"Enggak, Pi, Mi!! Kalian salah paham!!" bantah Ustad Yunus dengan tegas sambil menggelengkan kepala.
Benar dugaannya, pembahasan ini pasti akan menimbulkan konflik, dan seharusnya tidak perlu dibahas lagi.
"Salah paham gimana, Mas?? Jelas-jelas kata Umi ... hiiikkkss." Ucapan Yumna terhenti karena tangisnya yang pecah. Melihat itu, Umi Mae segera berlari dan memeluk tubuh menantunya.
"Dengan kamu menyakiti hati Yumna ... itu sama saja seperti menyakiti hati Umi, Nus!!" seru Umi Mae dengan tegas, berada dipihak menantunya.
"Astaghfirullahallazim, Umi ... Dek Yumna ... Papi ... Mami." Ustad Yunus berbicara dengan lembut, sambil menatap orang-orang yang dia sebutkan namanya. "Kalian semua salah paham. Aku bisa menjelaskannya," tambahnya sambil menghela napas.
"Cepat jelaskan!" desak Papi Yohan yang langsung melepaskan pegangan pada kerah menantunya, kemudian duduk di sampingnya.
"Jadi beberapa hari yang lalu ... atau hari ketika saya keluar dari rumah sakit, Pak Cakra memang datang ke rumah dan meminta saya untuk bicara empat mata," jelas Ustad Yunus.
"Terus??" sahut Mami Soora sambil bersedekap dada.
"Pak Cakra meminta saya untuk menjadikan Naya istri kedua, tapi saya sudah menolaknya," tambah Ustad Yunus.
"Mas menolaknya karena aku yang minta, bukan asli dari hati Mas sendiri!" Yumna menimpali dengan tegas. Dia bicara apa adanya dan biar semua orang juga tahu, jika hati suaminya kini telah terbagi dua.
"Jadi kamu menolak karena terpaksa, Boy?" tanya Papi Yohan untuk memastikan.
"Pi ... Pak Cakra meminta saya untuk melakukan poligami. Dan poligami itu bisa terjadi jika istri pertama menerimanya." Ustad Yunus menjelaskan dengan lebih jelas.
"Jadi kalau Yumna menerima, kamu akan melakukan poligami gitu??" tebak Mami Soora dengan rahang yang tampak tegang, sorotan matanya pun begitu tajam.
"Sejujurnya dari dulu ... saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup, Mi. Yang berarti sekarang hanya Dek Yumna lah satu-satunya istri saya. Tapi karena Naya sakit, saya jadi nggak tega," jelas Ustad Yunus.
"Sakit apa memang si Naya??" tanya Papi Yohan dengan cepat. "Apa tekotok juga, sama seperti Papi?"
"Jahat banget kamu, Boy! Sama Naya bilang nggak tega, tapi sama Yumna kamu tega!!" berang Mami Soora tak terima.
Rasa kekecewaan terpancar jelas dari ekspresi wajahnya. Dia juga tak menyangka jika Ustad Yunus ternyata selama ini belum bisa move on dari masa lalunya.
"Mami ... nggak begitu, Mi!" bantah Ustad Yunus dengan suara gemetar, mencoba membela diri. Dia merasakan perasaan bersalah yang begitu mendalam saat menatap wajah istrinya. "Saya juga nggak tega melihat Dek Yumna tersakiti. Saya menyayangi dan mencintainya."
Papi Yohan tetap penasaran dengan pertanyaannya, mengulangkannya dengan suara lembut, "Jawab dulu pertanyaan Papi tadi, Boy. Naya sakit apa sebenarnya?"
Wajah Ustad Yunus berubah menjadi murung. "Naya depresi berat, Pi, dan sudah masuk ke tahap gangguan mental. Dan semua itu terjadi setelah dia mengetahui kalau aku sudah menikah dengan Dek Yumna," jawabnya dengan suara penuh penyesalan.
"Naya depresi karena patah hati mungkin, Pak," kata Soni perlahan, yang akhirnya berbicara dengan sudut pandang lain.
"Jadi kamu berpikir ... dengan kamu menikahi Naya, depresinya akan sembuh? Begitu, Boy?" tebak Papi Yohan. Dia merasakan rasa sakit yang mendalam di dadanya. Dia tahu, betapa besar cinta Ustad Yunus kepada Naya waktu itu.
Namun, dia berharap bahwa setelah Ayah Cakra menolaknya, Ustad Yunus akan melupakan Naya dengan menikahi Yumna. Sayangnya, harapannya menjadi pupus. Mungkin tidak semudah itu untuk melupakan cintanya dimasa lalu.
"Iya, Pi," Ustad Yunus mengangguk dengan penuh penyesalan, mengakui tebakan mertuanya.
Soni menyahuti lagi dengan raut jengkel, mencoba menyuarakan kekhawatirannya. "Agak lain kamu ini, Nus. Masa perempuan yang sudah tahu sakit kamu nikahin, sedangkan posisi kamu sudah punya istri. Apa kamu nggak takut nantinya Yumna ikutan depresi juga karena sakit hati? Itu 'kan bisa terjadi."
Suasana menjadi hening sejenak, dipenuhi dengan kekhawatiran dan pertanyaan yang sulit dijawab. Semua orang di ruangan itu merasakan beban emosional yang begitu berat.
"Bang ... aku sekarang sudah nggak ada niat untuk menikahi Naya," ucap Ustad Yunus dengan lembut, suaranya penuh dengan keputusan yang sulit. Dia memalingkan wajahnya ke arah istrinya, yang masih menangis dengan sedih dalam pelukan Umi Mae.
"Dek ... jangan bersedih. Masalah ini sudah kita selesaikan, bukan?" Suara Ustad Yunus semakin lemah, namun matanya tetap penuh dengan cinta yang tak tergoyahkan. "Sudah saya katakan bahwa saya nggak akan pernah mengkhianatimu atau menyakiti hatimu. Kamu harus percaya sama saya ... terutama karena kita sudah memiliki rencana untuk pergi berbulan madu agar kita segera memiliki anak. Kamu masih ingat, kan?"
"Tapi sekarang lebih baik jika kamu bertemu dengan Pak Cakra, Nak," saran Umi Mae dengan lembut. "Berikan dia kepastian bahwa kamu menolak permintaannya, karena tadi pagi dia datang ke rumah dan memaksa Umi untuk ikut menyetujuinya."
Menurut Umi Mae, dengan begitu masalah ini akan terselesaikan lebih cepat.
"Papi akan mengantarmu, Boy!" ucap Papi Yohan yang langsung berdiri.
Dia harus ikut di sini, agar bisa yakin dengan keputusan menantunya.
Selain itu, Papi Yohan juga perlu memberikan perhitungan kepada Ayah Cakra, supaya dia bisa berkaca terlebih dahulu sebelum meminta sesuatu hal yang diluar nalar.
"Oke." Ustad Yunus mengangguk setuju, dia pun ikut berdiri.
"Aku ikut, Mas!" pinta Yumna dengan cepat, segera dia mengusap air matanya yang mengalir pada kedua pipinya.
"Kamu nggak perlu ikut, Yum. Biar Papi saja," tolak Papi Yohan tak memberikan izin. Menurutnya, lebih baik Yumna beristirahat karena pasti dia masih capek setelah pertempurannya dengan Ustad Yunus.
"Enggak, Pi, aku ingin ikut!" Yumna meminta dengan tegas. "Aku ingin melihat langsung bagaimana Mas Boy memilihku, daripada si DIA."
Sebenarnya, alasan kuat Yumna ingin ikut adalah karena dia khawatir pria itu akan berubah pikiran nantinya, terutama jika Naya ada di sana.
Jadi, untuk mengantisipasi hal tersebut, lebih baik dia ikut mendampingi.
"Tapi, Yum, takutnya kamu—"
"Kalau Dek Yumna ingin ikut, biarkan saja, Pi," potong Ustad Yunus tanpa masalah. "Supaya dia juga percaya ... bahwa saya benar-benar nggak akan menduakannya."
"Ya udah, ayo kita pergi bertiga," Papi Yohan akhirnya menyetujui permintaan menantunya.
"Mami juga ingin ikut dong, Pi!" pinta Mami Soora sedikit merengek.
"Enggak usah, Mi," tolak Papi Yohan, meskipun istrinya mencoba menahannya. "Cukup kita bertiga saja. Lagian di sini ada Bu Mae dan Soni, jadi nggak mungkin mereka ditinggal."
"Bu Mae sama Soni diajak juga, Pi."
"Waduh ... serombongan dong jadinya. Jangan dong." Papi Yohan makin tidak setuju. "Mami mending do'akan saja yang baik-baik. Kami pergi bertiga saja."
"Ya udah deh."
Meskipun dengan berat hati, akhirnya Mami Soora setuju. Karena tidak mungkin dipaksa juga.
*
Setelah mengucapkan salam dan pamit, mereka bertiga naik ke mobil Ustad Yunus, dengan Ustad Yunus sendiri yang mengemudi.
Tujuan utama mereka adalah rumah Ayah Cakra. Dulu, Ustad Yunus pernah mengantarkan Naya pulang ke rumahnya, jadi dia sudah tahu alamatnya.
Di dalam perjalanan, suasana di dalam mobil begitu sunyi.
Namun, Yumna yang duduk di samping suaminya terus memperhatikan wajah Ustad Yunus. Dia merasakan ada kecemasan yang terpancar dari matanya, meskipun pria itu sedang fokus mengemudi.
'Pokoknya nanti ... kalau Mas Boy berubah pikiran dan memilih Naya, aku akan langsung mencekik leher perempuan itu sampai dia mati!' batin Yumna dengan tekad yang kuat.
Tidak akan dia memberi ampun, karena supaya perempuan itu jera.
......Bab selanjutnya akan up setelah retensi keluar ya, Guys.........
...Minta do'anya juga, biar retensinya bagus 🙏...
...Bismillah, ya... kita berpikir positif. Biar kisah Ustad Yunus nggak berhenti ditengah jalan😊...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Lela Kurnia
koq belum up ya
2024-01-21
1
Yesi Marsela
mami menantu mu itu pergi untuk memberikan kepastian dan ketegasan kepada si pa Cakra bukan untuk berperang masa iya harus rombongan 🤭😁
2024-01-20
0
Titi lestari Tari
waduh gaswat nih yumna, tp jngn membunuh lah yum nanti km nggk bisa bulan madu tp masuk penjara 😀
2024-01-20
0