Deringan ponsel Sekretaris Theo membuyarkan keheningan.
"Ya, Pak?" Sekretaris Theo menerima panggilan dari pimpinan.
"Pak, ayah anda dalam keadaan kritis. Pimpinan menyuruh datang ke rumah sakit sekarang." Jelas Sekretaris Theo setelah panggilan selesai.
Saga terdiam dia berharap ayahnya baik-baik saja. "Ayo ke rumah sakit."
"Pak, tolong turunkan saya disini saja." Ucap Yuna.
"Kau ikutlah denganku kesana!" Saga menatap lurus ke depan, dia tidak ingin ayahnya pergi begitu saja.
Tidak berapa lama mereka sampai di rumah sakit besar. Yuna dan Saga masuk ke lift bersama. Sedangkan sekretaris Theo kembali ke perusahaan bekerja di sana.
"Yuna, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!" Ucap Saga serius. "Menikahlah denganku!"
"Ya?" Tanya Yuna dia sepertinya salah dengar. Saga mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru di saku jasnya.
"Menikahlah denganku!" Ucap Saga.
Apa yang dimaksud pria ini? Setelah memaksa dia ikut dengannya lalu sekarang melamarnya.
"Tidak!" Yuna menggeleng dia menatap kesal, "kau kira pernikahan itu sebuah permainan. Aku tidak mau!"
Saga menatap tajam wanita itu dia pertama kalinya melamar seseorang dan langsung di tolak. "Anggaplah ini sebagai pertanggung jawabkanku saat malam hari itu."
"Tidak bisa," Yuna melakukan hal yang sama pada Saga "anggaplah hal itu tidak terjadi. Saya tidak bisa menikah dengan anda, Pak!"
"Sebelum kau menolaknya, kau bisa membaca surat kontrak ini!" Saga memberikan selembaran kertas. Yuna mengamatinya di dalam tulisan itu membuat dia tercengang.
Kenapa pria ini bisa tahu jika ibu dia hilang? Jangan bilang dia mencari data pribadinya. Yuna memicingkan kedua matanya. "Anda yakin bisa mengetahui keberadaan ibu saya, Pak?"
"Ya, tentu saja." Ucap Saga. Yuna menatap curiga. "Jika kau tidak percaya kau bisa melihatnya nanti."
Selama ini Yuna selalu mencari ibunya yang hilang, tapi dia belum menemukannya. Apa Yuna terima saja tawaran itu?
Bahkan Jemin membantu Yuna mencarinya. Dia selalu menyusahkan pamannya itu. "Apa anda berjanji, Pak?"
"Ya," jawab Saga. "Kalau begitu kemarilah."
Yuna menurut, Saga memasukkan cincin di jari manis kiri Yuna.
Di luar ruangan inap ayahnya Saga. Pimpinan melihat Saga berjalan bersama seorang wanita.
"Kek, bagaimana?" Tanya Saga.
Pimpinan menunjuk pintu dengan tongkatnya, "lihatlah sendiri."
Saga berjalan masuk lebih dulu. Yuna merasa tak nyaman dengan tatapan ingin tahu pria paruh baya di hadapannya itu.
Saga kembali keluar lalu menarik tangan Yuna masuk ke dalam ruangan. "Ayo!"
Yuna melihat ayahnya Saga yang terbaring di kasur dengan banyak alat canggih di sampingnya. Bukankah dia Ceo MT Group. Yuna melihat Saga, yang benar saja. Jadi, gosip yang dikatakan temannya itu benar, Saga adalah anak pak ceo.
Saga merasa lega ayahnya baik-baik saja. Dia memegang tangan ayahnya dan menciumnya sebentar. "Bukalah matamu, aku membawa wanitaku."
Saga menatap Yuna sekilas. "Kita akan menikah, Ayah."
Yuna melihat Saga begitu perhatian pada ayahnya. Saga mengelap wajah serta tangan ayahnya. Kelihatan sekali kalau Saga sangat penyayang pada ayahnya.
"Kakek anda tidak diajak masuk, Pak." Tanya Yuna sambil berdiri di samping Saga.
Saga berjalan ke sofa dia duduk di sana, "kakek pergi kerja. Dia sibuk!"
Yuna melihat Saga mengambil sebuah laptop dilaci meja.
"Pak saya pulang sendiri saja tidak perlu mengantar saya. Kasihan sekretaris Theo," ucap Yuna.
"Tidak, tunggulah dulu. Kau bisa istirahat di sini." Saga menunjuk sofa panjang di sisinya.
Kaki Yuna kesemutan berdiri terus. Yuna duduk di kursi samping kasur ayahnya Saga, bekas Saga duduk tadi.
Yuna melihat wajah pucat ayahnya Saga, dia merasa merindukkan ayahnya juga. Yuna sudah berapa lama tidak bertemu dengan ayahnya setelah insiden di usir ayahnya itu.
Jemin tidak mengetahuinya jika sebenarnya dia tinggal di apartemen karena hal itu. Jemin sibuk mencari ibunya Yuna dan Jemin selalu pergi dinas keluar negeri semenjak Yuna lulus sekolah menengah pertama.
Sambil menangkup kedua tangannya Yuna merapalkan doa di dalam hatinya untuk ayahnya Saga. 'Semoga anda segera sembuh.'
Yuna menguap dia menutup mulut dengan kedua tangannya, Saga melirik Yuna dia kembali fokus pada laptopnya.
'Ngantuk sekali!' Yuna melihat ada buku di meja kecil dekatnya. Dia mengambilnya, ternyata ini buku majalah forbes. Dia lebih suka baca novel daripada ini, namun ponsel Yuna tertinggal di mobil Saga. Pelupa itulah dirinya, Yuna ingin sekali menghilangkan sifat satunya itu.
Yuna membuka lembaran pertama dan terlihat foto kakeknya Saga dalam buku itu. 'Owner Perusahaan Mt Group dan Hotel Gu' Yuna menutup mulutnya dia terkejut pantesan dia merasa familiar dengan wajah kakeknya Saga.
Selain owner kakeknya Saga menjadi seorang motivator yang berpengaruh. Bahkan Yuna sendiri begitu mengidolakannya. Dia selalu tersentuh dengan kata-kata motivasi.
Yuna menutup buku lalu menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Dia memejamkan matanya. Dia hanya ingin istirahat sebentar.
Saga melihat jam tangannya pukul jam 6 sore, langit berwarna jingga terlihat di jendela. Setelah menyelesaikan pekerjaannya Saga mendekati Yuna yang tertidur pulas, Saga menaruh buku majalah yang dipegang Yuna ke meja. Dia membuka jas hitam miliknya lalu menyelimuti tubuh Yuna.
Tanpa mereka sadari jari tangan ayahnya Saga bergerak. Lalu matanya perlahan-lahan terbuka.
Saga yang fokus menatap wajahnya Yuna, dia menutup mulut Yuna yang mendengkur dengan tangannya. Namun Yuna menjilati tangannya Saga sambil bergumam, "steaknya lezat."
Saga menatap tajam Yuna yang tertidur. "Apa-apaan kau!"
Yuna mencari posisi yang nyaman dia menidurkan kepalanya ke kasur ayah Saga, untung Saga menahan kepala Yuna jika tidak, bisa terkena lengan ayahnya yang terinfus. "Tidurlah yang tenang," Saga menggendong Yuna dan merebahkannya di atas sofa panjang.
Ayahnya Saga yang melihat itu dia tersenyum senang. Dia tidak ingin mereka tahu kalo dia sudah sadar.
Saga melihat ayahnya masih dalam kondisi yang sama. Ponselnya bergetar panggilan masuk dari sekretaris Theo.
"Tidak. Kau tidak perlu kemari!" Jawab Saga, "dia sudah menunggu di sini?"
Saga menutup tirai lalu berjalan ke teras, udara di malam hari begitu dingin. Saga berpakaian kemeja hitam panjang dia membuka kedua kancing atas, lalu menggulung lengan bajunya.
Dia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Saga melihat kebelakang pintu tertutup rapat. Dia tidak ingin asap rokok yang mengepul masuk kedalam ruangan.
Dia menatap kotak biru yang dipegangnya itu. Saga mengira Yuna akan menolaknya dengan mentah dan bakal susah, namun setelah membujuknya dengan alasan ibunya, dia menerima lamaran Saga.
Saga menginjak putung rokok dibawah sepatunya.
"Kau telah menemukannya?" Tanya Saga pada dektetip pribadi.
"Belum, Pak." Jawab Dektetip itu sambil menyodorkan kertas pada Saga.
Saga melihatnya dia meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. "Cari sampai dapat!"
"Baik, Pak." Dektetip melihat Saga masuk kedalam ruangan. Dia membungkuk hormat.
Sekretaris Theo keluar dari mobilnya,
Pukul empat dini hari dia menunggu Saga di parkiran rumah sakit. Tidak lama Saga berjalan kearahnya.
Saga menerima kantong belanjaan dari sekretaris theo. Dia masuk ke dalam mobil lalu berganti baju. Sekretaris Theo dengan setia menunggu di luar mobil.
Selesai mengganti baju Saga membuka jendela mobilnya, "masuk."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments