rencana Mira

Aku terbangun ketika hari sudah menjelang magrib. Ternyata tanpa aku sadari aku tertidur dalam perasaan kesal. Kesal karena tingkah adikku Mira itu, yang semakin hari semakin keterlaluan. Tapi tak apa, biar saja dia bersenang-senang. Aku tak akan mempermasalahkannya. Justru aku harus terlihat tidak perduli. Karena dengan begitu itu akan membuatnya kesal. Seperti mukanya waktu masih di kantin perusahaan tadi. Aku senang sekali melihat wajah kesalnya, Mira merasa kesal dengan ketidakpedulianku terhadap caranya mendekati Kekasihku.

"Tok tok tok…!" Suara pintu diketuk dari luar. “Raya, ayo makan… ini sudah malam…!" Itu suara Bapakku. Bapak memang yang paling perhatian terhadapku. Walaupun Ibu juga tidak bersikap buruk, tetapi ku akui bahwa kasih sayang Ibu terhadapku dan terhadap Mira jauh sekali berbeda. Ibu selalu saja menekankan bahwa aku harus mengalah pada Mira.

Dulu aku memang selalu mengalah karena dulu aku sangat menyayangi Mira, bahkan kalau boleh jujur sampai hari ini pun, sampai saat ini pun, aku masih tetap menyayangi Mira. Dia adikku satu-satunya, hanya saja karena sifatnya yang berubah semenjak kami sama-sama duduk di bangku SMA, membuatku terkadang merasa kesal padanya. Karena semakin hari sifatnya semakin menyebalkan.

“Iya Pak… sebentar lagi Raya keluar, Raya mau bersih-bersih dulu!” jawabku setelah membuka pintu, dan mendapati Bapak masih berdiri di sana.

“Kamu ketiduran ya???” tanya Bapak.

“Hehehe iya Pak…” jawabku sambil meringis menunjukkan deretan gigi dan juga menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

“Maaf ya Pak. Maaf Raya beneran capek hari ini, tadi karena pekerjaan hari ini lebih banyak dari biasanya.” jawabku memberi alasan. Aku takkan mengatakan pada Bapak jika aku merasa capek bukan karena pekerjaanku. Tapi aku sebenarnya aku merasa lelah, dengan tingkah Mak Mira yang selalu saja menggangguku. Aku tidak ingin Bapak merasa tertekan. Aku tidak ingin Bapak juga merasa kesal terhadap adikku itu.

“Kamu itu sudah berapa kali Bapak bilangin? Kalau menjelang magrib itu jangan tidur, anak gadis kok jam segini tidur…!” ucap Bapak sambil mengelus kepala aku.

“Ya sudah, cepat mandi! Setelah itu langsung makan! Habis makan baru istirahat lagi!” lanjut Bapak.

“Iya Pak… Raya mandi dulu ya, habis itu Raya langsung ke sana, Bapak makan duluan saja!” jawabku.

“Tidak… Bapak nunggu kamu saja, cepetan…!” kata Bapak lagi, yang aku balas dengan anggukan kepala dan senyum di bibir, senyum yang manis untuk Bapakku tercinta.

Kemudian Bapak bergegas meninggalkan kamarku. Sepeninggalan nya Bapak dari depan kamarku, aku bergegas mandi. Aku bersihkan tubuhku, kuguyur kepalaku dengan air hangat, agar hilang segala resah dan lelahku. Mulai saat ini aku sudah bertekad aku tak akan membiarkan kepalaku dan hatiku dipenuhi dengan kekesalan hanya karena tingkah Mira. Aku tak membiarkan otakku di kuasai amarah, yang hanya akan membuatnya merasa menang. Aku akan membiarkannya bertingkah seperti apapun, yang penting itu masih bisa ditolerir.

Sehabis mandi aku mengambil pakaianku yang tersimpan di lemari, ku ambil gamis sederhana dan kerudung kecil, yang biasa aku gunakan sehari-hari kalau aku ada di rumah. Tak lupa kuberikan pelembab pada wajahku, hanya itu tanpa memoleskan bedak ataupun lipstik karena aku memang tidak terlalu menyukainya. Sesampai di meja makan, di sana sudah ada Bapak, Ibu dan juga Mira.

“Kak Raya lama banget sih? Aku sudah lapar tahu nunggu dari tadi!” suara Mira menggerutu, aku tarik kursi agak ke belakang lalu aku duduk di hadapan mereka, ku ambil piring lalu ku tuang secentong nasi.

“Maaf Dek, kakak ketiduran tadi…!” ucapku seolah tak pernah terjadi apapun tadi di antara kami.

Mira memicingkan matanya, mungkin bukan jawaban seperti itu yang diharapnya tadi.

“Ayo mulai makan Pak, Bu,!” ucapku sambil mengambilkan lauk untuk kuletakkan di piring Bapak, lalu juga mengambilkannya untuk Ibu.

“Terima kasih Nduk…?!" ucap Bapak.

"Is… Bapak ini, kalau tadi Bapak minta diambilkan lauk, Mira kan juga bisa, kenapa harus nunggu diambilkan sama Kak Raya baru makan…?!" Mira dengan nada protesnya kembali bersuara.

"Sudah, ayo kita makan, tidak boleh menggerutu di depan makanan, tidak berkah, hilang rezekinya,!" ucap Bapak melerai.

“Kalau kamu terlalu lelah Kenapa tidak ambil libur saja Nduk…? Bukankah selama inikan kamu tidak pernah ambil cuti…?!” saran Bapak di sela-sela obrolan kami sambil makan.

"Tidak terlalu lelah juga kok Pak…!" jawabku. Kulihat wajah Mira yang tersenyum-senyum sinis padaku, pasti dia berpikir bahwa aku merasa lelah karena tingkahnya tadi, dan walaupun kalau untuk beberapa saat lalu, itu memang benar, tapi saat ini tidak. Karena mulai saat ini aku memang sudah bertekad untuk melupakan semua tingkah Mira.

“Kakak… di tempat Kakak ada lowongan kerja tidak…?” Mira tiba-tiba saja bertanya dengan nada yang sopan terhadapku. Sungguh itu sesuatu keajaiban. Tidak seperti biasanya dia berbicara itu.

“Kamu mau kerja Dek??” tanya aku sambil menatap ke arahnya.

“Iya Kak… Mira niatnya seperti itu… kan Mira sudah selesai kuliahnya. Tapi Mira maunya pingin bekerja di tempat Kakak, biar Mira bisa dekat dengan Kakak!” jawab Mira yang entah kenapa aku merasakan ada niat terselubung.

“Kalau untuk sekarang sih Kakak tidak tahu Dek, coba nanti Kakak tanyakan pada pihak HRD…” jawabku.

“Kenapa harus tanya?? Kan Kakak bisa saja langsung merekomendasikan nama aku?!” Mira seolah kurang puas dengan apa yang aku ucapkan barusan.

“Ya tidak bisa Dek, Kakak kan di sana hanya karyawan biasa…!” jawabku memberi penjelasan.

“Kalau aku tanya sama Kak Riswan gimana?? Dia kan jadi Manager di sana?? Pasti dia bisa memasukkan aku untuk bekerja di sana?? Kakak minta tolong dong sama Kak Riswan!” Mira tampak sekali bersemangat menyebut nama kekasihku itu.

“Iya, besok Kakak tanyakan!” jawabku agar kami menyudahi pembicaraan itu. Tapi tampaknya bagi Mira pembicaraan ini belum selesai.

“Kalau sekarang saja Kakak tanya bagaimana?? Lewat WA kan bisa? Jadi kalau misalnya sekarang Kak Riswan bisa memberikan rekomendasi, besok aku bisa langsung pergi ke sana. Atau bagaimana kalau aku minta nomornya Kak Riswan saja?” ucap Mira yang sebenarnya tidak terlalu membuatku terkejut.

“Kakak harus minta izin sama Kak Riswan dulu untuk memberikan nomornya padamu Mira, tidak bisa begitu saja langsung Kakak berikan…!” ucapku dengan menahan kesal.

“Kak, aku itu kan adiknya kakak?? Memangnya Kak Riswan akan keberatan jika aku yang menyimpan nomornya…? Ibu lihat itu Kak Raya… aku kan hanya minta nomor untuk meminta pekerjaan Bu…? Bukan ingin yang lain…?!" Mira menggoyang-goyangkan tangan Ibuku pertanda meminta dukungan.

Aku hanya bisa memijat pelipisku, mendapatkan tatapan tajam dari Ibu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!