Bab 13

Kakeknya Saga menangis tersedu-sedu melihat pemakaman putranya, siang tadi dia bercanda ria dengan putranya. Saga menumpukkan lututnya ke tanah, dia merangkul bahu kakeknya sambil menepuk pelan.

Saga menatap gundukkan tanah basah itu. "Dia akan tenang di surga bersama nenek, Kek."

"Saya akan tidur di situ," tunjuk Yuna kearah sofa. Saga menoleh sekilas lalu menatap pemandangan luar lewat jendela kamarnya.

Yuna mengambil satu bantal lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Setelah pulang dari pemakaman Saga diam seribu bahasa, tak berbicara sepatah katapun pada Yuna. Yuna memiringkan badannya dia tak bisa tidur, padahal sudah jam satu malam. Besok dia harus bekerja.

Di dalam surat perjanjian, Yuna tidak diperbolehkan bekerja. Yuna ingin membantahnya namun dia tak memiliki waktu untuk bicara pada Saga. Saat ini saja dia tidak mau berbicara, Yuna menghitung domba agar bisa tertidur.

Beberapa jam kemudian Yuna bangun dia melihat ada selimut di atas tubuhnya, seingat Yuna tidak memakai selimut itu. Mungkinkah Saga yang menyelimutinya?

Yuna berjalan menuju kamar mandi yang luas dan mewah. Yuna membasuh wajah dan sikat gigi, dia melihat bak kamar mandi. Yuna merasa tubuhnya lengket semalam sehabis dari pemakaman dia tidak mandi hanya cuci muka dan kaki saja. Yuna melihat ada sebuah pintu di dalam kamar mandi, dia berjalan menuju ruangan itu.

Yuna menutup mulutnya saat melihat ruangan pakaian Saga yang tertata rapih di lemari lalu di tengah ada lemari sedang berisi jam tangan mewah serta dasi termahal dan sepatu hitam mengkilat.

Setelah melakukan aktivitas mandi Yuna berpakaian yang sama dia tidak memiliki pakaian ganti. Rumah bernuansa putih. Yuna turun ke lantai bawah melalui tangga, dia melihat di ujung kiri ada beberapa pelayan berseragam dan berenda pink muda membawa makanan.

"Kau sudah bangun, Nak." Ucap kakeknya Saga sambil meminum teh chamimole dan melihat Yuna berdiri di pintu dapur. "Ayo sini sarapan bersama."

Yuna mengangguk dia duduk di sebalah Saga.

"Aku akan pergi kerja, kau tinggal di sini." Saga berdiri dan mengambil ponselnya di meja.

"Aku keberatan soal perjanjian nomor ke lima." lirih Yuna agar tidak terdengar kakeknya Saga.

Saga mengernyitkan dahi "tidak ada pembatalan dalam perjanjian itu, kau harus menerimanya."

Yuna menahan tangan Saga. "Kumohon, aku ingin bekerja seperti biasanya."

Meja makan berukuran panjang seperti jaman dulu, kakeknya Saga tidak bisa mendengarkan apa yang dibacarakan mereka berdua. "Saga. Seharusnya kau mengambil cuti untuk bulan madu kalian."

Saga menatap Yuna "Kakek lupa. Kita sedang berduka."

"Kau suda lh jadi suami, Nak. Kau tak boleh egois." Jelas kakeknya Saga lalu mengambil tongkatnya dan berjalan mengahampiri Saga dan Yuna. "Lihatlah istrimu mungkin masih merasa tak nyaman tinggal di sini, kau harus menemani dia dan membawanya keliling rumah ini."

"Kau tidak keberatankan kita tak melakukan seperti yang kakek katakan." Saga melihat Yuna "aku ada rapat penting siang ini. Kau tidak kutinggalkan sendiri?"

Yuna menelan makanannya dan minum segelas coklat hangat.

Setelah kepergian Saga, Yuna mengambil ponselnya dan banyak pesan dari Raisya dan Jemin.

Ada panggilan tak terjawab lima kali dari Jemin, tidak biasanya paman muda Yuna menelepon dia sepagi ini.

Suara notip pesan. Yuna membacanya dia tercengang dengan isi pesan itu.

"Jemin, Kau tahu keberadaan putriku 'kan?" Ucap Bagas.

Jemin dengan santai menunjukkan kursi "duduklah dulu kakak."

"Berhenti menyebutku 'kakak', aku tak mau mendengar itu dari mulutmu lagi." sahut Bagas dengan raut wajah kesal. "Bagaimana dengan putriku kau tahu lokasi persembunyian dia bukan?"

Jemin tersenyum. "Bukankah Anda yang mengusirnya dari rumah, untuk apa anda mencarinya lagi?"

"Putriku yang memberitahumu itu? Ha, yang benar saja dia sangat dekat denganmu," ucap Bagas meringis "dia tidak tahu bahwa kau adalah penipu."

Jemin tertawa, "ya ampun Anda tidak sehat, sebaiknya saya bawa anda kembali ke rumah sakit lagi."

Bagas menatap papan nama di atas meja Jemin. 'Direktur Utama Perusahaan Sanjaya' dia menaruh file ke hadapan Jemin, "kesepakatan dengan MT Group. Kau harus mendapaatkan saham darinya."

"Ini bukan bagian kerjaanku lagi, seakarang anda lah," jelas Jemin. Dulu Jemin mengerjakan tugas seorang Ceo namun sekarang berbeda dia tidak ingin melakukannnya lagi. Bagaslah yang berhak melakukannya.

"Kau tahu berapa saham yang akan di berikan oleh Mt Group?" Tanya Bagas.

"Tidak tahu." Jawab Jemin.

"2 milliar." Ucap Bagas sambil menyeringai. "Perusahaan kita kekurangan dana untuk perusahaan baru."

Jemin sedikit terkejut, baru kali ini Perusahaan Sanjaya ada yang memberikan saham besar.

"Harga yang fantastis bukan?" Bagas tertawa mengejek melihat raut wajah Jemin. "Kemarin aku batal datang kepertemuan Ceo Mt Group."

"Lalu?" Jemin berdiri "jika anda begitu ingin mendapatkannya lakukan sendiri, aku ada rapat penting hari ini."

"Hei, Jemin. Kau belum memberitahuku di mana putriku," teriak Bagas melihat jemin keluar ruangan. "Aku yakin Jemin mengetahuinya."

Bagas mengambil ponselnya di saku celana. Dia menelepon dektetif.

"Kirim potonya sekarang," Bagas membuka pesan dan terlihat poto putrinya, dia tersenyum senang akhirnya dia menemukan putri satu-satunya itu.

Di dalam Club, di saat masuk Yuna mencium bau rokok, bau minuman alkohol dan suara musik yang keras. Yuna mencari seseorang di dalam sana. Dia berjalan melewati orang-orang yang berdansa ria. Yuna berhenti di salah satu ruangan.

"Yuna," teriak seseorang dengan rambut acak-acakan dan maskara belepotan, untung saja Yuna mengenalinya.

"Raisya." Yuna berjalan mengahampiri temannya itu. Raisya memeluk Yuna dan menangis tanpa air mata.

"Kenapa kau baru ke sini," ucap Raisya "aku semalaman menagis sampai air mataku kering."

Yuna menepuk-nepuk punggung Raisya. Yuna mencium bau alkohol di pakaian Raisya.

"Dia playboy Yuna. Aku menampar pipinya tiga kali sebelum pulang dari pesta ulang tahunnya," jelas Raisya "Kukira dia pria manis dan tipeku."

"Baiklah sekarang kita pulang, ya." Yuna mengambil tas Raisya dia melihat botol minuman. "Kau minum lima botol sendirian."

Raisya menganggguk, Yuna kehilangan seimbangan dia terduduk di sofa dan melihat Raisya tertidur terlentang di lantai. Yuna menepuk pipi Raisya. "Bangunlah aku tidak bisa mengendongmu."

Yuna melihat ruangan ini hanya dia dan raisya saja.

"Apa aku minta bantuan Jemin aja ya?" Yuna melihat layar ponselnya.

"Pak Bagas berpesan dia ingin menemui anda jika ada waktu luang?" Ucap Sekretaris Theo dan melihat para staf petinggi berbondong-bondong keluar dari ruangan rapat.

"Sepertinya tidak bisa, aku akan pulang cepat." Jawab Saga melihat file prestasi staf tadi.

"Oh ya, apa kau sudah memasang cctv rumah ke ponsel." Ucap Saga.

"Ya sudah, Pak." jawab Sekretaris Theo. saga mengambil ponselnya dia melihat Yuna ada di pintu gerbang. "Apaan ini?"

Sekretaris Theo cepat tanggap langsung menelepon kepala pelayan.

"Kepala pelayan bilang nona Yuna pergi keluar terburu-buru," ucap Sekretaris Theo.

"Pak, kita suadah memasang gps di ponsel nona Yuna." Ucap Sekretaris Theo. "Nona sekarang ada di sebuah Club dekat rumah kaca anda."

Sekretaris Theo berjalan dibelakang Saga "Tentang pak Bagas,"

"Katakan padanya aku memiliki waktu luang sekarang." Saga menyebutkan alamat pertemuannya. Sekretaris Theo segera mengirim pesan pada Bagas.

Bagas menunggu dektetif di parkiran mobil, dia melihat Dektetif berlari menghampirinya.

Dektetif memberi salam hormat.

Bagas merasa kesal dia menendang lutut dektetif "cepat kan kau melihat putriku di sini?"

"Benar, pak." Dektetif memberikan beberapa lembar poto Yuna masuk ke dalam Club.

"Hm, putriku memang sudah dewasa ya, dia pergi ke sini dengan percaya diri." Ucap Bagas "Bersama siapa dia di dalam sana."

"Saya belum mendapatkan info itu, Pak." Jawab Dektetip.

Bagas merasa kesal dia menendang lutut dektetip, "cepat cari tahu." Bagas menunjuk pintu masuk Club, "tunggu apalagi cepat."

"Kebetulan sekali aku sudah sampai sini." Bagas membaca pesan Sekretaris Theo. "Baiklah sambil menunggu mereka datang alangkah baiknya aku meminum sedikit."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!