4. Bikin cucu buat Umi

"Aku berjanji, Mas. Eh, maksudnya aku akan membuktikan jika aku nggak akan membeli pil KB lagi apalagi sampai meminumnya. Kan katanya tadi Mas kepengen kita punya anak," tambah Yumna yang masih berusaha menyakini.

"Tapi kamu nggak keberatan, kan?"

"Enggaklah, Mas." Yumna menggeleng dan perlahan mendekat ke arah sang suami lalu meraih tangannya. "Tapi Mas harus janji sama aku, ya... jangan sampai Mas mendua. Jadikan aku istri Mas satu-satunya."

Meskipun Ustad Yunus sudah menolak untuk berpoligami atas permintaannya, tapi entah mengapa Yumna masih merasa takut. Karena bisa saja Ayah Cakra kembali menawarkannya lagi hingga pria itu luluh.

"Iya, Dek." Ustad Yunus mengangguk. Dan tampak jelas sebuah senyuman tipis itu terbit diwajah tampannya. "Terima kasih, ya? Ya sudah .... biar saya saja yang bakar pil KB ini." Ustad Yunus lantas mengambil benda itu dari tangan Yumna, kemudian melangkah keluar dari kamar.

"Sama-sama, Mas." Yumna pun buru-buru mengambil handuk dari dalam lemari, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

Seluruh tubuhnya itu langsung dia guyur dengan air, dan berlanjut untuk menyabuninya.

'Kalau Mas Boy ingin punya anak sekarang-sekarang ... berarti tandanya nanti malam kita akan unboxing dong, ya?'

Yumna membatin. Kedua pipinya pun langsung jadi merona, dan segera dia menggelengkan kepala.

"Ih mana ada unboxing, orang kita udah pernah melakukannya. Masa kedua kali dibilang unboxing? Aneh-aneh saja, deh!"

Bicara sendiri menjawab sendiri juga. Aneh sekali memang, bahkan sekarang Yumna pun sudah tertawa entah apa yang lucu.

*

*

*

"Mas ... Umi, aku duluan masuk ke kamar, ya?" pamit Yumna seraya berdiri.

Baru lima menit mereka makan malam seusai sholat Isya, tapi Yumna sudah lebih dulu menyelesaikan makanannya dan sekarang justru ingin langsung masuk ke dalam kamar.

"Habis makan jangan langsung tidur, Nak, nggak boleh," tegur Umi Mae menasehati.

Ustad Yunus hanya menatap istrinya sebentar sambil masih mengunyah nasi didalam mulut.

"Enggak kok, Umi, aku nggak mau langsung tidur," jawabnya yang terlihat malu-malu. Lalu menatap sebentar ke arah suaminya. "Mas juga jangan lama-lama makannya, aku tunggu Mas di dalam kamar, ya??" pintanya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.

"Uhuk! Uhuk!" Ustad Yunus yang melihatnya langsung tersendak, buru-buru dia pun menenggak segelas air yang baru saja Umi Mae tuangkan.

"Kenapa sih kamu, Nus, kok enggak pelan-pelan makannya?"

"Enggak kenapa-kenapa kok, Umi." Ustad Yunus menggeleng, lalu mengulas sisa air yang membekas dibibir atasnya.

"Nggak usah grogi gitu kali, Mas. Kan Mas yang pengen," goda Yumna sambil terkekeh.

Melihat suaminya tersendak tadi bukannya kasihan, dia justru merasa itu adalah hal yang lucu.

"Pengen apa sih, Nak?" tanya Umi Mae penasaran.

"Ini ... Mas Boy kepengen ngajakin aku bikin cucu buat Umi. Do'ain kita, ya, Umi?"

Mendengar itu, Umi Mae langsung membulatkan mata dengan binar kebahagiaan. Sedangkan Ustad Yunus sendiri sudah tepok jidat.

'Bisa-bisanya Yumna enteng banget ngomong ke Umi. Apa dia nggak malu, ya?' batinnya dalam hati. Dia juga membuang napasnya dengan kasar lalu kembali menenggak sisa air pada gelas.

"Benarkah, Nak? Syukurlah kalau gitu. Semoga lancar, ya ... Umi do'akan yang terbaik pokoknya."

"Iya, Umi, aamiin ... terima kasih. Kalau begitu aku duluan ke kamar, ya?"

"Ya udah."

"Dahhh, Mas!!" Yumna melambaikan tangannya ke arah sang suami, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.

"Manis banget si Yumna ya, Nak," puji Umi Mae sambil tersenyum kepada sang anak. Entah yang dia maksud manis itu orangnya atau sikapnya, tapi sepertinya dua-duanya. "Kayaknya sih dia udah beneran jatuh cinta deh sama kamu."

"Umi jangan langsung percaya. Nanti yang ada sakit hati."

Ustad Yunus sendiri terlihat biasa saja, karena bisa saja apa yang Yumna lakukan hanya dibuat-buat atas permintaan Papinya.

Dia juga tentu ingat, saat siang tadi kedua mertuanya pamit pulang—mereka sempat mengharapkan Yumna untuk segera hamil.

"Berharap sedikit 'kan enggak apa-apa, Nak. Lagian Umi perhatikan ... selama kamu sakit, Yumna sudah banyak berubah. Dia juga lebih perhatian sama kamu. Kamu pasti sadar itu, kan?"

"Iya, aku sadar." Ustad Yunus tak mengelakkan hal itu. Yumna memang sangat perhatian padanya, sampai sempat ingin menyuapinya makan meskipun ditolak. "Tapi Umi juga harus sadar kalau di rumah sakit ada Papi sama Maminya Yumna. Bisa saja mereka yang meminta Dek Yumna untuk melakukan hal itu."

"Tapi 'kan kalau sekarang mereka nggak ada, Nak. Jadi otomatis Yumna bersikap seperti itu karena memang keinginannya sendiri."

Meskipun sudah pernah dikecewakan, tapi nyatanya sikap Umi Mae masih sama seperti dulu terhadap Yumna. Terlihat jelas jika dia menyayangi menantu perempuan semata wayangnya itu.

"Bisa saja Papi atau Mami sempat telepon Dek Yumna, Mi, tanpa sepengetahuan kita. Kita 'kan enggak tau."

"Kamu nggak boleh berpikir seperti itu, Nak. Dan sejak kapan juga kamu ini su'uzon sama orang? Kan nggak boleh." Nasihat Umi Mae.

"Maaf ...." Dia akui, benar memang apa yang dikatakan Umi. "Bukan maksud mau su'uzon Umi ... cuma memang aku belum percaya sama Dek Yumna."

"Enggak apa, Nak." Perlahan lengan Umi Mae terulur, lalu menyentuh punggung tangan Ustad Yunus. "Umi maklum kok. Seiring berjalannya waktu kamu pasti bisa percaya padanya."

*

*

"Ohya, Papi sama Mami 'kan waktu itu sempat membelikan aku baju seksi. Apakah bajunya dibawa kesini dan ada dilemari?"

Seusai gosok gigi, Yumna melangkah menuju lemari kayu. Kemudian membuka salah satunya yang berisikan semua baju miliknya.

Dia memilah-milah baju yang dicari, dan akhirnya ketemu juga.

Ada tiga lingerie yang berhasil dia temukan. Dengan tiga model berbeda dan tiga warna. Tapi dari ketiganya itu sama-sama tipis dan berlubang pada area tertentu.

"Aku pakai yang warna hitam aja kali, ya?? Laki-laki 'kan suka warna gelap biasanya dan pastinya Mas Boy suka dengan warna baju ini."

Setelah dirasa sudah mantap dengan pilihannya, Yumna pun langsung mengganti pakaian. Kemudian menatap tubuhnya sendiri dari pantulan cermin.

Seketika wajahnya pun merona. Entah mengapa dia jadi grogi sekarang, ditambah jantungnya ikut berdetak lebih cepat.

"Seksi banget, ya, ternyata. Semoga Mas Boy suka deh." Buru-buru Yumna naik ke atas kasur, lalu duduk selonjoran seraya menyelimuti seluruh tubuhnya sampai leher.

Yumna sengaja, memilih untuk menyembunyikannya dulu. Biar nanti saat akan memulai, Ustad Yunus terkejut dan pasti keinginannya jadi makin menggebu.

"Mana, ya, Mas Boy? Kok lama banget, kenapa dia nggak masuk-masuk ke kamar?"

Sudah setengah jam menunggu sambil memerhatikan pintu, tapi rupanya belum ada tanda-tanda suaminya masuk ke dalam kamar.

...Kasih rating dulu, yuk, bintang ⭐⭐⭐⭐⭐dan ulasan tentang novel ini 🙏 semoga dengan banyak yang ngasih rating bagus, novel ini akan masuk rekomendasi dan akan banyak juga pembaca lain yang mampir🙂...

...Dimohon kerjasamanya, ya, biar sama-sama enak. Terima kasih ❤️...

Terpopuler

Comments

EVA OKTASARI

EVA OKTASARI

mas boy ini malu2 tp mau/Facepalm/

2024-01-05

2

Anik Trisubekti

Anik Trisubekti

Semoga berhasil ya Yum,semangattt🥰🥰🥰

2024-01-05

2

Mira Naswati

Mira Naswati

walah.. tambahin rem lah Yum ya ampun sangat plasplos syekali 🫣🫣

2024-01-05

3

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!