Bab 14

Yuna menunggu Raisya sadar tadi dia menepon Jemin namun tak diangkat sudah berkali-kali dia memanggi namun nihil, mungkin Jemin sedang sibuk. Yuna merasa bersalah karena selalu merepotkan Jemin. Apa dia minta bantuan Saga, tapi di tidak mau mengganggunya. Ah, Lebih baik menunggu Raisya bangun saja.

Drtt...Suara panggilan, Yuna menatap nama jemin tertera di ponselnya. "Paman,"

"Yuna dengarkan aku, kau sekarang dimana?" terdengar suara khawatir Jemin.

"Aku bersama temanku... jawaban Yuna terpotong.

"Ayahmu tadi pagi datang ke kantorku, bertanya soal dirimu." jelas Jemin "Yuna berhati-hatilah, aku khawatir kau bertemu dengannya."

"Paman tidak perlu mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diri." jawab Yuna.

"Yuna," Clara menjerit kaget "Ya ampun Raisya kau"

"Siapa itu Yuna?" tanya Jemin.

"Dia temanku, Paman sudah dulu ya." Yuna memutuskan panggilannya. "Dia sudah dua jam belum bangun, Clara"

Diluar jam kantor mereka memanggil nama, Clara dan Yuan memapah Raisya daa membaringkannay di atas sofa.

"Biar sopirku yang menggendong dia." ucap Clara dan seorang pria berseragam hitam menggendong Raisya,

"Aku tak tahu lagi minta tolong sama siapa, Sarah masuk kerja. Terimakasih." ucap Yuna.

"Baiklah serahkan saja dia padaku." jawab Clara sambil tersenyum "Kau mau pergi bersaama?"

"Yah, sayang sekali, aku bawa mobil." Yuna melihat sekumpulan pria dan wanita berdansa. dia kesini bawa mobil yang ada di garasi rumah Saga. Tadinya Yuna mau naik taksi tapi saat dia berdiri diluar gerbang ruamh Saga, tak terdapat satu pun mobil umum yang lewat. Hanya mobil mewah yang lewat.

"Apartement Raisya masih sama 'kan?" tanya Clara. Dia pernah bermain ke sana sama Yuna dan Sarah.

Yuna mengangguk, "Aku merasa tak enak padamu."

"Ya ampun kita 'kan teman." jawab Clara. "Ya sudah aku jalan dulu kasian dia pasti gak nyaman tidur dimobil."

Yuna mengangkat kedua ibu jarinya. "Oke."

Clara tertawa sambil masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya.

Yuna melihat mobil Clara yang mulai jauh dari pandangannya. Dia menoleh ke pintu masuk club, Yuna melihat ada ayahnya sedang minum minuman sambil berjalan ke arah.

Oh tidak! Bagaimana ini dia tidak bisa berlari keluar di depannya ada banyak pengunjung yang berdatangan.

Bagas mengedipkan matanya berkali-kali dia tidak salah lihatkan, wanita berambut panjang berdiri didepannya itu pasti putrinya. Bagas menaruh gelas di meja dekatnya.

Yuna menghela nafas panjang, akhirnya dia bisa keluar juga, dia harus berdesak-desakan dengan pengunjung tadi. Yuna menoleh ke belakang, ayahnya masih mengikutinya, dia berlari menuju parkiran mobil.

Bugh! Yuna menarik sesuatu yang keras dia kehilangan seimbang namun sebuah lengan menahannya.

"Apa yang terjadi?"

Suara yang tak asing, Yuna melihat di depannya dada seorang pria lalu dia menatap ke atas. Yuna melihat wajah Saga yang datar.

Bagas terengah-engah "Kemana dia perginya? Dasar anak itu sudah dewasa saja suka banget lari-larian. Tidak berubah memang pasti dia putriku."

Yuna mendengarnya. Dia bersembunyi dibelakang punggung Saga.

"Kenapa kau menghindari ayahmu?" Saga melihat Bagas yang mencari Yuna.

"Aku belum siap bertemu dengan ayahku." jawab Yuna sambil memegang erat jas Saga. "Sembunyikan aku darinya, ya!"

Tanpa Saga sadari dia tersenyum tipis "Baiklah kau mundur dulu."

Yuna menurutinya dia melihat Saga mengahadapnya, Saga membuka jasnya dan menyampaikan di bahu Yuna. "Ini?"

"Kau harus menutupi pakaianmu biar dia ga curiga." Saga mengambil kacamata hitam di dalam mobilnya. "Dan ini, kau harus memakainya."

Saga memakaikan kacamata pada Yuna. "Sempurna!"

"Lalu?" tanya Yuna melihat Saga menyeretnya "Kau mau bawa aku kemana, Pak?"

"Diamlah, ayahmu akan mengenal suaramu." bisik Saga.

Barusan Yuna keluar dari Club, sekarang dia masuk lagi dan terpaksa karena pria yang duduk disebelahnya ini.

Ruangan VIP memang berbeda tidak terdengar suara berisik, tenang, dan tidak bau rokok. Yuna beri nilai A plus pada orang yang membersihkan ruangan ini.

Pelayan menaruh dua botol minuman di meja. Yuna melihat botol itu berbeda dengan yang di minum Raisya. Di usia 23 tahun Yuna belum pernah meminum minuman alkohol, dia selalu ingat pesan ibunya untuk tidak mencoba minum itu.

Saga memberi beberapa lembar uang ratusan ribu ke pelayan.

Pelayan tersenyum senang dan menunduk hormat lalu pergi keluar.

"Kau mau minum?" tanya Saga sambil menuangkan minum di gelas.

"Tidak." tolak Yuna melihat Saga menaruh minuman di meja depannya.

Saga meminum sedikit. "Yuna kau mau mencobanya sedikit?"

Yuna mendengus kesal "Sudah kubilang aku tidak mau, Pak?"

"Kenapa? Apa kau cepat mabuk saat minum?" Saga menaruh gelasnya yang kosong dan mengisinya lagi.

"Aku..." Yuna melihat ayahnya duduk di kursi depannya. Dia terdiam sesaat.

"Jangan pergi, temani aku sebentar." tahan Saga ketika Yuna ingin berdiri.

Bagas tertawa senang melihat Ceo MT Group "Wah, tidak kusangka ternyata rumor itu benar kau sangat muda."

Saga menegakkan punggungnya. "Kita mulai saja..."

Bagas mendengarkan dan menjawab pertanyaan Saga.

Yuna memperhatikan Saga dan ayahnya berbincang mengenai bisnis. Dia tak mengerti soal bisnis atau apa itu saham.

"Apa Anda ingin timbal balik?" Bagas terkejut. "Apa yang bisa saya berikan untuk Anda?"

"Apapun itu?" sahut Saga.

Bagas menatap wanita yang duduk di sebelah Saga, wanita itu sepertinya gelisah.

"Aku dapat info katanya kau tidak suka berdekatan dengan wanita." ucap Bagas sambil tersenyum mengejek melihat wanita biasa saja di depannya itu. "Bagaimana dengan putriku, aku jamin dia gadis penurut dan lembut."

"Kau pasti akan menyukainya." jelas Bagas.

Yuna menggerakkan giginya, kenapa ayahnya membawa namanya dalam bisnis.

"Anda bilang dia penurut dan lembut?" ulangi Saga sambil menatap Yuna. "Sepertinya putrimu bukanlah gadis seperti itu."

Apaan lagi ini, Saga juga ngomong dirinya. Yuna menginjak sebelah kaki Saga, tapi Saga diam tidak bereaksi kesakitan. Dasar batu es.

"Bagaimana kau ingin mengenali putriku, dia tidak akan menolaknya. Dia suka pria tampan seprtimu." ucap Bagas dengan bangga.

'Bukankah ini perbincanganengenaiku bukan mengenai bisnis. Cepat ganti topik.' ucap Yuna dalam hati.

Yuna melihat botol minum tersisa sedikit lagi. Memang kebiasaan ayahnya belum berubah.

"Aku merasa terhormat anda memberikan saya minuman termahal." ucap Bagas tertawa "Bagaimana kalau kau jadi menantuku aku akan bahagia di dunia ini."

"Sepertinya ayahku sudah mabuk," bisik Yuna.

"Benar. Akan ku telepon sopir untuk ke sini." Saga mengambil ponselnya.

Bagas menidurkan kepalanya di meja dia merentangkan tangannya dan mengenai botol minum.

Prangg! Suara pecahan botol minuman.

"Aku salut ayahmu bisa menghabiskan dua botol ini," ucap Saga sambil melihat serpihan botol pecah. "Dan membuat ulah di pertemuan pertama."

Yuna tahu itu bukanlah ucapan kagum namun menyindir ayahnya Yuna.

Setelah sopir datang dia membopong Bagas pergi.

Pelayan tadi datang lagi dan membersihkan serpihan botol.

"Ayo" Saga menarik tangan Yuna.

Saga melewati orang yang berdansa dia berjalan menuju meja bertender.

"Anda ingin minum lagi, Pak" teriak Yuna disini suara musiknya terdengar keras.

"Aku mau bayar botol yang pecah tadi." Saga melepaskan genggamannya dia berjalan menuju pria bertender.

"Hei, Man." ucap pria bertender sambil bertos ria. "Sudah berapa lama kau tidak kesini."

Saga mengabaikannya dia menarik kartu di dompetnya. "2 botol pecah extra old."

Pria bertender tertawa. "Ternyata mau yang memecahkan itu. Kukira siapa yang berani botol minuman yang mahal itu."

"Memangnya berapa harganya?" tanya Yuna pada pria bertender itu.

"Wanitamu?" Pria bertender menatap Saga lalu mengambil note, "30 juta."

Yuna menutup mulutnya, itu seharga empat kali gajinya di kantor. "Benar-benar mahal."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!