3. Ingin punya anak

"Naya masih belum mau makan. Dia juga mengacak-acak kasur, Yah," jawab Bunda Noni, lalu meneruskan sembari menangis. "Tapi kalau Yunus nggak segera menikahi Naya ... kita sepertinya harus membawanya ke RSJ, Yah."

"Enggak perlu, Bun!" tegas Ayah Cakra. "Sekarang Bunda tunggu Ayah, Ayah akan secepatnya pulang ke rumah."

"Iya, Yah. Hati-hati dijalan."

Ayah Cakra langsung mematikan panggilan, kemudian memanggil pelayan cafe untuk membayar pesanan.

Setelah itu barulah dia melangkah keluar dari sana sembari tertegun dalam hati.

'Kalau tau begini ujungnya ... diawal aku nggak akan menolak lamaran Yunus,' batinnya frustasi.

***

"Deeekk ... udahan nangisnya."

Selama dalam perjalanan pulang menaiki mobil taksi, Yumna terus menerus menangis.

Diminta berhenti oleh Ustad Yunus pun nyatanya dia seolah tak mendengar. Jadi pria itu merasa bingung sendiri harus berbuat apa.

Dan disisi lain, seketika saja Ustad Yunus jadi mengingat momen pertemuannya tadi dengan Ayah Cakra.

Aneh sekali rasanya, mengapa pria itu tiba-tiba memintanya untuk menikahi Naya. Apalagi sampai menjadikannya istri kedua.

'Apa ada sesuatu yang terjadi sama Naya, ya?' batinnya berpikir.

Sepertinya tidak mungkin pria itu melakukan hal semacam itu jika tidak ada penyebabnya. Ustad Yunus pun tahu betul, bagaimana Ayah Cakra yang dulunya tidak menyukainya.

'Ah semoga saja nggak ada apa-apa. Ya Allah ... tolong lindungi Naya. Kalau misalkan dia sedang sakit tolong sembuhkan lah. Naya adalah perempuan yang sangat baik. Aku akan ikut bersedih jika melihatnya sakit,' batinnya berdo'a.

*

"Udahan, Dek, nangisnya. Ini sudah sampai rumah ... nggak enak kalau Umi tau," tegur Ustad Yunus dengan lembut, saat tak terasa akhirnya mobil taksi yang mereka tunggani berhenti di depan rumah.

'Memang kenapa kalau Umi tau?! Apa Mas takut? Mas tega sih bener sama aku,' batinnya kesal.

Setelah membayar ongkos taksi, Ustad Yunus lantas mengajak istrinya masuk ke dalam rumah. Dan bertepatan sekali dengan Umi Mae yang baru saja keluar dari dapur.

"Ehhh ... ternyata kalian pergi berdua? Umi kira ke mana. Tapi kenapa nggak pamit dulu?"

Saat Yumna berhasil menyusul Ustad Yunus, perempuan itu memang tidak pamit kepadanya. Jadi wajar Umi Mae bertanya demikian.

"Iya, Umi, Maaf," jawab Ustad Yunus. "Eemmm ... Kalau begitu aku sama Dek Yumna masuk dulu ke kamar, ya? Ini juga sudah mau Magrib."

"Ya udah. Tapi itu Yumna nggak kenapa-kenapa, kan, Nus?? Kok kayak nangis?" tanya Umi Mae yang memerhatikan menantunya.

Perempuan itu masih bersembunyi dibalik kaos suaminya. Pelukannya pun masih belum terlepas sama sekali.

"Dek Yumna hanya sedang salah paham padaku, Umi. Biar aku jelaskan padanya. Kami mau masuk dulu ke kamar, ya?"

"Ya udah sana." Umi Mae langsung mengelus rambut menantunya, kemudian membiarkannya masuk bersama sang anak. "Apa mereka ada masalah? Tapi semoga sih benar apa yang dikatakan Yunus benar ... itu hanya salah paham. Dan kira-kira ... Apa, ya, yang sempat Ayahnya Naya obrolkan dengan Yunus? Apa itu sesuatu yang penting?" Monolognya penasaran.

Umi Mae lantas berlalu keluar dari rumah, hendak menuju ke warungnya sebab ingin dia tutup.

"Sekarang kamu mandi, Dek, biar kita bisa sholat Magrib bareng," titah Ustad Yunus saat keduanya duduk di atas kasur.

Perlahan, kemudian akhirnya Yumna melepaskan pelukannya.

"Bukannya tadi Mas bilang kalau Mas mau jelaskan padaku, supaya nggak salah paham? Kok nggak langsung menjelaskan sekarang sih, Mas?" tanya Yumna menagih. Kedua tangannya itu langsung mengusap kedua pipinya yang basah.

"Oh iya, kamu nggak perlu salah paham dan berpikir seperti itu, Dek. Karena aku disini nggak ada niat untuk berpoligami."

"Seriusan, kan, Mas?" Meskipun sudah mendengar pernyataannya, nyatanya Yumna belum bisa percaya sepenuhnya.

"Serius lah, Dek. Tapi saya meminta syarat padamu. Apakah bisa?"

"Syarat??" Kening Yumna seketika mengerenyit. "Syarat apa, Mas?"

"Berhentilah ber-KB, karena saya ingin punya anak, Dek."

"KB?!" Yumna masih terlihat bingung. "Lho ... memang siapa yang KB, Mas?"

"Kok kamu nanya balik, sih, Dek?" Tatapan mata Ustad Yunus seketika menajam. Dia merasa tak puas dengan jawaban Yumna. "Kamu pikir saya nggak tau, ya, kalau selama ini kamu minum pil KB?"

Yumna sontak membulatkan matanya. Segera dia pun berlari menuju nakas untuk mengambil tas jinjingnya kemudian merogoh ke dalam.

Sepertinya apa yang suaminya maksud itu berhubungan dari benda di dalam tasnya.

"Apa Mas lihat pil KB yang ada di sini?" Yumna langsung menunjukkan selembar pil KB yang tak ada satu pil disana.

"Iya." Jawaban Ustad Yunus membuktikan kalau memang itu benar. "Selama ini kamu minum pil, kan, karena nggak mau punya anak dari saya?" tebaknya yang tampak kesal.

"Dih, Mas, bukan begitu kok." Yumna menggeleng cepat. Jangan sampai karena perkara ini hubungannya dengan sang suami kembali tak baik.

"Lalu??"

"Pil KB ini memang punyaku, dan aku pernah meminumnya. Tapi hanya sekali, Mas ... setelah kita berhubungan badan."

Yumna ingat, pil KB itu dibeli dan diminum dihari setelah keduanya melakukan malam pertama. Dan yang membelinya pun Nadia, asistennya. Tapi atas permintaan Yumna.

"Kita juga 'kan berhubungan badan cuma sekali, Dek."

"Iya, itu benar." Yumna mengangguk cepat. "Tapi aku nggak akan meminumnya lagi, Mas. Kan aku ingin memperbaiki rumah tangga kita."

"Kalau nggak akan meminumnya, terus kenapa masih kamu simpan?" Ustad Yunus terlihat tak percaya. Wajar saja karena dia sudah sering dibohongi, jadi tak mudah baginya untuk semudah itu percaya.

"Aku hanya lupa membuangnya, dan sekarang aku akan buang pil KB ini, Mas." Yumna langsung menuju tempat sampah yang berada dipojok ruangan, lalu melemparkan benda itu.

"Bagaimana bisa saya percaya kalau kamu nggak akan memunggutnya lagi, Dek?!"

"Apa Mas mau pil KB ini aku bakar?"

"Terserah."

"Ya udah aku bakar sekarang." Supaya Ustad Yunus percaya, Yumna akan langsung melakukannya.

Segera dia pun memungut benda itu, kemudian melangkah membuka pintu kamar.

"Mau ke mana?"

Pertanyaan dari Ustad Yunus seketika menahan langkah kaki Yumna. Dia juga langsung menoleh. "Kan aku mau bakar pil KB ini, Mas. Dan nggak mungkin juga aku membakarnya didalam kamar. Iya, kan?"

"Kalau misalkan sudah dibakar, tapi nanti kamu membelinya lagi ... itu bukannya akan jadi sia-sia saja, ya??" Tampaknya, Ustad Yunus masih belum percaya.

"Lho, siapa juga yang mau beli pil KB lagi, Mas?"

"Ya kamu, Dek. Saya 'kan nggak tau. Bisa saja kamu membelinya secara diam-diam."

"Enggak, Mas." Yumna menggeleng. "Aku nggak akan membelinya lagi."

"Bagaimana bisa saya percaya?"

"Lho, Mas ... jadi aku musti gimana dong supaya Mas percaya padaku?" Yumna jadi bingung sendiri, karena nyatanya pria itu masih tidak percaya padanya.

...Sabar, Yum 🙈...

Terpopuler

Comments

Evrida

Evrida

Kok belum up kak

2024-01-04

2

Eva Karmita

Eva Karmita

lanjut ...

2024-01-03

2

Fri5

Fri5

ujian dah dimulai ya Yum 😋

2024-01-03

2

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!