Di sebuah gedung terbengkalai yang di sulap sebagai markas besar Vipers , gedung yang tampak lusuh dan kumuh seperti tak berpenghuni dari luar , namun siapa sangka di dalam nya terdapat ruangan yang megah dengan segala fasilitas yang tersedia di sana.
Di gedung itu juga terdapat tempat bersantai , area khusus latihan , ruang makan juga laboratorium tempat di mana mereka menguji obat hasil racikan mereka sendiri.
Dan di sebuah ruangan yang dominan dengan warna hitam , terlihat seorang laki laki paruh baya tengah duduk di kursi kebesaran nya dengan sikap angkuhnya sambil menikmati nikotin yang terselip di dua jari manisnya.
"Bagaiman dengan mereka?"ucap orang tersebut , dia adalah pimpinan organisasi Vipers , Cedric Prospera.
"Masih belum ada pergerakan tuan"jawab tangan kananya Steve Timoty.
Cedric menaikan satu alisnya bigung dengan laporan dari orang kepercayaan nya ini.
"Bukankah hadiah yang kita kirimkan berjalan dengan baik , tidak mungkin mereka tidak mengetahui jika itu dariku"
"Itu memang benar tuan , tetapi tidak ada korban jiwa dalam kasus itu , mungkin itu yang membuat mereka tidak bergerak sekarang"jelas Steve.
"Bukankah ini aneh Steve , padahal aku ingin tahu seperti apa tampang orang yang di katakan akan mengemparkan dunia bawah itu"ucap Cedric sambil mematikan rokoknya.
"Itu benar tuan bahkan sampai sekarang saya masih belum menemukan informasi mengenai hal itu"
"Hem...bukankah akan mudah bagi kita jika gadis itu masih hidup? tapi sayangnya dia sudah mati , jika bukan karena kecerobohan orang suruhanmu mungkin aku masih bisa memanfaatkan kemampuannya"
"Maafkan kelalaian saya tuan"ucap Steve menunduk.
"Jangan membuatku kecewa lagi Steve"ucap Cedric dingin dengan aura membunuhnya menatap tajam Steve.
"Baik tuan"ucap Steve memberi hormat lalu kemudian undur diri meninggalkan ruangan pimpinan mereka.
"Seberapa hebat cucumu itu Jack , lihat saja aku pasti akan menghancurkan kalian"ucap Cedric menyeringai hingga membuat orang yang ada di dekatnya mungkin akan berlari ke takutan karena merasakan aura membunuh dan dendam yang terlihat jelas di matanya.
......................
Setelah pulang dari sekolah Adelia memilih untuk mampir dulu ke minimarket , dia mengindahkan pesan Mattew yang menyuruhnya memakai mobil Mattew saat Mattew tak bisa mengantarnya.
Hari ini Mattew ada kelas tambahan makanya dia tidak bisa mengantar Adelia pulang , sebenernya Freya juga mengajaknya pulang bersama tapi Adelia menolaknya , dia hanya ingin jalan jalan sendiri sebentar sebelum pulang ke apartemen.
Lagipula apartemen Mattew tidak begitu jauh lagi dari minimarket yang dia singgahi.
Adelia menghela nafas lelah sambil duduk di kursi di depan minimarket , dia jadi ingat mengenai kecelakaan yang dia alami hinga jiwanya terdampar di tubuh Adelia sekarang.
Mengingat kembali insiden itu membuat Adelia jadi sedih dan merutuki dirinya sendiri karena begitu ceroboh , Adelia mengambil air mineral di dalam kantong plastik belanjaannya bersama snack yang dia beli tadi.
"Gini amat hidup gue , giliran punya orang tua tapi memiliki orang tua yang...ah...enggak bisa ngomong lagi gue"gerutu Adelia setelah dia meletakkan botol air mineral yang baru saja dia minum.
Adelia yang sibuk dengan pikirannya tak sadar jika seseorang telah mengintainya tak jauh dari Adelia duduk , untuk beberapa saat Adelia tidak memperhatikan hanya ketika dia mengambil tasnya yang tidak sengaja jatuh Adelia bisa merasakan jika sedang diawasi.
Adelia menegakkan duduknya lalu mengambil ponsel yang dia simpan di dalam tas tadi.
"Ah...ponsel mahal ini gue balikin enggak ya..? tapi kok sayang ya..lagian Eldrik enggak mungkin akan keberatan kalu gue minta yang satu ini" batin Adelia sambil mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
Dan setelahnya , Adelia memilih berjalan meninggalkan minimarket itu dengan tas yang ada di pundaknya juga ponsel yang ada di saku blazernya.
Hanya untuk berjaga jaga jika terjadi sesuatu Adelia langsung bisa menghubungi seseorang yang Adelia sendiri belum tahu ingin menghubungi siapa.
Adelia masih berjalan santai melewati trotoar , dan orang yang ada di belakangnya pun masih mengikuti pada jarang aman hingga sampai di tikunggan , tepat di mana ada pohon besar di sisi jalan , Adelia memilih bersembunyi di pohon itu sambil menunggu orang tersebut lewat , hingga..
"Sialan..kemana perginya tu cewek,cepet banget perginya"gerutu orang tersebut melihat sekitar yang tak ada orang sama sekali selain kendaraan yang sedang berlalu lalang.
"Nyari gue ya..."ucap Adelia menyeringai yang berdiri di belakang orang tersebut.
Orang yang berpakaian serba hitam dengan kepala botak juga postur tubuh tinggi dan besar itu refleks berbalik saat mendengar suara Adelia dari belakang nya.
"Cewek sialan...!!"
"Apa.. mau marah sama gue"ucap Adelia menatap datar orang itu.
"Mending lo ikut gue sekarang , bos gue sudah nunggu lo , bos gue udah bayar mahal buat ngebeli lo , jadi lo ikut gue sekarang"jelas orang itu sambil meraih tangan Adelia tapi Adelia dengan gesit menghindar.
"Ngimpi lo , siapa yang berani jual gue ha..!! mau cari mati lo dasar paman botak!"kesal Adelia sambil memaki orang itu.
"Sok suci lo , dasar cewek murahan"
Adelia memejamkan matanya saat mendengar kata kata kasar itu , dia membuang nafasnya lalu membuka kembali matanya dan menatap nyalang orang yang mempunyai mulut kotor itu hingga..
Buk
Buk
Duak
Duak
Brak
Suara tendangan dan pukulan dari Adelia membuat orang itu akhirnya terkapar tak berdaya sekarang , hingga sentuhan akhirnya Adelia menginjak dengan keras tangan kanannya dan munculah suara kesakitan dari orang itu.
"Lo tahu...seumur umur enggak ada yang ngatain gue cewek murahan dan lo dengan seenak jidat lo ngatain gue cewek murahan , lo punya berapa banyak nyawa Ha...!!!"marah Adelia yang tak perduli dengan ringisan kesakitan orang itu.
"Katakan pada gue siapa orang yang sudah berani beraninya ngejual gue"ucap datar Adelia.
"Jawab bodoh!!"
"Fely"
Dan setelah itu Adelia terkekeh mendengar satu nama yang meluncur dari mulut orang yang sudah mengatainya cewek murahan ini.
"Astaga...tu cewek benar benar mau cari masalah sama gue , udah bosen hidup kali ya.." batin Adelia.
Hingga tak lama setelah Adelia yang menganiaya orang itu , terlihat sebuah mobil yang familiar berhenti tepat di sampingnya dengan dua motor yang juga berhenti di belakang nya.
Seorang pemuda yang mengemudikan mobil itu keluar dari mobilnya lalu menghampiri Adelia yang masih diam di tempatnya.
"Ayo.."ucapnya dan menarik lembut tangan Adelia namun Adelia tak bergeming dari tempatnya hingga membuat pemuda itu berbalik melihat Adelia.
"Gue bisa pulang sendiri Eldrik"ucap Adelia yang akan melepaskan genggaman tangan Eldrik tapi Eldrik lebih erat mengenggam nya.
"Gue enggak suka di bantah"ucapnya dan menarik lagi tangan Adelia lalu menyuruhnya masuk mobil.
Sebelum Eldrik masuk ke dalam mobil Eldrik melihat ke arah Ravindra dan Vano di belakang nya dan dengan gestur tubuhnya menyuruh mereka membawa orang yang tadi di hajar Adelia ke basecamp mereka.
Eldrik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang , tak ada yang membuka suara saat di perjalanan , Adelia tak ingin mengatakan apapun dia tahu jika Eldrik sedang emosi entah karena apa Adelia tidak tahu.
Tak lama Eldrik mengemudikan mobilnya , mereka memasuki kawasan yang terlihat asri karena banyaknya pohon di kana dan kirinya membuat udara terlihat sejuk.
"Dimana ini? kenapa gue baru tahu kalau di tengah kota ada hutan?" batin Adelia memperhatikan sekitar.
Beberapa menit mobil itu melewati hutan , akhirnya di depan sana Adelia bisa melihat sebuah mension yang terlihat indah , mewah dan terlihat nyaman untuk di tinggali karena berada di tengah tengah hutan.
Meski Adelia tahu jika hutan yang dia lihat sepanjang perjalanan adalah hutan buatan , tetapi hal itu tak menghilangkan keindahan dan keasriannya.
Mobil Eldrik berhenti di depan mension sesaat setelah melewati pagar yang menjulang tinggi dan tentu saja bisa terbuka sendiri.
Eldrik turun dari mobil dan setelahnya dia berjalan ke sisi penumpang dan membukakan pintu untuk Adelia.
"Ayo turun.. "ucap Eldrik sambil mengulurkan tanganya setelah pintu mobil terbuka.
Dengan ragu ragu Adelia mengulurkan tanganya dan keluar dari mobil dengan Eldrik yang mengenggam tangan Adelia.
Eldrik membawa Adelia masuk ke dalam mension beserta Ravindra dan Vano yang mengikuti mereka di belakang , meski sebenarnya Adelia masih bingung kenapa dia di bawa ke tempat itu tetapi Adelia hanya bisa diam takut jika dia salah bicara nantinya.
"Urus orang itu sampai bicara"ucap Eldrik tanpa menoleh lalu kemudian di menarik lembut tangan Adelia menuju ke lantai dua , lebih tepatnya ke arah kamarnya.
Eldrik mendudukan Adelia di sofa setelah mereka tiba di kamar Eldrik , Adelia menatap waswas Eldrik yang duduk di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ekhem...ngapain lo bawa gue ke sini?"ucap Adelia memberanikan dirinya.
"Menurut lo?"
"Cara bicara Eldrik sekarang berbeda dengan yang dulu , tapi kenapa rasanya sakit ya..saat dia ngomong gitu" batin sedih Adelia.
"Jika gue ngebunuh lo apa Adelia akan kembali?"
Deg
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Ani Ani
APA akanjadi
2024-06-24
1
Leng Loy
Siapa cucunya Jack, Azzura atau Adelia
2024-06-15
2
beybi T.Halim
cedrik..,nama itu mengingatkan aku pada Harry potter .,goblet of fire.,🤭😀
2024-04-16
1