10. Cintamu seperti sudah hilang

"Ya Allah, Dek, kamu nggak boleh ngomong kayak gitu," kata Ustad Yunus dengan suara serak.

Yumna menatap tajam suaminya dengan raut bingung sekaligus kesal. Perkataan suaminya lama-lama menjengkelkannya sekali, benar-benar terlihat memihak kepada Naya.

"Maksud Mas, aku harus diam saja gitu ... kalau melihat Mas mengkhianatiku? Oh ya tentu nggak dong!" tambahnya dengan tegas. "Enak saja, Mas pikir aku perempuan lemah? Nggak, ya!"

Ustad Yunus menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Tapi nggak perlu dengan cara membunuh segala, Dek. Selain itu perbuatan dosa ... kamu juga bisa masuk penjara," ujar Ustad Yunus dengan lembut, mencoba memberikan nasehat.

"Biarkan saja, aku nggak takut!" tantang Yumna dengan menaikkan dagunya. "Dan Mas juga jangan lupa, kalau menyakiti hati seseorang itu juga merupakan hal yang berdosa! Perselingkuhan pun bisa dipidanakan, Mas!"

"Tapi saya di sini nggak ada niat selingkuh, Dek," Ustad Yunus mencoba membela diri.

"Nggak ada niat selingkuh tapi mau mendua, itu sama saja, Mas!" sembur Yumna cepat.

Meskipun bujukan itu belum dilontarkan oleh Ustad Yunus, tapi rupanya Yumna sudah lebih dulu tahu. Dari gerak gerik dan caranya bicara, Yumna sudah menyadarinya.

"Aku nggak mau dimadu, titik!! Kalau Mas tetap memaksa pun aku tetap nggak setuju!"

"Aku juga akan mengadukan masalah ini ke Papi. Apa Mas lupa, kalau Papi itu masih sakit tekotok? Sepertinya Mas mau melihat Papiku meninggal karena perbuatan Mas sendiri!" tambahnya berteriak dengan emosi yang mendidih.

Urat-urat di wajah Yumna begitu kencang. Kulitnya memerah begitu pun dengan matanya. Ustad Yunus yang melihatnya pun langsung bergidik ketakutan, seluruh bulu romanya menegang sempurna.

Melihat Yumna langsung pergi begitu saja keluar dari kamar setelah mengatakan hal itu, Ustad Yunus pun bergegas menyusulnya. Di halaman masjid, dia langsung mendekap tubuh istrinya dari belakang.

"Dek! Saya minta maaf."

Yumna merasa terkejut ketika Ustad Yunus mendekap tubuhnya dari belakang. Dia merasakan kehangatan dan kelembutan dalam pelukan suaminya, yang membuat hatinya sedikit luluh.

Namun, Yumna masih merasa kesal dan tidak berniat untuk langsung menanggapi ucapannya.

"Saya minta maaf, Dek. Saya nggak ada maksud untuk menyakitimu," bisik Ustad Yunus dengan suara parau. Dia terlihat menyesali, tapi di dalam lubuk hatinya dia masih bimbang dengan perasaannya sendiri. Karena sedari tadi masih memikirkan bagaimana kondisi Naya. "Tolong maafkan saya, ya? Saya nggak akan menduakanmu, Dek."

Yumna merasakan kebingungan dan luka yang mendalam dalam hatinya. Dia merasa cemburu dan takut kehilangan Ustad Yunus.

'Mas ... kenapa makin ke sini aku melihat cintamu seperti sudah hilang untukku. Apakah kamu benar-benar belum melupakan Naya? Kenapa sakit sekali rasanya, Mas?' Yumna berbicara dalam hati.

Air mata mulai mengalir di pipi Yumna saat dia menyentuh dadanya yang terasa sesak. Dia merasakan kepedihan yang mendalam, tapi takut untuk bertanya lebih lanjut karena nantinya dia makin sakit.

'Ya Allah... Aku nggak berniat menyakiti hati istriku. Aku hanya ingin menolong Naya, aku nggak tega melihatnya dalam kondisinya yang seperti ini. Tolong sembuhkan Naya, Ya Allah. Dia masih terlalu muda untuk mengalami penderitaan seperti ini, terutama jika itu semua adalah karena aku,' batin Ustad Yunus dengan perasaan yang rumit.

Dia merasakan beban yang berat dalam hatinya. Dia menyadari bahwa tindakannya telah menyebabkan rasa sakit bagi Yumna, tapi dia juga tidak bisa sepenuhnya melepaskan Naya.

Setelah beberapa saat saling terdiam, Ustad Yunus pun merelai dekapannya. Kemudian memutar tubuh istrinya untuk saling berhadapan. Dia menyeka air mata di pipinya itu, lalu mengecup lembut keningnya.

"Umi bilang, kamu dari pagi ke sini karena nganterin sarapan untuk saya, ya, Dek. Terus sekarang ... mana sarapannya? Nggak kamu makan, kan?" tanya Ustad Yunus yang langsung membahas hal lain.

Yumna perlahan menunjuk ke arah lantai teras masjid, di sana ada rantang yang terlihat masih rapih. Yumna juga belum sama sekali membuka dan belum makan dari pagi.

"Sekarang kita sholat berjamaah dulu, ya, Dek, habis itu makan nasi goreng. Nasi goreng nggak bakal basi kok, meskipun dari pagi. Jadi kamu tenang saja."

Ustad Yunus mengajak istrinya masuk ke dalam masjid. Sebelum sholat bareng, mereka mengambil air wudhu terlebih dahulu.

*

*

Seusai sholat dan mengisi perut mereka, barulah Ustad Yunus mengajak istrinya pulang ke rumah bersamanya.

Sejak selesai makan, Yumna tidak mengucapkan sepatah kata pun. Namun, tiba-tiba dia berkata, "Aku mau ke rumah Papi," tanpa menoleh. Saat ini, Yumna sedang menatap keluar jendela mobil.

"Kenapa ke rumah Papi?!" Ustad Yunus mengerutkan kening, terlihat bingung. "Kenapa, Dek? Bukankah masalah kita sudah selesai? Saya sudah bilang bahwa saya nggak akan mengkhianatimu."

Ustad Yunus tampaknya salah mengerti, dia mengira bahwa Yumna ingin pergi ke rumah orang tuanya untuk mengadukan masalah yang terjadi. Padahal sebenarnya bukan itu yang dimaksud Yumna.

"Lalu apa masalahnya?" suara Yumna terdengar tajam. Sepertinya dia masih marah. "Apa aku nggak boleh menginap di rumah orang tuaku sendiri? Sejak menikah, kita nggak pernah berkunjung ke rumah Papi, Mas."

"Oohh... jadi kamu ingin menginap, Dek?" Ustad Yunus menghela napas lega mendengar perkataan istrinya. "Maafkan saya, Dek. Saya hampir berpikir yang enggak-enggak. Tapi saran saya... sebaiknya masalah kita ini nggak perlu kamu beritahukan kepada siapa pun, termasuk orang tuamu."

"Kenapa?" Yumna langsung menoleh dan memberikan tatapan tajam. "Apa Mas takut?"

"Bukan karena takut," bantahnya dengan cepat. "Masalah rumah tangga itu seperti aib, Dek, jadi kita nggak boleh membeberkannya kepada siapa pun. Selama masih bisa ditangani sendiri, orang tua nggak perlu ikut campur."

Ada benarnya memang apa yang dia katakan, tapi Yumna tidak merespons. Dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan malas.

"Selain itu ..." Ustad Yunus perlahan menyentuh puncak hijab Yumna dan mengelusnya dengan lembut. "Masalah kita sudah selesai, jadi mulai sekarang nggak perlu diperpanjang lagi, ya?"

Pertanyaan itu tergantung dalam keheningan selama perjalanan, karena Yumna tidak memberikan respons. Hingga akhirnya mereka tiba di rumah mewah orang tua Yumna.

"Eh, menantu gantengnya Papi ke sini? Papi nggak lagi ngimpi, kan?" Papi Yohan terlihat terkejut dan girang saat melihat menantu dan anaknya turun dari mobil. Dia juga baru saja keluar dari rumahnya.

"Iya, Pi." Ustad Yunus mengangguk, lalu segera merangkul bahu Yumna dan mendekat ke arah Papi Yohan. "Assalamualaikum, bagaimana kabar Papi dan Mami?" tanyanya sambil mencium punggung tangan sang mertua, dan Yumna pun melakukan hal yang sama.

"Walaikum salam. Papi dan Mami baik, Boy. Bagaimana dengan kalian?"

"Kami juga baik kok, Pi," jawab Ustad Yunus.

Papi Yohan tersenyum lebar, jelas dia merasa senang melihat anak dan menantunya datang ke rumah. Tapi senyumannya seketika memudar saat melihat mata Yumna yang sembab. Wajah putrinya juga terlihat sedikit pucat.

"Lho, Yum..." Papi Yohan langsung menangkup kedua pipi anaknya, khawatir. "Kenapa matamu sembab seperti ini? Dan kamu terlihat pucat. Apa kamu sakit?" tanyanya dengan khawatir.

...Sakit hati dia, Pi, gara-gara menantumu 🙈...

Terpopuler

Comments

Shifa Burhan

Shifa Burhan

memang tidak salah kalau wanita disebut manusia munafik dan egois

saat yunus melakukan kesalahan ini saja sudah kalian hujat habis habisan

no yumna tu tukang selingkuh udah punya suami berhubungan dengan pria lain kontak fisik, peluk, cium, bahkan cium bibir udah biasa dengan selingkuhannya

munafik

2024-06-06

1

Micchan Mitsubou

Micchan Mitsubou

Buang jauh-jauh rasa empati mu ust empati lah pada istri mu sendiri yang sedang memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

2024-01-10

0

Mira Naswati

Mira Naswati

semangat Kakak!

2024-01-10

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!