Bab 5

Valeria melambaikan tangan melihat mobil Selly yang semakin menjauh. Dia merasa sangat ngantuk dan ingin tidur secepatnya. Dengan matanya yang berat, dia memandang ke seberang jalan dan melihat sebuah motel, tempat yang sering menjadi penginapan para wanita. Dia tahu dia tidak bisa pulang ke rumah.

Ketika Valeria hendak menyeberangi jalan, lampu dari kejauhan membuatnya terkejut dan dia langsung jongkok di tengah jalan, meremas celananya dalam ketakutan. "Hei, apa kau mau mati jongkok di tengah jalan?" terdengar suara seorang pemuda. Valeria tersentak dan menyadari bahwa dia tidak tertabrak. Dia menatap ke atas dan membuka matanya lebar-lebar. "Joshua," ucapnya, mengenali pemuda tersebut.

Valeria memandang Joshua, yang pakaian dan kancing atasnya terbuka dan berantakan. Dia merasa pipinya memanas saat melihat Joshua yang tampak sangat seksi. Joshua meraih lengan Valeria dan berkata, "Ayo, masuklah ke mobilku."

"Joshua, aku mau tidur di sana," Valeria menunjuk ke arah motel.

"Tidak, kau bisa tinggal sebentar di apartemenku," tawar Joshua.

Joshua dengan hati-hati menggendong Valeria dan menggunakan satu tangannya untuk memasukkan sandi pintu apartemen. Setelah itu, dia membawa Valeria ke kamarnya dan meletakkannya dengan lembut di atas kasur. Joshua kemudian pergi ke kamar mandi untuk mandi, karena merasa tubuhnya terasa panas saat menyentuh kulit Valeria. Namun, meskipun sudah mandi, dia masih merasa tubuhnya tetap panas. Joshua mengambil ponselnya dan segera menghubungi sekretarisnya, Anthony.

"Thony, tolong panggilkan dokter pribadi ke apartemenku sekarang," seru Joshua saat ponselnya tersambung, lalu mematikan panggilan tersebut.

Setelah itu, Joshua mengambil pakaian kaos dan celana, lalu memakainya. Dia juga menyetel AC kamar dengan suhu yang paling dingin untuk mencoba meredakan panas yang dirasakannya. Joshua mendengar gumaman dari Valeria dan mendekatinya.

"Valeria, kau kenapa?" Joshua sadar bahwa dia tidak boleh menyentuh Valeria saat ini, meskipun dia tergoda melihat Valeria yang hanya mengenakan lingerie seksi. Tiba-tiba, Valeria mencoba membuka celananya di depan Joshua, dan Joshua segera menahan tangannya agar tidak melakukannya.

"Valeria, aku tahu kau mabuk, jangan bertingkah seperti ini. Aku juga seorang pria, Valeria," ucap Joshua dengan berusaha tetap tenang. Jantung Joshua berdetak kencang saat Valeria meraba dadanya dengan mata terpejam.

"Aku mau minum, di mana air?" gumam Valeria.

Joshua tidak bisa menahannya lagi, dia ingin mencium Valeria. "Valeria, sadarlah, buka matamu," kata Joshua perlahan. Valeria perlahan-lahan membuka matanya, dan Joshua menatap mata hijau Valeria. Dia membelai pipi Valeria dengan lembut, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Valeria dan mencium bibirnya. Joshua merasa senang karena Valeria menerima ciumannya.

Mereka berdua kemudian terlibat dalam hubungan intim dengan gairah.

Valeria terbangun dari tidurnya dengan enggan membuka matanya. Dia merasa nyaman memeluk guling yang empuk dan hangat, berbeda dengan biasanya. Valeria mencubit guling itu, namun suara erangan pria membuatnya terkejut sehingga dia terjatuh ke lantai. "Ah, sakit," keluh Valeria. Dia melihat pria itu juga terbangun dan mereka saling bertatapan. "Apa..." Valeria terkejut dan menutup mulutnya. "Tuan Joshua?" Valeria tidak percaya bahwa dia tidur dengan Presiden Direktur perusahaan hiburan.

Joshua memalingkan wajahnya dan memberikan Valeria pakaian yang ada di bawah lantai. "Pakailah itu, Valeria."

Valeria berteriak kesal karena dia tidak mengenakan pakaian dan baru menyadari situasinya. "Apa yang kau lakukan padaku?" Valeria berteriak dengan keras sambil menutupi tubuhnya dengan pakaian yang diberikan oleh Joshua.

"Mungkin kau tidak percaya, semalam aku merasa aneh dengan diriku dan..." Joshua terhenti dalam ucapannya.

"Joshua, ada apa di dalam sana? Mengapa ada suara wanita?" terdengar suara seseorang di luar kamar.

"Bibi," sahut Joshua dan segera turun dari kasur untuk memakai pakaiannya. "Tidak ada apa-apa, itu hanya suara dari televisi, Bi."

Valeria melihat Joshua dengan tatapan tajam, merasa kesal. "Berhentilah menatapku seperti itu," ucap Joshua yang merasa bersalah. "Aku akan bertanggung jawab."

Valeria menggulung selimut di tubuhnya dan pergi ke kamar mandi. Tidak mungkin baginya untuk memakai pakaian di depan Joshua.

Joshua berjalan menuju dapur dengan membawa wadah makanan yang diberikan oleh Susan. Dia membuka kulkas dan meminum air mineral. "Apakah bajumu pas?" tanya Joshua. Valeria menjawab dengan malas, merasa tidak bisa berjalan dengan nyaman karena merasa sakit.

"Aku sudah membelikan salepnya, apakah kau sudah menggunakannya?" tanya Joshua sambil melihat Valeria yang terlihat tidak nyaman.

"Tentu saja aku sudah menggunakannya," jawab Valeria dengan geram. Untuk menyembunyikan rasa malu, dia membuka tutup wadah makanan dan mengambil sushi, menaruhnya di piring.

"Apakah bibimu tahu bahwa aku ada di sini?" tanya Valeria sambil menyendok sushi ke mulutnya dan menikmati rasanya.

"Dia tidak tahu," jawab Joshua dengan serius, menatap Valeria. "Valeria, mari kita buat kesepakatan yang saling menguntungkan."

"Kesepakatan apa itu?" jawab Valeria tanpa terlalu peduli, sambil menikmati hidangan yang jarang dia makan.

Joshua menyisir rambutnya dengan tangannya.

"Jadilah tunangan palsuku," ucap Joshua, namun perkataannya terhenti ketika Valeria tersedak makanan. Joshua segera mengambilkan air untuk Valeria.

"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Joshua khawatir.

"Iya," jawab Valeria sambil mengelap bibirnya dengan tisu.

"Kau sangat mirip dengannya, terutama dengan warna matamu yang hijau," jelas Joshua. "Dia sebenarnya adalah anak angkat kakek dan nenekku. Aku tumbuh bersamanya hingga kita berusia 10 tahun. Kemudian, kakek mengusirnya karena kita bertunangan."

"Apa kau bertunangan sejak usia 10 tahun?" tanya Valeria.

"Ya, itu karena permintaan mendiang nenek, tapi kakek tidak setuju," jawab Joshua. "Sekarang, kakek sedang sakit-sakitan setelah nenek meninggal, dan dia menyesali perbuatannya karena mengusir anak itu saat usia 10 tahun."

"Lalu, di mana tunanganmu sekarang?" tanya Valeria penasaran dan tertarik dengan cerita Joshua. "Dia menghilang, padahal aku tahu dia kuliah dan tinggal di China," jawab Joshua sambil menyodorkan selembar kertas pada Valeria. "Ini aku buat berbeda dari yang kemarin."

Valeria menggertakkan giginya. "Baiklah, aku terima, tapi aku ingin kompensasi berupa uang muka, bukan cek," ucap Valeria. Dia tidak boleh mengikuti gengsinya dan mengikuti keinginan keras kepalanya karena dia sangat membutuhkan uang untuk membayar hutang Alex.

"Oke, sekarang juga aku akan memberikan uang muka tersebut," kata Joshua dengan senang dan memeluk Valeria. "Terima kasih karena tidak menolaknya. Apakah kau sudah siap untuk bertemu dengan keluargaku?"

Valeria menepis tangan Joshua "lepaskan."

Valeria melihat suasana mansion yang luas dan sangat mewah. Dia terpaku sejenak, mengagumi keindahan dan kemewahan tempat tersebut, lalu melanjutkan langkahnya mengikuti Joshua yang memasuki salah satu ruangan. Di dalam ruangan itu, Valeria melihat kakek Joshua yang terbaring lemah di atas kasur, dengan banyak alat canggih di sekitarnya.

"Joshua, kau menemukannya," ucap kakek dengan suara lemah. Joshua tersenyum dan menjawab, "Iya, Kek." Valeria menatap kakek Joshua dengan perasaan sendu dan sedih. "Kakek, aku di sini," kata Valeria dengan lembut. Kakek memandang mata hijau Valeria dengan perasaan rindu dan penyesalan. "Apakah benar kau anak angkatku dan tunangan Joshua?" tanya kakek, ingin memastikan. Valeria dengan yakin menjawab, "Iya, Kek. Aku adalah anak angkatmu."

"Akhirnya," ucap kakek dengan kebahagiaan dan haru. Dia menatap Joshua dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Joshua, kau telah memenuhi janjimu." Kemudian, kakek meraih tangan Valeria dan menitikkan air mata, mengingat perbuatannya di masa lalu. "Maafkan kakek, Nak, atas perlakuan kasar yang dulu kukejamkan padamu," ucap kakek dengan tulus.

"Baik, Kek. Aku memaafkanmu," kata Valeria sambil mengusap air matanya. Dia ikut menangis dan merasa sangat sedih. "Cepatlah sembuh, Kek," ucap Valeria dengan penuh kekhawatiran. Kakek tersenyum dan memejamkan matanya. Valeria panik, memanggil Joshua dengan khawatir. "Joshua, Kakek!" Joshua menenangkan Valeria, "Tenanglah, Kakek hanya tertidur. Dia sudah minum obat tadi." Joshua tersenyum melihat ekspresi panik Valeria.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!