Sulit bagiku menjelaskan nya, tanpa basa basi aku berkata bahwa aku adalah Tuhan. Namun, aku mahal di tabok oleh Yunia sambil berkata jangan main main dengan ku!
Yah, aku tanpa bisa mengelak lagi menunjukkan pada nya bahwa aku adalah Tuhan dari sebuah Game. Yang mana penjelasanku sama seperti aku menjelaskan nya pada Ibuku. Menunjukkan Moncus dan beberapa paket yang baru tiba hari ini. Buah buahan desa yang beraneka ragam, ditampilkan di game. Aku menunjukkan semua barang yang telah aku ambil sama dengan paket yang baru datang kerumah ini. Termasuk dengan dua orang perempuan ini.
"Sekarang apa kau mengerti Yunia? Aku tidaklah berbohong saat berkata Aku Tuhan!"
Yunia mendatar. "Maksudnya Tuhan dari sebuah Vidio Game kan?"
"Iya!" Ujarku melipat kaki ku dan menggendong Moncus di pelukkan.
2 Orang gadis itu membusungkan dadanya dan berlutut di hadapanku.
"Namaku Valen, ku berumur 25 tahun!" Ujarnya menyentuh telapak tangan kanan ku lalu menciumnya.
Si Gadis itu mengangguk dan berkata. "Aku adalah Violet! Umurku 16 tahun!" Dia mencium telapak tangan kiriku.
Yunia melotot menatapku. "Kau menikmatinya!"
Aku dengan wajah datar menatap ke Yunia. "Apa benar aku terlihat begitu?"
Dia menyilang tangan dan memalingkan wajah dengan kesal. "Entahlah!" Cemberut seolah dia ngambek akan hal ini.
Aku mengela nafas keluh kebawah dan berkata dengan jelas. "Apa sih yang kau marahkan? Tingkahmu bukan seperti akting saja? Urusan nya dengan mu apa?"
Dia menoleh dengan mata lebar dan aura marah yang kuat.
Rasanya aku jadi takut. "Maaf!" Ujarku berkeringat dingin.
.
.
.
Kami sarapan bersama, Yunia masih sibuk dikamar ku menatap layar Pc. Dia masih tak percaya dengan apa yang kukatakan. Melihat dengan terus menerus dan memainkan Mouse nya scrool sana sini untuk melihat keseluruhan Game.
Aku yang sedang melihat nya di depan pintu kamar berkata.
"Kau jangan menekan mulai pada area Azab nya, oke?"
Dia menoleh dengan wajah kesal dan itu cukup membuat ku diam.
Lalu dia mengela nafasnya. "Hah, kau tak perlu beritahu apa pun?!"
Aku tersenyum melihat wajah serius nya. "Kenapa sih dia ini?" Ujarku meninggalkan kamar.
Saat aku melihat pantulan dikaca lemari aku berbalik. Yah, aku melihat sesuatu yang sangat tak terduga.
"Dia berpikir aku sudah pergi?" Ujarku mengintipnya di kamar.
Aku seketika agak tak enak saat tertawa. "Hahaha, aku salah mengenai Yunia ... Apa dia sebenarnya menyukai ku?" Tanyaku dihati.
Pemandangan yang kulihat saat ini adalah Yunia sedang mengendus seragama sekolah yang baru saja ku pakai dengan wajah penuh nafsu.
"Baunya Andri masih kuat!" Ujarnya tampak sangat menikmati nya.
Aku berbalik badan dengan raut agak khawatir. "Aku tak melihat apa pun!" Tegas ku dihati lalu melangkah.
Yah, ini pertama kali nya aku melihat hal seperti ini. Gadis yang dulu sangat kusukai dan sekarang aku sudah melupakan perasaanku dan menganggapnya sahabat tapi malah kenyataannya dia tergila gila padaku dan punya fetish aneh dengan bau badan. Apa ini?!
Aku makan dengan wajah melamun, meski sedang berusaha di suapi dua orang perempuan cantik.
"Master, kenapa kau melamun?" Ujarnya Violet menyuapi ku.
"Tidak ada, hanya banyak pikiran ..." Ujarku lalu menerima suapan darinya.
Kemudian Valen menyuapi ku dengan tangan, aku memakan nya dengan datar.
Ibuku melihat itu dengan wajah datar.
Saat aku sedang melamun, 2 perempuan ini berlomba bersaing dalam suapan romantis.
Valen menggunakan mulutnya, dan aku menerima nya dengan wajah datar.
Lalu, Violet mengikuti aku menerima nya lagi.
Sampai jadi banyak rangsangan dan Ibuku akhirnya muak.
"Berhenti!" Ujar Ibuku berteriak.
Aku terkejut, melihat ada mulut ku menempel ada belahan dada Valen.
"Ehhhhh?!" Memerah seketika wajah ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments