Pada malam itu, Vixeon semakin tidak berdaya. Ketika sedang menonton acara televisi, ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil obat dibalik cermin.
Dalam kamar mandi yang terang benderang, Vixeon tiba-tiba merasakan kilatan terang di matanya, menyilaukannya sejenak. Pusing yang mendalam menusuk kepalanya, membuatnya kehilangan keseimbangan. Tanpa peringatan, darah terus mengalir dari hidungnya, menandai tekanan yang tak terduga.
Pandangan kabur, dan ruangan seakan berputar-putar di sekitarnya. Suara derap langkah dan bisikan bayangan malam berpadu dengan denyut jantung yang semakin melemah. Tubuhnya merosot perlahan, terjatuh ke lantai ubin yang dingin. Pingsan merayap begitu saja, menyeretnya ke dalam kegelapan tanpa ampun.
Seiring dengan kehilangan kesadaran, Vixeon terdengar desiran napas terbatas, seperti melodi ketidakpastian yang menggantung di udara. Semua berubah menjadi keheningan, membenamkannya dalam alam mimpi tanpa batas.
...****************...
Hatari berdiri di depan pintu apartemen Vixeon, menekan bel dengan penuh harap. Suara bel bergema di koridor, merambat ke dalam ruang yang mungkin menyimpan segala rahasia. Dalam keheningan, ia menunggu, penuh antusiasme untuk menyampaikan pesan atau berbagi kabar terbaru.
Hatari menekan bel dengan intensitas yang meningkat, mencoba membangunkan Vixeon dari tidurnya yang dalam. Suara bel berdering di seluruh koridor, menyatu dengan ketidakpastian malam. Tak lama kemudian, Hatari memutuskan untuk mengetuk pintu dengan lembut, membuat dentingan ringan yang merayap ke dalam ruang Vixeon.
"Vixeon, kamu di rumah?" ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh kekhawatiran.
Hatari merasakan keheningan menegangkan, dan ketidakpastian melingkupi setiap detik saat dia menunggu jawaban yang tidak kunjung datang.
Dengan kekhawatiran yang semakin memuncak, Hatari memutar gagang pintu dengan hati-hati. Pintu itu terbuka dengan pelan, memberikan akses ke dalam apartemen Vixeon yang mungkin menyimpan rahasia dan bahaya. Hatari memasuki ruangan dengan langkah-langkah hati-hati, menggantikan keheningan dengan getaran ketegangan yang terasa di udara.
"Vixeon?" panggilnya lagi, mencari tahu apa yang mungkin terjadi di dalam.
Hatari melangkah perlahan ke arah kamar mandi, hatinya berdebar kencang. Di dalam, dia menemukan Vixeon tergeletak di lantai, tampak lemah dan tak sadarkan diri. Darah mengalir dari hidungnya, memberikan nuansa dramatis di tengah keheningan kamar mandi.
Hatari segera merasa bahwa sesuatu yang serius terjadi dan mencoba membangunkan Vixeon dengan cemas, "Vixeon, bangun! Apa yang terjadi padamu?"
Hatari segera menghubungi Zara dengan cemas, "Zara, aku butuh bantuannya segera. Vixeon, dia... dia dalam keadaan tidak baik. Aku akan membawanya ke tokomu. Tolong siapkan segala yang diperlukan."
Zara dari seberang telepon mendengar urgensi dalam suara Hatari, "Aku akan menyiapkan semuanya. Cepatlah datang."
Hatari segera membungkus tubuh lemah Vixeon dengan hati-hati dan membawanya keluar dari apartemen.
Ia memasukkan tubuh tak berdaya Vixeon ke dalam mobil dengan penuh kehati-hatian. Dengan penuh urgensi, ia segera memacu mobil menuju pasar gelap tempat toko Zara berada. Jalanan yang sepi di malam hari memberikan Hatari peluang untuk sampai dengan cepat, sembari berharap Zara dapat memberikan pertolongan yang diperlukan untuk Vixeon.
...****************...
Keempat Agent Whitejack yang sebelumnya terluka berat, kini berada di ruang perawatan faksi mereka. Ruangan yang steril dipenuhi dengan berbagai peralatan medis canggih. Hugo, Luna, Valeria, dan Serena menjalani perawatan dengan ekspresi serius.
Dokter faksi Whitejack yang ahli dalam memulihkan agen-agen mereka bergerak antar tempat tidur, memeriksa luka-luka mereka dengan cermat. Keadaan ruang perawatan menjadi hening, dipenuhi oleh desis mesin dan suara langkah kaki dokter yang sibuk. Para Agent tersebut menantikan pemulihan mereka agar segera dapat kembali ke medan pertempuran.
Di pintu ruang perawatan, sosok misterius berdiri dengan tatapan tajam. Aura kehadirannya memberikan kesan kuat dan misterius. Dengan penuh perhatian, ia memperhatikan keadaan para agen yang sedang menjalani perawatan, seakan memiliki peran penting dalam perkembangan selanjutnya. Keberadaannya menciptakan ketegangan di ruangan itu, memberikan nuansa misteri yang belum terungkap sepenuhnya.
"Sudah saatnya Vixeon menyadari bahwa kekuatannya memiliki batas. Aku harus menangani ini sendiri, tanpa campur tangan Whitejack yang lain. Mereka terlalu lemah untuk memahami potensi sejati yang dimiliki Vixeon," ucapnya sambil memandang ke arah ruang perawatan dengan tekad yang kuat.
Pria itu berjalan menuju ke ruang peralatan di markas Whitejack. Di dalam ruangan yang gelap, dia mempersiapkan senjata-senjatanya dengan hati yang dingin.
Kegelapan seolah menjadi sekutu setianya, dan langkah-langkahnya yang tegas menciptakan suara samar di dalam ruangan. Dengan tekad yang bulat, dia bersiap untuk melibatkan diri dalam pertarungan yang akan menentukan nasib Vixeon.
...****************...
Dalam keheningan ruang belakang toko Zara, Vixeon terbaring tanpa daya di atas ranjang yang tampak rapuh. Pingsan, wajahnya pucat, dan setiap napasnya terdengar rapuh. Hatari, dengan tatapan khawatir, memonitor setiap denyutan jantung Vixeon, sementara suasana ruangan dipenuhi oleh ketegangan yang nyaris terabaikan.
Bayang-bayang dan sinar remang-remang menciptakan kontras yang menegangkan, seakan-akan meramalkan kejadian besar yang akan melibatkan Vixeon. Hatari mencoba mencerna setiap rincian di wajah lemah Vixeon, sementara ketidakpastian terasa menebar di sekeliling mereka, seolah-olah membawa pesan bahwa takdir sedang mempertimbangkan jalan yang belum terungkap.
Zara memasuki ruangan dengan cepat, dan raut wajahnya berubah menjadi ekspresi terkejut saat melihat Vixeon yang terbaring lemah di atas ranjang. Matanya menyapu ruangan, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan ketika pandangannya kembali ke Vixeon, kekhawatiran tampak jelas di wajahnya. Hatari memberi penjelasan singkat tentang keadaan Vixeon, dan Zara dengan cepat beralih ke mode bertindak, mengecek denyut nadi dan pernapasan Vixeon dengan cermat.
Hatari menatap Zara dengan khawatir. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Vixeon, Zara? Kenapa dia sampai seperti ini?"
Zara menjawab serius, "Sepertinya dia mengalami kondisi fisik yang sangat buruk. Mungkin ada dampak dari pertarungan atau penggunaan kekuatannya. Kami perlu mengetahui lebih banyak detailnya."
Hatari mengangguk, "Aku tidak yakin apa yang terjadi, tapi dia mendadak pingsan di kamar mandi. Apa kita bisa melakukan sesuatu untuk membantunya?"
Zara memandang Vixeon dengan serius, "Aku memiliki cara untuk meredakan sebagian dari tekanan ini. Namun, kita perlu melepas tangan kiri cyborg-nya. Itu mungkin menjadi sumber masalahnya."
Hatari terkejut, "Melepas tangan kiri? Apakah itu aman?"
Zara menjelaskan, "Aku memiliki pengalaman dengan teknologi ini. Aku bisa membantunya melepaskan tangan itu tanpa merusak tubuhnya. Ini mungkin memberikan keringanan pada tubuhnya dan membantu kami memahami kondisinya lebih baik."
Hatari setuju, "Lakukan apa yang perlu, Zara. Kami tidak punya banyak waktu."
Zara kemudian mempersiapkan peralatan medisnya dan mulai memproses prosedur pelepasan tangan kiri cyborg Vixeon.
Tetapi ketika hendak dilepaskan, tangannya melawan seperti enggan untuk dilepaskan. Karena Saber dikendalikan oleh asisten kecerdasan buatan Vixeon itu sendiri
Zara merasakan perlawanan dari tangan kiri Vixeon yang sepertinya enggan untuk dilepaskan. Hatari menyadari, "Saber, relakan lah. Ini untuk kebaikanmu dan Vixeon."
Tetapi tangan kiri itu masih enggan untuk dilepaskan, seolah-olah Saber memiliki keinginan sendiri. Zara mencoba membaca sinyal-sinyal dari asisten kecerdasan buatan itu dan mencari cara untuk meyakinkannya.
Tangan itu kini berubah menjadi pedang dan akan melawan siapapun disekitarnya. Saber, yang kini berubah menjadi pedang, mulai melawan siapapun yang berada di sekitarnya. Hatari dan Zara terkejut melihat tindakan tangan kiri Vixeon yang sepertinya memiliki kemauan dan kekuatan sendiri.
Hatari berusaha meredakan situasi, "Saber, kau harus tenang. Kita tidak ingin melukai siapa pun, termasuk diri sendiri atau Vixeon." Namun, Saber tampaknya tidak merespons dan tetap bersikeras untuk melawan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments