13. Apa kamu siap?

Ustad Yunus dengan cepat membukanya, namun wajahnya langsung mengerut saat dia melihat bahwa itu adalah sebuah arloji mewah dengan model khusus untuk pria. Terdapat inisial huruf Y yang kecil terukir di atasnya.

"Apa kamu sedang berulang tahun hari ini, Boy?" tanya Papi Yohan.

Dia yakin benda itu pasti untuk Ustad Yunus, dan berpikir Yumna memberikannya sebagai hadiah.

"Enggak kok, Pi." Ustad Yunus menggelengkan kepala, lalu menatap istrinya dengan raut bingung. "Kamu beli jam pria ini untuk siapa, Dek?"

"Untuk Mas Boy."

"Tapi saya nggak lagi ulang tahun, Dek."

"Memangnya orang ngasih sesuatu harus berulang tahun, ya?" Tatapan mata Yumna terlihat begitu tajam.

"Enggak sih." Ustad Yunus menggeleng, wajahnya tampak bingung.

"Ya udah, sekarang pakai!" pintanya.

Ustad Yunus mengangguk, segera dia melepaskan jam yang melingkar di lengan kirinya, yang tampak sudah cukup lama digunakan. Papi Yohan langsung membantu dengan memasangkan arloji baru pemberian Yumna.

"Kalau Mas mencintaiku ... pakailah arloji itu mulai sekarang. Kalau sehari saja nggak dipakai, berarti Mas udah nggak mencintaiku lagi!"

Apa ini? Yumna meminta atau memerintah? Tapi seperti ada sesuatu yang tersimpan dari kata-katanya itu yang membuat Ustad Yunus bertanya-tanya.

Yumna bahkan tidak bertanya terlebih dahulu tentang pendapat suaminya mengenai jam yang dia belikan itu, apakah bagus dan dia menyukainya? Tapi sekarang justru langsung memintanya untuk memakainya setiap hari.

"Iya, Dek. Saya akan memakainya setiap hari," jawab Ustad Yunus dengan anggukan kepala.

Sejujurnya dia ingin bertanya tentang alasan istrinya memberikan benda itu, tapi entah mengapa dia tak memiliki keberanian.

"Terima kasih ya, Dek. Jamnya bagus, saya menyukainya," tambah Ustad Yunus.

"Sama-sama." Baru sekarang senyuman itu terbit diwajah Yumna, sehingga membuatnya terlihat lebih ceria. "Kalau begitu aku duluan ke kamar, ya? Aku mau gosok gigi."

"Bareng saja, Dek, saya juga—"

"Papi mau ngobrol sebentar sama kamu, Boy, boleh, kan?" sela Papi Yohan cepat seraya menyentuh punggung tangan menantunya.

"Oh gitu." Ustad Yunus langsung menoleh ke arah Papi Yohan, lalu mengangguk. "Boleh, Pi."

"Cuci tangan dulu, ya, Boy. Terus kita ngobrol di ruang keluarga," ajak Papi Yohan seraya berdiri.

Ustad Yunus kembali mengangguk, menuruti ucapan mertuanya. Dan ternyata Mami Soora pun ikut juga dengan mereka.

Mereka bertiga kini berada di ruang keluarga, lalu duduk di sofa. Papi Yohan dan Mami Soora pada sofa panjang, sedangkan Ustad Yunus disofa single.

Baru juga duduk, tapi Ustad Yunus sudah merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat. Entah apa yang akan mereka obrolkan nantinya, tapi sebisa mungkin dia berpikir positif.

"Oh ya, kira-kira kamu dan Yumna berapa hari akan menginap?" tanya Papi Yohan tiba-tiba, memulai obrolan. Sedangkan Mami Soora mendengarkan dengan antusias. "Papi harap sih lama."

"Terserah Dek Yumna, Pi, maunya sampai kapan. Saya ikut saja. Saya juga tau Dek Yumna pasti kangen sama orang tuanya," jawab Ustad Yunus yang terlihat tenang.

"Oke ...." Papi Yohan manggut-manggut. "Kamu sendiri masih sibuk nggak, Boy?"

"Sibuk gimana maksudnya, Pi?" Ustad Yunus menatap sang mertua dengan raut bingung.

"Ya, mengurus masjid atau entah pekerjaan sampinganmu yang lain. Papi sih berharap ... kamu dan Yumna memiliki waktu senggang untuk dihabiskan berdua. Contohnya seperti pergi berbulan madu." Papi Yohan menatap mata menantunya dengan kehangatan, memancarkan harapan yang mendalam. "Kamu tau, kan, Boy ... kalau Papi ini kepengen banget gendong cucu? Si Paul saja cucu pertamanya sudah masuk SD. Sedangkan giliran Papi?? Bahkan dibuat pun belum," tambahnya sambil merengut sendu.

"Papi apaan, sih?" Mami Soora langsung menyenggol lengan suaminya. Terlihat bahwa dia tidak setuju dengan pernyataannya. "Si Boy sama Yumna 'kan udah unboxing, Pi. itu tandanya cucu kita udah mereka buat."

"Tapi belum jadi, Mi."

"Ya sabar dong, namanya bayi 'kan nggak langsung jadi."

"Tapi itu bisa saja karena faktor kurang rajin, Mi. Iya, kan?"

"Ah enggak juga." Mami Soora menggeleng, kembali tak setuju dengan pendapat suaminya. Karena dia dan suami pun jarak memiliki anak terbilang cukup lama. "Dulu saja pas kita ... Papi rajin siramin Mami tapi Yumna lama jadinya. Berarti itu bukan faktor rajin atau enggaknya."

"Tapi semakin sering disiram itu semakin bagus, Mi. Ya minimal sehari tiga kali lah."

"Kebanyakan itu, Pi, udah kayak minum obat. Si Boy bisa-bisa encok."

"Nggak mungkin lah, si Boy 'kan masih muda," elaknya. "Lagian ... namanya pengantin baru itu biasa, Mi, kalau bercinta lebih dari sekali dalam sehari." Papi Yohan melanjutkan sambil menatap menantunya. "Cobain deh, Boy. Pasti nanti kamu ketagihan. Papi juga menebak ... setelah unboxing kalian belum melakukannya lagi, kan?"

Wajah Ustad Yunus langsung pucat. Tebakan dari mertuanya begitu tepat.

"Ih Papi!" Mami Soora kembali menyenggol lengan suaminya. Sekali lagi, dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan, terutama karena Mami Soora merasa tidak enak kepada Ustad Yunus. Dia khawatir Ustad Yunus merasa tidak nyaman. "Ngomong apa, sih? Enggak mungkin lah. Boy sama Yumna itu saling mencintai, pasti mereka sama-sama saling membutuhkan satu sama lain." Dia lalu melirik Ustad Yunus yang terlihat gelisah. Keringat dingin mulai muncul di dahinya.

"Secepatnya saya akan mencari waktu untuk mengajak Dek Yumna pergi berbulan madu, Pi, Mi," sahut Ustad Yunus dengan cepat. "Papi dan Mami juga nggak perlu khawatir ... insya Allah, atas seizin Allah, saya dan Dek Yumna akan memberikan kalian cucu dengan segera."

"Nahhh ... begitu dong, Boy. Ini baru bener!" Papi Yohan langsung melompat-lompat dari tempat duduknya. Dia merasa sangat puas dengan jawaban yang keluar dari menantunya. "Papi dan Mami pokoknya selalu mendo'akan yang terbaik untuk hubungan kalian. Dan Papi minta ... tolong sedikit demi sedikit kamu mau coba untuk mempercayai Yumna. Karena suatu hubungan itu dibangun oleh sebuah kepercayaan."

"Iya, Pi, insya Allah saya akan melakukannya." Ustad Yunus mengangguk dan tersenyum. "Oh ya, apa ada lagi yang ingin Papi sampaikan? Saya takut nantinya Dek Yumna keburu tidur duluan."

Papi Yohan dan Mami Soora langsung saling melayangkan pandangan. Diakhir kalimat menantunya itu tersirat sebuah hal yang mereka berdua pahami. Papi Yohan pun langsung menggeleng cepat.

"Enggak, Boy, hanya itu saja. Jangan lupa pakai tissue magic dari Papi juga, ya, biar malam ini kamu tahan lama!"

Ustad Yunus terlihat mengangguk dengan wajah yang memerah. Sejujurnya, sebelum makan malam, dia telah mengoleskan produk tersebut pada asetnya. Karena setelah membaca cara penggunaannya, produk itu akan efektif setelah beberapa menit.

"Kalau begitu saya mau ke kamar dulu, selamat malam Mi, Pi."

"Malam juga, Boy ganteng," balas keduanya. Dengan senyuman terukir di wajah mereka, mereka melihat Ustad Yunus pergi menaiki anak tangga.

*

*

Ceklek~

Pintu kamar perlahan dibuka oleh Ustad Yunus. Di dalam, terlihat Yumna sedang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya.

Namun, ekspresi matanya terlihat kosong, dan tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya.

"Deeek ...," panggil Ustad Yunus. Setelah menutup pintu dan menguncinya, dia mendekati Yumna dengan cepat dan memeluk tubuhnya dari belakang.

"E-ehh!" Yumna terkejut dari keheningannya. Aliran darahnya berdesir lebih cepat saat melihat Ustad Yunus menciumi rambutnya hingga turun ke lehernya.

"Ma-maas?" Yumna tergagap sendiri. Jantungnya berdebar, namun dia tak bisa menyangkal bahwa dia merasa senang meskipun hanya disentuh seperti itu.

"Apa kita bisa melakukannya sekarang, Dek?" Suara Ustad Yunus terdengar berat, dan napasnya terburu-buru.

"Maksudnya?" Yumna pura-pura tidak mengerti, meskipun sebenarnya dia tahu arah pembicaraan itu. Dia penasaran dengan reaksi Ustad Yunus.

"Bercinta, Dek," jawab Ustad Yunus dengan kedipan mata. "Kemarin kita menundanya karena kesalahan saya. Tapi sekarang, saya ingin menebusnya dengan dua kali lipat. Apa kamu siap?"

Tanpa diduga, Ustad Yunus tiba-tiba menggendong tubuh Yumna. Yumna terkejut, matanya membulat sempurna, terutama saat Ustad Yunus mencium bibirnya dengan lembut tanpa aba-aba.

'Aku nggak lagi mimpi, kan? Tapi kok bisa, Mas Boy ngajakin aku bercinta duluan? Apa jangan-jangan tadi Papi atau Mami habis merayunya?' batin Yumna berpikir.

...Cieee ... Yumna 🤭🤭...

Terpopuler

Comments

Lailatul Fadjariyah

Lailatul Fadjariyah

otw yunus junior hhh

2024-01-12

2

Fri5

Fri5

gas pooool Mas Boy 🤪🤭👍

2024-01-12

2

Pisces97

Pisces97

padahal masih sedikit jengkel lho Sama Yunus soal dia ada keinginan buat poligami dan soal mencintai Yumna dilihat raut wajahnya binggung tipe² laki begini ngeselin emang . tapi bener menurut ku cinta tidak penting lagi soal pernikahan tau rasanya gimana tidak dicintai tapi hanya sebuah kewajiban nyesek banget lho. Yumna sekarang mengalami seperti saya yang sabar ya yum mungkin dengan bercinta kamu segera punya anak bila nanti pun usaha kamu tetap sama Yunus memilih mencintai Naya gpp asal dia masih menghargai kamu sebagai istri gpp sudah ranah selingkuh dan poligami diam² tinggal kan oke karena bagaimana pun secinta apapun kita jangan mau berbagi apalagi bagi suami
kamu aka. setiap hari menonton suami bersama wanita lain dan mempunyai anak wanita lain . inilah yang aku paling gk suka poligami..
bukan benci poligami,, tapi wanita aslinya gk ingin di madu sangat menyakitkan .jangan buang waktu berhari hari ber bulan² dan bertahun² dengan rasa sakit hati...
mengambil hati suami mu jangan lagi seperti mengemis cinta aku suka gaya mu ini sedikit jual mahal itu kunci laki akan selalu mencari perhatianan.

semangat jangan pentang menyerah pada akhir kmu kecewakan ditinggalkan Yunus karena kita mendukung mu bukan si jalang Naya
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

2024-01-12

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!