"Bukalah matamu," Saga tersenyum tipis melihat Yuna memejamkan matanya. "Kau kira aku akan menciummu?"
Yuna merasa pipinya merah karena marah bercampur malu, dia ingin bangun tapi Saga menahan bahu Yuna. "Apa yang Anda lakukan, Pak?"
"Kenapa kau selalu memanggilku 'Pak' kita sudah suami istri." jelas Saga.
"Aku tidak mau." tolak Yuna. Dia memalingkan wajahnya. Saga menarik dagu Yuna.
"Yuna dengarkan aku." Saga menatap mata hijau itu. "Jadilah istri penurut dan manis."
"Apa yang akan aku dapatkan? Bahkan anda belum menceritakan tentang ibuku setelah kita menikah." Yuna menepis tangan Saga dan melarikan diri. Namun lagi-lagi Saga menarik Yuna kepelukannya. Yuna merasakan detak jantung Saga di telinganya.
"Jangan berkata formal denganku." jelas Saga "Coba kau katakan namaku."
D@da Saga terasa seperti batu, keras dan lebar. Yuna menjauhkan wajahnya, "Sa..."
Saga mengikuti ucapan Yuna. "Sa."
"Tidak bisa." Lidah Yuna terasa linu mengucapkan nama Saga.
"Baiklah, sekarang kau tidurlah!" Saga mengacak-acak rambut Yuna.
Yuna merasa Saga malam ini terlihat aneh, apalagi sekarang dia bersikap manis. Yuna segera berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.
"Berapa usia pamanmu?" tanya Saga.
"31 tahun." sahut Yuna dan berlari ke kamarnya, dia tidak ingin di tarik Saga lagi.
Kamar Yuna berada di lantai 2, lalu kamar Saga ada dua di ruangan kerja dan di sebelah kamar Yuna.
Saga berlari mengeliling rumahnya sekitar, luas rumah Saga sekitar 42 hektar. Saga mengelap keringatnya dia baru melakukan 2 putaran.
Yuna terbangun karena ingin buang air kecil. Dia melihat jam pukul setengah lima pagi. Yuna melihat keluar jendela menatap langit dan bintang, udara pagi yang dingin membuat Yuna ingin tidur kembali.
Saat Yuna menutup tirai dia tak sengaja melihat Saga berlari. "Yang benar saja, di pagi buta begini."
Yuna dengan malas meloncat ke tempat kasur dan menyelimuti tubuhnya.
"Mana tas yang kau foto kemarin?" tanya Raisya.
"Ada dirumah." sahut Yuna.
"Oh ya, padahal aku ingin melihatnya." seru Raisya.
"Nanti kupakai saat kita liburan." Yuna mengunyah pizza.
"Hai, apa aku terlambat?" Clara berjalan menghampiri ketiga temannya sambil melambaikan tangannya.
Yuna melihat Clara begitu cantik dengan balutan gaun merah muda dan tersenyum manis. Yuna melihat sekelilingnya para pemuda di restoran menatap Clara dengan kagum.
"Sebenarnya aku terkejut, kau mengundurkan diri dari pekerjaan!" seru Clara sambil menatap Yuna serius. "Walaupun aku cuma beberapa hari kerja denganmu, aku merasa kau begitu handal dalam melakukan pekerjaan itu."
Clara mengibaskan tangannya dan mengambil air minumannya. "Aku tahu kau tidak akan menjelaskan alasannya namun aku mendukungmu."
Raisya dan Sarah merasa sedih, mereka telah menganggap Yuna sebagai keluarga. Saat mereka tahu Yuna tidak bekerja lagi ditempat itu, mereka merasa kehilangan teman makan siang, tempan curhat, teman suka dan duka.
"Ngomong-ngomong tentang liburan. Bagaimana kalau kau ikut dengan kita?" ajak Raisya mengakar sebelah alisnya.
"Dua hari lagi tim kita bakalan liburan ke pantai." jelas Sarah.
"Oh Benar, aku baru ingat itu. Bagaiman Yuna kau ingin ikut?" Clara tersenyum.
"Akan kupikirkan dulu!" sahut Yuna.
"Sarah kau memiliki gelang itu?" Yuna melihat benda yang mirip ditempat pelelangan.
"Ha, ini dari pacarku." sahut Sarah sambil tersenyum malu. "Kau suka gelang Yuna?"
"Ya, aku suka." sahut Yuna, "Boleh aku melihat ukuran gelang itu?"
Sarah dengan senang hati melepaskan gelang dari pergelangan tangannya. Yuna melihat ukuran yang sama dengan penjelasan pria pelelangan itu, gelang itu memiliki fungsi untuk melacak keberadaan seseorang, Yuna sangat yakin gelang ini dari pelelangan.
"Apa kalian tahu gosip terbaru Saga?" sahut Clara.
"Oh, ceo baru kita itu." sahut Raisya dan Sarah dengan wajah ceria.
"Aku kemarin melihat postingan Angelia dia sangat terobsesi pada ceo kita." jelas Sarah.
"Kau benar Rai, aku melihat dia beberapa kali mematai Saga." jelas Sarah.
"Angelia model iklan tas milik Yuna?" tanya Clara.
"Ya, yang itu." sahut Raisya.
"Aku kasihan dengan orang yang menyukai pria dingin itu." ucap Clara, dia saja ditolak.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika pria dingin itu menikah." ucap Raisya dan meringis membayangkannya.
"Hei, kalian berdua jangan begitu." sergah Sarah. "Saga memang kelihat dingin dan cuek dengan wanita. Tapi mungkin saja dia memiliki seseorang yang dia suka dan setia pada satu wanita."
Sesaat terasa hening. Yuna merasa kenyang dia makan pizza satu porsi sendiri. Dia melihat kegia temannya menatapnya. "Ada apa?"
"Ini tidak mungkinkan?" ucap Raisya.
"Ya, aku juga memiliki insting padanya." jawab Sarah.
"Hei, ada apa sih? Kenapa kalian terlihat aneh begitu?" tanya Yuna.
"Sebaliknya kau yang aneh Yuna, benarkan Sarah?" Raisya dan diangguki Sarah.
"Apa maksud kalian?" Yuna tak mengerti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments