Let's start the game

"Ada yang ingin aku bicarakan...!" ucap Rizwan ketika kami berpapasan di koridor.

"Ada apa ya, Pak...? Apa ada kesalahan dalam pekerjaan saya?" tanyaku. Bagaimana pun kedudukannya memang lebih tinggi di perusahaan ini, walaupun bukan atasan ku secara langsung.

"Bisa kita ketemu di jam makan siang? Di kantin seperti biasa!" tanya Rizwan sambil menatapku, seolah ada yang dicari di sana, entah apa itu.

"Emm... sebenarnya saya sudah ada janji makan siang bersama dengan teman-teman satu divisi, Pak!" Entah kenapa aku juga tidak hendak menundukkan wajahku.

"Baiklah kalau begitu," dia hendak berlalu, tak berusaha agar aku menerima ajakannya. "Dan..." tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. "Bisakah kau memanggilku seperti biasa? Jangan merubah kebiasaan. Sejujurnya, aku merasa kau sedang berusaha menghindariku!" ucap Rizwan.

"Ah, tidak kok, Pak. Masa sih saya seperti itu?? Tidak lah, saya biasa saja kok!" jawabku dengan tertawa. Aneh kan, dia yang mulai asyik dengan mainan baru, malah aku yang seolah menjadi tertuduh.

"Lalu kenapa kau merubah panggilan?" tanyanya.

"Oh... itu kan karena Pak Rizwan termasuk atasan saya, saya tidak enak didengar oleh teman-teman. Kesannya saya kok SKSD banget sama Pak Rizwan." Aku memberikan alasan. Ada yang berubah dari raut wajahnya, tak tahu itu apa.

 ***

"Wauw... Ibu masak besar ya...? Mau ada acara apa...?" Aku bertanya karena memang tak biasanya Ibu memasak dalam jumlah banyak, dan juga ada banyak sekali kue-kue yang sudah tertata rapi di piring.

"Sudah sana, jangan ganggu Ibu...!" Ibu seperti tak ingin menjawab rasa penasaranku. Aku pun bergegas pergi ke kamarku dan segera mandi. Aku memang sudah lelah dan ingin istirahat setelah seharian bekerja.

Berendam dengan air hangat benar-benar membuat pikiranku rileks. Dan anganku jadi melayang ke mana-mana. Kupandang sekeliling ruangan kamar mandiku. Terkadang aku merasa heran. Ayahku hanya bekerja sebagai tukang tambal ban, dan Ibu hanya bertanam sayur di kebun yang tak begitu luas. Tapi kehidupan kami seperti tak sama dengan tetangga yang lain, yang dengan pekerjaan yang lebih mentereng dari orang tuaku.

Kamar mandi ini, misalnya, memang tidak mewah, tapi fasilitas lengkap. Ada bak berendam yang besar, ada shower. Yang di tiap kamar dalam rumah ini memilikinya juga. Begitu pun dengan isi rumah ini; tidak ada satu pun barang mewah, tapi perabotan rumah ini bisa dibilang lengkap, bahkan ada peralatan yang tidak dimiliki oleh para tetangga, kamipun memilikinya.

Pun juga dengan kebutuhan kami sehari-hari; sejak aku masih sekolah dulu, tiap kali ada kebutuhan apa pun, Ayah selalu bisa mencukupinya. Walaupun Ayah atau Ibu bilang, "iya, nanti," tapi pada akhirnya selalu ada.

Padahal teman-temanku saja yang orang tuanya punya usaha yang lebih bagus, kadang bayaran sekolahnya menunggak. Yang sering jadi pertanyaan dalam hatiku adalah, dari mana Ayah dan Ibu mendapatkan uang untuk semua itu.

Ah... sudahlah, tiap kali mengingat hal itu membuat jiwa kepoku semakin meronta-ronta.

Oh iya, aku ingat. Tadi siang Rizwan mengirim pesan lewat aplikasi hijaunya, katanya dia meminta izin untuk nanti malam akan datang ke rumah ini. Tetapi sebelumnya dia juga meminta maaf kalau nanti menyakitiku. Apa ini ada kaitannya dengan Ibu yang menyiapkan banyak hidangan tadi ya?? Ada senyum di sudut bibirku. Apa mereka, Mira dan Rizwan, akan bergerak hari ini??

"It's ok... No problem. Let's start the game!!!!" Senyum manisku semakin merekah.

"Kau yang sudah memulainya sejak awal, Mira. Bukan aku membencimu, tapi sesekali kau membutuhkan terapi mental." Ucapku dalam hati.

Oh iya, aku juga hampir saja lupa, bagaimana kabarnya Arga ya...? Apa dia dan Mira memang sudah putus? Memang belakangan ini dia juga sudah jarang mengantar jemput Mira sih, dan terakhir aku ketemu dengannya adalah dua hari yang lalu ketika aku akan mengantar berkas ke ruangan Pak Septi, CEO di perusahaan tempatku bekerja itu, atas perintah dari Kepala Manager di divisiku.

Flashback Arga

"Lho... Arga...!" Aku terkejut waktu hendak mengetuk pintu. Gimana gak kaget coba. Aku baru saja mengangkat tangan mau mengetuk pintu, terus tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dari dalam. Untung saja gak kegetok jidatnya dia.

"Lho... eh... Raya...? Kamu ngapain di sini...?" Dia bertanya dengan gugup, entah mungkin juga kaget karena aku tiba-tiba muncul begitu dia membuka pintu.

Harusnya aku yang tanya, "Ngapain kamu di sini...?" Ucapku balik bertanya.

"Oh, itu... anu... apa...? Itu... anu... aku...!"

"Itu anu itu anu apa...?" Tanyaku tak sabar. Kenapa dia ngomong nggak jelas?

"Ah... itu... aku nganter pesanan GoFood punya Tuan Septi... iya, itu benar, mengantar pesanan GoFood punya Tuan Septi...!" Jawabnya masih seperti orang gagap, atau mungkin gugup. Lalu kulihat dia bernapas lega sambil menggaruk tengkuknya.

"Oh...?" Aku manggut-manggut karena teringat dia memang seorang driver ojek online.

Kuperhatikan dia dari atas, kutelisik penampilannya yang aneh. Penampilannya rapi, walaupun dia memang selalu rapi. Tapi rapinya kali ini seperti tak biasa, entahlah menurutku dia aneh saja. Celana kain, kemeja lengan panjang, pakai sabuk, rambut klimis, dan jaket ojol yang disampirkan di lengan.

Kenapa jaketnya disampirkan di lengan? Kenapa tidak dipakai? Apa saat mengantar pesanan makanan pada Pak Septi sempat melepas jaketnya??

"Raya, apa kabar...?;" Dia lalu bertanya.

"Aku baik, sangat baik!" Jawabku. "Kamu sendiri??" Aku balik bertanya.

"Ah, aku juga baik...!" Dia tersenyum manis sekali. Entah apa yang membuatnya terlihat begitu bahagia. Mungkin karena orderannya lancar, yang kutahu Pak Septi memang termasuk orang yang murah hati, jadi bisa saja dia baru saja mendapatkan tips yang banyak, atau mungkin mendapatkan bintang lima.

"Ya sudah, aku mau menghadap Pak Septi...!" Putusku. Aku tak ingin berlama-lama, takut kena semprot dari bos yang super tegas itu, dalam tanda kutip tegas. Tegas lho ya? Bukan galak.

"Ah, iya, silahkan...!" Ucapnya sambil membukakan pintu untukku.

~"Apaan sih, nih anak?!"~ Aku mendelik menatapnya, tapi tak urung aku hendak masuk juga.

"Ah... Raya...!" Serunya. Padahal aku baru saja maju dua langkah dengan tangan kanan yang hendak mendorong pintu agar lebih lebar terbuka, dan terpaksa harus berhenti mendengar seruannya. Aku menoleh tanpa suara.

"Itu... boleh tidak kalau nanti kapan-kapan kita bertemu...?" Aku shock, melongo. Aku menoleh gugup ke arah Pak Septi yang sedang menungguku. Semoga saja beliau tidak marah, bagaimanapun ini bukan salahku. Ini salah Arga si tukang ojol. Aku menggerutu kesal ke arahnya.

"Ah, maaf, Tuan Septi...!" Permisi, terima kasih pesanan hari ini. Mungkin dia tahu aku sedang menahan marah, atau mungkin juga dia menyadari tatapan tajam Pak Septi.

Terpopuler

Comments

Misaza Sumiati

Misaza Sumiati

jangan 2 Arga nyamar jadi tukang ojek

2025-03-04

0

thirta frs

thirta frs

waah... arga ini kok patut di curigai yaa.

2023-11-15

0

Grass Game

Grass Game

jangan jangan aslinya arga itu yg punya perusahaan ya ? atau anaknya gitu , terus pak septi itu cuma orang kepercayaan, gitu kah ??

2023-11-03

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!