indera ke enam ??

Sore yang sangat indah, suasana sangat cerah. Aku duduk di bangku kecil di halaman belakang rumah. Kuusap peluhku yang membasahi kening. Lelah sehabis menyiram tanaman sayur dan menyiangi rumput di kebun kecil milik Ibu, hanya sepetak kecil. Tapi cukup untuk kami tak perlu membeli sayur tiap hari.

Ada beraneka tanaman sayur di sana: bayam, kangkung, sawi, tumpang tindih dengan cabai dan tomat. Di atasnya ada labu bergelantungan yang disangga dengan tiang bambu oleh Bapak.

Kali sekiranya kebanyakan untuk dimasak sendiri. Terkadang juga diikat kecil-kecil oleh Ibu, untuk dijual ke tukang sayur keliling.

"Kakak..." suara manja adikku, Mira, menyapa telinga.

"Tit tut tit tut ti tut..." alarm di otakku seolah berbunyi. Aku seperti merasa akan mendengar berita kurang baik. Tanpa menoleh, aku bisa mendengar langkah kaki Mira yang kecil dan riang, semakin dekat dan semakin dekat, lalu tanpa permisi duduk di sampingku.

"Kak Raya...!" serunya lagi dengan manja karena aku belum meresponnya. Aku menghela napas pelan, kemudian kuarahkan pandanganku padanya.

"Ada apa?" tanyaku.

"Tidak ada apa-apa, Kak. Aku kan cuma ingin berbincang saja dengan Kakak. Kalau tidak hari libur begini kan Kakak nggak pernah di rumah." Jawabnya. Itu memang betul. Kami tidak pernah bertemu kalau tidak hari libur. Tapi entahlah, aku seperti merasa ada tujuan dia mendekatiku.

"Ya sudah, bilang aja ada apa? Tumben-tumbenan kamu mau ngobrol sama Kakak? Biasanya juga lebih asyik dengan HP-mu itu, Dek?" Aku mencoba bersikap biasa-biasa saja.

"Ini kan hari libur, Kak? Kok tadi Kakak nggak pergi jalan-jalan dengan Kak Riswan? Biasanya kan kalau hari libur Kak Riswan datang ke sini untuk jemput Kakak?" Tanya Mira lagi. Ya.

"Ya nggak apa-apa sih, Dek. Kakak cuma lagi malas untuk jalan aja." Bohongku. Sebenarnya adalah karena sekarang Riswan sudah tak lagi sesering dulu menghubungiku, dan bahkan dia selalu beralasan sibuk di rumahnya atau ada acara apa dengan temannya. Dan aku pun tidak peduli itu, karena aku sudah merasakan adanya sinyal-sinyal bahwa hubungan kami akan berakhir.

Tak masalah sih bagiku, karena sepertinya hal itu tidak menimbulkan efek buruk di hatiku. Entah kenapa aku merasa sama sekali tidak keberatan jika aku harus putus hubungan dengan Riswan.

"Sebenarnya hubungan Kakak dengan Kak Riswan itu bagaimana sih? Kok tidak seperti orang pacaran biasanya?" Tanya Mira.

"Ya nggak gimana-gimana, Dek. Mau gimana? Biasa aja sih, sama aja kayak dulu. Cuma Kakak memang lagi malas aja kalau untuk keluar-keluar!" Jawabku berbohong. Aku ingin memastikan apa yang ingin dibicarakannya.

"Tapi nggak ada masalah kan, Kak?" Tanya Mira penasaran.

"Nggak ada sih. Masalah apa memangnya?" Tanyaku.

"Biasanya sih, Kak, kalau laki-laki sudah jarang menunjukkan kepeduliannya atau sudah mulai menjauh, itu... mungkin saja dia punya gebetan lain."

"Masa sih seperti itu?" Tanyaku. "Tapi kayaknya nggak mungkin sih Riswan punya gebetan baru, menurut Kakak dia tipe lelaki setia." Aku mencoba membela Riswan.

"Ish, Kakak kan nggak tahu gimana dia kalau lagi nggak sama Kakak...?" Mira malah mencoba memprovokasi agar aku mencurigai Riswan. Sungguh lucu menurutku.

"Eh, Kak... kalau misalnya... misal lo ini ya...? Ternyata Kak Riswan itu selingkuh gimana...?" Tanya Mira seolah mencoba memancing, atau entah dia ingin menyelami hatiku.

"Apaan sih kamu, Dek? Gak lucu tahu...!" Aku pura-pura sewot.

"Ini kan cuma misal, Kak?! Apa yang akan Kakak lakukan?!" Masih ngeyel juga dia. Pingin tahu reaksiku, mungkin dia hanya ingin menentukan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.

"Ya nggak tahu, Dek. Yang namanya orang diselingkuhi itu kan pasti sakit banget rasanya? Mungkin Kakak akan sedih, patah hati, bingung, down, mungkin juga Kakak akan menangis meraung-raung, atau entahlah, itu kan cuma misal. Dan Kakak yakin bahwa itu tak akan pernah terjadi, karena Kakak percaya Riswan setia." Jawabku panjang lebar. Ada seringai licik di sudut bibirnya, yang terlihat jelas dari sudut pandanganku.

"Ha ha ha... setia kau bilang, tunggu saja tanggal mainnya, Kak!"

"Apa, Dek?!" Tanyaku terkejut mendengarnya. Tapi kulihat bibirnya tertutup rapat, hanya senyum manis terukir di sana.

"Apa, Kak...? Aku kan diam aja dengerin Kakak ngomong, aku belum ada jawab apa-apa kok!" Jawabnya. Entah ini telingaku yang salah atau apa, tapi tadi aku benar-benar mendengar dia bicara seperti itu.

Entah kenapa aku semakin merasa kalau aku ini sebenarnya memiliki semacam indera keenam. Tapi apa? Dari mana? Sejak kapan?

Ah... aneh-aneh saja otakku ini. Terlalu penat dengan pekerjaan kali ya? Atau mungkin juga karena aku hafal tabiat adikku itu, makanya aku seperti seolah sudah hafal kata-kata itu, hingga merasuk begitu saja ke dalam kepalaku. Sehingga semua yang pernah Mira lakukan tersimpan rapi di otakku, dan berubah menjadi semacam paranoid.

Ah... tapi kalau dibilang paranoid ya enggak juga, wong tindakan Mira kali ini, walaupun itu baru rencana yang kubaca, tidak ngefek apa pun pada hatiku kok, dan sepertinya seandainya pun Riswan benar-benar berpaling pada Mira, ya it's no problem. It's oke wae kalau kata Jupe. Atau apakah itu artinya selama ini aku tidak benar-benar jatuh cinta sama Riswan ya...? Bisa jadi sih... bisa jadi aku hanya kesengsem dengan sikap baiknya padaku saja, jadinya aku nyaman ngobrol sama dia, nyaman juga tiap dia ngajak jalan. Ditambah lagi teman-teman kerja yang suka menyimpulkan bahwa kita adalah pasangan serasi, jadi aku iya on aja pas Riswan bilang suka padaku. Ah, entahlah, bingung aku.

"Ya udahlah, Kak, aku mau ke dalam dulu. Belum mandi aku tadi, silahkan nikmati saja waktu istirahat Kakak, bye...!" Suara Mira membuyarkan lamunanku. Aku mendongak dan kulihat dia sudah melenggang meninggalkan ku duduk sendiri tanpa menunggu jawabanku. Bodo amat, pikirku.

Aku segera beranjak dari dudukku. Kucuci wajah, tangan, dan kakiku dengan selang air yang tadi kugunakan untuk menyiram tanaman. Lalu segera masuk ke dalam rumah. Sebentar lagi adzan Maghrib, pamali katanya kalau masih berada di luar rumah. Katanya itu waktu Sandi Kala, alias waktu Batara Kala keluar mencari makan. Dan entah kenapa aku masih mempercayai hal-hal seperti itu,

padahal ini sudah abad milenium, sudah tahun 2023, tapi aku masih saja mempercayainya, seolah dongeng yang dulu sering Bapak ceritakan menjelang tidurku adalah hal yang nyata, seperti nasihat-nasihat Bapak yang lain, misalnya jangan makan dengan duduk di pintu, jangan menengok orang sakit di hari pasaran Wage dan Legi, jangan keluar rumah menjelang Maghrib dan menjelang adzan Dhuhur, dan jangan ini, jangan itu yang lain.

Seiring bertambahnya usiaku, pernah aku punya pemikiran jika itu mungkin cuma mitos saja, tapi tetap saja aku menurutinya, bukan untuk mempercayainya, tapi untuk menunjukkan baktiku pada Bapak. Karena aku selalu merasa bahwa nasihat orang tua tidak mungkin salah, karena tak kan ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya pada hal yang tidak baik.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!