...[Dini hari sebelum klimaks]...
Hatari, yang sebelumnya ditinggal sendirian dalam kegelapan dini hari, melihat kepergian Vixeon yang meninggalkan jejak lampu mobil yang semakin memudar. Dengan ekspresi datar, Hatari merenung sejenak, memproses informasi yang diterimanya dari pertemuan Vixeon dengan Agent Nova alias Valeria setelah diculik olehnya.
Dalam keheningan malam, Hatari melihat ke kejauhan, menemukan bahwa Vixeon telah meninggalkannya. Sebuah senyum muncul di wajah Hatari yang tenang. Ia merogoh saku jaketnya, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya. Dengan langkah santai, Hatari mulai berjalan melintasi jalanan yang sepi. Di tengah malam yang hening, ia merenung tentang arah baru yang mungkin diambilnya. Rokoknya menyala di kegelapan, mengawali perjalanan Hatari menuju ke takdir yang belum terpahami.
...[BRRRRRRTTTTTT]...
Hatari merasakan getaran dari handphone di saku jaketnya, memecah keheningan malam. Ia mengeluarkan ponselnya dengan cermat, melihat layar yang menerangi wajahnya dengan kebiruan cahaya. Suara mesin di ujung sana memberikan kehadiran yang tak terduga di kehidupan Hatari yang sepi. Dengan penasaran, Hatari menjawab panggilan, siap menghadapi arah baru yang mungkin tengah menantinya
"Hatari, apa ada Knightfall di sana?" ternyata orang yang meneleponnya adalah Zara, si pemilik toko pasar gelap sebelumnya.
"Tidak, ia baru saja menculik salah satu Agent dari Whitejack." Hatari kembali mengisap rokoknya.
"Ah, itu buruk. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan sebelumnya. Ini mengenai efek samping dari Knightfall ..." Zara berbicara dengan nada serius.
"Hah? Aku kurang mengerti."
"Hatari, apa kamu menyadari efek samping dari pembaruan yang dilakukan Vixeon pada tangan cyborg nya?"
"Efek samping? Aku tidak tahu ada efek samping apa."
"Setelah pembaruan terakhir, kemampuan Vixeon semakin meningkat pesat, tetapi ada risiko. Sifat impulsif dan kurangnya kendali dapat muncul secara tiba-tiba. Aku ingin kamu melihatnya sendiri."
"Bagaimana caranya?"
"Ayo datang ke tempatku. Kita akan melihat efek sampingnya secara langsung. Mungkin ini dapat membantu kita memahami situasinya dengan lebih baik."
"Baiklah, aku akan datang. Kita perlu mencari solusi sebelum situasinya semakin buruk."
"Terima kasih, Hatari. Kita harus bekerja sama untuk mengatasi masalah ini."
Hatari mematikan teleponnya dengan pandangan khawatir. Ketidakpastian tentang efek samping dari pembaruan tangan cyborg Vixeon membuatnya gelisah. Dia menyadari bahwa situasi semakin rumit, dan keputusannya untuk kembali ke kota harus diambil dengan hati-hati. Dengan langkah yang hati-hati, Hatari memikirkan langkah-langkah selanjutnya untuk membantu Vixeon mengatasi efek samping yang mungkin muncul.
...****************...
Di suatu sudut gelap dan terlupakan, di dalam sebuah bangunan terbengkalai yang sepi, terletak ruang rahasia milik Shadow Seraph. Sebuah tempat yang berfungsi sebagai tempat perlindungan dan persembunyian, dikelilingi oleh keheningan malam yang memerintahkan keberadaannya. Dengan sinar redup dari lampu neon yang lemah, Shadow Seraph, mengatasi luka-lukanya dengan penuh perhatian menggunakan laser presisi di ruangannya yang diatur dengan rapi.
Dengan ketelitian yang luar biasa, Shadow Seraph, atau yang lebih dikenal sebagai si nomor 10, menangani luka-lukanya setelah pertarungan sengit melawan Agent Spectra dan Agent Dark Slayer. Laser presisi di tangannya bergetar ringan saat menutupi luka-luka tersebut, dan keahlian medisnya membantu meredakan rasa sakit yang menyengat. Wajahnya yang tegar mencerminkan ketahanannya, sementara cahaya redup di ruangnya memperlihatkan keseriusannya untuk sembuh secepat mungkin.
Dengan laser yang matang dalam satu tangan dan pantulan sinar di cermin tua di depannya, Shadow Seraph memperhatikan wajahnya sendiri dengan tatapan penuh makna. Matanya mencerminkan kilasan masa lalu yang gelap, dan keheningan ruangan memperkuat suasana refleksi yang dalam. Seolah-olah melalui pantulan itu, ia menyusuri lorong kenangan yang membentuk jalan hidupnya, merenung dalam kesendirian, mungkin sedikit menyesali pilihan yang pernah diambil.
...[BRUGGGGGG]...
Dalam keheningan yang mendalam, Shadow Seraph merasa adanya kehadiran yang tak diinginkan meresap ke dalam ruangan tersembunyi nya. Dengan laser yang masih berkilau di tangannya, dia berbalik cepat, siap menghadapi ancaman yang tiba-tiba muncul di basement rahasianya. Kepekaannya yang tinggi memungkinkannya merasakan kehadiran orang lain, dan dia bersiap untuk menghadapi situasi yang mungkin membawa intrik baru ke dalam hidupnya yang suram.
...[WUUUUSSHSHHHH]...
Seraph merasakan ancaman dari belakang dan dengan refleks yang cepat, ia meluncur ke samping, menghindari serangan mendadak yang datang.
Tubuhnya yang terlatih merespons dengan lincah, dan dalam sekejap, ruang basement rahasia terisi dengan suara langkah-langkah cepat dan gerakan tangan yang mematikan. Seraph, dengan perasaan terlatih nya, mulai melibatkan diri dalam pertarungan tangan jarak dekat, menghadapi ancaman misterius yang menyelinap masuk ke dalam ruangannya.
"Siapa kau yang berani menyelinap ke tempat ini?"
"Ah, Nomor 10. Aku hanya seorang yang datang untuk menyelesaikan urusan tertentu." Ujar pria itu.
Seraph dengan nada tajam, "Jangan berpikir urusanmu akan selesai dengan cara ini.
"Kau memang punya hati yang kuat, tapi kali ini, urusan ini tidak bisa dihindari."
"Lalu apa tujuanmu sebenarnya?"
"Sebelum itu, apakah kita harus berbicara dalam posisi bertarung?" canda pria itu.
Seraph pun melepaskan tangan dari posisi bertarung nya itu. Lalu lelaki itu membuka tudung nya.
"Kau seharusnya mengenal ku. Bukan nama asli, tetapi biasa di--"
"Iya aku tahu, kau si nomor 5." Seraph langsung mengenali lelaki itu, karena dia juga seorang buronan kategori hijau.
"Kamu lebih cerdas dari yang kubayangkan, Nomor 10. Kita mungkin bisa bekerja sama untuk sementara waktu."
Seraph meringis, "Kita bekerja sama hanya jika kita punya kepentingan yang sama. Jangan berpikir kau bisa mengendalikan aku, Revenant."
Revenant tersenyum, "Kau memang tidak bisa diatur, Seraph. Tapi kita bisa saling menguntungkan. Ada urusan besar yang sedang bermain, dan keahlian kita mungkin berguna satu sama lain. Apakah kau tertarik?"
Beberapa saat kemudian, Seraph meraih sebotol minuman dari meja kecil di sampingnya, "Duduklah, Revenant. Tidak banyak orang yang berani masuk ke tempat ini tanpa undangan."
Dia mempersilahkan Revenant duduk di sofa kulit hitam yang nyaman di sudut ruangan basement yang tersembunyi. Suasana gelap dan rahasia membuat pertemuan mereka terasa semakin misterius.
Revenant menatap Seraph dengan mata tajam, "Kita harus bekerja sama, Seraph. Rencanaku untuk mengumpulkan semua buronan kategori hijau akan menjadi kenyataan, dan aku butuh keahlianmu."
Dia mulai membahas detail rencananya, menguraikan langkah-langkahnya dengan tegas. Seraph, meski skeptis, terlihat tertarik mendengarkan proposisi yang diajukan oleh Revenant.
Seraph menatap Revenant dengan skeptis, "Aku masih belum yakin bagaimana aku bisa mempercayaimu sepenuhnya."
Revenant tersenyum tipis, "Kamu tidak perlu mempercayai sepenuhnya. Yang penting, kita memiliki kepentingan yang sama. Kau ingin menjalani hidup bebas dari bayangan masa lalu, bukan?"
Seraph mengangguk, "Ya, tapi aku ingin memastikan bahwa kita tidak akan saling mengkhianati."
Revenant tertawa, "Saling mengkhianati hanya akan merugikan kita berdua. Kita butuh kekuatan dan keterampilan masing-masing untuk menjalankan rencana ini."
Percakapan di antara mereka berdua terus berlanjut, membentuk aliansi yang mungkin bisa mengubah takdir buronan kategori hijau mereka.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
🧭 Wong Deso
semangat
2024-02-29
1