Saga dan Yuna mampir ke toko.
"Pilihlah baju yang ka mau." Ucap Saga datar.
Yuna memilih pakaian yang paling mahal, dia ingin membuat uang Saga habis, pikir dia. Yuna terus memilih dengan antusias dan ditemani oleh pelayan toko. Ada sebuah gaun yang menarik perhatian Yuna, gaun itu memiliki mutiara yang indah dan warna favorit Yuna.
"Anda memilihnya dengan sangat baik, Nona," ucap pelayan toko dan tersenyum manis. "Gaun ini edisi terbaru dan merk terbatas hanya ada 2."
"Wah." Yuna mengecek harganya, dia tercengang "1 milliar."
"Ya, Nona." Sahut pelayan toko.
"Kau hanya membeli ini saja?" tanya Saga melihat Yuna memilih beberapa potong kemeja, celana jeans, dan jaket.
Yuna mengangguk, dia pertama kali ke toko baju termahal. Dulu Yuna tidak pernah belanja pakaian karena ibunya selalu membelikannya atau Jemin yang membelikannya, lalu setelah Yuna hidup mandiri dia selalu membeli pakaian barang sale itupun yang ada diskon.
"Aku rasa itu saja cukup." Jawab Yuna.
"Baiklah." Saga memberikan kartunya pada kasir. Saga menatap Yuna yang sedang melihat kearah salah satu gaun. "Ada lagi yang mau kau beli?"
Yuna mendengar kasir menyebut total harga, dia hanya membeli itu senilai ratusan juta. Dia menatap Saga dan mengangguk mantap, "Ya. sudah itu aja, Pak."
Saga dengan raut wajah datar dia meninggalkan Yuna.
Yuna mengambil kantong belanjaannya, Yuna berjalan mengikuti Saga. Dia melihat saga memasuki Restoran makanan Italia.
"Aku belum makan siang," ucap Saga sambil memilih menu makanannya.
Yuna duduk dan menaruh kantong belanjaan di kursi sampingnya. Sebenarnya Yuna juga lapar dia makan tadi pagi saja. Yuna melihat menu makanan dengan bahasa inggris, dia tidak tahu makanan apa yang enak. Yuna belum pernah mencoba makanan Italia.
"Kau mau pesan apa?" Saga melihat Yuna menatap menu.
Yuna menggaruk kepalanya "Sama 'kan saja dengan anda, Pak."
Saga mengambil ponselnya ada sebuah pesan masuk. Yuna melihat Saga sibuk dengan ponselnya, dia melihat sekitar restoran yang ramai pengunjung para pemuda dan berpasang-pasangan. Yuna melihat seseorang yang dia kenal duduk membelakanginya, dia yakin sekali orang itu pasti ibunya. Dulu ibunya pernah bercerita kalau dia sangat ingin makanan italia namun ayahnya melarang, entah apa alasan ayahnya Yuna melarang ibunya itu. Dia menajamkan pandangan untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat.
"Hei, ayo makan." Ucap Saga.
"Ya?" Yuna tidak menyadari kalau makanannya telah dihidangkan.
"Kau elihat apa? Sampai matamu tak berkedip." Tanya Saga dan makan spagheti.
"Seseorang yang mirip ibuku." Yuna memakan sesuap spagheti buatan italia, dia terdiam sesaat menikmati rasa dilidahnya. "Menakjubkan. Rasanya enak sekali."
"Ibumu?" Saga menoleh ke belakang. Yuna merangkak dan menujuknya. "Dia bukan ibumu."
"Kan aku sudah bilang hanya mirip," sahut Yuna kesal.
"Saga." Seru seorang wanita berpakaian seksi.
Yuna melihat wanita itu berdiri di samping Saga dan tersenyum menggoda pada Saga. Yuna pura-pura tak melihatnya dan fokus dengan makanannya.
"Kukira kau sudah menikah dan tinggal di luar negri," ucap wanita itu "Reyhan bilang kau bertunangan, benarkah?"
"Kau bahkan tidak datang ke pesta Reyhan." Wanita itu melirik Yuna sedang makan dengan lahap dan terlihat tidak anggun. "Tidak mungkin, dia tunanganmu."
"Tebakananmu kurang tepat, dia istriku." Sahut Saga tanpa menoleh pada wanita itu.
Yuna hampir saja tersedak mie dia melihat raut wajah kecewa wanita itu.
"Ini tidak mungkin." Teriak wanita itu dia mengambil air dan menyeburkannya ke arah Saga. Di saat itu suasana di restoran yang berisik mendadak hening, Saga menatap tajam pada wanita itu.
"Apa yang kau lakukan!" Saga berdiri dan wanita itu mendadak tak berani menjawab. "Kau pikir tindakanmu itu benar, Angel."
Kedua saptam datang melihat keributan di dalam restoran.
"Tidak lepaskan aku." Angelia memberontak dan menunjuk Saga. "Aku tidak akan melepaskanmu."
"Bawa wanita itu keluar." Titah Saga. Kedua Saptam mengangguk dan menyeret wanita itu keluar.
Yuna menggeleng dan merasa kenal dengan wanita itu, entah di mana dia melihatnya.
Halaman rumah luas dan tanaman hijau yang terawat terlihat asri dan segar. Dia berjalan ke gazebo, tak terasa dia cuti kerja selama seminggu. Yuna merasa bosan dengan kegiatan sehari-harinya yang monoton. Berbeda saat bekerja dia selalu bersenang-senang dengan teman-temannya.
Yuna melihat mobil Saga, dia melihat jam tangan kecil, pukul 10 malam. Yuna masuk kedalam rumah menyusul Saga.
"Apa ini?" Tanya Saga.
"Saya ingin merubah perjanjian nomer 5, Pak." Jawab Yuna dan menaruh selembaran kertas di atas meja.
"Yuna!" Saga mengangkat kertas itu, "Mengapa kau begitu bersikeras ingin kembali kerja?"
"Saya tidak mau berdiam diri di rumah," sahut Yuna.
"Aku bukan menyuruhmu berdiam diri tapi belajar." Jelas Saga dan menaruh kertasnya. "Kau harus belajar menjadi istri seorang bangsawan! Apa kau ingin membuatku malu di sebuah pertemuan para bangsawaan lainnya."
Yuna mengernyitkan dahinya, "belajar?"
Saga mengangguk. "Setelah ini, aku akan memberitahu itu." Saga mengambil album poto di bawah laci meja. Yuna melihat poto keluarga Saga.
"Akan kuberitahu silsilah keluargaku lebih dulu..." Saga menceritakan tentang keluarganya pada Yuna. Saga adalah anak pertama Ceo Mt Group. Setahun yang lalu, dia menjabat jadi ketua tim untuk menjalankan misi, Tapi setelah melihat kondisi ayahnya yang sakit parah, Saga harus menggantikan ayahnya menjadi Ceo.
Kakek Saga keturunan italia dan menikah dengan nenek Saga keturunan asli Indonesia dan memiliki 3 anak, yang pertama ayahnya Saga.
"Apa ini, ibu Anda. Pak?" Tunjuk Yuna pada poto wanita berambut ikal sebahu dan memakai topi.
"Ya." sahut Saga.
"Ibu Anda..." Yuna bertanya dengan hati-hati "apa mereka bercerai?"
Saat di pemakaman ayahnya Saga, Yuna tidak melihat ibunya Saga.
"Tidak," jawab Saga dingin "dia pergi jauh."
Singkatnya mungkin Saga tidak ingin memberitahu Yuna tentang ibunya. Lihat saja raut wajah Saga yang berubah ketika melihat poto ibunya itu. Yuna mengalihkan pandangannya melihat poto kakeknya Saga sedang menatap istrinya.
"Oh ya, aku tidak melihat kakek Anda, Pak?" tanya Yuna.
"Mungkin kembali kerumahnya." jawab Saga.
"Rumahnya?" Lirih Yuna, dia tidak ingin banyak tanya. Dia melanjutkan melihat-lihat poto, tidak ada Poto Saga waktu kecil. Ini hanya ada poto orang yang tidak Yuna kenal. "Apa ini bibi dan paman Anda, Pak?"
"Betul sekali," jawab Saga.
"Pria ini?" Yuna melihat pria remaja mungkin berusia 20 tahunan.
"Dia adikku," jawab Saga.
"Tampan sekali," lirih Yuna mata biru cerah dan wajah tampan mirip Justin Bieber. "Dia dimana sekarang?"
"Kuliah di Harvard." Jawab Saga dingin.
"Hei aku belum selesai melihatnya," pekik Yuna melihat Saga merebut album foto itu.
"Aku tidak tahu kalau kau menyukai pria dari wajahnya!" Seru Saga.
"Apa yang kau katakan?" Yuna tak mengerti barusan Saga terlihat marah karena melihat adiknya. "Jangan bilang kau cemburu."
"Kau terlalu meninggikan kepercayaan dirimu. Nak," jawab Saga sambil berjalan menuju kamarnya.
Yuna mendengus dan memandang ruangan kerja Saga. Begitu luas dan ada sebuah kamar di dalam ruangan ini.
Yuna menatap pintu kamar Saga yang tertutup. Apa dia masuk saja ya?
Beberapa jam kemudian.
Saga keluar sambil mengancingkan baju tidurnya.
"Aku tahu ini sulit menentukan nilai saham, namun harga saham tetaplah harga saham." Ucap Saga.
Yuna melihat Saga berbicara lewat earphone.
"Tak ada harga saham milliar untuk perusahaan baru, tapi aku yakin anda pasti tahu itu." Jelas Saga. "Dengan kesepakatan penawaran yang adil."
"Seperti yang kubilang, Pak. Aku sangat membutuhkan saham itu." Jawab Bagas.
"Perusahaan Sanjaya butuh saham dariku." Ucap Saga. "Kukatakan sekali lagi..."
"Aku akui tuan, sahammu lebih penting bagi keseluruhan strategi kami." Bagas memohon. "Aku akan memberikanmu wanita cantik sebagai balasan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments