja tatapan bisa membunuh mungkin orang itu sudah terpotong menjadi dua bagian saking tajam tatapan Diana.

"Feby?!! Brengsek, seharusnya kamu mendekam dipenjara! " Geram Diana.

" Sinis sekali sambutanmu, padahal aku datang untuk menjengukmu, sahabatku."Feby menatap remeh dari ujung kepala sampai ujung kaki Diana, "Kamu terlihat sempurna terbaring disini. "

" Kamu akan mati, diana, "Feby berpindah ke dekat jendela, melihat jalanan dari kaca jendela, ia bersandar pada kusen jendela memperhatikan suasana jalan yang lengang pada tengah malam. Untuk seseorang yang sudah melakukan kejahatan keji, tak terlihat sedikitpun jejak penyesalan diwajahnya.

"kamu bukan Tuhan dan lagipula kamu tidak akan berani melakukan pembunuhan disini, "

"Percaya diri sekali kamu, diana, " Feby melotot marah, Ia melangkah cepat kedekat ranjang, kemudian berkata setengah membentak, "karenamu semuanya berantakan, seharusnya aku sudah bahagia sekarang tapi gara-gara kamu aku semakin menderita. Aku memang tidak akan membunuhmu disini, tapi aku akan membuatmu merasakan yang lebih menyedihkan daripada kematian, "

Feby tersenyum smirk, ia mencondongkan tubuhnya sehingga hanya tersisa beberapa jarak saja diantara keduanya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, ia meletakkan benda tersebut tepat diatas mata Diana, "Kamu pasti sangat mengenali apa isinya, "

"O-Oublirserum, " cicit diana. Tanpa berkedip ia memperhatikan suntikan yang berisi cairan kimia itu, serum yang sudah menghapus seluruh ingatan Elise. Jika Feby menyuntikkan padanya, ia akan kehilangan ingatan seperti Elise. Tidak! Diana tidak akan membiarkan nya sebelum ia menjebloskan wali kota dan antek-antek nya kedalam penjara. Ia tidak boleh tumbang disini sebelum menyelamatkan pak Eddie dan mencari tahu keberadaan sarah.

Diana dengan cepat membuka infus di tangannya dan menendang perut Feby sekuat tenaga membuat si empunya terjatuh di lantai keramik yang dingin.

Diana berdiri sempoyongan, ia belum terlalu pulih namun memaksakan diri untuk mengeluarkan tenaga. Kepalanya pusing dan benda disekelilingnya berputar,

" Diana kamu kenapa? "tanya Ayah yang terbangun karena suara ribut-ribut. Pria paruh baya itu kaget melihat Diana berdiri sempoyongan dan seorang perempuan baru saja berdiri, apa mereka baru saja berantem? pikir Ayah Diana sambil mendekati anaknya. Ia merengkuh tubuh Diana agar tak terjatuh, kemudian membaringkan kembali di ranjang.

"Lho, Feby ternyata. Kalian berantem lagi? " Tanya Ayah seraya menatap keduanya bergantian. Diana belum memberitahu siapapun tentang keterlibatan Feby, ia masih mencari bukti agar bisa memenjarakan mantan sahabatnya itu. Ia juga belum sanggup menceritakan siapa sebenarnya feby pada ayahnya, ia tak mau melihat ayahnya kecewa lagi.

"Sudahlah, kalian sudah dewasa sekarang, jangan kebanyakan bertengkar. kamu juga Diana baru juga sadar tadi siang kok infusnya sudah dilepas? " Omel Ayah kemudian menghubungi perawat agar memasang kembali infus Diana.

Feby melirik sekilas pada Diana kemudian segera keluar dari sana selagi Ayah Diana berbicara dengan perawat. Sementara Diana hanya diam membiarkan Feby pergi. Lagipula ia tak punya cukup bukti untuk menahannya disini.

***

Terpopuler

Comments

hanz

hanz

kalau polisi saja ga menyelidiki walikota lebih lanjut, harusnya diana sadar kalau walikota di back up oleh polisi. lalu ?

2025-03-12

0

hanz

hanz

biasanya kalau pasien yang butuh istirahat lebih, akan diberi obat yang memiliki efek mengantuk.

2025-03-12

0

hanz

hanz

agak aneh kalau sampai ayahnya diana ga terbangun karena suara feby.

2025-03-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!