Di situ pagi yang cerah di pelabuhan yang sepi, ketegangan terasa di udara antara Vixeon, Valeria, dan Fredrinn. Dengan identitas dan kepentingan yang saling terkait, mereka berdiri dalam konfrontasi yang dapat mengubah jalannya nasib. Kedua matahari dan rahasia yang tersembunyi di balik setiap karakter menciptakan aura misteri, meramalkan petualangan yang belum terungkap. Mereka berada di persimpangan jalan, dan keputusan mereka hari ini akan membentuk arah cerita yang selanjutnya.
Angin pagi yang sejuk menghembuskan rambut mereka, menciptakan suasana tegang seolah waktu berhenti. Valeria, dengan tatapan penuh kemarahan dan tekad, merencanakan untuk melanjutkan pertarungan. Fredrinn, berdiri dengan tenang, memandang Vixeon dan Valeria tanpa sepatah kata. Di tengah pelabuhan yang sunyi, ketiga karakter ini menjadi pusat drama yang dapat mengubah segalanya. Dalam keheningan itu, pertempuran mereka akan menentukan takdir dan membuka bab baru dalam kisah mereka yang rumit.
Vixeon merenung, "Fredrinn, apakah kau selalu mengikuti langkah-langkahku?"
Fredrinn tersenyum misterius, "Aku hanya seorang fotografer yang senang dengan aksi-aksi menarik, Knightfall. Tidak perlu merasa terancam."
Vixeon skeptis, "Tapi kau selalu muncul di saat-saat krusial. Apakah ini kebetulan?"
"Mungkin aku hanya tahu di mana kejadian menarik akan terjadi. Atau, siapa tahu, aku punya mata-mata di sekitar sini. Siapa tahu?" Fredrinn dengan senyuman lebar
Vixeon mengangguk, "Kau mungkin lebih dari seorang fotografer, Fredrinn. Tapi kali ini, aku memiliki urusan yang harus diselesaikan."
Fredrinn mengangkat alis, "Apa itu, Knightfall? Apakah kau benar-benar bisa menangani semuanya sendiri?"
"Aku selalu menemukan jalan, Fredrinn. Apapun yang terjadi, aku tidak akan berhenti sampai semuanya selesai." tegas Vixeon.
Mereka melanjutkan perbincangan di tengah kekacauan, dengan bayangan Valeria yang masih mengancam dari belakang.
...[DORRRRRR]...
Peluru meluncur mendekati Vixeon, namun dia bergerak dengan lincah, menghindar tanpa perlu melihat ke belakang. Valeria tercengang, menyadari bahwa Knightfall tidak semudah yang dia kira. Vixeon menoleh dengan ekspresi tenang.
"Kau harus lebih cepat, Valeria. Aku sudah menjelaskan sistem Saber ini bukan?" Vixeon tanpa rasa tergesa.
Valeria menatap Vixeon yang masih berdiri tegap, merencanakan cara untuk menangkapnya atau setidaknya menghentikannya. Dalam keheningan, ia memutar berbagai skenario di kepalanya, mencari kelemahan Knightfall yang dapat dia manfaatkan.
Fredrinn merasakan hembusan angin dari peluru yang melesat di dekat telinganya, seolah-olah kematian telah berkata 'selamat tinggal' dalam seribu suara bising di keheningan malam
"Well, well, well... sepertinya aku berada di tengah-tengah pertunjukan yang menarik." Fredrinn kembali mengambil foto.
Vixeon setelah melihat Valeria, ia langsung menoleh ke mata Fredrinn dengan reaksi yang berbeda.
"Ehh ..." Fredrinn, wajahnya berubah pucat ketakutan, saat Vixeon menoleh ke arahnya.
Matanya yang tajam dan berubah memberikan kesan bahwa Vixeon bukanlah lawan yang sepele. Fredrinn merasakan getaran aneh, menyesali ketidakhati-hatiannya dalam mengabadikan momen ini.
Dengan hati yang berdegup kencang, Fredrinn mencoba menyelipkan diri perlahan dari lokasi itu, merasakan beban perasaan tidak enak yang membayangi setiap langkahnya.
"Mungkin, cukup segini saja. Lanjutkan urusan kalian berdua saja sana!" Fredrinn meninggalkan lokasi.
Saat matahari terbit memancarkan cahayanya di sepanjang pelabuhan, Vixeon masih berada dalam posisi kerennya. Valeria, bounty hunter yang sebelumnya tersungkur, berusaha mencari celah untuk menghindar.
Vixeon dengan instingnya yang tajam, mendeteksi gerak Valeria yang mencoba melarikan diri. Ia berbalik dengan cermat, menatap Valeria yang berusaha bergerak secara diam-diam.
"Kau pikir bisa pergi begitu saja?" ucap Vixeon dengan nada dingin, membuat langkah Valeria terhenti.
Matahari pagi menggantung di langit, menciptakan bayangan panjang di sepanjang pelabuhan yang sepi. Tiba-tiba, Vixeon merasakan detak kaki yang mendekat, seolah langkah kematian yang menghentak tanah. Suasana dramatis mulai tercipta ketika kehadiran beberapa sosok misterius tiba-tiba menghiasi bayangan panjang tersebut. Angin pagi membawa rahasia baru, dan Vixeon mempersiapkan diri untuk menghadapi ancaman yang semakin bertambah.
"Berhenti di sana, Knightfall!" suara wanita menyebut nama Vixeon dari belakang.
Vixeon memutar tubuhnya dengan lincah, menemui beberapa member yang kemungkinan adalah dari faksi Whitejack itu sendiri, tiba-tiba muncul di hadapannya. Wajahnya yang dingin dan penuh tantangan membuat situasi semakin memanas.
Wajah Vixeon mencerminkan ketenangan di tengah tekanan. Matanya menelusuri sosok-sosok di sekelilingnya, menyiratkan kewaspadaan dan kesiapan untuk menghadapi situasi yang semakin rumit.
"Ini pertama kalinya kita berhadapan ya ..." ternyata Agent Spectra yang memanggilnya barusan.
Begitu juga dengan Agent Zero dan satu Agent lagi seorang wanita berambut putih panjang membawa pedang cyber nya.
Vixeon merespon dengan mantap, "Sepertinya kita punya urusan yang belum selesai." Sorot mata Vixeon mencerminkan keberanian di hadapan ancaman ganda dari Agent Spectra, Agent Zero, dan wanita berambut putih panjang yang membawa pedang cyber.
Suasana menjadi tegang, menjanjikan pertarungan yang mendebarkan di antara mereka.
Vixeon memandang tajam ke arah Agent Spectra, Agent Zero, dan wanita berambut putih panjang. Dengan bantuan fitur pengenalan Saber, identitas asli mereka yang selama ini disembunyikan dalam bayangan berhasil terkuak di hadapannya. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Vixeon, menunjukkan bahwa dia sudah mengetahui siapa sebenarnya yang berada di hadapannya. Kini, rahasia-rahasia itu menjadi sejelas matahari terbit di langit pagi.
"Agent Zero ... Atau bisa dibilang Hugo Heisaber?"
Hugo Heisaber, yang berperan sebagai Agent Zero, merasa terkejut mendalam saat nama aslinya diungkap oleh Vixeon. Matanya melebar, dan ekspresi kaget terpancar dari wajahnya yang sebelumnya tenang.
"Bagaimana bisa ...?!" Begitu banyak pertanyaan muncul dalam benaknya, dan dia menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar di hadapan Vixeon.
"Agent Spectra, atau ...Serena Yagami?"
Wajah Serena terpaku, matanya memperlihatkan kekagetan yang mendalam. Detak jantungnya berdegup cepat, seakan dunianya runtuh sejenak.
"Bagaimana kau tahu?" desis Serena, suaranya penuh dengan keheranan dan ketidakpercayaan.
Vixeon kemudian melirik ke arah Agent yang berambut putih panjang itu.
"Agent Moonlight, alias Luna Lightstar."
Luna terdiam sejenak, matanya memandang Vixeon dengan penuh kejutan. Bibirnya terkatup rapat, mencerminkan betapa terkejutnya dia mendengar nama aslinya terucap. Setelah beberapa detik, ia mengeluarkan senyuman tipis yang dipenuhi kompleksitas dan misteri.
"Ternyata kau bukan musuh yang sembarangan, Knightfall," ujarnya dengan nada yang kembali tenang, tetapi terdengar berlapis-lapis makna.
"Oh, apakah kini aku lebih disebut penjahat atau musuh ketimbang seorang buronan?"
Luna tersenyum penuh misteri, "Mungkin keduanya, atau mungkin tidak ada istilah yang cukup tepat untukmu, Knightfall. Yang pasti, kau akan membuat banyak faksi, mafia dan Assassin cemas jikalau berhadapan denganmu yang sekarang."
"Benarkah? Menyenangkan untukku bukan?" Vixeon malah tertawa jahat.
Mendengar kata-kata Vixeon, keempat agen dari faksi Whitejack itu saling bertukar pandangan cemas, menyadari bahwa mereka mungkin menghadapi lawan yang lebih berat dari yang mereka duga.
Dalam suasana ketegangan yang memenuhi udara, Vixeon tersenyum menantang sambil berdiri di tengah-tengah keempat agen dari faksi Whitejack. Sorot mata yang tajam dan kehadiran Saber di tangan kiri Vixeon yang siap beraksi menambah ketegangan di udara.
Keempat agen itu saling bertukar pandangan, menyadari bahwa pertarungan yang akan datang akan menjadi ujian sejati bagi mereka. Aura misteri yang menyelimuti, dan pertarungan antara Vixeon dan agen Whitejack siap memulai babak baru.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments