16. Orang gila yang mau masuk ke rumah

Lima menit kemudian, Umi Mae kembali dengan membawa nampan berisi secangkir kopi hitam dan sepiring nasi goreng lengkap dengan kerupuk udang dan dadar telur di atasnya.

Dia lantas memberikan makanan tersebut kepada Ayah Cakra, yang dengan senang hati menerimanya.

Ayah Cakra dengan cepat menyantap nasi goreng tersebut, terlihat sangat lapar sekali layaknya orang yang belum makan berhari-hari.

Setelah ini, dia akan memiliki banyak tenaga untuk bisa merayu Umi Mae. Wanita itu harus berada dipihaknya.

"Uhuk! Uhuk!"

"Uhuk! Uhuk!"

Di tengah-tengah makan, Ayah Cakra mendadak terbatuk-batuk, merasa tenggorokannya tercekik karena banyaknya nasi goreng yang mengisi mulutnya.

Buru-buru, Umi Mae masuk kembali ke dalam rumah dan kembali dengan membawa segelas air.

"Alhamdulillah... hampir saja aku mati karena tersedak," ucapnya dengan penuh syukur setelah meminum segelas air dan menyelesaikan nasi gorengnya. "Ibu juga ada-ada saja, ya! Orang ngasih sarapan kok nggak sama air minumnya! Kalau aku mati tersendak gimana, coba?"

Mata Ayah Cakra tampak sedikit melotot. Tapi sebisa mungkin dia mengontrol emosinya.

"Maafkan aku, Pak," ucap Umi Mae dengan perasaan tidak enak. Tetapi, yang Ayah Cakra inginkan tadi hanya nasi goreng dan kopi. Jadi, Umi Mae berpikir air putih tidak dia perlukan.

"Ya udah nggak apa-apa." Ayah Cakra membuang napasnya dengan kasar, lalu meraih secangkir kopi dan menyesapnya sedikit. "Sekarang langsung saja sama cerita aku ya, Bu, tentang kondisi Naya."

"Iya, Pak." Umi Mae mengangguk, lalu menatap Ayah Cakra dengan serius.

Ayah Cakra menjelaskan, "Naya sekarang berada di rumah sakit jiwa, Bu, karena mengalami gangguan mental akibat depresi berat."

"Apa?! Gangguan mental? Kok bisa, kenapa, Pak?" Umi Mae terkejut mendengarnya. "Sekitar dua bulan yang lalu ... aku pernah bertemu dengan Naya, tapi dia terlihat baik-baik saja."

"Mungkin itu terakhir kali dia dalam kondisi baik, Bu," jawab Ayah Cakra dan kembali memasang wajah sedih. "Karena setelah itu ... Naya mengalami depresi yang parah. Ya intinya setelah mengetahui bahwa Yunus sudah menikah."

"Memangnya ada hubungannya, ya, sama Yunus yang menikah?" tanya Umi Mae dengan raut bingung.

"Tentu ada dong, Bu. Kan Naya ditinggal nikah sama si Yunus."

"Ditinggal nikah gimana, Pak?" Umi Mae makin terheran-heran. Jelas, itu karena dia mengetahui bagaimana perjalan ta'aruf anaknya dengan Naya sampai akhirnya kandas. "Bukannya Bapak yang nggak merestui mereka, ya?"

"Iya, aku memang nggak merestui mereka awalnya. Tapi sekarang aku sudah merestuinya, Bu."

"Lho, kenapa, Pak??" Umi Mae mengerutkan dahi. "Maksudku, kenapa baru sekarang? Setelah Yunus sudah menikah?"

"Tadinya ... aku ingin Naya fokus kuliah dulu, Bu, mengejar cita-cita yang ingin menjadi dokter spesialis kandungan. Tapi sayangnya, setelah dia tau Yunus menikah... dia malah mengalami depresi seperti ini sampai-sampai aku dan istriku terpaksa membawanya ke rumah sakit jiwa."

"Aku sebenarnya agak kecewa sedikit sama Yunus, Bu," tambah Ayah Cakra melanjutkan.

"Kenapa kecewa?"

"Ya karena secepat itu dia bisa menikah, Bu. Aku kira ... Yunus akan menunggu Naya sampai lulus kuliah, karena itu berarti cintanya begitu besar." Padahal, meskipun sudah lulus kuliah—belum tentu juga Ayah Cakra akan merestui. Dan sepertinya, apa yang dilakukannya sekarang tak akan terjadi jika Naya tidak mengalami depresi. "Tapi nyatanya ... dia malah menikahi gadis lain, padahal Yunus sendiri pernah mengatakan kepada Naya ... kalau dia nggak suka sama Yumna."

"Aku menghargai, dan mengerti dengan perasaan Bapak yang kecewa dengan apa yang telah terjadi. Tapi, Pak ... aku berharap sekali Bapak sekarang bisa menerima kenyataan kalau Yunus bukan jodohnya Naya. Dan aku akan berdo'a untuk kebaikan Naya, semoga dia bisa sembuh dari depresinya."

"Hanya dengan do'a saja itu belum cukup, Bu! Bahkan dengan obat atau alat medis sekalipun!" Ayah Cakra berbicara tegas.

"Kalau begitu ... apa perlu Naya diruqiah, Pak? Yunus kebetulan bisa meruqiah orang, barangkali dia juga bisa menyembuhkan Naya," saran Umi Mae mengusulkan ide.

Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi apa pun itu, tidak ada salah juga untuk mencobanya.

"Yunus nggak perlu meruqiah Naya, tapi harus menikahi Naya!"

"Lho ... kok menikahi?? Yunus 'kan sudah menikah, Pak." Terdengar konyol menurut Umi. Dia juga merasa tak paham maksud dari Ayah Cakra berbicara seperti itu.

"Jadikan Naya istri keduanya, Bu!"

"Apa?! Istri kedua?!" Umi Mae membelalakkan matanya terkejut, sejurus kemudian dia menggeleng cepat. "Mana bisa begitu, Pak!"

"Ya tentu bisa. Syaratnya Ibu setuju, dan Yunusnya mau," ucapnya yang terdengar enteng.

"Lalu, bagaimana dengan Yumna? Itu sama saja seperti menyakitinya, Pak."

Tidak! Rasanya Umi tidak tega. Jangankan melihatnya tersakiti, melihatnya menangis saja dia ikut teriris.

Baik buruknya Yumna dia tetap menantunya, dan Umi Mae sangat menyayanginya.

"Ibu paham agama, kan? Aku yakin ibu paham. Poligami itu 'kan dibolehkan dalam Islam, dan istri yang ikhlas menjalani akan dijamin masuk surga," kata Ayah Cakra menjelaskan, lalu menambahkan. "Ini demi kebaikan kita bersama, Bu. Aku yakin Yunus masih sangat mencintai Naya, dia juga pasti senang karena akhirnya bisa menikahi Naya. Dan yang terpenting adalah ... Naya bisa sembuh dari depresinya, karena penyebab utamanya diawal karena dia nggak jadi menikah dengan Yunus."

"Kalau pun Yunus bersedia, aku sendiri yang akan melarangnya, Pak!" tegas Umi Mae tiba-tiba. Dari ekspresi wajahnya, dia menunjukkan ketidaksetujuannya.

Meskipun dia belum tahu tanggapan Yumna soal ini, tapi dia yakin pasti Yumna tidak setuju.

Tidak ada juga perempuan di dunia ini yang mau dimadu, bukan? Itu lah yang Umi Mae pikirkan.

"Kenapa jadi Ibu yang melarangnya?" Ayah Cakra langsung berdiri dengan otot-otot diwajahnya yang mulai mengetat. Dia merasa kesal dengan respon wanita tua itu, dan meyakini jika Umi Mae memihak kepada Yumna. "Harusnya Ibu dukung dong anaknya sendiri bahagia. Kan Ibu juga tau ... kalau Yunus masih sangat mencintai Naya!"

"Yunus sekarang sudah bahagia bersama Yumna, Pak. Sebaiknya di sini Bapak fokus sembuhkan Naya saja, nggak perlu berpikir ingin menikahi Naya dengan Yunus ... karena itu nggak akan pernah terjadi!" Dengan tegas Umi Mae memberikan pemahaman, meskipun nada suaranya terdengar masih lembut.

"Ck!" Ayah Cakra berdecak sebal. Merasa tak puas dengan jawaban wanita itu. "Ibu ini nggak paham atau gimana, sih? Kan Naya sekarang sudah ada di rumah sakit jiwa, itu tandanya dia sedang diobati! Tapi obat yang lebih mujarab itu adalah Yunus, Yunus harus menikahi Naya!" Seolah tak ingin kalah, Ayah Cakra terus menegaskan jika Ustad Yunus harus bisa dan mau menikahi Naya.

Perlahan-lahan, Umi Mae membuang napas dengan kasar dan kemudian berdiri.

"Sekarang ... lebih baik Bapak pulang, dan jangan pernah temui Yunus lagi apalagi memintanya untuk menikahi Naya!" Tampaknya, percakapannya kini yang berlarut-larut menjadi tidak sehat, dan Umi Mae tidak ingin terbawa emosi jadilah dia memutuskan untuk mengusirnya.

"Kok Ibu ngusir aku, sih? Niatku datang 'kan baik. Aku ingin bersilaturahmi sekaligus menjalin hubungan!" Ayah Cakra merasa tak terima. Dia juga sudah capek berbicara, tapi terasa semuanya menjadi sia-sia.

"Maaf ...." Hanya kata itu yang Umi Mae lontaran, setelahnya dia berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Ayah Cakra. Buru-buru dia juga mengunci pintunya dengan rapat karena merasa khawatir.

"BUUU!! BUKA PINTUNYA, BU!! IBU HARUS SETUJU DAN KASIHANILAH NAYA YANG SEDANG DEPRESIIII!!"

Benar saja, Ayah Cakra langsung menggedor-gedor pintu rumah tersebut dengan kencang sambil berteriak-teriak. Umi Mae yang berada dibalik pintu itu merasa terkejut, tubuhnya seketika bergetar karena ketakutan.

Dengan segera dia merogoh ponselnya yang berada di dalam kantong celana, dibalik gamisnya, lalu mencari nomor kontak yang bernama Soni—dia merupakan Kakak ipar dari Ustad Yunus. Dan posisi rumahnya pun cukup dekat dengan rumahnya.

"Assalamualaikum, Son! Cepat kamu ke rumah Umi!! Ada orang gila yang mau masuk rumah Umi, Son!!" seru Umi Mae dengan suara gemetar.

...Waduuhhh... masa orang gila sih, Umi🤣🤣 Pak Cakra 'kan masih waras, meskipun agak konslet otaknya😂🙏...

Terpopuler

Comments

Wardah Sholihah

Wardah Sholihah

dasar pak Cakra pesong

2024-02-07

1

Peryeni

Peryeni

Alhamdulillah... msh di kubu yumna

2024-01-15

3

Tria Hartanto

Tria Hartanto

sebentar lg pak cakra ikutan di rawat di rsj

2024-01-15

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!