Yumna memalingkan wajahnya ke arah suaminya, seolah meminta dia untuk menjawab.
Yumna juga penasaran apa jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
"Kenapa dengan Yumna, Boy?" Melihat reaksi putrinya seperti itu, Papi Yohan bertanya kepada Ustad Yunus dan menatapnya.
Wajah pria itu tiba-tiba pucat, tubuhnya gemetar ketakutan, dan jantungnya berdetak kencang.
Tapi sebisa mungkin, Ustad Yunus tidak berlebihan. Agar Papi Yohan tidak curiga.
"Sepertinya Dek Yumna sudah banyak nangis hari ini, Pi. Itu sebabnya matanya bengkak." Dia mencoba menjawab dengan tenang. Ustad Yunus juga tersenyum manis, tangannya bergerak untuk memeluk pinggang istrinya.
"Banyak nangis?!" Jawaban itu terdengar membingungkan karena pasti ada alasan di baliknya. "Bagaimana bisa Yumna banyak nangis, Boy? Apa kalian bertengkar lagi?"
Seolah bukan rahasia lagi, Papi Yohan sangat mengetahui tentang pernikahan anak dan menantunya yang selalu tertimpa badai.
"Hanya masalah kecil, Pi. Tapi sudah selesai sekarang." Ustad Yunus memberikan jawaban lain dengan senyum di bibirnya.
"Ohh... syukurlah kalau begitu." Papa Yohan menghela nafas lega. Tidak perlu menjawab banyak hal, Papa Yohan langsung percaya. Karena dia tahu bahwa menantunya adalah pria yang paling jujur dan tulus di dunia ini. "Masalah dalam pernikahan memang nggak akan ada habisnya. Nggak apa-apa, itu adalah ujian. Tapi Papi yakin... kalian berdua bisa melewatinya."
Perlahan, Papi Yohan memeluk tubuh putrinya sejenak, kemudian dengan lembut mengusap dagunya.
"Dengan memakai hijab, aura kecantikanmu semakin bersinar, Yum. Ayo masuk sekarang, Mami pasti senang melihat kalian datang. Bahkan sejak kemarin Mami sudah menanyakan tentang kalian."
Papi Yohan kemudian mengajak putrinya dan menantunya masuk ke rumah mewahnya.
Di ruang keluarga, Mami Soora sedang duduk di sana, menonton drama Korea.
Wanita paruh baya itu terlihat terkejut ketika melihat Yumna dan Ustad Yunus, tapi dia juga langsung senang dan memeluk putrinya.
"Alhamdulillah... akhirnya kalian datang ke sini. Mami sangat merindukanmu, tadi Mami baru aja ngobrol sama Papi meminta kalian main. Eh ternyata sekarang kalian sudah ada di depan mata."
"Aku juga merindukan Mami." Yumna menjawab dengan lembut, kemudian dengan lembut mengusap punggung Mami Soora.
"Kebetulan, kami berencana menginap di sini malam ini, Mi, Pi. Tapi karena awalnya mendadak ... mungkin saya akan pulang dulu untuk mengambil baju ganti." Ustad Yunus memberi tahu mereka.
"Ada baju ganti di sini, Boy. Ada juga baju untukmu," Papi Yohan mengatakan sambil segera memeluk bahu menantunya. Rasanya bahagia mendengar bahwa mereka akan menginap. Dia langsung membayangkan jika suasana makannya nanti malam pasti akan jauh lebih indah. "Papi jauh-jauh hari sempat membeli baju dan sarung untukmu, semuanya ada di lemari Yumna. Kamu bisa cek."
"Terima kasih, Pi," Ustad Yunus menjawab canggung. Lalu dia melihat istrinya. "Ayo kita mandi dulu, Dek. Supaya seger. Udah sore juga, kan?"
"Mas duluan, aku masih gerah." Yumna langsung duduk di sofa dan menjawab tanpa melihat suaminya.
"Eemmm ... ya udah." Ustad Yunus mengangguk. Kemudian Papi Yohan mengajak menantunya naik tangga untuk memberitahukan letak kamar Yumna.
Sebenarnya, Ustad Yunus memiliki niat untuk mengajak istrinya mandi bersama. Namun, dia merasa tidak mungkin untuk membicarakannya secara terang-terangan di depan mertuanya. Rasa malu menghalanginya.
Akhirnya, dengan terpaksa, dia mengurungkan niatnya.
"Drama ini judulnya apa, Mi?" tanya Yumna sambil menunjuk ke arah televisi.
"Mami lupa judulnya, Yum. Tapi ceritanya tentang balas dendam gitu, karena suaminya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Tonton aja, pasti seru," jawab Mami Soora, kemudian pergi ke dapur.
Setelah beberapa saat, Mami Soora kembali dengan segelas es jeruk nipis, minuman favorit Yumna.
"Ini minum dulu, kamu kelihatan haus." Mami Soora mengulurkan tangannya, dan Yumna langsung mengambil gelas tersebut dan menyesapnya dengan menggunakan sedotan.
"Oh ya, Mi. Aku mau tanya tentang pendapat Mami dong."
"Pendapat tentang apa, Yum?" Mami Soora duduk di samping Yumna, sementara Yumna meletakkan gelas di atas meja.
"Bagaimana pendapat Mami, semisalnya Papi ingin berpoligami?"
"Poligami?!" Mami Soora terkejut mendengarnya. Dia terlihat terkejut dengan apa yang Yumna katakan. Jantungnya berdebar dan dadanya terasa sakit. "Kapan Papi bilang mau berpoligami, Yum? Kenapa Mami nggak tau?"
"Dih, Mi ... aku hanya bertanya."
Sepertinya Mami Soora salah mengartikan pertanyaan Yumna.
"Aku sudah bilang 'misalnya', Mi. Mami ngerti misalnya, kan?"
"Ooohhh ...." Mami Soora merasa lega. "Maaf, Mami pikir Papi sudah bicara denganmu jika dia ingin berpoligami. Tapi kalau kamu hanya bertanya tentang pendapat Mami ... ya, Mami pasti menolaknya, Yum. Karena nggak ada perempuan dunia ini yang mau dimadu, Mami yakin itu."
"Jadi Mami nggak setuju, ya?"
"Tentu saja." Mami Soora mengangguk cepat.
"Tapi bagaimana kalau ternyata Papi diam-diam sudah menikahi perempuan itu tanpa sepengetahuan Mami? Apa yang akan Mami lakukan?"
"Mami akan meminta cerai. Tapi sebelum itu terjadi, Mami akan marah dan menghajar Papi dan perempuan baru itu dengan sekuat tenaga Mami, sampai membuat mereka masuk rumah sakit!" tegasnya yang terlihat begitu menjiwai.
"Kenapa Mami malah meminta cerai? Apakah Mami udah nggak mencintai Papi lagi?"
Yumna terlihat heran dengan jawaban dari Mami Soora. Ini tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya, terutama jika suatu hari Ustad Yunus melakukan hal yang sama padanya.
"Kalau sudah seperti itu, Yum, kenapa harus dipertahankan? Apa kita harus pasrah tetap jadi istri ... ketika suami sudah menikahi orang lain? Itu berarti kita menerima poligami. Lebih baik kita meninggalkannya saja, lagian masih banyak kok pria di luar sana."
"Itu artinya secara nggak langsung Mami merelakan Papi bersama perempuan baru, dong. Apa Mami benar-benar ikhlas?" Yumna meragukan jawaban dari Mami Soora.
"Kalau bicara tentang ikhlas ... sebenarnya nggak ada perempuan yang benar-benar ikhlas, Yum... melihat suami yang dicintainya hidup bersama perempuan lain. Tapi kalau sudah menjadi takdir, apa yang bisa kita lakukan? Mungkin memang bukan jodohnya."
"Jadi, Mas Boy juga bukan jodohku dong, Mi, kalau dia sampai menikahi perempuan lain?"
"Kok jadi beralih ke Boy? Bukannya tadi kita sedang membahas Papi?" Mami Soora mengernyitkan dahinya, bingung dengan apa yang Yumna katakan.
"Oh iya, maaf, kenapa jadi membahas Mas Boy, ya?" Yumna langsung tertawa, mencoba mengalihkan perhatian dari pikirannya.
"Apa Boy ingin berpoligami?" tebak Mami Soora dengan curiga.
Yumna langsung menggeleng cepat. "Enggaklah, Mi."
"Tapi Mami juga yakin ... Kalau Boy nggak mungkin memiliki niat untuk berpoligami, Yum."
"Kenapa nggak mungkin?"
"Karena dia sangat mencintaimu. Seorang pria yang benar-benar mencintai istrinya ... nggak akan pernah memikirkan untuk menduakannya."
"Bagaimana kalau orang kedua itu adalah seseorang yang dia cintai juga, Mi?"
"Maksudnya?" Mami Soora terlihat bingung.
"Orang yang pernah menjalin hubungan. Si Naya."
"Naya siapa?" tanya Papi Yohan yang tiba-tiba datang menghampiri. Ini membuat dua perempuan dari generasi yang berbeda itu langsung menoleh.
"Oh nggak, Pi, kami hanya berandai-andai saja," jawab Yumna agak gugup.
"Tapi kenapa bawa-bawa nama Naya?" Papi Yohan perlahan duduk di kursi di dekat mereka. "Nama Naya sama seperti mantanya si Boy."
"Nggak tau, tuh, si Yumna, Pi ... daritadi ngomongin poligami mulu," kata Mami Soora menyambut ucapan suaminya. "Mana berandai-andai Papi sama Boy lagi, yang mau poligami."
"Nggak boleh ngomong kayak gitu, Yum," ucap Papi Yohan memberikan nasehat. "Papi sama Boy sama-sama pria setia, jadi nggak mungkin menduakan kalian apalagi berniat berpoligami. Kamu harus percaya itu," tambahnya meyakinkan.
...Belum tau aja Papi kelakukan menantu alimnya 🤣🤣...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Micchan Mitsubou
Papi Yohan sangat positif thinking banget ya sama mantunya yang katanya pria sejati tapi niat mau poligami 😌
2024-01-11
3
Anik Trisubekti
dari awal ketemu papi sdh benci sm Naya gmn reaksinya kalau tau mas Boy msh ketemu naya 🤔
2024-01-11
2
Zahra dila Dila
mas boy hati2 kalau ketahuan papi yohan tau rasa nanti Mau menduakan ptrinya, trimakasih kak untuk up nya💓💓😁😁
2024-01-11
2