15. Naya jauh lebih istimewa

Setelah perjalanan selama 30 menit, Ayah Cakra akhirnya tiba di masjid tempat Ustad Yunus bekerja. Dia turun dari mobilnya dan memasuki gerbang masjid.

"Pak, maaf, assalamualaikum... Apa Yunus ada di dalam?" tanya Ayah Cakra kepada seorang pria yang baru saja keluar dari masjid dan memakai sendal, mengenakan pakaian lengkap untuk sholat.

"Walaikum salam. Nggak ada, Pak," jawabnya dengan gelengan kepala.

"Si Yunus kalau ke masjid kira-kira jam berapa ya, Pak?"

"Setau saya sih sebelum Subuh, Pak, atau habis sarapan. Mungkin ... setengah tujuhan."

Ayah Cakra langsung melihat pada arloji mahalnya, disana menunjukkan pukul setengah enam. Berarti mungkin sejam lagi pria itu akan datang.

"Oh oke, terima kasih ya, Pak."

"Sama-sama." Pria itu mengangguk kecil, kemudian melanjutkan, "Maaf sebelumnya, bukan maksud nggak sopan. Tapi sebaiknya ... Bapak sebut Ustad Yunus dengan panggilan Ustad didepannya, karena beliau cukup disegani disini. Jadi biar terdengar sopan, Pak."

"Yunus itu calon menantuku, jadi menurutku nggak ada masalah jika aku hanya menyebutnya dengan panggilan nama." Ayah Cakra tampaknya tidak setuju dengan saran dari pria tersebut.

"Calon mertua?!" Pria di depannya itu terlihat mengerutkan dahi. "Memangnya Ustad Yunus mau menikah lagi, ya?? Soalnya setau saya ... mertuanya adalah Pak Yohanes."

"Iya, si Yunus memang berencana nambah istri alias poligami," jawab Ayah Cakra dengan santai.

"Iya, si Yunus memang berencana menambah istri alias poligami," jawab Ayah Cakra dengan santai.

Dia tampaknya sengaja mengungkapkan hal tersebut agar orang-orang yang mengenal Ustad Yunus mengetahuinya.

Dengan begitu, Yumna pasti ikut terseret menjadi perbincangan. Mungkin dengan demikian, perempuan itu akan menyerah menjadi istri dari Ustad Yunus.

"Waaahhh ... ini gosip baru nih. Kenapa saya baru tahu sekarang, ya?" Pria itu terkejut namun juga sedikit heran kepada Ustad Yunus yang terkenal sebagai orang yang alim. "Ternyata pria yang terkenal alim juga bisa melakukan poligami, ya? Saya kira nggak mungkin. Tapi bagaimana bisa, Bapak mau anaknya menjadi istri kedua?"

"Ya bisa, itu semua karena Yunus dan anakku saling mencintai sejak dulu. Yunus sebetulnya ingin menceraikan istrinya, yang namanya siapa itu ...?" Ayah Cakra terdiam sesaat untuk mengingat. "Yumna, ya?"

Pria di depannya mengangguk mengkonfirmasi.

"Iya, tapi si Yumnanya nggak mau. Jadi ya sudah, mending dimadu saja sekalian," tambah Ayah Cakra sambil tersenyum miring.

"Tapi kasihan nggak, sih, Pak, sama si Yumnanya? Dia terlihat seperti istri yang baik, masa dimadu? Lagipula ... pernikahannya dengan Ustad Yunus masih seumur jagung."

"Ngapain kasihan sama Yumna." Ayah Cakra terlihat tidak suka melihat ekspresi pria itu yang mendadak sendu, yang menunjukkan rasa simpatinya terhadap Yumna. Karena yang dia inginkan di sini, semua orang harus mengasihani Naya, terutama Ustad Yunus. "Itu 'kan sudah garis takdirnya. Harusnya, yang dipertanyakan itu kenapa Yunus mau berpoligami."

"Karena nggak puas pasti, ya, Pak?" tebak pria itu yang tampak yakin. "Berarti Ustad Yunus termasuk orang yang serakah dong."

"Bukan, bukan seperti itu!" bantah Ayah Cakra dengan gelengan kepala. "Ini semua bukan salah dari Yunusnya yang serakah, tapi salah istrinya yang nggak bisa jadi istri yang baik. Jadi siapa pun suaminya ... pasti nggak akan betah. Ditambah Ustad Yunus menikah dengannya juga karena terpaksa, nggak ada rasa cinta."

"Nggak ada rasa cinta??" Pria itu sontak membelalakkan matanya. Tapi sejurus kemudian dia menggeleng karena merasa ragu. "Masa sih, Pak? Bapak kata siapa? Apa Ustad Yunusnya yang ngomong sendiri?" tanyanya penasaran dan masih mengulik informasi.

"Bukan kata siapa, tapi memang aku tau. Buktinya kemarin-kemarin saja Yunus mengantar anakku ke rumah sakit."

"Oohh begituuu ...." Pria itu terlihat manggut-manggut memahami. "Ya sudah, kalau begitu saya permisi mau pulang, Pak. Assalamualaikum."

"Walaikum salam," jawab Ayah Cakra, lalu bersedekap dada sambil menatap arlojinya.

*

Sudah satu jam lebih setelah kepergian pria itu. Namun, nyatanya belum ada tanda-tanda Ustad Yunus datang ke masjid.

Kalau saja Ayah Cakra memiliki nomor ponselnya, dia pasti akan langsung menghubungi. Tetapi, sayangnya dia tidak punya. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk langsung ke rumah Ustad Yunus.

Di sana, dia melihat Umi Mae, yang tengah membuka warung kecilnya di samping rumah.

Ayah Cakra segera turun dari mobil dan bergegas mendekatinya, sambil memerhatikan pintu rumah yang terbuka sedikit. Dia berharap bisa melihat Ustad Yunus.

"Assalamualaikum, Bu," sapa Ayah Cakra, membuat Umi Mae menoleh dan tersenyum padanya, meskipun tampak sedikit terkejut dengan kedatangannya.

"Walaikum salam," balas Umi Mae.

"Apa Yunus ada di rumah, Bu? Boleh tolong panggilkan? Aku ingin bertemu dengannya," pinta Ayah Cakra dengan harapan.

"Yunus kebetulan ada di rumah mertuanya, Pak."

"Rumah mertuanya?" Kening Ayah Cakra tampak mengerenyit. "Memangnya mau ngapain dia ke sana, Bu?"

Pertanyaan Ayah Cakra terdengar tidak sopan sekali. Tentulah dia harusnya tidak perlu ingin tahu tentang alasan Ustad Yunus berada di sana. Karena itu juga bukan ranahnya.

"Menginap, Pak," jawab Umi Mae.

"Sama istrinya juga?"

"Iya." Umi Mae mengangguk.

Tanpa dipersilahkan, Ayah Cakra sudah lebih dulu duduk dikursi plastik yang berada diteras rumah, lantas dia berkata, "Boleh aku minta nomornya Yunus nggak, Bu? Biar aku bisa menghubunginya."

Umi Mae mendekati Ayah Cakra dengan hati-hati, menunjukkan rasa penasaran yang jelas terpancar dari wajahnya. "Kalau boleh tahu, apa tujuan Bapak ingin bertemu dengan Yunus, ya, Pak?" tanya Umi Mae dengan penuh keingintahuan.

Sebenarnya, rasa penasaran Umi Mae ini muncul sejak pertama kali pria itu datang dan mengatakan ingin bertemu anaknya.

Namun, dia merasa tidak ada kesempatan untuk bertanya langsung kepada Ustad Yunus. Selain itu, hubungan antara anaknya dan Yumna terlihat tidak baik, sehingga Umi Mae merasa sungkan untuk mengajukan pertanyaan tersebut.

"Ini tentang kondisi Naya, Bu," jawab Ayah Cakra dengan memasang wajah sedih. "Kalau Ibu ingin mendengar ceritanya ... aku dengan senang hati akan menceritakannya."

"Kenapa dengan Naya, Pak?" Umi Mae dengan cepat menanggapi Ayah Cakra, lalu ikut duduk di kursi kosong di sampingnya. Wajahnya terpancar kekhawatiran dan rasa penasaran yang semakin membara.

"Aku minta buatkan kopi dulu bisa nggak, Bu? Soalnya dari pagi aku belum ngopi," pinta Ayah Cakra dengan perasaan lapar dan haus yang melanda. Dia langsung menyentuh lehernya, lalu perlahan berpindah ke perut. Dia merasa bahwa dengan secangkir kopi dan sarapan yang enak, cerita yang akan dia sampaikan nanti akan menjadi lebih bagus. "Kalau bisa, sekalian sama sarapannya juga. Aku lapar, Bu, jadi biar enak nanti ceritanya."

"Ooohhh begitu." Umi Mae langsung berdiri dari duduknya. Terlihat sigap merespon keinginan pria itu. "Tunggu sebentar ... aku akan kembali dengan secangkir kopi dan nasi goreng. Tadi aku kebetulan masak nasi goreng lumayan tersisa banyak, Pak."

"Kasih kerupuk sama dadar telur, ya, Bu!" seru Ayah Cakra yang terlihat tak tahu malu, sebelum akhirnya wanita berhijab panjang itu benar-benar masuk ke dalam rumah.

"Hhhhaaa ...." Ayah Cakra merasa senang dengan respons cepat Umi Mae. Dia menghela napas dengan lega sambil memijat dahinya yang terasa pening. Dia berharap bahwa nanti dia bisa mendapatkan hati Uminya Ustad Yunus. "Aku sangat yakin... Uminya si Yunus pasti mengenal Naya cukup baik, dan jika dibandingkan dengan Yumna ... jelas Naya jauh lebih istimewa."

...Pede dulu yang utama ya, Pak 🤣🤣...

Terpopuler

Comments

Ulfah Putri234

Ulfah Putri234

kasih racun tikus sekalin umi nasi goreng nya,,,songong bgt jdi orang

2024-01-14

2

Yesi Marsela

Yesi Marsela

ternyata selain engga punya malu si pak Cakra ini penyebar fitnah ternyata sangat meresahkan sekali orang seperti anda 😒

2024-01-14

1

capri

capri

ihhh ga maluuu ya, tamu tak di undang, minta kopi plus mkan... waduhh.

2024-01-14

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!