14. Aku juga mencintai Mas Boy

Ustad Yunus membawa Yumna masuk ke dalam kamar mandi dengan masih mencium bibirnya penuh gairah. Yumna juga terlihat menyambutnya dengan senang hati.

Seperti biasa, sebelum memulai ritual percintaan mereka—Ustad Yunus mengajak istrinya untuk bersama-sama mengambil air wudhu. Dia juga sekalian mencuci miliknya, sebelum mereka mulai tempur.

Dengan perlahan-lahan, Ustad Yunus membaringkan tubuh Yumna di atas kasur.

Dia memandang istrinya dengan penuh kasih sayang, menggenggam tangannya dengan lembut, dan mengecup keningnya dengan penuh kehangatan.

"Saya mulai ya, Dek?" tanyanya dengan suara lembut, memberikan rasa aman dan nyaman pada Yumna.

Perempuan itu hanya mengangguk dengan pasrah.

Namun, sebuah senyuman tersungging jelas diwajah cantiknya yang langsung memerah, saat suaminya itu membisikinya sebuah do'a sembari melucuti satu persatu kain yang menempel tubuhnya.

Setelah keduanya sudah sama-sama polos, dengan kelembutan Ustad Yunus mulai mengecupi Yumna dari ujung kepala hingga pada daerah intinya.

Sentuhan itu seketika membuat darah Yumna berdesir lebih cepat. Yumna merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Otot-otot tubuhnya mulai menegang, namun dia berusaha untuk tetap rileks. Dia ingin merasakan setiap momen dengan sepenuh hati dan menghayati setiap sensasi yang terjadi.

Sementara itu, diluar kamar, sepasang suami istri yang tidak lain adalah Papi Yohan dan Mami Soora tengah sibuk menempelkan telinga kanannya masing-masing pada daun pintu.

Mereka berharap, dapat mendengar suara atau tanda-tanda dari dalam kamar yang akan membuktikan bahwa anak dan menantu mereka sedang menjalani proses pembuatan cucu. Karena seperti apa yang sempat Papi Yohan katakan, dia memang benar-benar sudah tidak sabar.

"Kok nggak ada suara apa pun, Mi? Apa jangan-jangan mereka nggak buat cucu untuk kita malam ini?" tebak Papi Yohan dengan rasa penasarannya.

"Mami yakin, sih ... mereka buat, Pi. Soalnya tadi 'kan Papi denger sendiri si Boy kayak khawatir kalau Yumna tidur duluan."

"Tapi ini kok nggak ada suaranya?" Papi Yohan masih belum percaya. Dia bahkan kini mendekatkan mata kirinya sembari memicing untuk mengintip dari arah lubang kunci. Namun, sayang, tidak ada apa-apa yang bisa dia lihat di sana. Hanya kegelapan saja.

"Mungkin karena terlalu menghayati kali, Pi, jadi mereka nggak bersuara."

"Dimana-mana mendesaah itu adalah bentuk dari kita menghayati, Mi, karena sangking enaknya. Fiks sih ini ... mereka nggak buatin kita cucu malam ini, paling sekarang mereka udah sama-sama ngorok," ucapnya yakin.

"Eh tapi ngomong-ngomong ...." Mami Soora tiba-tiba menjauhkan diri dari pintu itu, saat dia mengingat sesuatu. "Kamarnya si Yumna kedap suara nggak, Pi? Bisa saja kita nggak denger karena memang kamarnya kedap suara."

"Oh iya juga, ya, Mi ... kenapa Papi nggak inget." Papi Yohan langsung tepok jidat, merasa tak habis pikir dengan dirinya sendiri. "Kamar Yumna memang kedap suara. Besok-besok sepertinya... Yumna dan si Boy pindah aja ke kamar tamu, karena kamar tamu nggak kedap suara. Biar kita bisa denger mereka mendesaah."

"Bener juga ide Papi." Mami Soora mengangguk setuju.

Kembali ke kamar.

Percintaan malam ini terasa jauh lebih panas dan menggairahkan, dibanding saat pertama kali.

Tissue magic dari Papi Yohan benar-benar mujarab. Ustad Yunus mampu bertahan hingga dini hari menjelang waktu Subuh.

Entah sudah berapa kali Yumna berhasil mencapai pelepasannya, tapi yang jelas, miliknya sudah benar-benar perih. Sekujur tubuhnya pun ikut terasa sakit.

Namun, meski begitu, melihat stamina suaminya masih on, Yumna masih berusaha untuk tetap bersemangat. Karena dia tidak ingin mengecewakannya.

"Deeekkk, terima kasih... Saya mencintaimu," ucap Ustad Yunus dengan napas yang memburu, lalu memeluk tubuh Yumna dari belakang.

Yumna perlahan menyentuh tangan suaminya yang melingkar di perutnya dan tersenyum dengan hangat. "Sama-sama. Aku juga mencintai Mas Boy."

Tiba-tiba, suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara dengkuran halus dari belakang. Tampaknya Ustad Yunus sudah tertidur lebih dulu setelah mencapai kepuasannya.

"Entah sejak kapan, Mas. Tapi sepertinya... aku memang sudah mencintai Mas Boy sekarang. Aku juga takut kehilangan Mas Boy," lirih Yumna.

Perlahan, dia membalik tubuhnya untuk bisa saling berhadapan. Wajah suaminya terlihat tampan dan tenang.

Ini mungkin kali pertama Yumna melihat suaminya tidur. Biasanya, dia yang tidur lebih dulu dan bangun paling belakang.

"Lupakan Naya mulai sekarang ya, Mas. Aku yakin Mas Boy pasti bisa," tambahnya berharap, lalu memberikan ciuman singkat di bibir Ustad Yunus.

***

Di tempat yang berbeda, setelah fajar menyapa, suasana di salah satu kamar di rumah sakit jiwa dipenuhi dengan keguncangan emosional yang begitu kuat.

"Bang Yunus ... jangan pergi tinggalin aku, ayok kita menikah Baaaanng!!"

Naya, dengan hati yang penuh kesedihan dan putus asa, terus-menerus mengamuk dan memanggil nama Ustad Yunus dengan suara yang penuh kerinduan.

Depresi yang menghantam Naya begitu dalam setelah dia menyadari bahwa Ustad Yunus telah pergi dan tidak ada di sisinya sejak dia bangun dari pingsan. Rasa kehilangan dan kesepian yang dirasakannya membuatnya kehilangan kendali atas emosinya.

Akhirnya, setelah melalui pertimbangan yang berat karena terus dibujuk oleh pihak rumah sakit, Ayah Cakra dan Bunda Noni memutuskan untuk setuju membawa Naya ke rumah sakit jiwa.

Mereka sadar bahwa kondisi Naya membutuhkan perawatan intensif yang sesuai dengan kondisi psikologis yang dia alami. Dengan harapan agar Naya bisa mendapatkan bantuan yang tepat dan pemulihan yang diperlukan.

Di luar kamar, melalui jendela kaca, Ayah Cakra dan Bunda Noni melihat anak mereka yang tercinta sedang diberikan suntikan oleh seorang perawat. Dua perawat lainnya berusaha menahan tubuhnya agar tidak berontak.

Rasa sedih dan kekhawatiran mengguncang hati Ayah Cakra dan Bunda Noni saat melihat kondisi anak mereka seperti itu.

Bunda Noni menangis tersedu-sedu sambil berkata, "Kalau Yunus ada di sini bersama Naya... dia nggak akan seperti ini, Yah."

Ayah Cakra segera meraih tubuh Bunda Noni dan memeluknya erat. Dia juga merasakan kesedihan yang mendalam.

"Iya, Bun. Yunus memang obatnya."

"Ayah coba pergi ke rumah Yunus lagi, tanyakan padanya tentang keputusannya," usul Bunda Noni. Namun, mendadak ada sebuah kekhawatiran dalam benaknya. "Tapi kalau misalkan istrinya nggak mau dimadu, atau Yunus nggak mau menceraikannya ... gimana ini jadinya, Yah?"

Ayah Cakra dengan tegas menjawab, "Ayah akan memaksa Yunus untuk menikahi Naya secara diam-diam, Bun! Jangan khawatir ... Ayah yakin Yunus akan luluh setelah melihat kondisi Naya seperti ini."

Ayah Cakra segera mengambil ponselnya dan merekam video Naya yang masih mengamuk dan memanggil-manggil nama Ustad Yunus.

Bunda Noni menyetujui rencana Ayah Cakra dan berkata, "Bagus itu, Yah, ya sudah ... sebaiknya Ayah pergi sekarang juga. Pasti Yunus sudah ada di masjid, dan otomatis dia nggak lagi sama istrinya. Ayah langsung tarik saja dia dan bawa ke sini."

"Iya, Bun," Ayah Cakra mengangguk setuju sambil mengelus puncak hijab Bunda Noni dan mencium keningnya dengan singkat. Pelukan itu pun dia relai. "Ayah akan pergi sekarang. Assalamualaikum."

"Walaikum salam," jawab Bunda Noni, lalu melambaikan tangan "Hati-hati dijalan, Yah!"

Ayah Cakra hanya mengangguk dan tersenyum sembari terus melangkah menjauh meninggalkan istrinya.

...Waahhh ... makin parah aja, ya, ide kalian ini 😠...

Terpopuler

Comments

Ulfah Putri234

Ulfah Putri234

hadeuh,,, itu hasil ulah lamu juga Cakra,,apa jangan2 naya pura2 depresi agar bisa menjerat si Yunus,,dah gitu itu si yusnus pikiran nya masih labil gitu gak tegas,,klo jadi nikah diam2,, mending Yumna gugat cerai aja apa yg dikata kan mami Sora bnr
.

2024-01-13

1

Zahra dila Dila

Zahra dila Dila

orang tuanya nanya ikut2an Gila juga kak , jangan sampai ada poligami kak, q ndak suka dengan poligami

2024-01-13

1

Anik Trisubekti

Anik Trisubekti

istigfar pak Cakra

2024-01-13

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!