"Ish... Kamu ini!" Maira melemparkan tisu yang sudah berubah menjadi bulatan bola kertas. Dia tampaknya benar-benar sewot.
"Apa... Memangnya aku salah? Kamu berdoa dan aku mengerti, 'Aamiin' kan. Itu kan bagus. Karena sesungguhnya kita tidak tahu dari mulut yang mana doa dikabulkan Tuhan." Ucapku sambil tergerak, tapi mata tetap fokus pada komputer.
"Aku ini mau tanya serius, Marimar!" Serunya dengan suara menahan geram.
"Ya, tanya saja, Pulgoso. Aku dengar kok." Jawabku.
PLETAK! "Auws..." Aku meringis sambil memegang kepalaku yang mungkin sudah benjol. Sontak saja aku menoleh padanya. Kali ini bukan lagi bulatan tisu, tapi bolpoin yang melayang tepat mengenai kepala bagian belakangku.
"Hei... Kau mau membuatku gegar otak?!" Aku sudah berkacak pinggang.
"Ha ha ha ha..." Serentak teman satu divisiku tertawa terbahak-bahak. "Hebat loe, Ra... Jempol kita semua deh buat loe..." Seru Edwin. Bahkan sekarang mereka bertos ria. Bangga sekali mereka bisa berhasil membuatku berdiri dari dudukku di depan komputer.
Sial, aku kalah kali ini. Aku mengentakkan kaki lalu kembali ke tempat dudukku. Dengan bibir mengerucut.
"Makanya, Ray... Serius itu serius, tapi agak santai lah dikit, jangan tegang. Woles gitu lho, yang penting jangan meleng juga..." Seru Mas Bejo.
Entah kenapa aku heran dengan teman satu timku yang satu ini. Bisa dibilang wajahnya mirip bule. Putih bersih, warna matanya juga tidak hitam seperti kebanyakan orang Indonesia. Rambutnya juga agak pirang. Kalau temanku bilang aku agak mirip dengan dia sih, padahal sama sekali tidak mirip.
Kembali ke laptop. Yang aku heran adalah kok namanya Bejo, yang kedengarannya agak ndeso. Mau tidak percaya, tapi di name tag-nya memang seperti itu.
"Ray... Aku ini tadi serius, ada yang mau aku tanyakan sama kamu. Tapi kamu jangan marah ya...?" Seru Maira lagi.
"Ish... Belum-belum kamu sudah mau bikin aku marah..." Ucapku.
"Ya, itu makanya. Sebelumnya aku minta untuk kamu jangan marah. Ya. Ya... Soalnya aku benar-benar penasaran ini. Bisa-bisa aku sampai rumah gak akan bisa tidur kalau kamu gak kasih jawaban ini nanti."
"Ya sudah, iya... Tanya saja, aku gak akan marah," Sahutku. Toh, bau-baunya aku kayak sudah tahu apa yang mau dia tanyakan. Apalagi memangnya? Pasti tak jauh dari Mira yang jadi sering mengantar aku makan siang.
"Emm, gini, Ray... Suer, tapi kamu jangan marah?!" Aku diam mendengar apa yang hendak ditanyakannya. "Emm, sekarang ini hubungan kamu dengan Pak Rizwan kayak gimana sih...?" Dengan suara yang ragu, akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Tuh kan, benar tebakanku tadi. Pasti seputar itu juga yang bakal dia tanyakan. Aku bilang juga apa. Entah apakah aku ini punya indera keenam? Kok bisa-bisanya aku ini peka sekali. Pasti setelah ini dia akan bicara soal adikku yang sekarang jadi dekat dengan Rizwan.
"Ya, gak gimana-gimana. Memangnya mau gimana sih...?" Aku berpura-pura cuek seolah tidak tahu apa maksudnya.
"Emm... Itu... Anu... Tapi beneran ya, kamu jangan marah...?" Ucap Maira terbata-bata.
"Iya iya, aku tidak akan marah. Apaan sih? Am em, itu ona anu... Gak jelas tahu!" Omel Raya sambil berpura-pura merengut kesal. Dalam hatinya dia tertawa, melihat sikap Maira yang seakan takut untuk menyinggung perasaanku.
"Emm, sebenarnya..." Ucapan Maira terhenti. Aku mendongak menatapnya karena sepertinya dia masih ragu untuk bicara.
"Apa?!" Aku meyakinkannya untuk bicara.
"Ini ada hubungannya dengan adikmu itu." Ucapan itu akhirnya keluar juga dari mulutnya. "Apa kau tidak mencurigai adikmu yang sering datang ke sini? Sumpah, aku merasa aneh banget, kayak merasa itu bukan dia saja!" Pungkas Maira.
"Maksudmu itu apa...? Jangan muter-muter kalau ngomong, pusing tahu mendengarnya!" Akhirnya aku memutar kursiku agar menghadapnya.
"Ra... Loe bisa ngomong kagak sih...? Kalau gak, biar kita-kita saja yang ngomong!" Seru Windy menyela pembicaraan kami. Dan diangguki oleh kepala Mas Bejo dan Edwin.
"Sebenarnya kita-kita curiga kalau adik loe itu berusaha merebut pacar loe lagi, Ray!" Seru Windy yang sudah tidak sabar menunggu penjelasan Maira padaku.
"Oh..." Ucapku lalu membalik kursiku kembali menghadap ke arah komputer.
"Oh...?!!!" Seru mereka bersamaan. Dan kulirik mereka yang saling pandang satu sama lain.
"Demi apa, Ray...? Cuma 'Oh' tanggapan kamu...?" Sentak Maira. Aku pun mengangkat bahuku karena sudah kembali fokus dengan data-data di depanku.
"Ya, jangan cuma 'Oh' dong, Ray!" Windy ikut nyeletuk.
"Lha, terus... Aku harus lompat salto sambil bilang 'Wauuw' gitu...?" Aku tergelak merasa lucu dengan tingkah mereka.
"Ya, minimal harus kelihatan kaget gitu lho...?" Sahut Edwin.
"Yeee... Orang aku gak kaget kok disuruh kaget...? Gak sekalian saja kalian suruh aku jantunganku copot...?" Jawabku.
"Maksud loe...? Loe sudah tahu gitu, Ray...?" Tanya Maira yang masih tidak percaya.
"Iya!" Jawabku cuek.
"Ai bilang juga apa...? Pasti Raya itu sudah mencium aroma sesuatu, yu yu aja yang gak percaya sama ai!" Sahut Mas Bejo.
"Ish, gak seru amat sih loe, Ray!" Maira malah yang cemberut merasa gak terima.
"Emang bener, Ray... Loe sudah ngerasa kalau adik loe itu ada apa-apa sama Pak Rizwan...?" Edwin ikut nimbrung.
"Ya, tahu lah, orang kelihatan jelas kok!" Jawabku cuek.
"Kok loe biarin aja adik loe kayak gitu, Ray...?" Tanya Maira lagi. "Kebiasaan tahu, Ray... Kok demen banget sih dia itu merebut cowok loe...?" Malah dia yang geram. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Emang pernah kayak gitu juga...?" Tanya Windy kepo.
"Ya, bukan cuma pernah, sering malah!" Aku cukup diam. Keterangan demi keterangan meluncur bebas dari mulut Maira, dia yang paling tahu sifat Mira. Karena dulu Maira adalah teman sekolahku sejak SMA sampai kuliah.
"Ya, kamu gak boleh diam gitu aja dong, Ray!" Seru Windy, setelah mendengar semua cerita Maira.
"Ya, terus...? Kalian mau lihat aku nangis tersedu-sedu atau meraung-raung di pojokan gitu...? Atau kalian pingin lihat aku jambak-jambakan sama Mira? Gitu?" But it's not my style. Sorry, sudah bikin kalian kecewa!" Ucapku sambil tetap fokus pada layar. Sesekali kulirik mereka yang mukanya merah menahan geram pada Mira. Aku salut dengan mereka semua, aku yang ditikung tapi mereka yang ikut merasakan. Sungguh kesetiaan kawanan yang luar biasa.
"Tapi tetep aja, emangnya kamu gak sakit hati, Ray...? Itu kan artinya Pak Rizwan sudah selingkuh, Ray...?" Ucap Windy.
"Ngapain sakit hati...? Kurang kerjaan. Justru dengan begini aku malah tahu bagaimana sifat Rizwan kan, artinya dia bukan orang yang layak untuk kupertahankan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments
yuli fir
mantep nih peribahasa nya
2024-11-09
1
thirta frs
betul , yang gk layak di pertahankan, lepas aja . jangan mau makan hati
2023-11-15
2