9. Dibagi untuk perempuan lain

'Ya ampun ... segala mules, mana kayak mau keluar lagi.'

Ustad Yunus segera menyadari bahwa dia tidak bisa bertahan lebih lama di situasi ini. Dia buru-buru menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi, berencana akan kembali ke masjid.

Saat mereka tiba di masjid, Ustad Yunus langsung berlari keluar dari mobil meninggalkan Yumna tanpa sepatah kata pun. Karena selain memang susah bicara, dia juga merasakan seolah-olah ujung pisang gorengnya sudah keluar didalam celana.

"Ada apa dengan Mas Boy? Dia aneh sekali," gumam Yumna dengan alis yang bertemu.

Dia memperhatikan suaminya yang tersandung-sandung dengan kakinya sendiri, menuju tempat wudhu dan toilet yang berada di samping masjid.

"Oh ya, tadi Mas Boy juga bawa bunga." Yumna teringat akan buket bunga yang ditinggalkan di kursi mobil. Dia merasa curiga karena sebelumnya Ustad Yunus tidak memberikan kepadanya.

"Apa bunga ini bukan untukku, ya? Mangkanya nggak Mas Boy kasih?" pikir Yumna dengan rasa cemburu yang mulai muncul. Dia mengambil buket bunga itu dan mulai merabanya, mencari tanda-tanda bahwa bunga itu mungkin ditujukan untuk orang lain.

Rasa panas dan kekhawatiran semakin membara di dalam hati Yumna. Dia hampir meremas buket bunga tersebut, ingin merusaknya. Namun, tiba-tiba sebuah kartu ucapan berbentuk hati jatuh di pangkuannya. Yumna memutuskan untuk membuka kartu tersebut.

"Bunga yang cantik untuk perempuan yang cantik," tertulis di dalam kartu itu. Namun, kalimat tersebut terasa ambigu dan tidak menjelaskan siapa yang ditujukan.

Yumna segera turun dari mobil dan menyusul Ustad Yunus sambil membawa buket bunga. Saat tiba di toilet, Yumna melihat Ustad Yunus keluar dari sana dengan mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya. Tapi masih memakai kemeja.

Dia juga melihat celana yang basah seperti baru saja dicuci di dalam ember kecil yang dibawa Ustad Yunus.

"Mas, habis ngapain? Kok nyuci celana segala?" tanya Yumna penasaran.

"Tadi saya kebelet berak, Dek," jawab Ustad Yunus. Dan detik berikutnya, dia terkejut karena dia bisa berbicara dengan lancar tanpa tersendat seperti sebelumnya.

'Apa aku gagap karena mau berak, ya? Entahlah,' Ustad Yunus berpikir dalam hati. Dia pun berjalan menuju tempat jemuran untuk menjemur celana dalaam dan celana jeansnya.

Yumna yang mengikutinya sampai masuk ke dalam kamar pribadi Ustad Yunus disudut ruangan masjid, terlihat kaget dengan apa yang dia lihat.

"Astaghfirullah, Dek! Kenapa kamu ikut masuk ke dalam?" Ustad Yunus terkejut dan menepuk-nepuk dadanya yang berdebar.

"Memangnya kenapa? Enggak boleh, ya?" tanya Yumna dengan nada judes. Dia melihat sekeliling ruangan yang terlihat seperti setengah dari kamar mereka di rumah, dilengkapi dengan kasur, lemari, meja, kursi, dispenser, galon, dan AC yang terpasang.

"Bukan nggak boleh, Dek, saya cuma kaget." Ustad Yunus menjawab sambil membuka lemari plastik untuk mengambil sarung dan celana dalamnya.

"Ngomong-ngomong ini tempat apa, Mas?" tanya Yumna dengan rasa penasaran.

"Ini adalah kamar saya, Dek," jawab Ustad Yunus dengan lembut. "Tempat ini adalah tempat untuk istirahat. Sebelum menikah dulu, saya sering tidur di masjid saat malam hari."

Yumna perlahan-lahan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur kecil yang ada di sana. Meskipun kasurnya hanya cukup untuk satu orang, tapi terasa cukup empuk. Ia merasakan kenyamanan yang langka di tempat ini.

"Lho, Dek, kenapa kamu malah tidur-tiduran di sana? Ayok kita keluar, Dek," ajak Ustad Yunus sambil buru-buru mengenakan sarung dan celana dalamnya.

Ustad Yunus perlahan meraih tangan Yumna, berencana untuk mengajaknya bangkit dari kasur.

Namun, Yumna tiba-tiba berbalik dan menarik tubuhnya dengan kuat, membuat Ustad Yunus terjatuh ke atas tubuhnya.

Mereka berdua terdorong dalam keadaan yang tak terduga, menciptakan momen yang penuh keintiman. Ustad Yunus dan Yumna saling menatap dalam diam, terpaku oleh kejadian yang baru saja terjadi.

Dalam keheningan itu, Ustad Yunus merasakan detak jantungnya yang semakin cepat. Matanya terpaku pada wajah Yumna yang begitu dekat dengan wajahnya. Ada kehangatan yang terpancar dari tatapan mereka, seakan mengungkapkan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Tanpa sadar, tangan Ustad Yunus mulai merangkul tubuh Yumna yang berada di bawahnya. Sentuhan lembut itu membuat Yumna merasa aman dan dilindungi. Mereka berdua terjebak dalam momen yang membuat mereka lupa akan segala sesuatu di sekitar mereka.

Namun, kesadaran akan situasi membuat Ustad Yunus tersadar. Ia segera bangkit dari tubuh Yumna dan menarik napas dalam-dalam. Wajahnya memerah.

"As-taghfirullah, ma-maafin sa-saya, Dek," ucap Ustad Yunus dengan suara tergagap.

Yumna memandang Ustad Yunus dengan tatapan kebingungan yang dalam. Hatinya terasa sakit mendengarnya meminta maaf. Rasanya seolah-olah suaminya tidak ingin berdekatan dengannya, mungkin karena masih terbayang Naya di pikirannya.

Yumna mencoba menenangkan dirinya dan mengatakan, "Ngapain minta maaf. Kita 'kan suami istri, Mas. Kamu kok segitunya banget, sih, sama aku. Mentang-mentang ada Naya dipikiran—"

Namun, sebelum Yumna bisa melanjutkan ucapannya, Ustad Yunus dengan cepat menempelkan telunjuknya di bibir Yumna, memberi isyarat agar dia diam. "Sssttt ...," bisik Ustad Yunus. "Saya bicara seperti itu karena kita berada di kamar masjid, Dek. Rasanya nggak sopan jika kita berduaan disini meskipun kita sudah suami istri."

Yang sebenernya adalah dia takut khilaf di tempat itu, apalagi mereka juga sempat ada rencana memadu kasih meskipun itu tertunda.

Yumna merasa tidak puas dengan penjelasan itu. Dia tidak ingin pergi sebelum semuanya terungkap. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya, dan dia ingin tahu.

"Tentang bunga ini ...." Yumna menunjuk ke buket bunga yang tergeletak di lantai. Ustad Yunus segera mengambilnya dan memberikannya pada Yumna. "Untuk siapa ini? Apakah untuk Naya?" Yumna bertanya dengan tatapan curiga.

Ustad Yunus terlihat bingung dengan pertanyaan Yumna. "Ini untukmu, Dek. Saya membelinya karena ingin memberikannya padamu."

Yumna tidak langsung mengambil bunga tersebut. Dia masih merasa ada yang disembunyikan oleh Ustad Yunus. "Pasti Mas membeli dua buket, kan? Satu untukku dan satu untuk Naya?" tuduh Yumna mengungkapkan kecurigaannya.

Ustad Yunus berusaha meyakinkan Yumna. "Enggak, Dek. Saya hanya membeli satu buket untukmu. Nggak ada yang lain."

Yumna menolak untuk percaya begitu saja. Dia memalingkan wajahnya sambil melipat tangan diatas dada. "Aku nggak percaya!" ucapnya tegas. "Pasti Mas membeli dua buket, dan satu untuk Naya."

Ustad Yunus merasa putus asa. Dia duduk di samping Yumna dan meraih tangannya dengan lembut. "Kamu harus percaya sama saya, Dek. Bunga itu memang satu-satunya yang saya beli hanya untukku, anggap saja untuk permintaan maaf saya semalam karena kita gagal bercinta."

"Aku nggak butuh bunga, Mas!" tolak Yumna dengan tegas.

"Kenapa?" Kening Ustad Yunus mengerenyit sambil memandangi buket bunga yang masih berada di tangannya. "Bukankah bunga ini sangat cantik, seperti kamu, Dek?"

Mendengar itu, kedua pipi Yumna langsung memerah. Entah mengapa dia merasa meleleh.

Namun, dia tidak boleh menjadi lemah hanya karena dipuji seperti itu. Mungkin ini bukan sekadar pujian, tapi rayuan, mengingat Ustad Yunus memiliki kesalahan terhadapnya.

"Apa gunanya memberi aku bunga, kalau cinta Mas Boy saja masih dibagi untuk perempuan lain?"

Perkataan Yumna terdengar menusuk hati Ustad Yunus, membuatnya membeku di tempat.

Dia tidak berani menyangkal, karena memang itu benar adanya.

"Pokoknya, kalau sampai Mas Boy berani berkhianat dengan cara menikahi Naya ... aku akan membunuh Naya detik itu juga!" tambahnya dengan nada tegas dan penuh ancaman. Bahkan Ustad Yunus belum sempat mengajukan permintaan poligami, tetapi Yumna sudah menolaknya mentah-mentah.

...Sadis amat, Yum, ngancemnya 🤣🤣...

Terpopuler

Comments

Eva Karmita

Eva Karmita

lanjuuuutt 💪🥰

2024-01-10

2

Tria Hartanto

Tria Hartanto

habat yumna ,kamu harus tegas

2024-01-09

2

Ulfah Putri234

Ulfah Putri234

bagus yum,,jangan biar kan si Yunus nikah LG,,klo dia nikah sembunyi2 gugat cerai aja dia toh kamu cantik kaya,,pasti masih banyak orang soleh yg mau sama kamu,,oiya kabar Abang nya si yunus apak kbr bang Evan...

2024-01-09

3

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!