Waktu menunjukkan pukul 16.30 ketika aku baru saja tiba di rumah.
Rumah dalam keadaan sepi. Mungkin Bapak belum pulang dari tempat kerjanya di sebuah bengkel tambal ban. Padahal sudah berulang kali kukatakan pada Bapak, agar istirahat saja di rumah. Toh aku juga sudah bekerja, dan setiap bulannya aku selalu berusaha menyisihkan sebagian gajiku untuk kebutuhan rumah. Tapi Bapak tak pernah menurutinya. Katanya badannya pegal-pegal jika tidak digunakan untuk bekerja, hanya duduk diam saja di rumah.
Menurut Bapak, pekerjaan sebagai tukang tambal ban juga tidak terlalu berat. Pekerjaannya di tempat yang teduh, itupun sambil duduk, tidak harus seharian berdiri. Sedangkan Ibu entah pergi ke mana. Biasanya jam segini Dia berada di dapur untuk menyiapkan makan malam.
Aku bergegas hendak masuk ke dalam kamarku. Ketika melewati kamar Mira, aku melihat pintunya terbuka, atau entah memang sengaja tidak ditutup rapat. Kudengar Dia cekakak-cekikik dengan ponselnya. Entah dengan siapa Dia berbicara. Ucapan-ucapan terima kasih, gombalan-gombalan, dan rayuan maut terdengar dari bibirnya, menyebut seseorang dengan panggilan Kakak.
Iseng, aku masuk ke kamarnya. Aku lihat dari kaca yang ada di depannya, Dia melirik ke arahku. Berarti Dia memang sengaja tidak menutup pintu agar aku mendengar percakapannya. Aku berdiri bersandar di pintu tanpa ingin menyela atau bertanya.
Aku perhatikan sekeliling ruangan. Banyak sekali paper bag berserakan, dan aku tahu itu adalah barang-barang dari merek dengan harga mahal. Yang aku heran adalah... ini adalah kamar manusia atau kamar hantu?? Sama sekali tidak ada kerapian sedikitpun.
Padahal Dia adalah seorang cewek. Apa saja kerjanya ketika di dalam kamar?? Apakah hanya tengkurap memeluk guling sambil memandangi HP??! Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan adikku itu.
"Kak Raya...!!" ucap Mira ketika Dia membalikkan badannya menghadap ke arahku setelah mengakhiri panggilan telepon. Dia tampak seperti orang terkejut melihat keberadaanku, tetapi aku tahu Dia hanya pura-pura terkejut.
"Kak Raya, sejak kapan ada di situ? Kok masuk kamar orang nggak ketuk pintu sih, Kak?!" Dia pura-pura panik.
"Sudah sejak tadi sih, sekitar 10 menit lah!" jawabku santai.
"Apa!! Jadi Kak Raya mendengar percakapan ku di telepon tadi?!" Aduhai adikku ini... ternyata Dia ada bakat untuk menjadi seorang artis. Lihatlah wajah paniknya yang dibuat-buat itu. Sungguh, Dia benar-benar layak mendapatkan piala Oscar. Bakat aktingnya sungguh luar biasa.
"Ya, dengar sih... emangnya itu siapa? Arga ya? Kok tumben kamu manggil Dia dengan sebutan Kakak? Biasanya juga cuma namanya doang?!" Aku bertanya pura-pura tidak tahu.
"Apaan sih, Kak? Biasa aja kali!! Ya nggak papa lah, kan lebih baik merubah kebiasaan yang tadinya buruk!" jawab Mira memberi alasan. Sebenarnya aku agak merasa aneh. Biasanya Mira akan sangat marah jika aku masuk ke dalam kamarnya, tapi ini Dia sengaja seolah memancing agar aku masuk ke dalam, dan melihat apa yang berserakan.
Dan aku semakin masuk ke dalam, lalu iseng-iseng aku coba melihat mengintip isi paper bag tersebut. Ada sepatu, tas, dompet, gaun, dan segala hal yang serba mahal harganya. Benar dugaanku, Dia memang ingin memancing agar aku masuk dan melihat buktinya. Dia tidak marah walaupun aku membuka dan mengobrak-abrik isi paper bag-nya. Ada terdapat banyak barang-barang bagus.
"Dari mana kamu dapatkan semua ini, Dek? Dibelikan sama kekasihmu itu? Kaya juga Dia... cuma tukang ojek online aja bisa beli barang-barang mahal sebanyak ini?!" Ucapku. Bukannya mau bermaksud menghina pekerjaan Arga yang hanya seorang tukang ojek online.
"Ya iyalah, Kak... kalau Dia memberikan semua itu, itu kan artinya Dia memang benar-benar cinta sama aku." Jawabnya memberi alasan. "Tidak seperti kekasih Kakak itu, katanya jabatannya Manager??? Tapi apa yang pernah Kakak dapat dari Dia?!" Ucapnya sombong sambil seolah-olah menyindir aku yang tak pernah mendapatkan apa pun.
"Cinta sih cinta, tapi nggak habis-habisan juga! Kayak gini kalau seperti ini sih namanya oon!!" Ucapku. Dan ku tahu Dia hendak marah, tetapi Dia menahannya.
"Tapi Dia tidak meminta apa pun darimu sebagai gantinya kan, Dek?? Jangan-jangan Dia meminta sesuatu sebagai ganti rugi semua ini??" Sindirku.
"Apaan sih, Kak?? Ya nggak lah... Kak Raya iri ya?? Kalau Kakak mau, Kakak boleh kok ambil sebagian barang-barang itu. Aku ikhlasin deh buat Kakak. Kasihan juga Kakak yang tak pernah dapat apa pun dari pacarnya ini!!" Jawabnya dengan sombong.
"Aku?" Tunjukku ke arah dadaku. "Barang-barang seperti ini? Hahaha..." Aku berpura-pura tertawa sambil menutup mulutku.
"Sorry, levelku bukan pengemis... kalau aku mau barang-barang seperti ini aku bisa kerja cari uang sendiri untuk membelinya!" Jawabku. Dia sombong, aku juga harus lebih sombong. Aku meliriknya yang terlihat geram sambil mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Aku tidak peduli, biar saja Dia marah. Toh Dia yang tadi menyulut api lebih dulu.
"Cuma aku ini heran, Dek... ini kamar atau gudang sih?? Kamu itu kan sudah gadis. Sudah bisa jatuh cinta, sudah pacar-pacaran. Masa bersihin kamar aja nggak bisa?? Kayak sarang tikus aja?!" Ledekku.
"Kak Raya apa-apaan sih? Masuk kamar orang tidak punya sopan santun. Bukannya baik-baik malah menghina yang punya kamar! Kalau Kakak tidak suka tidak usah di sini! Sana keluar!! Pergi ke kamar Kakak sendiri sana!!" Dia mengarahkan telunjuk jarinya ke arah pintu keluar.
Kalau ini baru aku percaya, kalau Dia tampaknya benar-benar marah, bukan sandiwara hingga Dia mengusirku. Atau mungkin juga sebelumnya Dia tidak menyangka kalau aku akan bereaksi seperti itu. Mungkin dalam tebakannya tadi Dia merasa bahwa aku akan iri melihat barang-barang branded miliknya.
Cih, najis... It's not my style... levelku bukan level pengemis.
Sambil berdendang aku melenggang menuju kamarku. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan otakku belakangan ini. Melihatnya marah seolah menjadi hiburan yang mengasyikkan untukku. Sudah cukup bersenang-senangnya. Esok hari aku masih butuh hiburan. Sekarang adalah saatnya mandi air hangat agar badan lebih fresh setelah seharian bekerja.
Sehabis mandi aku melihat ke dapur, karena suara Ibu yang sedari tadi tidak terdengar. Barangkali Ibu pergi dan tak ada makanan di rumah, aku harus menyiapkan sesuatu untuk jika Bapak pulang dari bengkel.
Ternyata di meja makan di dapur sudah ada tumis kangkung dan goreng pindang. Ada juga sambal terasi kesukaanku dan juga lalapan.
Aku pun urung membuat makanan, lalu hendak kembali ke kamar, belum ingin makan, apalagi sendirian. Lebih asyik kalau nanti saja makan barengan.
"Ibu ke mana, Dek?!" Aku mampir di kamarnya Mira untuk bertanya.
"Emangnya aku ngantongin Ibu?!" Jawabnya sengak. Mungkin masih terbawa suasana yang tadi.
"OMG... Ada yang masih marah rupanya...?" Aku tergelak lalu berlalu dari sana. Lebih baik aku istirahat saja di kamarku sendiri, baring-baring sambil membaca novel online kesayanganku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
SHandro Ajaa
bagus itu, jangan mau di remehkan hanya karena barang hasil ngemis
2023-10-31
5