Di dalam gudang terbengkalai itu, keempat anggota faksi Blackjack - Dark Slayer, Blossom, Phantom, dan Iris - bergerak dengan hati-hati. Cahaya remang-remang memberikan nuansa misterius di sekitar mereka, sementara teropong dan peralatan khusus mereka membantu memantau area tersebut.
Dark Slayer memberikan instruksi dengan tegas, "Pastikan kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kita tidak tahu kapan buronan kategori merah akan muncul, jadi tetap waspada."
Blossom, dengan senapan khususnya, mengamati setiap sudut gudang. Phantom, yang ahli dalam ilusi dan penyamaran, terus memantau area dengan cara-cara yang tidak terlihat. Sementara itu, Iris, yang terkenal dengan kecepatan dan keahlian bertarungnya, bersiap untuk beraksi sesuai kebutuhan.
Mereka tahu bahwa misi ini penuh risiko, tetapi di dunia yang penuh dengan kejahatan dan ancaman, faksi Blackjack telah menjadi harapan terakhir bagi keamanan dan ketertiban. Saat petualangan baru mereka dimulai, ketegangan dan ekspektasi pun merayap di antara anggota faksi ini.
Blossom menarik nafas dalam-dalam, fokusnya tertuju pada sosok yang keluar dari bayangan gudang. Dengan cermat, ia mengecek melalui teropong khususnya, memastikan apakah ini buronan kategori merah yang mereka incar.
"Saya melihat seseorang di pintu keluar," ucap Blossom, berbicara melalui komunikator internal mereka. "Dark Slayer, apa kami siap untuk melanjutkan?"
Dark Slayer merenung sejenak sebelum memberikan restu, "Bersiaplah, tetap waspada, dan pastikan target itu benar-benar buronan yang kita incar. Phantom, siapkan dirimu untuk menyusup jika perlu."
Keempat anggota faksi Blackjack bersiap untuk bergerak, menyesuaikan posisi mereka untuk menghadapi situasi yang semakin tidak pasti di depan pintu keluar gudang terbengkalai itu.
Dengan dingin, buronan itu membuang rokoknya dan menginjaknya, seolah memberikan pesan tak tertulis tentang sikapnya yang penuh keengganan terhadap apapun, termasuk aturan dan kenyamanan. Blossom menggigit bibirnya, mencoba untuk tidak menggeram dalam keputusasaan saat melihat sikap arogan buronan itu.
"Dark Slayer, kami bisa mengonfirmasi target. Apakah kami boleh melanjutkan?" tanyanya lewat komunikator.
Dengan ekspresi serius, Dark Slayer merespons, "Bersiaplah, tapi jangan meremehkan dia. Buronan kategori merah tidak sembarangan." Sejenak, mereka semua memantau dengan ketegangan si buronan yang tampaknya tak terpengaruh oleh kehadiran mereka.
Buronan itu tersenyum lebar, "Kalian pikir kalian bisa menyelinap tanpa diketahui, ya?" Suara lelaki itu menggema di dalam gudang yang sunyi.
Mereka berempat terkejut dengan apa yang dia katakan.
Lelaki itu melangkah maju, masih menyisakan senyuman tajam di wajahnya. "Tidak ada tempat untuk bersembunyi dari mata Spector. Aku tahu kalian sedang memantau gudang ini."
"Apakah dia bercanda? Bagaimana dia bisa tahu?" ujar Phantom.
"Entahlah, tapi sepertinya dia memiliki kemampuan yang luar biasa," tambah Dark Slayer.
"Hati-hati, mungkin kita harus meninjau kembali rencana kita," saran Iris.
"Segera kumpulkan informasi lebih lanjut tentang dia. Kita tidak bisa meremehkan buronan berkategori merah," kata Blossom serius.
Begitu keempat agen itu kembali melihat ke arah gudang, mereka terkejut karena lelaki buronan tadi telah menghilang tanpa jejak.
"Di mana dia pergi?" tanya Phantom dengan nada cemas.
"Mungkin dia memiliki kemampuan menyembunyikan diri. Kita perlu berhati-hati," peringat Dark Slayer sambil memeriksa sekitarnya.
Sementara Dark Slayer tengah asyik berkomunikasi, lelaki buronan tiba-tiba muncul di belakangnya. Dengan gerakan lincah, ia mengayunkan pedangnya menuju kepala Dark Slayer.
Namun, Dark Slayer yang peka segera merespons, berputar cepat, dan berhasil menahan serangan tersebut dengan pedang cyber nya. Keduanya terlibat dalam pertarungan sengit di tengah gudang yang gelap dan rahasia.
Cahaya bulan menerangi wajah Specter, mengungkap senyum misteriusnya. "Jadi, kau Specter, buronan kategori merah yang selama ini menjadi incaran kita?"
Dengan senyuman yang tak terbaca, Specter menjawab, "Tepat sekali, Dark Slayer. Kau benar-benar terampil untuk dapat melacak dan mendeteksi kehadiranku."
Dengan sikap yang dingin, Dark Slayer berdiri tegak. "Jangan merasa terhormat. Aku hanya menjalankan tugas."
"Begitulah." Specter mengangguk seolah mengerti. "Namun sepertinya ada urusan yang harus kita selesaikan, bukan?"
Dark Slayer, berdiri di kejauhan, memberikan aba-aba tak tertulis kepada Blossom. Dengan sigap, Blossom mengetahui apa yang diminta. Tanpa ragu, ia membidik senjatanya ke arah Specter, mengetuk pelatuk dengan keahlian yang mempesona. Senjata melepaskan proyektil mematikan yang menghujani Specter dengan cepat dan terencana.
Dengan gerakan lincah dan insting yang tajam, Specter menghindari lesatan peluru, sementara matanya tetap fokus ke depan tanpa menoleh.
Specter tersenyum mengejek. "Kalian seperti anak kecil yang bermain petak umpet di mataku. Lokasi kalian terbaca dengan jelas."
"Oh benarkah?" Dark Slayer tersenyum.
Specter yang merasakan kehadiran Phantom di atasnya, dengan cepat mengubah posisi dan menghindari serangan Phantom.
"Kau pikir trik itu akan berhasil padaku?" ucap Specter dengan nada merendahkan.
Dengan gerakan cepat, Specter menendang Phantom sehingga tubuhnya terpental ke belakang. "Kalian tidak akan bisa menangkap ku begitu saja," ucap Specter dengan nada menantang.
Specter tiba-tiba terjatuh, kesadarannya terhuyung-huyung setelah terkena jebakan tak terlihat yang dirancang dengan cerdik. Keempat Agent Blackjack yang awalnya terkejut, sekarang melihat Specter dengan ketertarikan dan berencana untuk memanfaatkan keadaannya.
Terkuak bahwa jebakan itu berasal dari tangan cerdik Agent Iris. Keempat Agent Blackjack menyadari bahwa inilah kesempatan mereka untuk mengambil kendali dalam pertarungan ini.
"Selamat datang di panggung ku, bodoh!" Dark Slayer kembali bangkit dan maju dengan pedang di tangannya.
Specter langsung berdiri dan mengambil pedangnya yang menancap, "Coba kalau bisa!"
Bayangan pedang dan kilatan serangan memenuhi ruangan yang gelap. Dark Slayer dan Specter saling berkejaran, menampilkan keahlian bertarung yang luar biasa. Setiap gerakan dipenuhi ketegangan, menciptakan pertarungan yang memukau di antara mereka. Desiran pedang dan serangan yang bertubi-tubi menciptakan pemandangan yang menakjubkan, seolah-olah mereka tengah menari dalam gelap yang menyelimuti.
Mereka berdua seperti tornado yang melanda ruangan, saling berputar dan melancarkan serangan mematikan. Suara pedang bersentuhan dan kilatan cahaya dari serangan mereka memperlihatkan kecepatan dan keahlian yang luar biasa. Ruangan itu menjadi panggung bagi pertunjukan keterampilan bertarung mereka, dan keseluruhan suasana dipenuhi dengan ketegangan yang melibatkan setiap gerakan dan perlawanan yang terjadi di antara keduanya.
Ketiga Agent lainnya menyaksikan pertarungan sengit itu dengan tatapan serius, sesekali menukar pandangan yang penuh arti.
Iris, Phantom, dan Blossom merasakan ketegangan dalam ruangan itu, tahu bahwa hasil pertarungan ini bisa memiliki dampak besar pada nasib faksi Blackjack dan misi mereka untuk menangkap buronan berkategori merah. Dalam keheningan, mereka terus memantau dan menilai setiap gerakan, siap untuk melibatkan diri jika diperlukan.
"Dark Slayer, dia ahli dalam bertarung." Puji Phantom di samping Iris.
"Karena dia ahli, bukan berarti dapat memenangkan segala pertarungan." Iris masih serius menonton.
Dengan perlawanan sengit antara Dark Slayer dan Specter yang berlanjut di dalam gudang terbengkalai, ketiga Agent Blackjack lainnya terus memantau dengan ketegangan. Ruangan itu dipenuhi aura pertarungan yang intens, menciptakan ketidakpastian di udara. Nasib Blackjack bergantung pada kelanjutan pertarungan ini, dan keempatnya siap untuk menghadapi konsekuensi dari hasilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments