17. Jangan gangguin mereka!

"BU!! BUKA PINTUNYA!!" Ayah Cakra masih menggedor-gedor pintu. Amarah di dadanya mulai memuncak. "SETIDAKNYA BERIKAN AKU NOMOR SI YUNUS!!"

Tok! Tok! Tok!

"Bapak mau ngapain?!" teriak seorang pria yang baru saja turun dari motor meticnya. Pria tersebut, Soni, langsung berlari menghampiri Ayah Cakra dan menarik lengannya, mencoba menjauhkannya dari pintu.

Kecemasan terpancar dari wajah Soni, dia datang secepat mungkin setelah mendapatkan telepon dari Umi mertuanya.

"Kamu siapa?!" Ayah Cakra berbalik tanya, sambil melotot kepada Soni.

"Aku menantunya Umi. Bapak pasti orang gila, ya? Ayok cepat pergi dari sini!" Soni menjelaskan dengan cepat sambil menyeret Ayah Cakra keluar dari rumah menuju halaman.

"Kurang ajar sekali kau ini!!" bentaknya. Tubuh Ayah Cakra pun terlepas dari cengkraman Soni, dan dia melotot marah pada pria itu. Rasa tidak terima dan amarah memenuhi hatinya karena disebut sebagai orang gila. "Aku ini tamu di sini, ya! Tamu mertuamu! Bukan orang gila!" tambahnya dengan suara yang penuh dengan kemarahan.

"Apa pun itu, intinya Bapak harus pergi sekarang juga dari sini!" tegas Soni, tanpa menghiraukan apa yang dikatakan Ayah Cakra.

Soni tidak mau mendengar alasan atau penjelasan Ayah Cakra. Baginya, yang terpenting adalah mengusir Ayah Cakra dari rumah Umi mertuanya secepat mungkin.

"Ini bukan rumahmu! Kamu juga nggak berhak mengusirku!" Ayah Cakra berang, menolak keras tuntutan Soni. "Dan tadi kamu bilang apa? Kamu menantunya Umi? Berarti kamu ini Kakak iparnya si Yunus. Tapi kenapa kamu nggak beradab sekali! Berbeda sekali dengan si Yunus!"

"Harusnya Bapak sadar diri! Bapaklah yang nggak beradab di sini!" Soni membalikkan ucapan Ayah Cakra, tidak mau kalah dalam perdebatan ini. Dia merasa tidak salah berada di sini dan ingin Ayah Cakra menyadari kesalahannya. "Di mana-mana ... tamu itu nggak menggedor-gedor pintu secara paksa pada tuan rumah! Karena itu sama saja seperti mengganggunya!"

"Pokoknya, kalau Bapak nggak mau pergi juga, aku akan melaporkan Bapak ke Pak RT! Biar dia yang menyeret Bapak untuk pergi!" tambahnya dengan nada mengancam.

"Ck!" Ayah Cakra mengeluarkan decakan kesal, merasa kehabisan kata-kata. Dalam kemarahannya, dia menuding wajah Soni dengan amarah. "Awas kau, ya! Kutandai mukamu! Kudoakan juga agar hidupmu nggak pernah bahagia!" tambahnya sambil mengumpat. Lalu, dia masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana dengan cepat.

"Dasar orang gila!" gerutu Soni, masih merasa marah. Dia menghela napas berat dan mengusap kasar wajahnya, mencoba menghilangkan ketegangan.

Setelah itu, dia berjalan menuju pintu dan mengetuk-ngetuknya.

Tok! Tok! Tok!

"Umi! Ini aku, Soni!" seru Soni memanggil Umi dengan harapannya agar suaranya terdengar.

"Orang tadi sudah pergi, Son?" Suara Umi terdengar lirih dari balik pintu.

"Udah, Umi. Boleh Umi keluar sebentar? Aku mau bicara."

"Iya, tentu."

Perlahan-lahan, pintu itu dibuka. Umi melihat ke kiri dan kanan dengan wajah cemas, tetapi kemudian menghela napas lega saat yakin bahwa Ayah Cakra sudah pergi.

"Syukurlah... untung kamu datang cepat. Terima kasih, Son," kata Umi Mae sambil tersenyum kepada menantunya.

"Sama-sama. Tapi dia itu siapa sebenarnya, Umi? Apa calon suami baru Umi?" tanya Soni, penuh rasa ingin tahu.

"Sembarangan! Bukan lah, Son!" bantah Umi Mae.

"Lalu, siapa dia? Kok kelihatannya dia ingin masuk rumah dengan paksa? Tapi katanya dia bukan orang gila, Umi."

"Dia memang bukan orang gila, Son. Dia adalah Ayah dari Naya." Umi Mae duduk di kursi dan mulai membersihkan sisa piring dan gelas di atas nampan.

"Ayahnya Naya?!" Soni mengerutkan keningnya. Nama Naya terdengar familiar baginya karena Ustad Yunus pernah sesekali bercerita tentangnya.

"Iya, Son. Tadi Umi bilang dia orang gila hanya untuk meminta bantuanmu dengan cepat. Umi takut karena dia terlihat memaksa."

"Naya adalah perempuan yang pernah diajak ta'aruf oleh si Yunus, kan, Umi?" tebak Soni, lalu duduk di kursi kosong di sebelah Umi Mae. Umi Mae mengangguk sebagai jawabannya. "Lalu, apa yang dimaksud dengan memaksa? Apa Ayahnya Naya tertarik sama Umi? Tapi Uminya nggak mau?"

"Son, pikiranmu kok ke sana-sana, sih??" Umi Mae menepuk dahinya. "Ini nggak ada hubungannya dengan Umi. Ayahnya Naya masih memiliki istri."

"Oooh ... ya aku pikir dia tertarik sama Umi dan ingin Umi menjadi istri keduanya," tebak Soni.

"Justru, dia meminta Umi untuk setuju ... supaya Naya dijadikan istri keduanya si Yunus," balas Umi Mae dengan nada rendah. Ia memberitahu Soni dengan hati yang berat. Meskipun Soni adalah keluarganya, Umi Mae tahu bahwa berita ini akan mengejutkannya.

"Apa?!" Soni memekik dengan mata yang membelalakkan. Tampak jelas dia terkejut mendengarnya. Suaranya penuh dengan kebingungan dan kekhawatiran. "Kok bisa gitu, memangnya si Naya udah nggak laku apa gimana?"

Umi Mae menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab. "Karena dia depresi, setelah tahu Yunus menikah, Son. Pak Cakra berpikir ... mungkin dengan menikahkan Naya, depresinya bisa sembuh."

Soni menggelengkan kepala dengan ekspresi tidak setuju. "Gampang banget dia minta. Bukannya dia yang dulu nggak merestui hubungan si Yunus sama Naya, ya?"

"Iya," Umi Mae mengangguk pelan, memahami kekhawatiran Soni.

"Jangan mau, Umi," sahut Soni dengan tegas. "Umi juga harus menasehati Yunus ... supaya jangan sampai mau. Kasihan si Yumnanya. Nanti yang ada kalau Yunus menikahi Naya ... Naya yang sembuh tapi sebaliknya Yumna yang depresi. Kan bisa repot."

"Iya, Umi juga nggak mau kok, Son," sahut Umi Mae dengan suara lembut. "Umi juga akan menasehati Yunus kalau dia pulang nanti."

"Sekarang saja, Umi. Ayok kita ke masjid. Biar aku yang antar," ajak Soni dengan semangat. Ia sudah berdiri dari duduknya, siap untuk mengambil tindakan.

"Yunus nggak ada di masjid, Son. Dia sedang bersama Yumna, mereka main ke rumah Pak Yohan. Menginap dari semalam."

***

Sementara itu di rumah Papi Yohan.

Pria itu tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama istrinya sambil menonton televisi, tapi sedari tadi—dia terus melirik arloji mahalnya entah apa alasannya.

"Papi ngapain lihatin jam mulu? Bukannya berangkat kerja," sindir Mami Soora menatap heran suaminya. Pasalnya pria itu terlihat sudah rapih dengan mengenakan setelan jas berwarna coklat, tapi tak kunjung pergi ke kantor.

"Ini, Papi lagi mikirin si Boy sama Yumna, Mi."

"Kenapa dengan mereka?"

"Ini 'kan sudah mau jam 11. Tapi kenapa mereka belum keluar kamar?" Papi Yohan menatap istrinya dengan raut khawatir.

"Ya biarin aja, berarti mereka lagi giat buat cucu. Kan katanya Papi kepengen cepat punya cucu." Berbeda dengan Papi Yohan, Mami Soora justru tampak lebih santai.

"Giat sih giat, tapi 'kan perlu makan juga kali, Mi, biar bertenaga. Kecebongnya si Boy pasti kelaparan itu."

"Kalau laper mereka pasti keluar kok, Pi, Papi nggak perlu berlebihan lah. Biarkan saja."

Papi Yohan pun tiba-tiba berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan istrinya ke arah tangga.

"Papi mau ngapain?? Jangan gangguin mereka!!" teriak Mami Soora melarang.

"Papi takut mereka pingsan di dalam, Mi. Kan bisa bahaya!" sahut Papi Yohan yang tak memerdulikan, dia merasa cemas, jadi biar dia tahu keadaan anak dan menantunya itu.

Mami Soora sudah bangkit dari duduknya, hendak menyusul sang suami untuk menggagalkannya. Tapi tiba-tiba, ponselnya berdering di atas meja dan tertulis nama 'Besan' pada layar yang memanggil.

"Bu Mae?? Tumben telepon," gumamnya, lalu meraih benda tersebut.

...Vote dan hadiahnya jangan lupa kasih ya, Guys 🤗 biar semangat, biar yang baca juga nambah ❤️...

...Jangan pelit ngasih jejak dan dukungan 🙏...

Terpopuler

Comments

Evrida

Evrida

mungkin naya jodoh nya bang soni saja kak othor

2024-01-16

2

Titi lestari Tari

Titi lestari Tari

nyusul koment nan ah
pagi td bc thok 😀 boleh nggk 🤭
abang soni si naya tuh skrng gk laku krna setres bang klo masih waras nggk bakal bpknya nyari2 yunus buat nikahin anknya tau sendiri lah bang dulu kan nolak mentah2 sama yunus yg cuma marbot masjid, skrng aja ky orang gk waras nawar2 in anknya 🤣🤣🤣🤣
jngn boleh ya ummi kasihan yumna, sbgai sesama perempuan pasti nggk mau kan klo dimadu, klo madu murni si enak manis la ini madu mama muda 🤪🤪

2024-01-16

0

Anik Trisubekti

Anik Trisubekti

segitu khawatirnya papi sm mantu kesayangan

2024-01-16

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!