Di dalam kamar mandi yang nyaman, Yumna dan Ustad Yunus menikmati momen relaksasi mereka di dalam bathtub berukuran besar.
Air hangat yang mengalir melalui tubuh polos mereka, membantu menghilangkan rasa letih setelah melalui malam yang penuh gairah di atas ranjang.
Setelah terbangun pada waktu subuh, Yumna dan Ustad Yunus melaksanakan mandi wajib sebagai persiapan untuk melaksanakan sholat.
Namun, setelah selesai melaksanakan sholat, Ustad Yunus tiba-tiba mengajak Yumna untuk bercinta lagi.
Yumna merasa sedikit heran, karena biasanya suaminya tidak begitu bersemangat dalam hal tersebut, terlebih setelah mereka baru saja mandi bersama.
Meskipun begitu, Yumna tidak menolak dan tetap bersemangat untuk memuaskan suaminya.
"Maafin saya, ya, Dek. Kamu pasti capek, kita juga sampai mandi dua kali hari ini." Dari belakang, Ustad Yunus dengan lembut mengelus rambut panjang istrinya, lalu memeluk perutnya dengan penuh kehangatan.
"Nggak apa-apa, Mas." Yumna menggeleng perlahan sambil memalingkan wajahnya ke arah suaminya, senyum memerah terukir di pipinya. "Aku nggak lelah kok, bahkan kalau Mas ingin mengajakku bercinta di sini ... aku siap."
"Hari ini sudah cukup, Dek. Kita sudah terlalu banyak, kasihan kamunya. Sesuatu yang berlebihankan juga nggak disukai Allah."
"Masa, sih, Mas?" Yumna bergeser dan naik ke atas pangkuan suaminya. Dia dengan lembut menangkup kedua pipi Ustad Yunus dengan tangannya. Tatapannya terpaku pada suaminya, dan tiba-tiba ada kekhawatiran yang merasuki dadanya. "Hhhmmm, Mas ... Mas masih mencintaiku, kan?"
Ustad Yunus langsung terkekeh dan mencium bibir istrinya dengan singkat. "Kamu bicara apa, Dek?"
"Jawablah, Mas."
"Tentu saja, Dek. Kamu 'kan istriku, mana mungkin saya nggak mencintaimu?"
"Tapi aku merasa ... cinta Mas padaku sudah memudar." Yumna mengutarakan isi hatinya, yang selama ini terus menganggu pikirannya.
"Itu hanya perasaanmu saja, aslinya nggak kok." Ustad Yunus menggeleng.
"Serius??"
"Iyalah, Dek."
"Dari 1 sampai 100 ... kira-kira, cinta Mas padaku berada diangka berapa??"
"Cinta saya padamu nggak bisa diukur dari angka, Dek. Jadi saya nggak bisa menyebutkannya, karena yang pasti itu sangat banyak." Ustad Yunus kembali mencium bibir istrinya dengan penuh cinta, dan membuat kedua pipi perempuan itu seketika memerah.
Ada ketulusan yang terpancar dari matanya, tapi entah mengapa lagi-lagi Yumna masih merasa ragu.
Dia masih ingin mendengar kepastian dari suaminya, bahwa cinta mereka tetap kuat dan bahwa dia adalah satu-satunya dalam pikiran Ustad Yunus saat mereka dekat maupun jauh.
Yumna langsung memeluk suaminya erat dan menaruh kepalanya di dada bidang sang suami. "Saat kita bercinta ... Mas nggak membayangkan wajah perempuan lain, kan? Mas masih sadar bahwa aku sedang bersama Mas, kan??"
"Ya iyalah, Dek. Saya 'kan lagi sama kamu, masa bayangin perempuan lain? Lagian, seseorang yang sudah menikah ... haram dan dosa hukumnya jika memikirkan orang lain selain pasangannya."
Ustad Yunus mengerti, dan paham akan hal itu jauh lebih baik dari Yumna. Tapi sebagai manusia biasa, dia terkadang melupakannya. Yang jelas-jelas telah dilarang. Kekhilafahannya yang terus menerus memikirkan Naya.
"Oh iya, kah, Mas?? Jadi dosa, ya??" Yumna menatap suaminya dengan penuh harap, menunggu jawaban dari hati Ustad Yunus.
"Iya, Dek." Ustad Yunus mengangguk dengan cepat. "Mangkanya, kamu jangan suka memikirkan mantanmu. Apalagi saat sedang bersama saya. Nanti kamu berdosa."
Seolah tidak berkaca, padahal dirinya juga sama.
"Nggak lah, Mas." Yumna menggeleng cepat. "Aku sekarang sudah melupakannya. Justru Mas yang belum melupakan si DIA."
Kata 'DIA' sengaja ditekankan, supaya suaminya sadar. Tapi Yumna tidak mau menyebut namanya, karena dia sangat membencinya.
"Dia siapa?" tanya Ustad Yunus. Entah memang tidak tahu, atau berpura-pura.
"Aahh ... Mas pasti hanya pura-pura nggak tau, aku yakin Mas udah paham." Yumna mengerucutkan bibirnya, merasa sebal dengan tanggapan suaminya yang menurutnya tidak memuaskan.
"Udaaah ... nggak perlu bahas orang lain, Dek." Ustad Yunus langsung mengelus lengan istrinya. Dia tak mau pembahasan mereka makin melebar ke mana-mana dan berujung pada konflik. Apalagi posisinya ada di rumah mertua. "Sekarang kita 'kan lagi berdua, jadi bahasnya hal berdua saja, ya??" tambahnya sedikit merayu.
Yumna menghela napas dan mengangguk pelan, lalu berujar dengan ragu. "Hmm ... sebenarnya, Mas, aku ingin kita menghabiskan lebih banyak waktu bersama."
"Ini kita sekarang 'kan lagi menghabiskan waktu bersama, Dek? Gimana sih kamu." Ustad Yunus menatap Yumna dengan heran, keningnya sedikit berkerut. "Sampai-sampai kita lupa sarapan. Kamu pasti laper, kan, sekarang?"
"Maksudku, bukan sekedar dikamar saja, Mas."
"Lalu??"
"Aku ingin kita melakukan hal-hal lain bersama, seperti makan di restoran, menonton film, atau pergi ke tempat lain tapi hanya berdua." Yumna kembali mengerucutkan bibirnya, berharap suaminya bisa memahami apa yang dia inginkan. "Dari awal kita kenal maupun sesudah menikah, kita bahkan belum pernah melakukannya, kan?"
"Ya udah, besok kita pergi berbulan madu ya, Dek. Biar kita bisa menghabiskan waktu bersama."
Mata Yumna langsung berbinar-binar, namun dia masih menginginkan sesuatu yang lebih. "Kenapa harus besok? Kenapa nggak sekarang saja, Mas??"
"Nanti malam saya ada job ceramah, Dek. Udah dikasih DP juga, jadi nggak mungkin membatalkannya."
"Ceramah di mana?"
"Di ...." Ucapan Ustad Yunus seketika terputus, saat mendengar suara gedoran pintu cukup keras dari arah luar kamar. "Siapa itu, Dek?"
Tok! Tok! Tok!
Merasa terkejut dan khawatir, Ustad Yunus segera bangkit dari bathtub, menyudahi acara berendamnya. Dan Yumna pun melakukan hal yang sama.
Mereka buru-buru keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuh mereka, dan segera mengenakan pakaian.
Ustad Yunus kemudian membuka pintu kamarnya.
Ceklek~
Papi Yohan berdiri di depan pintu dengan wajah cemas. Dia langsung memindai tubuh Ustad Yunus dan Yumna yang duduk di atas kasur dari ujung kaki hingga kepala.
"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Papi Yohan khawatir.
"Kami baik-baik saja, Pi. Memangnya ada apa?" tanya Ustad Yunus yang jadi ikutan cemas. Dia juga ikut-ikutan memperhatikan mertuanya dari ujung kaki hingga kepala.
"Papi hanya takut kalian pingsan dikamar, soalnya kalian nggak keluar-keluar dari pagi." Papi Yohan tiba-tiba memeluk tubuh Ustad Yunus, lalu mengelus lembut punggungnya. Dia juga menghela napas, merasakan kelegaan di dalam dada. "Tapi syukurlah ... kalau kalian baik-baik saja."
"Papi apaan, sih, lebay banget," gerutu Yumna sambil meringis kesal. Dia tahu, Papinya itu sangat menyayangi suaminya. Tapi terkadang tingkahnya yang berlebihan itu membuatnya sebal sendiri. "Kami tadi lagi berendam lho, Pi, sambil ngomongin masa depan. Eh Papi datang-datang malah gangguin. Gagal deh."
"Ooohh ... jadi kalian lama dikamar karena lagi berendam ngomongin masa depan? Papi kira karena giat bikin cucu." Bukannya meminta maaf karena telah menganggu kenyamanan anak dan menantunya, Papi Yohan justru memasang wajah kecewa. Dia juga langsung merelai pelukan kepada menantunya.
"Ya sambil bikin cucu juga buat Papi," balas Yumna.
"Deekkkk ...," tegur Ustad Yunus yang langsung menatap istrinya. Menurutnya hal tersebut tidak perlu diumbar, malu. Tapi, Papi Yohan justru berbunga-bunga setelah mendengarnya.
"Maafin Papi kalau gitu, karena udah gangguin kalian. Tapi saran Papi ... kalian ngisi perut dulu, biar semangat nambah ronde lagi. Ayok kita turun," ajak Papi Yohan seraya mengenggam tangan Ustad Yunus. Pria itu mengangguk, kemudian menatap kembali ke arah istrinya.
"Ayok, Dek. Kita makan dulu."
"Iya, Mas," jawab Yumna dengan anggukan kepala
Mereka bertiga lantas turun ke lantai dasar, tetapi ketiganya langsung terheran-heran saat melihat ada tamu yang datang. Tengah duduk bersama dengan Mami Soora di ruang tamu.
"Umi ... Bang Soni. Kok mereka ke sini??" gumam Ustad Yunus dengan dahi yang berkerut. Rasa penasaran membuatnya melangkah mendekati mereka yang berada di ruang tamu. Yumna yang sedang dirangkulnya juga ikut mengikutinya.
...Hayoo lho, Ustad 🤭...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Evrida
kok belum up kak Ros
2024-01-18
1
Yesi Marsela
siapkan mental mu mas karena kamu akan di sidang 🤭
2024-01-17
1
fee2
pasti soni mau cerita soal ayah naya yang datang ke rumah umi...
2024-01-17
1