Bab 4

Panggilan masuk dari Anthony.

"Tuan muda, investor yang kemarin ingin menemui anda kembali. Dia ingin menentukan kesepakatan."

"Kapan waktu pertemuan?" tanya Joshua sambil fokus menyetir.

"Besok pukul 2 siang." Sahut Anthony, "tapi Tuan, investor itu ingin penerjemah yang kemarin ikut datang bersama anda."

Joshua kembali mengingat tentang Valeria dia sangat baik dalam bekerja. Joshua memutar balik mobilnya.

Joshua telah kembali ke toko tempat terakhir dia berpisah dengan Valeria. Dia menemukan Valeria yang sedang makan mie dengan suapan besar.

Saat mata mereka bertatapan, Valeria tersedak mie.

"Ada apa kau mengajakku makan di restoran?" tanya Valeria sambil melihat makanan enak.

"Makanlah dulu," Sahut Joshua.

Valeria memicingkan matanya dan berpikiran bahwa Joshua memiliki perasaan padanya.

Joshou menghentikan makannya, "Valeria, jangan berspekulasi yang aneh."

Valeria masih tak percaya.

"Apa salahnya aku memberi makanan dengan teman kerjaku sendiri!" Joshua meminum airnya.

"Sudah ku tebak kau pasti akan memberikanku pekerjaan kan?" tanya Valeria setelah mendengar jawaban Joshua.

"Bener, aku ingin merekrutmu satu hari saja." Sahut Joshua.

Joshua keluar ruangan rapat di ikuti Anthony.

"Thony, apa jadwalku besok banyak?" tanya Joshua sambil membuka lembaran file yang harus di tandatangani.

Anthony berdiri di samping meja kerja Joshua, Anthony menyebutkan jadwal kerja Joshua.

"Oh ya, Tuan waktu penerbangan pesawat ke China." Ucap Anthony.

"Oke terimakasih telah mengingatkan itu."

***

Valeria bersama para investor sedang berkeliling di lapangan perusahaan entertainment.

Lalu mereka pergi ke tempat para artis syuting dan Valeria menjelaskan secara rinci. Joshua tidak bersamanya.

Ketika investor bertemu artis terkenal dia ingin minta Valeria memotretnya, Valeria dengan semangat melakukannya.

Artis itu mengajak Valeria berpoto bersama, investor menyetujuinya.

Akhirnya Valeria memiliki poto seperti ini, dia akan meng-upload di di sosial media.

"Terimakasih atas kerja kerasmu Nona Valeria." Ucap investor. "Jika ada Joshua mungkin kami bisa poto bersama seperti tadi."

Valeria merasa senang pekerjaannya telah selesai dia akan pergi ke kantor Joshua.

"Maaf Nona, Tuan Joshua barusan pergi keluar." Jelas resepsionis.

"Dia pergi kemana?" tanya Valeria.

Di bandara, Valeria mencari Joshua. Dia melihat Joshua membawa koper.

"Joshua." Valeria menahan Joshua pergi.

"Kau?" Joshua kira siapa yang berani memegang tangannya, "ada apa, Valeria?"

"Mana gajiku." Valeria tersenyum sopan.

"Nanti saja, aku pasti membayarnya." Ucap Joshua dia berjalan lagi, namun di tahan Valeria.

"Tidak bisa, aku membutuhkan uang itu sekarang." Ucap Valeria.

Joshua membuka dompetnya dan mengambil beberapa lembaran uang ratusan.

Valeria menerimanya namun uang itu jatuh berserakan di lantai, karena Joshua memberikan terburu-buru.

Valeria memandangi sekitarnya, dia malu mau memungut uang itu. Ini semua salah Joshua jika saja dia memberikannya dengan hati-hati. Valeria harus memberikan Joshua pelajaran setimpal.

Joshua menoleh ketika Valeria menarik ujung baju lengannya.

"Dengar, kau akan menyesal."ucap Valeria sambil melihat ke bawah, Joshua tak mengerti.

Valeria terduduk di lantai memungut uang sambil menangis. "Suami, jangan tinggalkan aku, kau sudah berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita."

Joshua melihat Valeria merasa lucu, dia melihat orang-orang berbisik-bisik.

"Tuan, pesawat akan segera terbang." Anthony menghampiri Joshua.

Valeria berdiri dan menatap Joshua dengan sedih lalu berlari pergi.

"Tuan, wanita itu penerjemah yang kemarin?" Anthony melihat Valeria aneh.

"Ya."

Semua penumpang pesawat menatap Joshua dan membicarakannya terang-terangan.

"Tuan, kenapa anda meninggalkan istrimu begitu saja." Ucap seorang nenek-nenek.

Joshua 26 tahun, seorang Presdir Direktur muda di sebuah perusahaan entertainment, dia berjalan masuk ke dalam sebuah klub. Meski suasana meriah dan musik keras menggema, Joshua tetap berjalan dengan tenang, mengabaikan senyuman dan tatapan terang-terangan dari para wanita di sekitarnya.

Dia duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari arena tinju. Tak lama, seorang pelayan menaruh minuman di meja depannya. Joshua mengambil cek uang dan memberikannya pada pelayan tersebut.

"Terima kasih, Pak Presdir," ucap pelayan itu dengan sopan dan perasaan senang.

Joshua hanya mengangguk sebagai balasan, lalu kembali memandang ke arah arena tinju.

Di arena itu, dia mengenali seorang perempuan yang sedang beradu tinju. Itu adalah Sanas, keponakan Joshua. Sementara itu, di tempat yang lebih jauh, seorang wanita seksi menaruh bubuk putih ke dalam minuman, lalu berjalan menghampiri Joshua. Wanita itu adalah Clara, teman bisnis ayah Joshua.

"Joshua," sapa Clara.

Joshua hanya menatapnya sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya ke arena tinju.

"Kau menunggu siapa?" tanya Clara.

Joshua meraih gelas minumannya, tanpa menoleh pada Clara. "Aku sedang menunggu Reyhan," jawabnya.

Clara mengelap ujung gelas minuman yang dia bawa, lalu duduk di sebelah Joshua. "Joshua, aku bawakan minuman kesukaanmu," tawarnya.

"Tidak perlu," tolak Joshua. Namun, dia tersedak karena terkejut melihat Sanas menjadi pemenang tinju. Joshua menerima gelas minuman pemberian Clara dan meminumnya.

Clara tersenyum, merasa senang melihat Joshua terperangkap karena dia telah memasukkan sesuatu ke minuman itu.

"Selamat datang di babak ke-2," ucap MC arena tinju. Sanas kembali masuk ring, bersiap untuk melawan lawannya di babak berikutnya.

Joshua melihat Rayhan mendekatinya dengan gelas di tangan dan bergandengan mesra dengan seorang gadis seksi. "Hai Joshua, kukira kau tidak akan datang ke sini," ucap Rayhan sambil tertawa senang. Dia kemudian melihat Clara yang berdiri di sebelah Joshua. "Joshua, ayo kita minum merayakan kita bertiga bisa berkumpul lagi," ajak Clara.

"Kau tidak berubah ya," kata Joshua sambil meminum sisa wine yang ada di gelasnya. Clara memandu mereka untuk bersulang. Suara gelas bersentuhan saat Joshua, Rayhan, dan Clara bersulang. Clara melirik Joshua yang terlihat memegang keningnya. Dalam hati, Clara merasa senang karena bubuk putih yang dia masukkan ke minuman Joshua akhirnya bereaksi.

"Reyhan, sepertinya aku harus kembali," kata Joshua sambil melonggarkan dasinya yang terasa ketat dan merasakan tubuhnya terasa panas, meskipun di dalam klub ini ada AC. "Tak usah terburu-buru, Josh. Minumlah lagi," seru Rayhan. Namun, Joshua menepis tangan Clara yang ingin memegangnya. "Joshua, aku ingin menemanimu sampai ke mobil saja," ucap Clara sambil memalingkan wajahnya dan menyeringai.

Kepala Joshua terasa berat dan berputar-putar. Dia menerima bantuan dari Clara. "Tunggu, kalian berdua akan pergi," seru Joshua. "Reyhan, kau mau kemana, huh?" Sanas melempar sarung tinju ke arah Rayhan, yang untungnya tidak mengenainya. Reyhan merasa lega karena terhindar dari pukulan tersebut. "Sanas, dengar, kenapa kau ada di sini?" tanya Reyhan.

Sanas sangat marah melihat Rayhan, kekasihnya, sedang bersama wanita lain. Reyhan merasakan aura kemarahan dari Sanas. Dia berjalan mundur dan melepaskan tangan wanita di sampingnya, lalu berlari ke arah kerumunan orang yang sedang berdansa. "Reyhan, kemari, kau. Aku ingin meninjumu," ancam Sanas sambil mengepalkan tangannya dan meniupnya. "Lihat saja, aku pasti akan menangkapmu, dasar Reyhan."

Valeria merasa bingung dan tidak tahu harus mencari uang dari mana lagi untuk melunasi hutangnya Alex, kakaknya. Meskipun Valeria merasa marah dan kesal pada Alex, dia tidak bisa mengabaikannya. Valeria tetap ingin membantu dan melindungi Alex. Namun, Valeria juga merasa menyesal telah menolak tawaran Joshua untuk menikah dengannya.

"Sudah cukup, Valeria. Kau sudah minum terlalu banyak," kata Selly, teman Valeria, sambil mengambil botol Soju dan menjauhkannya dari Valeria. "Aku tahu kau sedang dalam kesulitan, tapi ingatlah kesehatanmu."

Valeria menyembunyikan wajahnya dengan tangannya. Ini adalah kali pertama dia minum Soju, dan dia baru menyadari bahwa minuman tersebut membuatnya merasa bahagia dan tidak sedih karena penyesalan dan hutang. "Selly, berikan aku segelas saja," pinta Valeria sambil meletakkan wajahnya di atas meja dan menyodorkan gelas kecil ke Selly.

"Tidak boleh," jawab Selly sambil mengambil jaket dan mengenakannya ke Valeria. "Ayo pulang, aku akan mengantarmu."

Valeria mengetuk-ngetuk meja dengan tangan dan merasa ngantuk. "Tidak," protesnya. Namun, Selly memapah Valeria yang berjalan dengan tidak stabil. "Aku pikir kau kuat dalam minum, Valeria," kata Selly.

Valeria bergumam dengan mata terpejam, "Ini pertama kali aku minum."

"Apa, Valeria?" tanya Selly, yang tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena sedang memanaskan mobilnya.

"Hm," jawab Valeria bergumam. Selly tidak bertanya lagi karena melihat Valeria tertidur sambil mendengkur. Selly kemudian mengemudikan mobil menuju tempat tinggal Valeria.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!