Akhirnya, malam itu aku tertidur. Karna merasa lelah banget, setelah pagi aku terbangun. Pagi ini, aku bersiap untuk pergi ke sekolah mengikuti ujian praktikum lagi ...
...
Aku keluar kamar menguap.
"*Woa~ah ...
Melihat Ibuku sedang memasak dan si Rubah Viona tengah bermain di lantai dapur di samping Ibuku.
Dia bermain bola kasti seperti anjing kegirangan.
Ibuku tertawa melihat itu, tampak nya Ibuku di sembuhkan dari kesepiannya dengan kehadiran Viona ...
Aku menyapa nya, setelah melihat senyuman Ibu.
"Pagi, Bu!"
Aku berjalan ke kamar mandi dengan wajah datar.
Ibuku menjawabnya dengan senyuman. "Pagi, Andri ..."
Dia berkata lagi dengan senyuman. "Setelah ini, ayo sarapan bersama ..."
Aku mengangguk. "Baik Bu ..."
Memasuki kamar mandi, setelah beberapa menit aku keluar kamar mandi.
Dengan handuk, aku mengusap kepala.
Santai bagiku berjalan tanpa busana, karna Ibuku terbiasa dengan gaya ku.
Namun, entah mengapa Ibu malah menutup wajahnya.
"Kau kenapa telanjang?"
Aku mendatar. "Eh, tak seperti biasanya?"
Dia meneguk liur. "Kau sudah besar ya?"
"Yah, aku memang sudah besar dari kemaren ..." Ujarku berjalan masuk kekamar.
Dia mengela nafasnya di meja makan.
"Cepat pakai pakaian mu dan makan ..."
Aku mengangguk dan menutup kamar.
Setelah berpakaian, aku keluar kamar lalu mengambil dasi ku yang tergantung di dinding.
Saat aku duduk di meja makan sambil memasang dasi. Ibu berdiri ke dekat ku dan berkata.
"Tegak!"
Aku memandangnya dengan datar. "Ada apasih Bu?"
Terpaksa aku berdiri, lalu dia memasangkan dasiku dengan senyuman.
"Kau sudah terlihat tampan seperti Ayahmu ..."
Aku mendatar melihat senyuman nya yang senang pagi ini.
"Kenapa kau tampak begitu sangat senang sih?"
Dia memerah seketika, memandang kelain dengan wajah malu malu. "Itu terlihat ya ?"
Aku memegang pundaknya dengan wajah tegang. "Ibu!"
Dia gemetar dan menutup matanya dwngan wajah memerah malu. "A-ada apa?!"
Aku mengatakan nya dengan wajah serius. "Ini pasti karna Viona membantu Ibu jadi lebih ceria akhir akhir ini kan?! Apa memang seefektif itu?! Luar biasa, hewan berbulu lembut!"
Dia mendatar mendengar ucapanku. "Baiklah, kau benar Andri lalu makan dan segera berangkat!"
Aku tersenyum. "Oke, bu!"
Duduk dan menyantap makanan ku.
Dia memegang pipinya dengan telapak tangan sambil tersenyum.
"Dasar anakku, kau sangat mirip dengan Ayahmu ..."
Aku menjawabnya saat masih mengunyah makanan. "Itu lagi?"
Dia membentakku. "Makan nya habiskan dulu, bicara nya nanti! Dasar kau ini!"
*Uhuk uhuk!
Aku terbatuk kemudian.
-
-
-
-
Setelah itu aku berangkat ke sekolah dan saat di kelas seseorang menyapa ku Gadis yang merupakan teman lama.
"Yo, Andrian kau sehat?"
Aku menjawabnya dengan wajah kusut seperti biasanya.
"Sehat banget!" Mengepalkan tangan dengan senyuman datar.
Dia tertawa dengan wajah khawatir. "Tidak tampak seperti yang kau ucapkan ..."
"Eh?" Ujarku agak kaget.
-
-
-
Setelah usai sekolah, aku berjalan pulang meninggalkan kelas ku dan berpikir untuk pulang dengan cepat.
Tapi, Gadis kenalan lama ku. Di mengahadangku di pintu kelas.
"Andrian, apa kau punya waktu hari ini?"
Aku menjawabnya dengan datar. "Tidak punya, karna hari ini Event game yang harus aku mulai!"
Dia memegang bahuku dan berkata dengan raut memohon.
"Andrian, kumohon tolong aku!"
Aku merasa agak direpotkan disini olehnya. "Apa itu lagi?"
Dia memohon dengan tangan didadanya dan senyuman menggoda.
"Please banget!"
Aku memegang leherku dengan wajah memerah.
"Baiklah, aku akan membantu mu, hanya harus pura-pura kan? "
Dia memengang dadaku dengan senyuman lembut. "Begitulah, tapi kau harus juga menunjukkan bahwa kau beneran pacarku kau tau itu kan?"
Aku mengangguk dengan datar. "Iya, aku akan berusaha ..."
"Ayo pergi, kekaroke Andrian!" Ujarnya mengarahkan tangan.
Aku menerima tangan yang meminta ku mengenggam nya.
"Baik Yunia ..."
Yunia tampak senang, dan itu juga membuatku senang bisa membantunya tapi apa-apaan menjadi pacar bohongannya? Ini juga sudah masuk 3 tahun, kebohongan yang kami buat bersama ...
Gadis seperti dirinya harusnya bisa mendapat Pacar tampan beneran kan. Wajah cantik, dengan pupil mata coklat dan senyuman menawan serta rambut yang selalu harum dan terurai halus. Tubuh proposialnya serta tingkah imutnya, siapa yang tak mau? Aku saja selalu berharap ini bukan kebohongan namun sekarang aku sudah membuang semua pemikiran itu dan menjalani saja sesuai kemauannya, asal dia senang. Sebagai sahabatnya, aku mendukung nya sampai dia benar-benar menerima dirinya sendiri dan bertemu pasangan yang menggerakan hatinya. Saat itu aku akan melepasnya dengan senyuman bahagia.
"Hah, aku seperti seorang Ayah yang berusaha melindungi Putrinya ..." Ucapku dengan senyuman saat dia mengenggam tangan ku menuju keluar kelas.
-
-
-
-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments