Mami Soora, dengan senyum lembut di wajahnya, menunjuk ke arah anak dan menantunya, "Eh... itu si Boy sama Yumna," ujarnya. Dibalik mereka, tampak Papi Yohan. "Akhirnya keluar kamar juga kalian," tambahnya, senyumnya semakin lebar.
Ustad Yunus dan Yumna segera mendekati Umi Mae dan Soni. Mereka bergantian mencium punggung tangan keduanya sebagai tanda hormat.
"Umi, Bang Soni, kok ke sini? Ada apa? Dan darimana kalian tau alamat rumah Papi Yohan?" tanya Ustad Yunus dengan ekspresi heran.
Mami Soora menjawab pertanyaan Ustad Yunus, "Tadi Umimu telepon Mami, Boy. Nanyain alamat," sahutnya sambil tersenyum.
Umi Mae memang benar-benar menelepon Mami Soora untuk menanyakan alamat rumah Papi Yohan. Bahkan, saat itu, dia sedang membonceng Soni dengan motor.
Awalnya, Umi Mae tidak berencana untuk bertamu, tapi karena Soni terus mendorongnya, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti saran tersebut.
Dengan suara lembut, Umi Mae berkata, "Maafin Umi kalau udah gangguin acara main kamu di rumah mertua. Tapi ada sesuatu yang ingin Umi tanyakan padamu, Nak."
Yumna, penasaran dengan apa yang ingin ditanyakan Umi Mae, segera bertanya, "Tentang apa, Umi?" Dia langsung duduk di sebelah mertuanya, menunggu dengan penuh antusiasme.
"Tentang ...."
Krukuk-krukuk...
Ucapan Umi Mae terhenti tiba-tiba, saat suara cacing yang berasal dari perut Yumna terdengar oleh semua orang di ruangan itu.
"Aduh maaf ...." Yumna langsung meremas perutnya dengan wajah memerah karena malu.
"Sepertinya kamu sangat lapar, Dek," komentar Ustad Yunus sambil menarik lembut lengan istrinya untuk berdiri. "Mungkin kita harus makan dulu, ya?"
Papi Yohan menyetujui saran Ustad Yunus, "Boy benar, mending kita sekarang makan bersama-sama," lalu dia menoleh ke Umi Mae dan Soni. "Lagian udah siang juga. Ayok Bu Mae dan Samson ikut makan juga."
Soni mengerutkan keningnya, lalu menyentuh dadanya. "Samson siapa, Pak? Namaku Soni."
"Oh iya, maksudku Soni. Ayok kita semua ke ruang makan. Bibi sudah masak-masakan Padang. Kalian pasti suka, kan?"
"Ada rendangnya nggak, Pak?" tanya Soni seraya berdiri. Dia memang belum makan siang dan kebetulan lapar, jadi tidak mungkin dia menolak.
"Ada dong, Son."
"Duuhhh ... jadi nggak enak aku, Pak," ucap Umi Mae yang berdiri berbarengan dengan Mami Soora. Dia merasa tidak enak. "Niatku sama Soni 'kan ada perlu sama Yunus, kok jadi kita numpang makan?"
"Bu Mae jangan ngomong begitu," kata Mami Soora seraya merangkul bahu besannya. "Kita ini 'kan udah jadi keluarga, jadi nggak masalah makan bareng. Nggak ada istilah numpang makan."
"Mami benar, Umi," sahut Yumna menimpali. Senyumnya mengembang saat mertuanya itu menatap ke arahnya. "Aku juga 'kan sering dimasakin Umi di rumah, jadi sekarang gantian Umi makan di sini, ya meskipun bukan aku yang masakin."
Umi Mae mengangguk dengan senyuman hangat. "Iya, Nak. Nggak apa-apa. Terima kasih."
"Sama-sama, Umi."
Mereka dengan anggun beralih ke ruang makan, menempati kursi mereka masing-masing.
Saat mereka berkumpul di sekitar meja, suasana yang tenang menyelimuti mereka. Namun, jelas terlihat bahwa Soni adalah yang paling bersemangat, kegembiraannya terpancar saat dia dengan antusias mengambil gigitan lagi, padahal mulutnya masih penuh.
"Makanlah dengan pelan, Son," Umi Mae dengan lembut mengingatkan. Khawatir dia mungkin tersedak, dia memperhatikan Soni yang makan dengan terburu-buru.
"Iya, Umi," Soni mengangguk, bibirnya melengkung menjadi senyuman yang penuh rasa terima kasih. "Maafkan aku, ini begitu enak, dan aku jarang sekali bisa makan rendang, Umi."
"Masih banyak di dapur. Kamu bisa membawa pulang untuk istri kamu nanti, Son," Papi Yohan menyarankan, senyumannya hangat dan ramah.
"Nggak usah, Pak," Umi Mae cepat menolak, rasa bersalah melandanya. "Kami tadi datang nggak sempat bawa apa-apa karena terburu-buru. Jadi maafkan aku, ya, Pak ... Bu Soora.
"Nggak apa-apa, Bu. Santai saja," balas Papi Yohan, kerendahan hatinya terpancar melalui kata-katanya.
*
Setelah makan, mereka kembali ke ruang tamu dan duduk bersama di sofa.
Baru saja mendaratkan bokongnya, Ustad Yunus tiba-tiba merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang. Tanpa alasan yang jelas, perasaan khawatir menghampirinya.
'Kenapa aku merasa gugup seperti ini? Dan kenapa aku merasa cemas tentang sesuatu? Apa yang sedang terjadi?' pikir Ustad Yunus dalam hatinya. Dia berulang kali mengatur napasnya, mencoba untuk tetap tenang.
"Nak ...." Umi Mae menatap Ustad Yunus dengan penuh harap. "Maaf sebelumnya, bukan maksud Umi ingin mencampuri urusan pribadimu. Tapi bolehkah Umi tau, alasan Pak Cakra datang menemuimu waktu itu?
Sebelum dirinya menasehati sang anak, sepertinya ada baiknya Umi Mae bertanya lebih dulu tentang itu. Karena dia sendiri ingin tahu apakah Ustad Yunus berani berkata jujur atau tidak.
Ustad Yunus terkejut mendengar pertanyaan tersebut, tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa Umi Mae akan menanyakan tentang Pak Cakra.
"Pak Cakra?!" Papi Yohan dan Mami Soora bingung, mereka tidak familiar dengan nama itu. "Siapa Pak Cakra, Bu?" tanya Papi Yohan penasaran.
"Dia adalah Ayah Naya, Pak."
"Naya?!" Sepasang suami istri itu kembali berucap bersama, dan kali ini dengan keterkejutan. Mereka jadi penasaran dengan jawaban Ustad Yunus. Mata mereka langsung tertuju pada pria itu.
"Dek ... apa kamu bicara sesuatu sama Umi?" Ustad Yunus tidak langsung menjawab pertanyaan Uminya, dia malah mengajukan pertanyaan kepada Yumna.
"Bicara apa, Mas?" Yumna berbalik tanya, karena tak tahu apa-apa di sini.
"Jawab Umi dulu, Nak," pinta Umi Mae. "Dan kamu nggak perlu bertanya kepada Yumna, karena dia nggak tahu apa-apa."
"Dek Yumna ada bersamaku, saat aku dan Pak Cakra mengobrol, Umi."
"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Papi Yohan yang semakin penasaran. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan, terutama melihat gelisahnya Ustad Yunus. "Tolong beri tau kami, Boy... Yum," tambahnya dengan harapan.
"Umi ... harusnya Umi bertanya saat aku pulang saja, jangan di sini." Ustad Yunus tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
Sejujurnya, ia tidak ingin kedua mertuanya mengetahui. Menurutnya, masalah itu sudah dia selesaikan dengan Yumna. Jadi tidak perlu dibahas lagi.
"Kenapa, Boy??" tanya Papi Yohan yang makin menjadi-jadi rasa penasaran di hatinya. "Apa kamu nggak mau Papi dan Mami tau??"
"Kok kalian sekarang main rahasia-rahasia, sih?" Mami Soora ikut merasa kesal, lalu menatap Yumna. "Ada apa, Yum? Ceritakan."
"Itu ...." Yumna ingin menjawab, tapi ragu. Dia akhirnya menatap suaminya dengan tatapan penuh harap.
"Yunus, cepat katakan!" desak Umi Mae yang sudah tidak sabar. Baginya, hal seperti ini tidak perlu ditutup-tutupi jika dia tidak memihak pada Ayah Cakra. "Kalau kamu tetap diam, itu berarti kamu setuju dengan permintaan Pak Cakra, Nak!"
Yumna terkejut, lalu menatap suaminya dengan tajam. "Jadi Mas Boy masih bersikeras untuk menikahi Naya?? Kenapa Mas Boy begitu jahat padaku!!" serunya berteriak.
"Apa?! Menikahi Naya??" Mami Soora dan Papi Yohan terkejut mendengar kabar baru tersebut.
Tanpa ragu, Papi Yohan menarik kerah kemeja menantunya dan membuat Ustad Yunus terperanjat dari duduknya.
"Boy... Kenapa kamu begitu tega kepada Yumna, kepada Papi dan Mami juga? Apa salah kami selama ini padamu, Boy, sampai kamu seenaknya ingin menikahi Naya??" Bola mata Papi Yohan sudah berkaca-kaca. Dia menahan amarah dalam hatinya, merasa sangat terluka.
"Keterlaluan kamu, Boy!! Padahal kami menyayangimu seperti anak sendiri!! Tapi dengan kejamnya kamu menduakan Yumna!!" tambah Mami Soora berteriak dengan penuh kemarahan. Dia juga sudah berdiri dan mengepalkan kedua tangannya.
...yaahhh... digencet sana sini 🤣🤣🤣...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Tria Hartanto
lagi seru seruny di gantung thor
2024-01-19
2
Eva Karmita
lanjut thoooorr maaf baru bisa baca lagi karena di sibukkan dengan acara pernikahan adek sepupuku 🙏🥰 vote meluncur ❤️
2024-01-19
1
Kinara Widya
sabar semuanya...ustad gak bakalan poligami...ustad sdh cinta SM Yumna iya kan kak Rossy...
2024-01-19
3