Di rooftop gedung yang menantang ketinggian, Shadow Seraph, Agent Dark Slayer, dan pemburu wanita yang misterius saling berhadapan.
Malam memeluk mereka dalam ketegangan yang tidak terucapkan, dan cahaya bulan menyinari ketiga sosok yang bersiap-siap untuk mempertaruhkan takdir mereka di dalam arena malam yang mempertemukan takdir.
Suasana dingin menusuk udara, dan suara angin seolah menambah dramatisasi pertarungan yang tampaknya tak terhindarkan.
Di antara mereka, tercipta aura ketidakpastian, di mana langkah mereka tidak hanya mengikuti irama pertarungan, tetapi juga takdir yang belum terungkap.
Dalam malam yang membawa bayangan dan rahasia, ketiga karakter ini siap menyingsingkan lengan baju, memasuki pertarungan yang mungkin menggoyahkan dasar-dasar kenyataan mereka.
"Faksi Whitejack? Member wanita baru?" Agent Dark Slayer menatapnya dengan ketertarikan yang tercampur dengan kehati-hatian.
Ada sesuatu di mata wanita itu yang mengisyaratkan bahwa kehadirannya di dalam faksi nya akan mengubah dinamika pertempuran.
Pertanyaannya melayang dalam benak Dark Slayer, "Sejauh mana peran dia akan memengaruhi takdir faksi nya?"
"Ya, Whitejack. Dia member baru sepertinya, tapi juga kekuatan yang tak bisa dianggap enteng. Penampilannya yang elegan menyembunyikan keterampilan yang mematikan. Kau mungkin ingin berpikir dua kali sebelum mencoba menantangnya."
"Aku menamai Spectra. Aku bergabung ke faksi Whitejack dengan nama Agent Spectra," ucapnya tegas di tengah sorot mata Dark Slayer dan Shadow Seraph yang tengah terhenti dalam pertarungan.
"Spectra, apakah Whitejack benar-benar membutuhkan bantuan dari seorang pemula seperti dirimu?" ejek Dark slayer
"Mungkin, atau mungkin mereka hanya menyukai keberanian yang tidak terduga. Sesuatu yang tampaknya kurang pada kalian berdua." Balas Spectra dengan reaksi dingin.
"Kamu berbicara seolah-olah kamu adalah sumber kekuatan yang tak tergantikan. Apa yang membuatmu begitu yakin?" Shadow seraph ikut menyindir.
"Sumber kekuatan atau bukan, yang jelas aku tidak berkeliaran di bayangan. Mungkin itu perbedaan ku." Balas Spectra kembali.
"Kamu memilih nama yang mencolok, tapi apakah kamu punya ketajaman di dalam pertarungan?" ujar Dark slayer.
"Ketajaman dalam pertarungan tidak hanya terletak pada pedang atau senjata fisik. Whitejack melihat sesuatu yang kalian belum tentu lihat." Spectra kini turun dari tepi gedung dan berjalan mengarah mereka berdua.
Percakapan barusan memunculkan ketegangan dan persaingan di antara mereka bertiga, dengan setiap kata menyindir dan menyinggung, mencerminkan dinamika rumit dalam dunia bayangan mereka.
...****************...
Pada dini hari yang sunyi, Vixeon memandu mobilnya melalui jalan-jalan kota yang sepi. Cahaya lampu jalan memantul di permukaan mobilnya, menciptakan kilauan yang seiring dengan kecepatan yang meningkat. Angin malam menerpa wajahnya ketika ia menelusuri sudut-sudut kota yang terlupakan oleh sorotan siang hari.
Suara mesin mobil dan gesekan ban di aspal menciptakan melodi urban yang tak terduga, meresap dalam kesunyian malam.
Ke mana Vixeon melaju dengan penuh tekad, hanya bayang-bayang nya yang mengetahui tujuan sebenarnya dari perjalanannya melalui kota yang tidur.
Vixeon melangkah keluar dari mobilnya di depan pintu masuk tersembunyi pasar gelap. Langkahnya mantap di atas trotoar yang diterangi oleh lampu neon samar. Udara dipenuhi dengan bau rempah-rempah dan asap tipis dari aktivitas di sekitar.
Orang-orang dengan wajah samar-samar dan mantel hitam berkumpul di antara tenda-tenda gelap. Dengan hati-hati, Vixeon melanjutkan perjalanannya ke dalam pasar yang semakin redup, menuju seseorang yang menunggu di bayang-bayang.
Vixeon menyusup ke dalam gang tersembunyi di belakang toko yang luas, tempat di mana senjata-senjata ilegal berada dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Cahaya redup dari lampu neon yang berkedip-kedip mengungkapkan bayangan-bayangan di antara rak-rak senjata yang teratur.
Di tengah-tengah ruangan, seseorang tengah fokus memeriksa dan meneliti senjata-senjata tersebut dengan penuh keahlian. Alat-alat tajam, senapan, dan peralatan militer terpajang rapi di sekelilingnya, menciptakan atmosfer yang gelap namun penuh kecanggihan.
Vixeon bergerak dengan hati-hati di antara senjata-senjata yang membentuk lanskap tempat ini, menyusuri lorong-lorong yang penuh misteri, menuju sosok yang sedang asyik dengan pemeriksaannya.
Wanita yang tengah asyik meneliti senjata melambatkan gerakannya sejenak, merasakan kehadiran Vixeon tanpa perlu menoleh.
Suaranya bergema di antara deretan senjata yang mengintimidasi, "Kamu selalu tiba pada saat yang tak terduga, Knightfall. Ada yang bisa aku bantu?"
"Seharusnya kau tahu mengapa aku datang, Zara."
Zara berbalik, matanya memancarkan kecerdasan yang tajam. "Selalu ada alasan menarik di balik kunjunganmu, Vixeon. Apa yang kau butuhkan kali ini?"
"Zara, izinkan aku memperkenalkan Saber. Asisten kecerdasan buatanku yang sudah ku install di tangan ini, siap memberikan keunggulan strategis."
"Saber, ya? Namanya terdengar mengesankan. Ada rencana apa kali ini, Vixeon?"
"Aku ingin meng-upgrade Saber agar lebih canggih, lebih responsif, dan lebih siap sedia dalam situasi yang mendesak. Kita tahu pasar ini selalu berubah."
"Berbicara tentang peningkatan, aku memiliki beberapa perangkat terbaru yang mungkin dapat kita terapkan. Namun, ini bukan permainan murah, Vixeon."
"Harga bukanlah masalah. Yang aku inginkan adalah keunggulan dan ketangguhan dalam setiap langkah."
"Vixeon, untuk meningkatkan keunggulan Saber, aku memiliki beberapa fitur baru yang mungkin menarik bagi mu. Pertama, kemampuan Saber untuk mengenali wajah orang asing secara otomatis. Ini bisa sangat berguna dalam menjaga keamanan."
"Bagus. Lanjutkan."
"Selain itu, kita bisa menambahkan fungsi deteksi canggih yang memungkinkan Saber memantau ancaman potensial. Dengan ini, Saber dapat memberi peringatan lebih dini."
"Menarik. Ada lagi?"
"Tentu, Vixeon. Aku juga punya peningkatan pada algoritma analisis data, memungkinkan Saber memberikan rekomendasi taktis dengan lebih akurat berdasarkan situasi terkini."
"Kedengarannya seperti peningkatan yang hebat. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengimplementasikannya?"
"Dengan sumber daya yang tepat, kita bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat. Tapi, tentu saja, semuanya tergantung pada sejauh mana kita ingin meningkatkan kualitas Saber."
"Semuanya!"
Vixeon melepas tangan kiri cyborg nya dengan perlahan, memisahkannya dari tubuhnya yang telah menjadi bagian tak terpisahkan.
Tangannya yang canggih, Saber, tampak begitu futuristik dengan lapisan logam dan cahaya biru yang terpancar dari dalamnya.
Dalam keadaan lepas, Vixeon menyerahkannya kepada Zara, seorang ahli di pasar gelap yang dikenal dengan kemampuannya meramu teknologi tinggi.
Mata Vixeon memancarkan antusiasme dan harapan, karena Saber, tangan cyborg yang telah menjadi mitra setianya, akan segera menjalani metamorfosis baru. Dalam genggaman Zara, takdir Saber kini berada di tangan yang ahli dalam seni peningkatan teknologi.
...****************...
Dalam bayangan yang mendalam dan suasana yang terisap adrenalin, Shadow Seraph, Spectra, dan Dark Slayer bersiap memasuki pertarungan tak terhindarkan di atas atap gedung yang ditinggikan.
Kilatan cahaya bulan dini hari menerangi ketiganya, menciptakan bayangan yang tajam di sepanjang sisi-sisi senjata masing-masing. Atmosfer gelap dan diam dipecahkan oleh dentuman tembakan yang pertama, menandai awal dari pertempuran ketiga pemburu bayangan yang terampil.
Dengan setiap gerakan cepat, cahaya sinar senjata menyatu dengan gerakan anggun mereka, menciptakan koreografi mematikan di tengah kegelapan dini hari. Pertarungan ini menjadi panggung bagi ketiga karakter ini untuk menunjukkan keahlian mereka yang unik, di tengah pertarungan yang dipenuhi dengan intrik dan misteri yang belum terungkap.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
🧭 Wong Deso
ini bagusnya kalau di bikin komik
2024-02-01
1