"Iya, Bu, tidak apa-apa. Aku kan kakak, jadi aku harus bisa mengalah sama adik. Iya kan, Bu...?" Aku menoleh pada Ibu dengan senyum manis. Ibu melihatku dengan tatapan yang entah, tak bisa kuartikan. Mungkin Dia hanya sedang tak menyangka kalau aku mengalah dengan sukarela, tanpa merengek dan merajuk seperti sebelumnya, tetapi tak urung Dia tersenyum.
"Itu kan, Pak, orang Raya saja tidak apa-apa kok...!" Ibu nampak masih sewot dengan Bapak.
Biasanya aku mengalah dengan terpaksa, tapi tidak kali ini.
"Apa kalian tidak sadar jika ini akan melukai hati Raya?" geram Bapak.
"Eh...? Kenapa Raya jadi harus terluka, Pak...?" Tanyaku berlagak polos, tidak paham.
"Apa kamu beneran tidak apa-apa, Nduk...?" Tanya Bapak sekali lagi.
"Iya, Pak, beneran kok Raya tidak apa-apa!" Jika biasanya aku selalu mengatakan tidak apa-apa hanya untuk agar Bapak tidak marah dengan Ibu, kali ini rasanya berbeda; aku benar-benar merasa hatiku baik-baik saja.
"Bapak ini kenapa sih...?" Aku bertanya pada Bapak sambil tertawa, seolah aku merasa lucu dengan sikap Bapak. Membuat Bapak menatapku dengan wajah sendu. "Sudah tidak usah mikir tidak enak ya?? Beneran kok Raya tidak apa-apa, Pak!" Lanjutku. Tak lupa aku sertakan tawa kecil di bibirku.
"Tapi bukannya dulu Nak Rizwan itu pacar kamu, Nduk...?" Tanya Bapak. Mungkin Bapak merasa khawatir padaku. Tidak tahu saja Beliau, kalau hal ini sudah pernah, bahkan sering terjadi sebelumnya. Aku melirik ke arah Mira yang sepertinya tersenyum aneh.
"Memangnya Raya pernah bilang sama Bapak, kalau Raya pacaran sama Rizwan...?" Tanyaku, dan Bapak hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa kamu tidak pernah menyukai Nak Rizwan, Nduk?!" Tanya Bapak lagi; kali ini wajahnya sudah tak semerah tadi.
"Suka?? Ya suka sih, tapi suka yang seperti apa dulu? Rizwan kan atasan Raya di kantor, Pak. Kenapa harus tidak suka??"
"Tapi mungkin suka di sini, tidak sama seperti apa yang Bapak maksud. Kalau yang Bapak maksud itu suka antara pria dan wanita, itu tidak benar, Pak!" Tuturku, dan Bapak pun manggut-manggut, walaupun sepertinya Bapak tidak seratus persen percaya.
"Rizwan itu kan orangnya baik, Pak, jadi semua orang suka. Teman-teman Raya juga semua suka kok sama Rizwan...!" Lanjutku.
"Ah, salah, Pak Rizwan maksud saya. Ups... salah juga; harusnya mulai sekarang saya boleh memanggil dengan sebutan Adik Rizwan kan...?" Aku menoleh ke arah Rizwan sambil tergelak; aku benar-benar merasa lucu, bukan tawa yang kubuat-buat.
Aku bisa melihat wajah Rizwan yang tampak pias. Mungkin bukan reaksiku yang seperti ini yang Dia pikir akan Dia lihat sebelumnya. Apa Dia pikir aku akan menangis meraung-raung meminta Dia tak meninggalkan ku? (Bangun, Gaes, tidurmu kemiringan!)
Aku juga melihat wajah Mira yang tidak bersahabat. (Helloo... apa kamu berharap aku akan patah hati??)
"Kakak jangan tidak sopan ya...?" Bentak Mira. "Dia itu atasan Kakak. Tidak pantas Kakak memanggilnya Adik!" Ucap Mira marah sekali sepertinya. Aku juga melihat wajah Ibu yang tadinya bahagia kini berubah merah.
"Nduk... katakan pada Bapak... apa kau benar-benar baik-baik saja!" Bapak meraih tanganku. Aku merangkul Bapak sambil tersenyum.
"Bapak..." Aku memandang wajahnya yang mulai ada kerutan di sana-sini. "Bapak tenang saja. Mungkin pernah sih Raya suka sama Dik Rizwan, sama seperti yang Bapak maksud, tapi ya tidak terlalu-terlalu amat...!" Ucapku sambil melirik ke arah Rizwan. Eh, kenapa mukamu merah...? Kamu marah karena aku bukan termasuk gadis bucin? Ha ha ha...
"Lagi pula ya, Pak..., kalau diibaratkan game online, hati Raya ini punya banyak nyawa cadangan. Jadi kalau cuma hilang satu cowok saja, tidak akan membuat Raya GAME OVER." Jawabku sambil tersenyum.
Aku kembali melirik ke arah Mira dan Rizwan juga Ibu. Ada tiga rupa yang berbeda di sana: Mira yang tampak shock, seperti apa ya... entahlah aku bingung menterjemahkan rautnya kali ini; Rizwan yang malah seperti kecewa; dan Ibu yang terlihat geram.
"Ray...?" Panggil Bapak lemah. Tapi aku menanggapi nya dengan tersenyum
"Mira, kali ini kau benar-benar keterlaluan...!" Bapak menatap tajam ke arah Mira; giginya gemeletuk menahan marah.
"Bapak, ih, sudah dong..." Aku meraih tangan Bapak. Bapak tidak boleh marah; Bapak harus melihatku baik-baik saja.
"Orang Raya tidak apa-apa juga...!" Rajukku agar Bapak tidak terbawa emosi. "Lagian Bapak kayak tidak tahu adik saja," ucapku membuat Bapak mengerutkan dahinya. "Itu kan sudah biasa, Pak...? Kan dari dulu memang Adik sukanya barang bekasnya Raya...?" Aku langsung tergelak. Sumpah, kali ini bukan sandiwara yang kubuat-buat; aku benar-benar ingin tertawa dengan keras. Aku bahkan sampai menutup mulutku dengan dua tangan.
"Kakak...!!" Teriak Mira. Aku spontan menghentikan tawaku dan menoleh ke arahnya. Kulihat Dia sudah berdiri dengan tangan terkepal.
"Apa, Dek...?" Tanyaku bingung. "Kok Adik marah...? Memang Kakak salah apa...? Yang Kakak bilang benar kan...?" Tanyaku tanpa dosa.
"Bapak ingat tidak, Pak? Dulu waktu Raya dan Adik masih SD?, pernah kan Adik dibelikan tas bagus sama Ibu, dan Raya nurut kok cuma pakai tas bekasnya Adik. Lalu Bapak beliin tas juga buat Raya, Adik pingin juga kan?, padahal tas Adik yang dibelikan Ibu lebih bagus...!" Aku memberikan perumpamaan, sekaligus membuka memori lama.
Wajah Mira menjadi merah padam. Kenapa, kamu malu?, tapi Rizwan harus tahu tentangmu, walau cuma sedikit saja dari sekian banyak sifat burukmu.
Mira menghentakkan kakinya dan berlari meninggalkan kami. Lhahhh... kenapa Dia...? Kok malah pergi, harusnya kan Dia sedang menari bahagia karena sudah bisa berhasil kembali mengambil milikku?
(Kamu pikir aku akan mengalah seperti dulu? Tidak, wahai Adikku sayang. Aku punya hati, aku punya emosi, aku bukan sosok malaikat yang akan diam saja kalau disakiti. Sudah cukup aku mengalah selama ini. Sudah cukup statusku yang sebagai anak pertama dijadikan alasan atau senjata untuk memenangkan dirimu.)
Mulai sekarang apa pun yang kau gunakan untuk mengusikku, akan ku kembalikan padamu. Akan kupastikan walaupun kamu menang, tetap saja kamu akan merasa kalah. Ingatlah satu hal, Mira, semut pun akan menggigit jika dia terinjak.
Aku melihat punggung Mira yang perlahan menghilang,
Huh... baru segitu saja mentalmu. Kau mau menghancurkan ku? Lihat sekarang. Permainan ini kau yang memulainya, tapi aku yang mengakhirinya.
Dan sekarang, aku bisa katakan:
GAME OVER, YOU... LOSE
Dan sekarang menangislah... loser!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
thirta frs
game over
you lose
2023-11-15
3