"Bener tuh, Yum, apa yang dikatakan Papi," sahut Mami Soora menimpali, lalu menatap putrinya dengan penuh kasih sayang. Terlihat jelas jika dia dan suaminya itu sependapat. "Nggak boleh juga kita berpikiran negatif kepada suami sendiri, yang ada itu menyiksa diri. Sebuah hubungan itu harus dibangun dari kepercayaan, karena dengan begitu hubungan kalian akan awet. Seperti Papi dan Mami contohnya."
"Tapi nyatanya, aku merasa sampai sekarang Mas Boy belum sepenuhnya percaya padaku, Mi." Yumna membalikkan pembahasan lain, tapi masih ditunjukkan kepada suaminya dengan kegelisahan yang terpancar dari matanya.
"Belum sepenuhnya percaya gimana, Yum?" Mami Soora tampak mengerutkan dahinya, heran.
"Ya tentang rumah tanggaku ini, tentang dia yang memberikanku kesempatan untuk memperbaiki hubungan."
"Yumna ...." Papi Yohan memegang tangan Yumna dengan lembut, memberikan dukungan dan kehangatan. Sebuah senyuman lembut terpancar di wajahnya yang tampan. "Seseorang yang pernah dikhianati memang butuh waktu untuk kembali mempercayai sepenuhnya. Sabar, Sayang ... semuanya butuh proses. Tapi kamu di sini nggak boleh menyerah, asalkan kamu memiliki tekad yang bulat. Boy adalah pria yang baik, dia memiliki hati yang bersih dan tulus tanpa adanya dendam. Papi yakin ... lama-lama dia akan luluh lagi kepadamu."
Seolah tak ada kata bosan bagi Papi Yohan, untuk terus memberikan nasihat dan dukungan kepada Yumna. Sebab menurutnya, Yumna terkadang masih labil dan perlu sekali dibimbing untuk bisa membedakan yang benar dan yang tidak.
Tapi keputusan Yumna untuk mempertahankan rumah tangganya, Papi Yohan akui itu adalah keputusan yang sangat tepat.
Yumna menghela napasnya dengan berat, sebelum akhirnya berbicara dengan mantap. "Apa aku boleh meminta bantuan kepada Papi dan Mami?"
"Bantuan apa?" Mami Soora langsung menanggapinya dengan cepat, sementara Papi Yohan mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Aku ingin kalian membantu merayu Mas Boy agar mau pergi berbulan madu denganku, Mi, Pi. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengannya, dan menjadi satu-satunya yang ada di pikiran dan hatinya."
Yumna berpikir, mungkin dengan menghabiskan waktu lebih lama berdua—itu akan memberikan ruang bagi pikiran tentang Naya untuk sedikit berkurang.
Meskipun pria itu sudah meyakinkannya untuk tidak berkhianat, tapi sebagai seorang istri, Yumna merasa penting untuk tetap waspada. Dan sejujurnya, dia juga masih merasa ragu.
"Memangnya selain kamu, ada perempuan lain di hati Boy, Yum?" tanya Papi Yohan dengan penuh kebijaksanaan, setelah memahami permintaan sang anak.
"Aku nggak tau, Pi." Yumna menggeleng lemah. Dia tidak berniat untuk memberitahu, karena dia masih mengingat larangan suaminya untuk tidak memberitahukan hal tersebut. "Itu hanya asumsi dari pikiranku, Pi. Tapi semoga aja nggak, ya? Karena aku hanya ingin menjadi satu-satunya orang yang ada di hatinya."
"Kalau begitu, biar nanti Papi yang akan mencoba membujuk Boy," kata Papi Yohan sambil mengangguk setuju.
Mami Soora menimpali dengan penuh kehangatan, "Mami juga akan membantumu."
Yumna tersenyum. "Terima kasih Mi, Pi. Kalau begitu aku ke kamar dulu buat mandi."
Dengan mantap, Yumna berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mandi. Senyumnya masih terpancar, namun di balik itu, ada kegelisahan yang mengusik hatinya.
Mami Soora merasa cemas dan membagikan kekhawatirannya dengan suaminya, "Kata-kata Yumna tadi terdengar aneh, Pi. Mami jadi takut."
Papi Yohan memandang istrinya dengan penuh kasih sayang, "Jangan terlalu memikirkan hal-hal negatif terlebih dahulu, Mi. Semoga semuanya baik-baik saja. Kita harus tetap berpikir positif."
*
*
Ceklek
Yumna membuka pintu kamarnya perlahan. Saat masuk, ia melihat suaminya sedang menyelesaikan telepon dengan seseorang.
"Tadi saya habis telepon Umi, Dek. Ngomong kalau kita mau menginap di rumah Papi dan Mami. Takutnya dia nungguin kita pulang," ujar Ustad Yunus, tanpa menunggu Yumna bertanya.
Melihat ekspresi wajah istrinya yang terlihat masam, Ustad Yunus merasa tidak enak dan khawatir. Dia berharap tidak ada lagi masalah yang membuat Yumna merasa sedih.
Yumna hanya memberikan jawaban singkat, "Ooohh...." Kemudian, tanpa berlama-lama, ia mengambil handuk dari dalam lemari dan bergegas masuk ke kamar mandi.
*
*
Setelah menyelesaikan sholat Isya secara berjamaah, mereka berempat duduk di meja makan untuk makan malam.
Papi Yohan tampak paling bahagia, senyumnya semakin lebar setelah sholat. Akhirnya, setelah sekian lama, dia bisa sholat bersama menantu kesayangannya dan tentunya diimami olehnya.
"Malam ini kita makan makanan Korea, ya, Boy. Ini adalah makanan favorit Yumna. Kamu pasti tahu, kan?" ujar Papi Yohan sambil menunjukkan beberapa deretan sushi yang tersaji rapih pada masing-masing piring mereka.
"Oh, ternyata Dek Yumna sangat menyukai sushi, ya, Pi? Saya baru tau," Ustad Yunus menatap Yumna sambil tersenyum. Namun, Yumna terlihat tidak senang saat melihat makanan tersebut.
"Kok makan sushi sih, Pi? Mas Boy mana mau makan makanan mentah. Ada daging babinya enggak? Kan nggak boleh." Yumna hanya khawatir makanan itu menjadi mubazir, karena dia juga tidak yakin jika suaminya mau memakan makanan seperti itu.
"Tenang saja, putri Papi yang paling cantik di dunia. Semua isian sushi ini sudah matang, dan sejak Papi dan Mami masuk Islam ... kami nggak pernah mengonsumsi daging babi lagi," jelas Papi Yohan.
"Alhamdulillah," Ustad Yunus tersenyum, senang mendengar respons Papi mertuanya. Pria itu memang selalu perhatian kepadanya. "Terima kasih, Pi. Ayok sekarang kita mulai makan. Jangan lupa baca do'a."
"Ayo!" sahut Papi Yohan bersemangat.
Ustad Yunus segera menarik kursi untuk Yumna duduk di sebelahnya, lalu dia duduk di kursi yang lain.
Suasana makan malam berlangsung dengan hening, namun semua orang terlihat menikmati hidangan tersebut.
"Bagaimana rasanya, Boy? Apakah enak? Papi lupa bertanya karena terlalu asyik makan tadi," tanya Papi Yohan.
"Papi, jangan begitu," Mami Soora langsung menyenggol lengan suaminya. "Papi pikir Boy belum pernah makan sushi, ya?"
"Papi nggak bilang gitu kok, Mi," sangkal Papi Yohan dengan gelengan kepala. Tampaknya istrinya itu salah mengerti. "Papi 'kan cuma nanya pendapat dia."
"Rasanya enak kok, Pi, Mi," sahut Ustad Yunus, lalu melirik Yumna yang sedang minum air. "Sepertinya sekarang sushi juga akan menjadi makanan favorit saya."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu."
Tiba-tiba, seorang pembantu datang menghampiri mereka dengan membungkukkan badan.
Tangannya menenteng sebuah paper bag kecil, lalu dia mengulurkannya kepada Yumna. "Ini titipan dari Nona Nadia, Non, katanya untuk Nona Yumna."
"Terima kasih, Bi." Yumna langsung mengambilnya.
"Sama-sama, Nona," jawab Bibi pembantu sambil mengangguk, kemudian pergi.
"Apa isinya itu, Dek? Bukan pil KB, kan?" tanya Ustad Yunus penasaran, langsung berpikir bahwa itu adalah alat kontrasepsi.
Mengingat, kemarin-kemarin Yumna sempat mengatakan jika pil KB yang dia punya itu hasil dari permintaannya kepada Nadia untuk membelikannya.
"Buka saja, Mas." Yumna langsung menyerahkan paper bag tersebut kepada suaminya.
...Ada yang bisa nebak isinya ga, nih? 🤔...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Micchan Mitsubou
Lebih penasaran dengan isi kiriman dari Nadia
2024-01-11
1
Evrida
kabulkan permintaan yumna kak agar bisa bulan madu dn secepatnya Yumna hamil
2024-01-11
1
Pisces97
Yunus suka banget berpikir buruk sama jalang Naya berpikir positif terus ya 😏
apa sih hebatnya jalang alim itu susah bener hilangnya
2024-01-11
1