"Jika gue ngebunuh lo apa Adelia akan kembali?"
Deg
Tatapan mata setajam elang dengan aura membunuh yang terlihat jelas membuat Adelia merinding ketakutan , bahkan di wajah itu tak ada lagi terlihat kasih sayang dan kelembutan , yang terlihat sekarang adalah wajah dingin , datar dan tak tersentuh dengan rahang tegasnya menatap Adelia sebagai buruannya.
"Kenapa tidak mencaritahu sendiri"ucap Adelia tak kalah tegasnya menatap Eldrik.
Meski sebenarnya Adelia menahan gugup hingga membuat telapak tangannya basah oleh keringat karena tekanan yang di berikan Eldrik.
Sedangkan bagi Eldrik , mata amber yang dulu tak ada kehidupan di dalamnya sekarang dia bisa melihat begitu banyak warna dari mata itu , mata yang selalu menatap kosong dan tak pernah menganggap nya ada sekarang justru terlihat hidup meski dia tahu jika gadis yang ada di hadapannya ini sedang menekan rasa takut karena dirinya.
Tanpa menjawab , Eldrik beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang Adelia sendiri tak tahu tempat apa itu.
"Jadi dia beneran mau ngebunuh gue? hah...sorry Del...kayaknya gue enggak bisa bantu lo lagi , emang lo enggak mau balik ketubuh lo sebelum dia ngebunuh raga ini Del..?" ucap Adelia dalam hati.
Hingga akhirnya Adelia memilih menikmati momen akhirnya , Adelia melangkahkan kakinya menuju balkon yang di kanan dan kirinya terdapat hutan buatan tersebut.
"Terlihat tenang dan nyaman , mungkin menyenangkan jika hidup di tempat yang jauh dari kebisingan ini"ucap Adelia sambil membuang nafas lelah akan apa yang terjadi padanya.
"Hidup lo benar benar menderita banget sih Del , punya sahabat tapi dia tega ngejual lo , punya orang tua tapi mereka bukan orangtua kandung lo dan sekarang..."
Tes
Mata cantik itu terlihat mengeluarkan bulir bulir kristal bening yang membasahi pipinya , Adelia memegang pipinya yang tiba tiba basah karena air mata yang tiba tiba turun.
"Sejak kapan gue bisa menangis?"ucap Adelia tertawa sumbang dengan air mata yang tiba tiba deras membasahi pipinya.
Tiba tiba tubuh Adelia terjatuh terduduk di lantai sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri seperti di tusuk ribuan jarum.
Adelia menangis , ini pertama kalinya Adelia menangis dan rasanya membuat dadanya begitu sesak , di kehidupan dia yang dulu dia bahkan tak pernah menangis sampai seperti ini , lalu sekarang Adelia menangis hingga membuat orang yang mendengarnya pasti akan merasakan sakit yang sama karena tangisan yang menyayat hati itu.
Dan tanpa Adelia sadari tubuhnya direngkuh dari belakang , sebuah pelukan hangat dari orang yang sudah beberapa hari ini mengabaikan nya , sebuah pelukan yang tanpa sadar membuatnya nyaman hingga menimbulkan efek kupu kupu dalam hatinya.
"Maaf membuatmu tadi takut baby"ucap Eldrik sambil mencium kepala Adelia.
Kembali , Adelia dibuat terisak di saat mendengar suara lembut yang sudah dia rindukan sejak beberapa hari yang lalu , dan karena terlalu lelah menangis Adelia jadi tertidur di dalam dekapan Eldrik.
Karena tak lagi mendengar isak tangis Adelia juga karena tak ingin terlalu lama berada di luar dengan cuaca yang mulai dingin , Eldrik mengendong Adelia ala bridal style masuk ke kamar dan merebahkan Adelia di ranjang king size nya.
Melihat jejak air mata pada pipi Adelia membuat Eldrik sakit tapi juga dia menyadari jika Adelia yang sekarang lah yang dia inginkan , tanpa perduli jika jiwa yang ada di tubuh Adelia bukanlah jiwa Adelia yang sebenarnya , melainkan jiwa asing yang sudah membuatnya ingin selalu berada di sisinya.
"Tidurlah baby..dan I Loe You Azura"ucap Eldrik yang kemudian mengecup kening Adelia lalu setelahnya membenarkan selimutnya dan kemudian pergi keluar kamar untuk menghukum orang bodoh yang sudah membuat kesayangannya hampir celaka.
............................
Menjelang malam Adelia baru terbangun dari tidurnya , matanya terasa berat karena terlalu lama menangis dan setelah beberapa saat Adelia memilih untuk bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Badanya terasa lengket dan lagi matanya pasti akan terlihat bengkak karena terlalu lama menangis tadi.
Adelia bangun dari tidurnya lalu kemudian menuju kamar mandi setelah mencari tahu di mana letak kamar mandi tersebut.
Dan setelah beberapa saat menghabiskan waktu di kamar mandi Adelia mencoba mencari tahu letak walk in closet untuk mencari baju Eldrik yang mungkin bisa dia pinjam.
Tetapi saat menemukan di mana letak walk in closet itu dia di buat melongo karena bukan hanya baju Eldrik saja yang ada di sana tetapi juga ada banyak baju cewek lengkap dengan aksesori nya.
"Sejak kapan ada baju cewek di sini ?"ucap Adelia yang di buat berdecak kagum karena semua baju yang dia lihat memiliki harga yang fantastis.
Memilih abai dengan harga dari baju baju tersebut , Adelia mengambil baju kaos putih dengan celana joger warna hitam lalu setelahnya di menyisir rambut panjangnya dan memakai makeup tipis dan setelah selesai dia memilih keluar untuk mencari Eldrik.
Adelia menyusuri jalan yang di laluinya tadi dan menuruni tangga hingga sampai di ujung tangga dia melihat Eldrik dengan pakaian yang berlumuran cairan merah pekat berjalan masuk ke mension dari arah samping mension.
Adelia berhenti di anak tangga terakhir sambil memperhatikan Eldrik dan sahabatnya memasuki mension , tahu jika di perhatikan Eldrik melihat jika Adelia sedang berdiri di ujung tangga sedang memperhatikan nya.
"Tunggu di sini , aku mandi dulu"ucap Eldrik yang lalu kemudian pergi menuju kamar mandi yang ada di kamar bawah.
"Ayo duduk sini Del .."ucap Ravindra yang sudah duduk di sofa bersama Vano dan satu lagi temannya yang bernama Alvin.
Adelia berjalan menghampiri mereka dan duduk di sofa sebelah kiri sambil menaikan kakinya ke atas sofa.
"Dari mana kalian?"ucap Adelia menatap sahabat Eldrik.
"Biasa...nemenin Eldrik lagi main"ucap Vano yang kemudian mendapatkan delikan tajam dari Ravindra.
Adelia mangut mangut dan tak ingin bicara lagi , Adelia bukanlah orang yang bodoh yang tidak tahu apa arti kata bermain bagi mereka , pasti ada hubungannya dengan nyawa seseorang.
Sejak bertemu pertama kali dengan Eldrik , Adelia tahu jika Eldrik bukanlah orang sembarangan , awalnya dia takut dekat dengan Eldrik tapi melihat sikap lembut Eldrik membuat Adelia membuang rasa takutnya karena dia tahu jika Eldrik tidak akan mungkin menyakitinya.
Terkecuali kejadian tadi yang membuatnya merinding ketakutan saat menghadapi Eldrik yang sedang marah.
Terlalu asik dengan pikirannya Adelia bahkan tidak menyadari jika Eldrik sudah duduk di sampingnya dan tengah memperhatikannya.
Tuk
Eldrik mengetuk kening Adelia dengan jari telunjuknya hingga membuat Adelia tersadar dari lamunannya.
"Jangan pikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkan"ucap Eldrik sambil mengusap kening Adelia bekas jitakan nya tadi.
"Hem..."
Adelia hanya berdehem sebagai jawaban lalu matanya melihat sekitar tepat di mana sahabatnya Eldrik terlihat was was.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?"ucap Adelia sambil menatap Eldrik.
"Tidak ada , Alvin bisa mengatasinya"sambil mecium rambut Adelia yang wangi bunga mawar karena shampo yang dia pakai.
Adelia terus memperhatikan orang yang bernama Alvin itu terlihat sibuk dengan laptopnya , Eldrik tahu jika Adelia penasaran tapi dia tidak ingin melibatkan Adelia dalam dunianya.
"Mereka sudah menjebol sistem keamanan yang gue buat tinggal tunggu beberapa menit mungkin dia akan tahu mengenai lo"jelas Alvin yang masih fokus dengan laptopnya.
"Biar aku bantu"sahut Adelia tiba tiba.
"No...aku tidak ingin kau terlibat dalam urusanku"tolak Eldrik yang tidak suka jika Adelia ikut terlibat dalam masalah nya.
"Gue cuman bantu Alvin untuk memperkuat sistem keamanan yang udah dia buat , mereka enggak akan tahu jika itu gue , karena gue pake laptopnya Alvin"jelas Adelia.
"Drik mungkin untuk sekarang biarkan Adelia membantu , toh mereka akan menganggap jika Alvin yang melakukan nya"usul Ravindra.
Eldrik membuang nafas lalu mengangguk dan setelahnya Adelia berjalan cepat ke arah Alvin untuk mengambil alih laptopnya.
"Duduk sini"ucap Eldrik yang hanya bisa diikuti oleh Adelia.
Adelia duduk di karpet bulu tepat di sisi kaki Eldrik yang duduk di atasnya , dan tanpa membuang waktu Adelia mengetikkan sesuatu dengan cepat di laptop Alvin yang sudah dalam zona merah.
Cukup menguras tenaga dan waktu hingga Adelia bisa memulihkan semua sistem keamanan yang di buat Alvin dan sebagai sentuhan akhir Adelia memperkuat nya dengan virus yang pernah dia ciptakan dulu dan berharap hal itu dapat bekerja dengan baik .
Setelah memastikan semua aman dan virusnya bekerja dengan baik akhirnya Adelia bisa bernafas lega dan tersenyum puas jika kemampuannya tak hilang meski sekarang dia di tubuh yang berbeda.
"Kerja bagus Del.."ucap Ravindra mengangkat dua jempolnya di ikuti Vano yang melakukan hal yang sama sedangkan Alvin mengambil alih kembali laptopnya dan melihat apa yang di lakukan Adelia barusan.
"Ini luar biasa , terimakasih"ucap Alvin kagum dengan virus ciptaan Adelia dan dengan sistem keamanan yang di perkuat oleh Adelia.
"Sama sama..."ucap Adelia balas tersenyum dan hal itu membuat Eldrik tidak suka melihatnya.
"Ekhem..."dehem Eldrik yang membuat mereka tersadar jika Eldrik dalam mode posesif nya.
"Mode posesif aktif gaes....hati hati entar bisa kena sinar leser dari matanya"ledek Ravindra pada Eldrik sehingga membuat mereka terkekeh melihat bagaiman posesif nya Eldrik.
Sedangkan Adelia hanya terkikik geli dengan sifat posesif seorang Eldrik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Ani Ani
DIA lebih pintarsemuatak tahu
2024-06-24
2
Yukii
jgn kebanyakan melotot nanti kelilipan genteng 😆
2024-04-01
2
Yukii
nah kannn udahlah eldrik /Grimace//Grimace//Grimace//Grimace//Grimace/
2024-04-01
1