Suara brisik terdengar, saat ini aku masih tertidur pulas. Bayangan tampak perlahan di mataku. Itu wajah seseorang yang familiar bagiku.
"Andrian,bangun! Aku sudah bilang jangan lupa matikan PC mu kalo mau tidur!" Dia menarik kerah ku.
Aku menguap di depan wajah nya dengan muka masih sayup.
"Ibu, kenapa brisik sekali pagi-pagi? Woahhh~` " Menguap.
*Duk!
Menolakku di kasur. Aku jadi terbangun seketika dan melihat kearah layar Pc di seberangku yang masih menyala. Dengan muka sembab aku melihat kearah PC lalu kearah Ibuku.
"Ouh, apa aku main game sampe larut lagi?"
Dia menarik pipiku dengan cubitan. "Kau mau bilang apa?"
Aku menepis tangan nya dan bangkit sambil meregangkan badan.
"Brisik sekali, Ibu! Mumpung libur juga, aku main game yang kayak gini ..."
Dia menarik telingaku dengan jeweran kuat. "Kau pikir siapa yang bayar listrik ha?"
Aku terbawa tarikan. "Baik-baik! Sakit!" Ujarku terbawa olehnya keluar kamar.
Aku diseret kekamar mandi dan yah sesudah aku dibuat bugil tentunya.
Seusai mandi,
....
Aku melihat Ibu kebingungan di depan meja Pc ku. Dia berusaha mematikan Pc namun tak dapat ia lakukan. Aku yang sedang berdiri di pintu kamar dengan handuk hanya bisa tertawa sekali saja.
"Hahaha, Ibu aku lupa bilang kalo PC ku sedang mengalami Buggest alias rusak!"
Dia berbalik dengan wajah geram. "Kenapa bisa rusak?! Kau apakan lagi PC mu ini ha?! Kau pikir belinya pake kertas?!"
Aku mengela nafas keluh. "Aaahhhh, ibu keluarlah ... Aku mau pakai baju sama celana nanti nih PC akan ku perbaiki ..."
Dia memandang dengan wajah heran. "Emang bisa kamu mekanik?"
Aku mendorong Ibu di punggungnya agar keluar kamar.
"Sudahlah, lebih baik Ibu keluar karna aku mau memakai pakaian ..."
Dia menahan tangannya di depan pintu kamar.
"Oi, tunggu dulu!"
Aku berhenti mendorong dan memandang dengan wajah datar.
"Apa lagi bu?"
Dia berbalik dan mengatakan dengan wajah kesal.
"Sebaiknya kau pergi ke sekolah mu hari ini, kata teman mu Yunia ... Katanya hari ini, adalah Ujian Praktikum ..."
"Eh?" Ujarku kaget.
Yah, selama ini alasan aku tak pergi keluar rumah dan kesekolah karna Pandemi Covid namun mendadak ada panggilan sekolah karna Ujian Praktikum bagi semua siswa.
"Ehhhhh, apa sekolah dimulai lagi?! Bagaimana dengan Fandemi Covid?!" Ujarku berteriak.
Ibuku menutup mulut ku dengan wajah kesal.
"Brisik, mana ku tahu! Kau sebaiknya bersiap pergi ke sekolah! Jangan tidur lagi!"
*Duk!
Pintu kamar ku di tutup Ibuku seketika.
Aku tercengang di depan pintu.
"Ah, masa iya sekolah di buka di tengah pandemi?"
----
Aku bersiap mengenakan pakaian sekolah. Ngomong-ngomong, aku kelas 3 SMA yang sebentar lagi akan lulus. Yah masih sibuk dengan masa depan apa yang menantiku. Namun, aku sekali lagi harus nya tak lupa pada yang ada di pandangan ku saat ini.
Yaitu, layar Pc yang masih menyala.
Aku memasang dasi ku setelah mengenakan pakaian seragam sekolah ku.
Lalu, aku mendekat ke meja PC dan melihat dilayar monitor.
"Apa ini? Tekan mulai untuk meluncurkan Azab Dewa?"
Aku melihat sebuah tab, yang mana itu membat jeda pada game seperti arahan lagi. Game ini menurutku terlalu banyak tutor untuk pemain barunya.
Kalo mau dibilang game, bukan juga karna ini dunia nyata ... Itu yang dikatakan si Dewi yang memberikan kutukan ini ...
(Melihat di bagian dadaku sendiri ada sebuah lambang yang membuat raut ku jadi kusam)
Aku lalu memasang kancing baju ku kembali dan tersenyum menenangkan diri.
"Sudahlah, kubiarkan saja game ini stuck di sini dulu lalu setelah pulang aku akan lanjut memainkan nya ..."
Yah, aku bisa berhenti bermain saat ada pemicu tutor begini ... Ngomong-ngomong, aku sudah 3 hari memainkan nih game. Namun, yang terlihat di game. Dunia telah berlalu sebanyak 3 bulan ...
Aku tak mau memikirkan nya, 1 hari didunia ku berapa hari terlewati disana ...
Entah,berapa hari yang akan berlalu saat aku meninggalkan nih game tetap menyala.
Aku membuka pintu kamar, lalu memandang ke PC sejenak.
"Jangan hancur tiba-tiba ya?! " Dengan wajah cemas aku meninggalkan nih kamar dan PC yang masih nyala.
----
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments