Tok tok tok...
Suara pintu diketuk. Ah, itu pasti Bapak; hanya Bapak saja yang selama ini tetap menjaga sopan santun padaku. Hanya Bapak yang selalu lebih dulu mengetuk pintu, walaupun aku ini anaknya. Hanya Bapak yang tidak pernah semau sendiri. Karena itu aku pun sangat menghormati dan menyayangi Bapak. Aku segera beranjak turun dari ranjang.
"Iya, Pak, ada apa...?" tanyaku setelah pintu terbuka.
"Kamu ada janjian sama Nak Rizwan...?" tanya Bapak. Setahuku Rizwan memang mau datang malam ini, tapi kan tidak ada janjian denganku.
"Tidak, Pak...!" jawabku seraya menggeleng.
"Tapi itu ada Nak Rizwan di depan...!" terang Bapak.
"Oh, ya sudah, Raya ganti dulu ya, Pak...?!" ucapku. Tak mungkin aku keluar bertemu dengan Rizwan mengenakan hot pants dan kaos ketat.
"Ya sudah, cepat. Tidak baik membuat tamu menunggu." Saran Bapak sambil menepuk kepalaku, lalu pergi dari kamarku. Dan aku pun segera bersiap untuk menyusul Bapak.
Sesampainya aku di ruang tamu, di sana sudah ada Bapak dan Ibu yang menemani Rizwan.
"Selamat malam, Pak Rizwan...!" sapaku, kemudian duduk di samping Bapak. Bapak mengerutkan dahi, mungkin merasa aneh dengan sapaanku pada Rizwan, karena memang selama ini aku memanggilnya Mas.
"Selamat malam, Raya...!" balasnya dengan agak canggung. Kulihat dia menyeka keringat di dahinya dengan saputangan. Tapi kenapa harus berkeringat? Walaupun tidak bersahabat AC, tapi ruangan rumah kami tidak tergolong sumuk atau panas juga.
"Emh, Dik Mira mana...?" Rizwan bertanya gugup.
"Kak Rizwan...!" Mira memanggil dengan nada ceria yang menjadi ciri khasnya. Ini dia bintang utamanya datang, batinku.
Mira lantas duduk di samping Ibu. Ya... ya... dia kan memang anak kesayangan Ibu. Kuperhatikan perubahan di raut wajah Rizwan; dia yang tadi terlihat tegang jadi berubah agak lega, dia tersenyum ke arah Mira, yang malam ini begitu terlihat mempesona. Ah, adikku ini memang cantik; aku bahkan mengakuinya di dalam hatiku.
"Ehem...!" Pandangan Rizwan teralih begitu mendengar suara deheman Bapak.
"Nak Rizwan, ayo ini dicicipi kue-kuenya, ini tadi Ibu sama Mira lho yang bikin...!" Ibu mencoba mengalihkan suasana yang mendadak dingin.
"Terima kasih, Bu...!" jawab Rizwan gugup.
"Waaah... beneran ini kamu yang buat, Dek??" tanyaku sambil menoleh ke arah Mira, yang kutoleh menatapku tak suka.
"Sekarang bisa dikatakan...? Apa maksud kedatangan Nak Rizwan kali ini?? Sepertinya bukan untuk menemui Raya seperti perkiraan awal saya!" Baru saja seteguk minuman masuk melewati tenggorokan Rizwan, Bapak sudah menginterupsi, membuat Rizwan nyaris tersedak. Aku sampai merinding; Bapak yang biasa bersikap hangat pada siapa pun, tiba-tiba saja berubah menjadi dingin seperti itu.
"Bapak ini apa-apaan sih...?!" sentak Ibu yang seperti tak terima dengan ucapan Bapak. "Setidaknya biarkan Nak Rizwan mencicipi sesuatu dulu...!" lanjut Ibu. Tapi Bapak tidak peduli, hanya menatap Rizwan dengan tatapan tajam.
Sedangkan Mira sudah mendung wajahnya; dia bahkan menarik-narik tangan Ibu.
"Emh... begini, Pak. Maksud saya ke sini, saya ingin meminta izin Bapak dan Ibu untuk menjalin hubungan baik dengan Mira!" Jawab Rizwan pada akhirnya. Kulihat dia bisa bernapas lega setelah berhasil mengungkapkan niatnya.
Aku juga melihat Ibu dan Mira yang sedang tersenyum, sedangkan Bapak nampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Hubungan baik yang seperti apa...?" tanya Bapak; sorot matanya lebih tajam dari sebelumnya. Sungguh, aku baru melihat sisi Bapak yang seperti ini.
"Saya ingin menjadikan Mira pasangan hidup saya...!" jawab Rizwan, berusaha untuk tegas.
"Apa maksud Nak Rizwan...? Bukankah selama ini Nak Rizwan sudah menjalin hubungan dengan Raya...?" Sentak Bapak.
"Bapak...!" Ibu ingin menyela, tetapi terbungkam karena sorot mata Bapak yang tajam ke arahnya. Lalu Bapak kembali menatap ke arah Rizwan.
"Itu memang benar, Pak, tapi seiring berjalannya waktu, saya merasa kalau hati saya lebih condong ke Mira. Dan saya merasa, sudah mantap ingin hidup bersama dengan Mira!" Jawab Rizwan tegas.
Harusnya aku menangis sekarang kan?? Dia baru saja membandingkan aku dengan Mira lho... Wah, ini penghinaan namanya.
Eh... tapi kenapa aku tidak merasa ingin menangis? Kenapa aku tidak merasa sedih mendengar kata-kata Rizwan barusan?? Aneh memang otakku ini; orang memang tidak merasa sedih kok pingin disuruh sedih?? Hi hi hi.
Kembali ke laptop. Di kursi yang bersebrangan denganku dan Bapak, kulihat Ibu berpegangan tangan dengan Mira; terukir di sudut bibir mereka senyum penuh kemenangan. Bahkan kulihat Mira sedikit mengejekku. Cihh... memangnya aku peduli?? Enggak tuh...!
"Apa Nak Rizwan sadar dengan apa yang baru saja Nak Rizwan katakan...?" Tanya Bapak penuh penekanan.
"Iya, Pak... saya sadar, dan saya sudah berpikir berulang kali akan hal ini...!" Rizwan menjawab penuh dengan keyakinan. Aku masih berdiam saja; aku ingin melihat sejauh mana drama ini akan berlanjut.
"Kalau begitu seharusnya kamu juga sadar kalau Raya dan Mira ini kakak beradik. Kamu pernah menjalin hubungan dengan Raya; kalau memang hubungan itu tidak bisa berlanjut, seharusnya kamu bisa mencari perempuan lain. Kenapa harus Mira??"
Ke mana panggilan Nak yang selama ini mengiringi namanya? Kok tinggal kamu-kamu saja dari tadi kudengar?
"Bapak...!!" Mira berteriak karena merasa tidak terima dengan ucapan Bapak. "Memangnya kenapa kalau Kak Rizwan memilihku dan bukan Kak Raya?! Itu kan pilihan hati Kak Rizwan?!" Lanjutnya berapi-api.
"Itu benar, Pak. Kita kan tidak bisa menentukan pada siapa hati kita berlabuh...?" Ibu ikut menimpali; bijak sekali kata-katanya.
"Lagi pula suatu hubungan yang dipaksakan akhirnya tidak akan baik." Lanjut Ibu lagi. Dan kalimat itu juga benar menurutku. Aku setuju dengan yang itu.
"Kalau memang Nak Rizwan lebih menyukai Mira, ya kita tidak bisa memaksanya untuk memilih Raya. Lagi pula Raya itu kakak kalau pun dia menyukai Nak Rizwan, apa salahnya kalau dia mengalah untuk adiknya?"
Akhirnya keluar juga kalimat sakti milik Ibu itu; selalu saja itu dan begitu.
Hanya karena aku anak pertama. Hanya karena statusku yang seorang kakak, hanya karena aku lahir duluan. Sejak dulu, sejak kelahiran Mira, sejak saat itu pula aku selalu diwajibkan untuk mengalah. Ibu selalu beralasan, aku sudah lebih dahulu tahu rasanya, begitu juga tentang kasih sayang.
Ibu selalu saja mengatakan, dulu sebelum Mira mendapatkan kasih sayang, aku sudah merasakannya lebih dulu. Jadi sekarang giliran Mira yang juga harus menikmati apa yang pernah aku nikmati. Dan sejak dulu pula, karena aku tak ingin Bapak bersedih, marah, lalu bertengkar dengan Ibu, aku selalu bilang ke Bapak kalau aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments