Dalam keheningan yang menyusul pertarungan sengit, Vixeon berdiri di tengah reruntuhan, pernafasannya berat dan mata yang tetap terfokus. Tubuhnya penuh luka dan kotor oleh jejak pertempuran, namun semangatnya masih membara tak tergoyahkan.
Valeria, Hugo, Luna, dan Serena, keempat Agent Whitejack yang tangguh, juga masih berdiri dengan sikap yang menantang di sekitarnya. Luka di tubuh mereka bukanlah tanda kelemahan, melainkan saksi perlawanan yang sama ketatnya.
Luka-luka yang dihadapinya bukan hanya fisik, tetapi juga pertarungan batin yang terus berkecamuk di dalam dirinya. Rencana dan intrik selalu merayap di balik setiap serangan dan konfrontasi. Kini, dengan keadaan yang menuntut ketenangan, Vixeon harus mencari cara untuk mengatasi konflik yang semakin meruncing.
Di kejauhan, bayangan musuh dan sekutu menanti, membentuk pertemuan-pertemuan mendebarkan yang akan memengaruhi arah cerita selanjutnya. Dalam setiap helaian, kisah ini mengembangkan lapisan-lapisan kompleks, menguak misteri dan memperlihatkan wajah-wajah yang semakin terperinci.
Dengan gerakan yang gesit dan refleks yang tajam, Vixeon meluncur di antara keempat Agent Whitejack, mengarahkan serangan pedang cyber Saber-nya dengan keahlian yang mengagumkan. Serangan-serangan yang cepat dan taktis membuat atmosfer pertarungan semakin intens. Setiap langkah, putaran, dan tebasan pedangnya membawa kecantikan dalam keganasan yang memukau.
Valeria, Hugo, Luna, dan Serena berusaha mengantisipasi setiap serangan, tetapi Vixeon seperti menjadi bayangan yang tidak terlihat, meluncur di antara mereka tanpa diketahui. Pernafasannya yang berat, meski kelelahan, tak mengurangi intensitas serangannya. Setiap gerakan seperti tarian mematikan yang membuat lawan-lawannya kewalahan.
Pertarungan ini bukan hanya fisik, tetapi juga permainan pikiran dan strategi. Vixeon melibatkan keempat Agent Whitejack dalam konflik yang semakin rumit. Di tengah gemuruh pedang dan kilatan sinar cyber, nasib mereka yang rumit semakin terjalin dalam narasi yang semakin kompleks.
Dalam keheningan yang mendominasi, Valeria mencoba merumuskan strategi di tengah ketidakpastian. "Ini tidak masuk akal! Bagaimana dia bisa segesit itu?"
Hugo, dengan ekspresi tenang, mencoba menenangkan tim. "Kita harus fokus, jangan panik. Kita punya keunggulan jumlah."
Luna, sambil mengayunkan pedang cyber nya, memikirkan taktik yang bisa digunakan. "Tapi dia seperti tahu setiap gerakan kita sebelum kita lakukan. Bagaimana mungkin?"
Serena, siap beraksi, menyuarakan pemikirannya. "Kita harus mencari celah, kerjasama tim kita yang akan membuat kita menang."
Valeria, setelah pertimbangan singkat, mengusulkan rencana serangan. "Mungkin kita harus mencoba serangan gabungan. Hugo, buat distraction, Luna dan Serena, serang dari dua arah berbeda."
Hugo, meski agak berat hati, menerima peranannya. "Sedang aku harus menjadi umpan, huh? Baiklah, siapkan diri, kita lakukan ini bersama-sama!"
Dengan gerakan yang meluncur cepat, Vixeon berhasil mengecoh setiap gerakan lawan. Pedang cyber Saber-nya menyusup dengan presisi ke arah Hugo, yang mencoba mempertahankan diri dengan senjata api. Luna dan Serena, walau berusaha menghindar, tidak mampu menyelamatkan diri dari serangan mendalam Vixeon.
Seketika, keempat Agent Whitejack itu lumpuh, tubuh mereka gemetar tak berdaya. Vixeon menatap mereka dengan tatapan tajam, memastikan bahwa pertarungan itu berakhir.
"Kalian berempat memang hebat, tapi kalian masih butuh bekerja lebih keras jika ingin menghadapi ku."
Saat itu, keheningan menyelimuti arena pertarungan, hanya terputus oleh desiran angin malam. Vixeon, dengan tangan kirinya yang masih menyimpan pedang cyber, memancarkan aura yang mengisyaratkan kekuatan dan keunggulan.
Mengenakan pedang cyber Saber yang masih menyala, Vixeon berdiri di pelabuhan yang masih sunyi pagi. Keempat agen Whitejack lumpuh di hadapannya. Tiba-tiba, suara sirene polisi memecah keheningan, mengirimkan getaran ketegangan ke seluruh tubuhnya. Vixeon menyadari bahwa waktu untuk melarikan diri sempit, dan dia mulai menyusun rencana cepat untuk menghindari konfrontasi dengan pihak berwajib yang sebentar lagi akan tiba.
Dengan gemetar, Vixeon kembali mengubah pedang di tangannya menjadi Saber, tangan cyborg nya.
"Ini bukan pertarungan terakhir kita," ucapnya sambil memandang keempat Agent Whitejack yang masih lumpuh. Dalam keadaan penuh luka, Vixeon berpamitan sebelum melangkah menjauh, meninggalkan mereka untuk menghadapi kedatangan polisi.
Dengan langkah gemetar dan tubuh yang penuh luka, Vixeon berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh. Dengan hati yang masih berdegup kencang, ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Mesin mobil dinyalakan, dan dengan perasaan yang campur aduk, Vixeon meninggalkan lokasi yang penuh kenangan pahit itu. Sirine polisi semakin mendekat, namun Vixeon memilih untuk menyelamatkan diri dari kejaran yang semakin dekat.
Keempat Agent Whitejack yang masih sadar menatap ke arah Vixeon yang pergi dengan pandangan campur aduk. Meskipun tubuh mereka terluka dan lelah, tetapi rasa takjub dan ketakutan terpampang jelas di wajah mereka. Kekuatan Vixeon yang baru saja mereka alami meninggalkan kesan yang sulit untuk dilupakan. Terbaring di tanah, mereka merenung tentang pertarungan tak terduga yang baru saja terjadi, sementara suara sirine polisi semakin dekat menghantui pelabuhan pada pagi hari yang sunyi.
...****************...
...[Beberapa jam sebelumnya]...
Hatari melangkah masuk ke dalam toko ilegal di dalam pasar gelap, ruangan itu penuh dengan berbagai macam barang-barang terlarang yang disusun rapi. Zara, si pemilik toko, menyambutnya dengan senyuman.
"Akhirnya kau datang, Hatari. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu," kata Zara serius.
Hatari menjawab, "Langsung ke intinya."
Zara membawa Hatari ke bagian belakang toko yang lebih tersembunyi.
"Ini tentang efek samping dari upgrade fitur Saber milik Vixeon. Aku mendengar banyak cerita, dan aku pikir kamu perlu tahu lebih lanjut." Mereka duduk di sebuah sudut yang lebih sepi, sedang memulai pembicaraan yang akan membuka jendela dunia Hatari terhadap peristiwa yang tengah berkembang.
Hatari melihat sekelompok layar komputer di sudut ruangan, tampaknya berisi berbagai informasi dan intel tentang kegiatan di dunia bawah tanah.
Zara dengan tenang menjelaskan, "Aku memiliki jaringan informasi yang luas, Hatari. Dan dengan bantuan ini, aku bisa memantau banyak hal termasuk Vixeon dan perkembangan terbaru di dunia bawah tanah."
Hatari tertarik, "Dan apa yang bisa kau temukan tentang efek samping dari Saber?"
Zara mengetik beberapa kali di keyboardnya, memunculkan data di layar. "Efek sampingnya cukup mencengangkan. Beberapa individu yang menggunakan teknologi serupa mengalami perubahan pada sistem saraf dan energi batin mereka. Kekuatan besar seringkali datang dengan harga yang mahal."
"Maksudmu ..." Hatari melirik ke wajah Zara.
"Ya. Bisa saja Saber mengambil alih tubuh Vixeon. Karena saat ini stok chip untuk penetralisir asisten kecerdasan buatan itu masih dikembangkan di pasar gelap yang bukan di sini lokasinya."
"T ... tidak mungkin ..." Hatari sedikit terkejut.
Zara mengangguk, "Itu salah satu risikonya. Kita tidak tahu sejauh mana Saber memiliki kendali. Vixeon harus hati-hati."
Hatari menyadari kerumitan situasi ini, "Kita perlu mencari solusi. Bagaimana caranya menghentikan atau mengendalikan Saber jika memang itu menjadi masalah besar?"
Zara tersenyum tipis, "Kita bisa mencari chip penetralisir itu. Aku punya beberapa kontak di pasar gelap yang bisa membantu kita mendapatkannya. Tapi, perlu diingat, hal ini tidak akan mudah."
Hatari mengangguk, "Aku siap melakukan apa pun untuk membantu Vixeon dan mencegah Saber mengambil alih sepenuhnya."
Hatari menatap layar dengan serius, merenung tentang berbagai konsekuensi yang mungkin timbul dari kekuatan yang dimiliki Vixeon.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments