"Raya, kamu itu apa-apaan sih?! " Suara Ibu mulai turun, menginterupsi. "Adikmu itu cuma minta nomornya, untuk minta pekerjaan bukan ingin merebut kekasihmu itu. Kenapa tidak bisa kau berikan saja?!" Ibu memulai omelannya, menyuarakan pembelaan terhadap Maya, tidak perduli apakah itu benar ataukah salah.
"Ya, tidak bisa seperti itu toh, Bu... Tidak seperti itu konsepnya. Membagikan nomor pada orang lain harus ada izin dari pemiliknya. Kalau tidak ada izin dari pemilik, itu namanya lancang, Bu...!" Bapak menengahi.
"Terus saja, Pak! Bela saja terus si Raya itu! Bapak memang lebih memilih menyayangi Raya daripada Mira, Bapak itu pilih kasih! Apa Bapak tidak sadar?!" Ucap Ibu malah membentak Bapak. Rupanya Ibu juga tidak sadar bahwa selama ini dia lah yang lebih pilih kasih, kasih sayangnya antara aku dan Mira.
Bapak memang sangat menyayangiku, tapi Bapak juga menyayangi Mira.
Hanya saja karena terkadang Mira suka berbuat jahil padaku, jadi Bapak sering merasa kesal. Tapi tak pernah sekalipun Bapak membedakan kasih sayang antara aku dan Mira. Apapun yang Bapak berikan padaku, Bapak memberikannya juga pada Mira, yang tentu saja harus sesuai dengan apa yang kami butuhkan, bukan hanya sekedar kami inginkan.
"Sudah, sudah... Tidak usah diributkan lagi. Nanti aku kirimkan nomornya ke WA kamu..." Aku memutuskan untuk menyudahi perdebatan itu. Tidak baik untuk kesehatan Ayahku jika itu terus terjadi. Kulihat seringai tipis di bibirnya, kala kalimat mengalah terucap dari mulutku. Dia terlihat sangat bahagia, ah... Bukan terlihat bahagia, tapi terlihat merasa menang.
"Kamu tidak jadi melamar kerja di tempat yang sama dengan Kakak, Dek...?" Tanyaku. Ini sudah hari ketiga sejak dia meminta nomor Rizwan, tapi aku belum juga melihatnya menampakkan batang hidung di perusahaan tempatku bekerja.
"Tidak, Kak..." Jawabnya singkat.
"Kenapa...?" Tanyaku lagi, dan dia hanya mengangkat bahu saja sebagai jawaban.
"Apa Rizwan mengatakan kalau tidak ada lowongan? Atau memang kamu belum membuat surat lamaran...?" Tanyaku lagi, dan lagi-lagi hanya dijawab dengan anggukan dua bahu.
"Tapi kamu jadi menghubungi Rizwan kan, setelah minta nomor waktu itu...?" Kakak juga tidak mungkin memberi nomor yang salah..." Ucapku. Yang entah kenapa rasanya aku sekarang malas memanggil Rizwan dengan embel-embel Mas. Mungkin karena aku merasa sebentar lagi dia akan menjadi orang asing bagiku.
"Aku sudah menghubungi Kak Rizwan, kok..." Sahutnya cuek.
"Lalu...?" Aku menatapnya dengan penasaran. Tak mungkin rasanya kalau Rizwan bilang tidak ada lowongan kerja di sana. Karena di kantorku itu memang sedang butuh karyawan di bidang marketing, dan itu sangat cocok dengan bidang yang diambil Mira di kampusnya.
"Aku meminta nomor Kak Rizwan bukan untuk mencari pekerjaan..." Jawab Mira akhirnya.
"Lalu...?" Aku berpura-pura penasaran ingin tahu.
"Itu rahasia... Belum waktunya Kak Raya tahu..." Jawabnya seolah menyimpan misteri.
"Ooo..." Aku hanya mengangkat bahu dan mencebik. Seolah tak tahu apapun. Padahal itu sangat mudah kutebak, karena dulu pun dia pernah melakukan hal yang sama saat aku punya seorang teman dekat bernama Agam.
Dia pun melakukan hal yang sama tetapi dengan trik yang berbeda.
Begitu pun waktu ada senior kampus bernama Reno yang mendekatiku, dan awalnya sering menitip pesan pada Mira. Jadi aku sudah hafal dengan sifat adikku itu. Sorry, Mira, trikmu sudah terbaca, kali ini kau tak kan bisa membuatku merasa kalah.
Aku pernah mendengar satu pepatah, mengalahlah sampai tak ada yang bisa mengalahkanmu, tapi kali ini aku justru akan melihatnya merasa kalah.
Aku tak kan membiarkannya merasa menang hanya dengan bisa mengalihkan perhatian Rizwan dariku.
"Selamat pagi, Pak Rizwan..." Sapaku pada Rizwan, pagi itu ketika kami berpapasan dengannya di persimpangan koridor. Jabatannya di kantor ini lebih tinggi dariku, jadi aku harus menghormatinya kan...?
"Eh... Raya...? Apa-apaan sih kamu ini, manggil pakai sebutan Pak segala...?" Dia terlihat canggung berbicara denganku. Padahal aku mah biasa saja.
"Ini kan di lingkungan tempat kerja, Pak..., jadi harus sopan dong...?" Aku memberikan alasan dengan sedikit bergurau. Aku melihat yang berubah jadi entahlah... Aku tak bisa menjabarkannya. Seperti ada perasaan canggung, atau perasaan tak enak padaku.
"Mira, apa kabarnya, Ray...?" Pertanyaan basa-basi dia lontarkan untuk memecah suasana canggung.
"Lhooo... Bukankah Pak Rizwan tiap malam teleponan sama dia ya...?" Kulontarkan pertanyaan yang mungkin baginya bagai bom yang meledak, terbukti dari warna mukanya yang berubah pucat.
"Eh... Atau mungkin berarti itu bukan Pak Rizwan ya... Yang tiap malam teleponan sama Mira... Maaf, salah..." Ucapku memperbaiki suasana. Aku tak tega jika harus membuatnya salah tingkah sekarang, masih belum waktunya.
Manusia yang tidak setia, alias plin-plan hati ini juga harus ikut merasa kalah, tapi tentu saja bukan sekarang.
Entah kenapa sejak Mira berubah jadi sering usil padaku, aku jadi punya kepekaan yang sangat tinggi. Tentang apapun yang terjadi di sekitarku. Bahkan kadang aku merasa bisa membaca isi hati orang yang berhadapan dan berniat buruk padaku.
Terlebih yang kali ini benar-benar tampak nyata. Mira seolah secara terang-terangan ingin menjatuhkanku. Tapi yang kulihat, mental ku lah yang ingin dijatuhkannya.
Beberapa malam ini bahkan aku mendengar Mira bertelepon dengan suara yang keras, dan seperti disengaja agar aku bisa mendengarnya. Dan yang jelas itu pasti bukan dengan Arga. Walaupun hanya sebutan Kak tanpa nama yang kudengar, aku yakin itu adalah Rizwan.
"Kau ingin melihat aku cemburu atau patah hati...? Maaf, kau salah orang..." Batinku.
"Raya, aku harus segera ke tempatku, kamu juga kan...?" Pungkas Rizwan akhirnya. Mungkin dia sedang merasa seperti maling kepergok.
"Tentu saja. Selamat bekerja, Pak!!" Jawabku, lalu menunduk hormat. Dan dia pun segera berlalu. Senyum manis, ah bukan, tapi seringai sinis terukir rapi di sudut bibirku. Tunggu saja tanggal mainnya. Tanggal main yang sesungguhnya bukan aku yang menentukan, tapi kalian, Rizwan dan Mira. Kapanpun kalian bergerak berniat untuk menghancurkan hatiku, di hari itu jugalah yang akan menjadi tanggal kehancuran kalian.
"Ray..." Sentak Mira yang kesal karena panggilannya tak kuhiraukan.
"Apa sih... Bicara saja, aku dengar kok..." Sahutku dengan mata tetap fokus pada komputer canggih di depanku.
"Ish... Kamu ini, bisa tidak sih kerja itu jangan terlalu amat? Agak santai saja kali..." Ucapnya memprotesku.
"No... No... No..." Yang namanya kerja ya harus fokus, karena yang dibutuhkan oleh perusahaan ini adalah keseriusan kita. Perusahaan tidak menggaji karyawan untuk bersantai ala di pantai..." Jawabku logis.
"Iya deh iya... Yang karyawan teladan... Aku sumpahin deh suatu saat kamu jadi Nyonya Boss." Sewotnya karena rencananya untuk mengajak ngerumpi gagal.
"Aamiin..." Ucapku seraya mengusapkan dua telapak tangan di wajah. Membuatnya semakin sewot. Terus, salahku di mana coba?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments