Seusai pulang sekolah,
"Aku pulang!" Ujarku di depan pintu dengan wajah kusut.
*Crekk!
Menarik gagang pintu dan melepas sepatu.
Aku lalu berjalan masuk, ku lihat Ibuku berjalan kearahku.
"Hei, apa kau memasan paket Andri?" Ujarnya membawa kardus di tangan.
Aku melihat itu agak mengangkat alis terkejut. "Tidak ..."
Ibu menatapku dengan wajah curiga. "Apa benar? Kau jangan belajar membohongi Ibumu ... Selama ini kau tak pernah berbohong, kenapa baru hari ini?"
Aku mengela nafas berat, lalu mengambil kardus di tangan Ibuku.
"Aku tak berbohong tapi ya sudahla ..."
Ibu ku mengangkat tangan nya dengan wajah geram.
"Oi, kau jangan angsung pergi ... Dengarkan aku!"
Aku mengabaikan nya sambil terus berjalan dan melambaikan tangan.
"Yosh, terima kasih telah membayar Ongkirnya Bu!"
Dia berteriak. "Kau harus menggantinya nanti!"
*Duk!
Aku menutup pintu kamarku lalu tersandar perlahan di pintu dan mengela nafas.
"Hah, hari yang melelahkan ..." Ujarku memandang kardus di pelukan ku.
"Hmmm, apa isi kardus ini?" Ujarku memandang kardus dan melihat ada strucknya.
Aku membacanya.
....
....
"Dari Desa XXX , pengirim tanpa Nama?"
Aku merasa heran lalu menaruh di bawah lantai dan berniat membuka kardus itu.
Sesaat kemudian, ...
*Deg! Krekk!
Kotak itu berontak, melompat lompat.
"Eh!" Teriakku terkejut dan tersandar di dinding.
"Apa yang terjadi? Isinya apa kardus ini?!" Ujarku mendekat lagi setelah Kardus agak tenang.
Saat aku mau menyentuhnya, kardus itu kembali berontak.
*Dek! Tek !
Melomat lompat kemudian, karna aku tak takut lagi, Aku berontak menahan nya.
"Diam! Jangan berontak kardus aneh!"
Tak selang beberapa kardus itu terdiam.
"Dasar, apa sih isi nih kardus?" Ujarku mengela nafas.
*Trekkk!
Aku menarik salasiban yang menutup kardus itu dan melihat sebuah kandang.
"Apa ini?" Ujarku.
Saat semua nya terbuka sempurna, terlihat kandang kosong.
Lalu, saat ku pandang beberapa detik tiba-iba muncul seekor rubah bersayap elang seolah muncul dari tak ada menjadi ada.
"Ini, ini bukan nya Moncus?" Ujarku kaget.
Mataku melihat sesuatu yang luar biasa saat ini, yaitu persembahan si gadis kecil di desa pada game.
"Astaga, ternyata ini beneran Moncus?!"
*GRrrrrr!
Dia masih takut padaku dan mendengkur kesal.
"Hei, hei, aku tak tahu caranya merawat hewan lalu kenapa aku mendapatkan hal seperti ini?"
Aku perlahan membuka nya, kandang itu meskipun agak takut.
"Hora, keluar!" Ujarku langsung mundur sejauh mungkin dari kandang itu setelah membuka pintunya.
Rubah itu keluar kandang dan memandangku dengan kesal.
*Grrrrr!
Aku tertawa berkeringat cemas.
"Apa aku harus memberinya makan?" Ujarku memikirkannya sejenak.
Lalu,
*Krogggggkkk!
Terdengar suara dari perutnya si Rubah.
"Apa itu?" Ujarku agak terkejut.
Ternyata itu suara keroncongan milik Moncus ini.
"Astaga, apa kau lapar?" Ujarku berdiri memandang si rubah.
Aku tersenyum melihat rubah itu menundukan kepala nya seolah malu.
"Apa makanan rubah ya?" Ujarku memikirkan nya.
Lalu, aku membuka pintu kamar.
Berjalan menuju kulkas, mencari daging.
"Mungkin dia makan daging?" Tanyaku dihati.
Aku mengambil daging sapi di kulkas. Namun, Ibuku melihat itu.
"Oi, kau mau apa dengan daging itu?" Ujarnya melihat ku dengan tatapan curiga.
Aku berbalik dengan wajah kaku. "Ah, ternyata Ibu toh!"
Dia mendekat dan merampas daging yang ku pegang.
"Jangan malah Ah, aku tanya kenapa kau ambil daging ini?!"
Aku menggesekan tangan dengan wajah agak ragu menjelaskan nya.
"Sebenarnya, paket yang aku terima tadi berisi ..."
Yah, pada akhirnya aku menjelaskan nya pada Ibuku dan mengatakan bahwa aku diam-diam mengerjakan perkerjaan proyek rahasia pemerintah dan itu alasan Pc ku tak bisa ku matikan.
-
-
-
Dikamar Ibuku menatap aku yang sedang menopang Rubah saat duduk di kursi Gaming dan menjelaskan yang terjadi pada PC yang tengah ku mainkan.
"Game ini, Ibu bisa lihat kan bahwa ini Moncus yang telah ku terima ..."
Dia menatap laya monitor dan melihat tampilan notif yang bertuliskan telah di gunakan Moncus.
Ibu memegang ke dua pinggang nya dan memikirkan sesuatu saat menatap kelain.
"Jadi intinya, kau telah berkerja dengan bayaran seperti ini dan ini adalah proyek rahasia ..."
Aku mengangguk agak takut. "Apa dia akan percaya?" Ujarku dihati.
*Gluck!
Aku meneguk liur saat Ibuku menoleh kearahku dengan tatapan tajam.
"Kau ini ..."
*Duk!
Dia menepuk pundakku. "Kenapa selalu membuat ibu khawatir?" Wajah Ibu agak sedih berbanding terbalik dengan yang aku pikirkan.
"Eh?" Aku terkejut dengan reaksi yang kulihat pada ekspresi Ibu.
"Nak, kalo kau terlibat dengan hal seperti ini bukan hanya Kau dalam bahaya tapi Ibu juga ..."
Aku menunduk dengan raut sedih, sadar akan apa yang ku lakukan.
"Tapi, ..."
Dia memegang pipiku dan aku melihat Ibuku tersenyum.
"Jangan memberitahu siapa pun lagi selain Ibu oke? Aku takut kau kenapa-kenapa Nak!"
Melihat senyuman Ibu, aku jadi tersenyum senang.
"Ibu, makasih !" Ujarku memeluknya.
Dia memerah seketika. "Kok tiba-tiba gini, Andri?" Ujarnya jadi Salting.
Yah, Ibuku bernama Tiya Tambunan. Dia adalah Ibu tiri ku setelah kematian Ibuku sejak 10 tahun yang lalu. Aku dan dia hanya berbeda 7 tahun usia, karna itu terkadang Aku dan dia agak cagung meski kami selalu nersama selama 10 tahun ini.
-
-
-
-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Isekai Idea
maksudnya itu, tiap bab kok makin kurang rasanya Feel , gak ngena gak ngepas gitu ...
Hadeh gimana ni ...
2024-03-13
0
Isekai Idea
Memadukan jalan cerita dan tambahan cerita itu sulit nian thor ,
Bahkan aku masih kesulitan dengan Bab yang ada ada nih, liat nya makin lama makin banyak makin kurang rasa feel nya
2024-03-13
0
Stephen (Phoenix dalam celana)
bisa kali ya thor dibikin gitu *ekhemm taulah kan dah pas tu jadi genre step *ekhemm
2024-03-13
0